NovelToon NovelToon
Sistem Informasi Mingguan

Sistem Informasi Mingguan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

Suatu malam, entah kenapa, muncul semacam notifikasi aneh di kepala Doni — seperti pesan sistem di game, tapi ini nyata. Sistem ini memberinya satu informasi akurat setiap minggu: bisa berupa saham yang akan melejit, barang langka yang harganya bakal meroket, atau peluang bisnis kecil yang menguntungkan. Masalahnya, modal Doni nyaris nol. Jadi cerita ini bukan tentang tiba-tiba kaya, tapi soal gimana Doni pelan-pelan memutar informasi terbatas jadi modal, sambil tetap kuliah, kerja part-time, ngurusin teman-teman kos yang berisik, dan menghindari kecurigaan orang-orang di sekitarnya kenapa dia tiba-tiba "beruntung" terus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang Kampung

Dua minggu setelah drama turntable Sinta, Doni memutuskan buat pulang kampung buat pertama kalinya sejak semester baru dimulai.

Alasannya sederhana dia kangen rumah, tapi lebih dari itu, dia pengen liat langsung wajah bapak-ibunya waktu dikasih tahu soal UKT yang udah lunas total dan sedikit tambahan buat modal usaha kecil-kecilan.

Perjalanan naik bus ekonomi selama tujuh jam itu berasa lebih singkat dari biasanya, mungkin karena Doni sibuk ngebayangin reaksi orang tuanya.

Begitu turun di terminal desa yang cuma berupa pos kecil beratap seng, dia langsung disambut becak langganan Pak Slamet yang udah kenal dia dari kecil.

"Lho, Doni? Pulang kok nggak bilang-bilang, Nak? Untung Bapak lewat sini."

"Mau ngejutin, Pak. Anter ke rumah ya."

Sepanjang jalan becak, Doni memandangi sawah-sawah yang mulai menghijau, warung-warung kecil yang jual gorengan mirip punya ibunya, anak-anak kecil main layangan di pematang.

Rasanya beda banget sama kota yang berisik dan sesak, tapi justru di situ dia sadar kenapa dulu dia rela ngutang sana-sini demi kuliah biar suatu hari bisa bikin tempat ini sedikit lebih ringan bebannya.

Sampai rumah, ibunya yang lagi goreng pisang di depan rumah langsung kaget setengah mati, sampai spatula di tangannya jatuh ke tanah.

"Astaghfirullah, Doni! Kok bisa pulang? Ada apa, Nak? Kamu kena masalah di kampus?"

"Enggak, Bu, Doni cuma kangen aja," jawabnya sambil peluk ibunya yang masih bau minyak goreng panas.

Bapaknya, yang lagi istirahat di gubuk sawah nggak jauh dari rumah, buru-buru pulang begitu denger kabar dari tetangga kalau anaknya pulang mendadak.

Malam itu, di ruang tamu sederhana beralaskan tikar plastik, Doni akhirnya buka pembicaraan yang udah dia siapin sepanjang perjalanan.

"Pak, Bu, Doni mau kasih ini." Dia ngeluarin amplop coklat tebal, isinya cukup buat nutup semua utang keluarga ke tetangga dan modal kecil buat bapaknya beli bibit sama pupuk musim tanam depan.

Bapaknya diam lama, matanya berkaca-kaca, tangan kasarnya gemetar pas megang amplop itu. "Ini dari mana, Nak? Kamu nggak macem-macem kan di kota?"

"Enggak, Pak. Doni kerja part-time, sama kadang jual-beli barang online, untungnya lumayan." Doni memilih jawaban itu, setengah bohong setengah benar, karena rasanya belum pas juga cerita soal sistem aneh yang muncul tiap minggu di kepalanya.

Nanti kalau dijelasin, bukannya percaya, orang tuanya malah tambah khawatir dikira anaknya kena guna-guna atau ketipu investasi bodong.

Ibunya cuma bisa nangis terharu, mengusap-usap kepala Doni kayak waktu dia masih kecil. "Kamu udah gede ya, Nak. Ibu bangga."

Malam itu, meski amplop yang dikasih nggak seberapa besar dibanding hasil jaket dan saham kemarin, Doni ngerasa itu yang paling berharga dari semua transaksi yang pernah dia lakuin.

