NovelToon NovelToon
Menikahi Ayah Selingkuhan Suamiku

Menikahi Ayah Selingkuhan Suamiku

Status: tamat
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Beda Usia / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vivi

Ketika Kamila Santoso pulang membawa kue ulang tahun pernikahan, ia tidak menyangka akan menemukan suaminya bersama perempuan lain di ranjang mereka sendiri. Tujuh tahun pengorbanan, harta yang dijual demi bisnis keluarga, dan semua hinaan yang ia telan runtuh dalam satu malam.
Kali ini Kamila tidak menangis dan tidak memohon. Ia mengumpulkan bukti, menuntut haknya, dan pergi dengan kepala tegak. Namun saat ayah sang selingkuhan, Gibran Beltran, muncul untuk meminta maaf, hidup Kamila berubah ke arah yang tidak pernah ia bayangkan.
Di antara perceraian, perebutan harta, keluarga mertua yang tamak, dan hati yang perlahan belajar percaya lagi, Kamila harus memilih: tetap menjadi korban masa lalu, atau merebut kembali martabatnya dengan cara yang membuat semua orang terdiam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vivi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23: Lelang dan Anting Zamrud

Mobil berhenti di depan sebuah butik gaun pesanan khusus.

Kamila masuk mengikuti Gibran.

Seorang pegawai segera menghampiri dengan sikap hormat.

"Pak Gibran, gaun-gaunnya sudah siap."

Ia mengantar mereka ke sebuah ruang privat.

Beberapa pakaian menunggu di rak. Kamila memeriksanya dan menyadari semuanya berukuran pas untuknya.

Pegawai itu membuka kotak hitam.

Di dalamnya ada gaun panjang dari beludru hijau tua.

"Coba yang itu," kata Gibran.

Kamila membawanya ke ruang ganti.

Saat keluar, Gibran sedang duduk di sofa sambil memeriksa ponsel. Ia mengangkat kepala dan menatapnya.

"Berputar."

Kamila menurut.

Rok gaun terangkat lembut, dan beludrunya memantulkan cahaya dengan kilau halus.

"Yang ini," ujar Gibran kepada pegawai. "Dengan sepatu warna nude dan mutiara."

Kamila menatap dirinya di cermin.

Gaun itu melekat sempurna pada tubuhnya. Warnanya membuat kulitnya tampak lebih cerah dan menonjolkan garis halus tulang selangkanya.

Ia harus mengakui selera Gibran tanpa cela.

Senyum tumbuh di mata pria itu.

Ia berdiri dan berhenti di hadapan Kamila.

"Cocok sekali untukmu."

Suaranya lembut.

"Bagaimana kamu tahu ukuranku?" tanya Kamila tiba-tiba.

Ekspresi Gibran tetap santai.

"Kutaksir dengan mata."

Jawaban itu membuat Kamila kehabisan pertanyaan.

Saat mereka keluar dari butik, langit sudah gelap.

Lelang itu diadakan di sebuah klub privat. Di antara tamu yang hadir ada sejumlah pengusaha dan tokoh paling berpengaruh di ibu kota.

Begitu Kamila masuk dengan tangan menggandeng lengan Gibran, ia merasakan puluhan tatapan jatuh kepada mereka.

Seorang pria mendekat dengan gelas di tangan.

Matanya menyusuri Kamila.

"Pak Gibran, siapa pendamping Anda?"

"Dia bersamaku."

Gibran tidak menyebut nama Kamila ataupun menjelaskan posisinya.

Tiga kata itu membuat jantung Kamila berlari.

Dia bersamaku.

Apa artinya? Asisten, atau sesuatu yang lain?

Pria itu mengangguk dengan senyum penuh sindiran.

Kamila menoleh kepada Gibran, siap meminta penjelasan.

Begitu melihat tatapannya, detak jantungnya seolah berhenti sekejap.

Gibran memandangnya dengan kelembutan dan senyum tipis, seperti sedang menunggu pertanyaannya.

Kamila takut ia akan menjawab dengan sesuatu yang lebih meledak.

Ia memilih diam.

Ketika lelang dimulai, Kamila duduk di samping Gibran.

Ia mengamati para tamu, mengingat wajah orang-orang yang datang menyapa Gibran, lalu mengelompokkan mereka dalam kepala berdasarkan cara mereka berhubungan dengan pria itu.

"Bosan?" tanya Gibran lirih.

"Tidak."

"Kalau ada yang kamu suka, angkat papan."

Ia membolak-balik katalog seolah sedang membicarakan pembelian kecil.

Kamila menatapnya.

"Aku juga harus membeli?"

"Kamu pendampingku. Aku tidak akan membiarkanmu datang dan pulang dengan tangan kosong."

Gibran memiringkan kepala ke arahnya.

Cahaya lampu melembutkan garis wajahnya.

"Pilih sesuatu."

Kamila membuka katalog.

Ada perhiasan, lukisan, dan barang antik. Harga awal setiap benda cukup untuk membuat dadanya sesak.

Setelah melewati beberapa halaman, matanya berhenti pada sepasang anting zamrud.

Harga pembukanya Rp250 juta, paling rendah sepanjang malam itu.

Kamila segera membalik halaman.

Gibran mengulurkan tangan, kembali ke halaman tadi, lalu memeriksa anting itu.

"Kamu suka?"

"Tidak. Aku hanya melihat-lihat. Aku bahkan tidak sanggup membayarnya."

Kamila menjawab cepat, berpura-pura acuh.

Gibran mengamatinya.

Senyum samar membentuk sudut bibirnya, tetapi ia tidak berkata apa-apa.

Lot awal tidak tampak menarik baginya.

Ia mengangkat papan satu dua kali. Kamila menyadari Gibran tidak pernah terlibat dalam persaingan panjang. Ia entah tidak menawar sama sekali, atau langsung menyebut angka yang membuat semua orang diam.

Kemudian sebuah lukisan kontemporer ditampilkan.

Harga pembukanya Rp800 juta.

Gibran mencondongkan tubuh kepada Kamila dan merendahkan suara.

"Tawar untukku."

Kamila berkedip.

"Aku?"

"Ya. Jangan khawatir. Berhenti saat aku memberi tanda."

Gibran bersandar dengan tenang.

Kamila belum pernah melakukan hal seperti itu.

Jarinya menegang di atas papan.

"Delapan ratus lima puluh juta," tawar seorang wanita paruh baya di baris depan.

Gibran menatap Kamila.

Kamila mengerti dan mengangkat nomornya.

"Sembilan ratus juta."

Harga terus naik.

Kamila menawar berkali-kali sesuai isyarat Gibran. Tidak lama kemudian telapak tangannya mulai berkeringat.

Saat angka melewati Rp2 miliar, hampir semua orang mundur.

Tinggal Kamila dan wanita di baris depan.

"Dua miliar tiga ratus juta."

Kamila menatap Gibran.

Pria itu mengangguk.

"Dua miliar empat ratus juta."

Wanita itu ragu, lalu menurunkan papan.

"Dua miliar empat ratus juta satu kali, dua kali... terjual."

"Kamu melakukannya dengan sangat baik," gumam Gibran.

Ada persetujuan dalam suaranya.

Kamila menoleh.

Gibran memandangnya dengan pujian yang jelas.

"Sangat baik," ulangnya tenang.

Telapak tangan Kamila basah.

Sejak harga melewati satu miliar, ia mulai menderita memikirkan uangnya. Namun Gibran tidak memberi tanda berhenti, jadi ia harus terus menawar.

Rasanya seperti naik wahana ekstrem.

Mendebarkan sekaligus menyakitkan.

"Kamu akan menaruh lukisan itu di mana?"

Kamila masih menatap lukisan itu.

"Di kantormu."

"Di kantorku?"

Ia menatap Gibran dengan bingung total.

Bos macam apa yang menghabiskan lebih dari Rp2 miliar untuk lukisan demi menghias kantor karyawan?

Gibran hanya membalas dengan ekspresi penuh makna, lalu kembali memperhatikan lot terakhir.

Saat anting zamrud muncul, ia mengangkat papan tanpa ragu.

Setelah beberapa tawaran, ia memenangkan benda itu.

Kamila mengira anting itu untuk Valerie dan tidak memikirkannya lagi.

Setelah lelang berakhir, mereka kembali ke mobil.

Gibran menyodorkan sebuah kotak beludru biru tua.

"Ambil."

Kamila terpaku.

"Ini untukku?"

"Mutiara cocok untukmu, tapi anting ini lebih tepat."

Kamila membuka kotak itu.

Zamrudnya berbaring di atas kain biru dengan kilau hijau yang dalam.

"Ini terlalu mahal. Aku tidak bisa menerimanya."

Ia menutup kotak dan mencoba mengembalikannya.

Gibran tidak mengulurkan tangan. Ia hanya menatap Kamila.

Bagian dalam mobil remang, tetapi mata pria itu tampak penuh cahaya.