Tiga hari di kampung, Doni sengaja nggak buka-buka aplikasi sekuritas atau grup jual-beli sama sekali. Dia habisin waktu bantuin bapaknya di sawah, walau cuma bisa megang cangkul sebentar sebelum tangannya lecet-lecet nggak biasa kerja kasar.

Dia juga sempetin main ke rumah teman-teman SMA-nya yang kebanyakan udah kerja serabutan atau nikah muda, ngobrolin nostalgia sambil makan gorengan ibunya yang katanya "nggak berubah rasanya dari dulu."

"koe enak ya, Don, kuliah di kota," celetuk Bayu (dengan logat ngapak nya), teman SD-nya yang sekarang kerja di bengkel motor. "nyong mah udah nyerah, langsung kerja abis lulus SMA."

"Enak dari mananya, Yu. Gue juga banting tulang, jaga warnet sampe jam dua belas malem, part-time nyuci motor tetangga."

"Tapi koe punya harapan lulus jadi sarjana. Gue mah gini-gini aja."

Doni cuma diam, nggak enak hati mau cerita soal keberuntungannya belakangan ini. Dia justru mikir, kalau nanti dia beneran sukses berkat sistem itu, dia pengen bantu orang-orang macam Bayu juga, bukan cuma keluarganya sendiri.

Sebelum balik ke kota, Doni sempatin ziarah ke makam kakeknya, satu-satunya orang yang dulu selalu bilang, "Sekolah tinggi-tinggi, Le, biar kamu nggak capek kayak Kakek dulu."

Doni duduk lama di depan nisan sederhana itu, mikirin gimana caranya dia bisa balas semua pengorbanan keluarga tanpa harus cerita soal sistem aneh yang sebenarnya jadi alasan utama semua keberuntungan ini.

Di perjalanan balik ke kota naik bus malam, Doni buka catatan kuliahnya, mulai belajar serius buat UTS Mikroekonomi minggu depan. Selama ini dia agak keteteran karena sibuk mikirin sistem dan cara jual barang, sampai nilai tugas kelompoknya kemarin dapet C gara-gara nggak fokus.

"Nggak boleh gini terus," gumamnya sendiri, sambil highlight materi kurva permintaan-penawaran yang selama ini dia anggap remeh. "Percuma juga kalo kaya tapi kuliah keteteran, ntar malah di-DO."

Dia juga mulai bikin catatan kecil di notes HP-nya rencana belajar tiap malam, jadwal part-time yang lebih fleksibel biar nggak ganggu kuliah, dan target nabung buat masa depan tanpa harus terus-terusan berharap sama sistem yang datangnya nggak pasti kapan berhenti.

Begitu bus masuk terminal kota, Doni ngerasa lebih tenang dari biasanya. Beban keluarga di kampung udah sedikit lebih ringan, dan dia bertekad minggu-minggu ke depan bakal lebih fokus jadi mahasiswa yang bener, bukan cuma mahasiswa yang kebetulan punya sistem ajaib di kepala.

Herman udah nungguin di depan kos begitu Doni turun dari ojol. "Woy, akhirnya pulang juga lo. Gimana kampung, Bro?"

"Enak, Man. Tapi gue jadi mikir, gue harus lebih niat kuliah mulai sekarang. Kemarin-kemarin kebanyakan mikirin hal lain."

Herman mengangguk-angguk sok bijak. "Bagus tuh. Eh, tapi UTS minggu depan lo udah belajar apa belom?"

"Belom, makanya ini gue mau maraton belajar semalaman."

Mereka berdua ketawa bareng, jalan masuk ke kos yang berisik seperti biasa, sama sekali nggak curiga kalau ketenangan minggu ini cuma jeda sebentar sebelum informasi berikutnya dari sistem bakal dateng lagi dan bikin hidup Doni runyam dengan cara yang baru.

1
Aisyah Suyuti
good
Wk Annuar
😍😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
🥰
Mamat Stone
/Proud/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Sneer/
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
RR: terimakasih banyak untuk supportnya, izinn namanya nanti saya masukan sebagai salah satu karakter di beberapa bab kedepan 😁🙏
total 1 replies
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!