"Bersamaku, kamu tidak perlu berhati-hati seperti itu."

Kamila memegang kotak itu.

Tiba-tiba ia mengerti bahwa lelang itu bukan rapat bisnis atau kewajiban sosial.

Gibran menyiapkannya untuk dirinya.

Saat pikiran itu muncul, emosi yang saling bertentangan bergejolak di dadanya.

Ia memahami keinginan Gibran, tetapi masih bertanya-tanya apakah mereka bisa bersama ketika Gibran adalah ayah Valerie.

Jika mereka memulai hubungan, Kamila akan menjadi ibu tiri selingkuhan mantan suaminya.

Dan Maulana harus memanggilnya ibu mertua.

Malam itu, Valerie duduk di dekat jendela. Ia mendengarkan panggilan telepon sambil mengusap pelan lengkung perutnya.

Ekspresinya makin lama makin gelap.

Maulana baru keluar dari kamar mandi ketika Valerie menutup telepon dan melempar ponsel ke ranjang.

"Ada apa? Siapa yang membuatmu marah?"

Ia mendekat dan memeluk Valerie dari belakang.

"Seorang temanku pergi ke lelang bersama ayahnya. Dia melihat papaku datang dengan perempuan yang sangat cantik. Papa membelikan perempuan itu anting zamrud, dan perempuan itu menawar lukisan lebih dari Rp2 miliar."

Valerie mengernyit.

"Temanku mencoba memotretnya, tapi papaku selalu menghalangi setiap kali dia mengarahkan ponsel. Akhirnya dia ketahuan, dan Papa menatapnya begitu tajam sampai dia tidak berani lanjut."

Ia mengambil ponsel, membuka foto, lalu menunjukkannya kepada Maulana.

Maulana memeriksanya beberapa kali.

Semakin ia menatap, semakin terasa akrab siluet itu.

"Mirip Kamila."

Ia berbagi hidup dengan Kamila selama tujuh tahun.

Mustahil ia salah mengenali punggungnya.

"Dia?"

Valerie tertawa keras.

"Papaku tidak mungkin bersama Kamila."

Maulana tetap menatap layar.

Walau hanya tampak dari belakang, ia hampir yakin.

"Itu memang Kamila. Untuk apa dia bersama ayahmu?"

Valerie memutar mata dan merebut ponselnya.

"Tidak mungkin dia. Dari mana dia punya lebih dari Rp2 miliar untuk membeli lukisan? Kalaupun papaku yang bayar, Kamila tidak mengerti seni. Untuk apa dia mengangkat papan di lelang?"

Maulana terpaksa mengakui itu masuk akal.

Kamila memang mengambil banyak aset saat perceraian, tetapi ia bukan perempuan yang bisa menghabiskan lebih dari Rp2 miliar untuk lukisan tanpa berkedip.

Ia juga tidak mengenal dunia seni.

Selain itu, ia baru bertemu Gibran beberapa kali.

Mereka tidak mungkin punya hubungan.

"Kamu benar. Dia tidak punya kemampuan bergerak di acara seperti itu."

Maulana kembali menatap foto itu dengan pandangan gelap.

Meski begitu, kegelisahan masih tertinggal.

"Aku juga bilang begitu. Papaku hanya ingin memancingku. Dia bertengkar denganku, lalu begitu aku pergi, dia membawa perempuan lain ke lelang."

Sebuah pikiran mengkhawatirkan muncul di benak Maulana.

Ia memeluk Valerie lebih erat dan bicara tenang.

"Kalau papamu menemukan pasangan baru, kamu seharusnya ikut senang."

"Senang? Siapa tahu perempuan itu cuma mengincar uangnya? Dengan posisi papaku, banyak perempuan oportunis yang ingin naik kelas."

Valerie makin marah dan memukul selimut.

"Pasti dia muncul entah dari mana dan memanfaatkan pertengkaran kami untuk menjelek-jelekkan aku. Aku tidak boleh membiarkan mereka bersama. Kalau Papa menikah, harta keluarga Beltran bisa terbagi."

Maulana pura-pura menjadi pria yang masuk akal.

"Ayahmu selalu pandai menilai orang. Dia tidak akan memilih sembarang perempuan. Dia cerdas dan tidak mudah ditipu."

Ia berhenti sejenak sebelum melontarkan pertanyaan.

"Menurutmu dia mungkin memberikan apartemen Residensial Los Encinos kepada perempuan itu? Mungkin itu sebabnya dia menolak memberikannya kepadamu."

Wajah Valerie memerah.

"Itu keterlaluan! Kalau dia menghadiahkan apartemen itu, aku akan memutus hubungan dengannya selamanya."

Maulana memaki Valerie dalam hati.

Bodoh.

Justru saat ini Valerie harus mendekati Gibran, bukan menjauh. Kalau hubungan mereka hancur dan Gibran menyerahkan warisan kepada orang lain, semua pengorbanan Maulana akan sia-sia.

Ia menyembunyikan ketidaksabarannya.

Dengan senyum pengertian, ia mengusap punggung Valerie.

"Kamu bicara karena marah. Kamu putri satu-satunya. Semarah apa pun dia, dia tidak akan menyerahkan hartanya kepada orang asing. Lagi pula, kamu sedang hamil. Jangan terlalu emosi."

Valerie mendengus.

Air mata muncul di matanya.

"Aku tidak bisa menahan diri. Mamaku meninggal saat aku kecil, dan sekarang dia malah menggoda perempuan lain. Kalau perempuan itu Kamila... Tidak. Itu lebih buruk. Dia mantan istrimu!"

Maulana hanya berhenti sesaat sebelum tersenyum alami.

"Pasti bukan dia. Aku hanya bilang mirip. Banyak orang punya bentuk tubuh seperti itu. Jangan menakut-nakuti diri sendiri."

Ia mencoba menenangkan Valerie sementara kecemasannya sendiri tumbuh.

Selama perceraian, Kamila bersikap dengan ketenangan yang mengganggu. Ia tidak menangis atau memohon. Ia mengambil sebagian besar harta, dan saat keluar dari pengadilan, wajahnya seperti baru melepaskan beban.

Maulana mengira setelah tujuh tahun ia mengenal Kamila.

Sekarang ia mulai bertanya-tanya apakah ia pernah benar-benar memahaminya.

"Aku bisa menyelidikinya untukmu," usulnya. "Kalau itu Kamila, aku lebih mengenal riwayat dan kelemahannya daripada kamu. Aku juga akan memberi tahu orang tuanya bahwa dia bersedia melakukan apa pun demi uang."

Valerie menatapnya curiga.

"Kamu masih punya perasaan untuk dia?"

Maulana tertawa.

Ia memegang wajah Valerie dengan kedua tangan.

"Punya perasaan untuk dia? Aku bercerai supaya bisa bersamamu, dan kita akan punya anak. Kamila sudah lama tidak berarti apa pun bagiku. Aku hanya khawatir melihatmu terluka oleh ayahmu saat hamil."

Nadanya menjadi semakin lembut.

"Biarkan aku mencari tahu siapa perempuan itu supaya kamu bisa tenang."

Ekspresi Valerie melunak.

Ia meringkuk di dada Maulana.

"Kalau begitu selidiki dia. Aku ingin tahu siapa dia dan apa maunya. Perempuan yang berani menggoda papaku pasti tidak tahu malu."

"Aku akan melakukan apa pun yang kamu mau."

Maulana mencium rambutnya.

Bayangan gelap melintas di matanya.

"Lupakan dulu. Setelah kita tahu siapa dia, kita akan meminta penjelasan."

Valerie mengangguk puas.

"Ya. Kamu selalu tahu cara menjagaku."

Maulana mencubit hidungnya lembut.

"Masih memanggilku seolah aku cuma pacarmu?"

Valerie tersenyum manja.

"Sayangku."

Dari sudut yang tidak bisa dilihat Valerie, bibir Maulana melengkung turun.

Tatapannya penuh perhitungan.

Ia sudah lama curiga kenapa Gibran menolak menaruh apartemen Residensial Los Encinos atas namanya.

Mungkin properti itu disiapkan untuk menyenangkan perempuan tersebut.

Maulana tidak peduli siapa yang mendampingi Gibran.

Yang penting hanya mengetahui atas nama siapa properti itu sekarang.

Residensial Los Encinos adalah tempat yang selalu ia impikan untuk dihuni.

Di sana tinggal para pengusaha, pejabat, dan ahli waris dengan uang, pengaruh, dan kekuasaan.

Tinggal di antara mereka akan memperluas jejaringnya, membuka informasi istimewa, dan memberinya peluang untuk mendorong perusahaan.

Yang paling penting adalah gengsi.

Begitu masuk ke lingkaran itu, orang lain akan memperlakukannya dengan rasa hormat yang berbeda.

Ia tidak akan melepaskan apartemen itu.

Dan ia tidak akan membiarkannya jatuh ke tangan orang lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!