NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri / Transmigrasi / Healing / Antagonis Jahat / Tamat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Kakek di Taman Belakang

Keesokan harinya, hujan berhenti sebelum siang.

Udara sore masih lembap ketika Lucas pulang dari kelas perkenalan taman kanak-kanak. Pengurusan sekolah kedua anak dipercepat oleh Reyhan dalam beberapa hari terakhir. Nathan masih mengikuti kelas tambahan untuk melihat tingkat pelajaran yang sesuai, sedangkan Lucas hanya menjalani setengah hari.

"Kak Nathan pulangnya lama," keluh Lucas setelah mengganti pakaian.

"Satu jam lagi," kata Karina. "Kita tunggu sambil main di taman depan."

Mereka membawa kotak krayon dan kertas, tetapi Lucas segera melupakan keduanya ketika melihat kupu-kupu kuning terbang di atas bunga.

"Mama, tunggu!"

Ia berlari mengikuti kupu-kupu melewati semak rendah. Karina memanggil, lalu mengejarnya sambil membawa kotak krayon.

"Lucas, jangan jauh-jauh!"

Kupu-kupu itu terbang ke sisi rumah, menyeberangi jalur batu yang jarang digunakan, lalu menghilang di balik pagar tanaman tinggi. Lucas menyelinap melalui celah sebelum Karina sempat menangkap bajunya.

Di balik pagar tanaman terdapat bagian kebun yang belum pernah Karina lihat.

Jalannya ditutupi lumut dan ranting. Beberapa bangku batu tampak lama tidak digunakan. Namun di tengah sudut yang seperti ditinggalkan itu, berdiri rak-rak kayu berisi anggrek. Daunnya bersih, tanahnya lembap, dan setiap pot diberi tanda kecil. Seseorang merawat bunga-bunga tersebut dengan teliti meski jalan menuju ke sana dibiarkan menua.

Lucas berhenti di depan anggrek putih.

"Cantik."

"Iya, tapi kita kembali sekarang." Karina meraih tangannya. "Kita belum tahu boleh masuk atau nggak."

Suara gerakan terdengar dari balik rumpun bambu.

Karina segera memindahkan Lucas ke belakang tubuhnya.

Seorang lelaki tua muncul perlahan. Rambutnya putih dan tidak tersisir rapi. Ia mengenakan pakaian tidur model lama dengan sandal rumah. Punggungnya sedikit membungkuk, dan satu tangan menggenggam potongan ranting seolah benda itu tongkat.

Ia memandang Karina tanpa benar-benar fokus.

"Bunganya jangan dibawa," gumamnya.

"Kami tidak mengambil apa pun," jawab Karina lembut. "Anak saya hanya mengejar kupu-kupu. Kami akan pergi."

Lelaki itu mengatakan sesuatu lagi. Kata-katanya bercampur dan terlalu pelan untuk dipahami. Tatapannya berpindah kepada Lucas, lalu kembali ke Karina. Napasnya tiba-tiba cepat.

"Jangan datang. Jangan kunci pintunya lagi."

"Tidak ada yang akan mengunci Anda." Karina mundur setengah langkah. "Kami pergi sekarang."

Ia menarik Lucas perlahan. Sebuah ranting patah di bawah sepatunya.

Suara itu membuat lelaki tua tersebut tersentak.

Ia maju dan mendorong Karina dengan kedua tangan.

Karina tidak menyangka tenaga itu datang begitu mendadak. Ia kehilangan keseimbangan di atas lumut, melangkah mundur, lalu jatuh terduduk di jalan batu. Telapak tangannya menahan tubuh dan terasa perih.

"Mama!"

Lucas menjerit dan langsung menangis. Ia berlari ke Karina, memeluk bahunya, sementara lelaki tua tadi justru tampak semakin ketakutan oleh suara tangis.

"Jangan ribut," gumamnya. "Nanti mereka datang."

"Lucas, Mama nggak apa-apa." Karina merangkul anak itu sambil tetap mengawasi lelaki di depan. "Jangan mendekat dulu."

Langkah cepat terdengar dari arah pagar tanaman.

Bi Asih muncul dengan napas terengah. Begitu melihat lelaki tua itu, warna wajahnya berubah.

"Opa," panggilnya pelan. "Mari kembali ke dalam."

Lelaki itu mencengkeram ranting. "Mereka injak bunga."

"Bunganya aman. Saya sudah lihat." Bi Asih tidak mencoba menariknya. Ia berdiri sedikit menyamping dan mengulurkan tangan. "Kita minum teh dulu, ya. Setelah itu saya periksa semua pot."

Nada dan gerakannya terlalu terlatih untuk menjadi percobaan pertama.

Lelaki tua itu menatap telapak tangan Bi Asih cukup lama. Akhirnya ia menjatuhkan ranting dan mengikuti perempuan itu menuju pintu kecil yang hampir tersembunyi di balik tanaman merambat.

Sebelum masuk, Bi Asih menoleh kepada Karina. "Tolong jangan cerita kepada siapa-siapa dulu, ya, Nyonya. Saya akan kembali sebentar lagi."

Pintu kecil tertutup.

Karina duduk beberapa detik sambil memeluk Lucas. Jantungnya masih berdetak cepat, bukan karena dorongan tadi, melainkan karena cara lelaki tersebut berbicara tentang pintu yang dikunci.

Ia memeriksa telapak tangannya. Kulitnya merah dan sedikit tergores, tetapi tidak berdarah. Pinggulnya akan memar, mungkin, namun ia masih bisa berdiri.

"Mama sakit?" Lucas terisak.

"Sedikit kaget saja." Karina menyeka air matanya. "Lucas nggak salah. Tapi lain kali kalau kupu-kupunya pergi jauh, kita bilang selamat jalan saja."

Anak itu mengangguk dan minta digendong.

Karina mengangkatnya. Mereka baru melewati pagar tanaman ketika Sebastian muncul dari jalur utama. Kemeja kerjanya belum diganti. Langkahnya cepat, meski kaki kiri tampak sedikit lebih kaku setelah nyeri semalam.

Tatapannya langsung jatuh pada tanah di pakaian Karina dan wajah Lucas yang basah.

"Apa yang terjadi?"

"Kami masuk ke bagian belakang. Ada seorang kakek. Dia kaget dan mendorong saya."

Wajah Sebastian mengeras.

Ia mengambil Lucas dari lengan Karina agar kedua tangannya bebas, lalu memeriksa telapak tangannya. Sentuhannya hati-hati, berlawanan dengan nada suara yang berikutnya.

"Ada yang sakit selain ini?"

"Pinggul sedikit. Nggak parah."

"Bisa jalan?"

"Bisa."

Sebastian memastikan ia benar-benar dapat melangkah sebelum mengembalikan Lucas. Setelah itu, barulah ia menatap jalan kebun di belakang mereka.

Tangannya mengepal.

"Jangan pernah ke taman belakang sendirian lagi," katanya. "Apalagi bawa anak-anak."

Karina masih merasakan hangat jari Sebastian pada telapak tangannya, tetapi ketegasan itu terdengar seperti teguran kepada orang yang sengaja melanggar aturan.

"Saya bahkan tidak tahu taman itu dilarang. Tidak ada tanda di jalur tadi."

"Sekarang kamu tahu."

"Siapa kakek itu? Bi Asih memanggilnya Opa."

Sebastian diam.

"Dia tinggal di rumah ini? Kenapa disembunyikan di belakang? Kenapa dia takut pintu dikunci?"

"Karina."

"Saya baru didorong saat bersama Lucas. Ini menyangkut keselamatan anak-anak. Saya berhak tahu siapa yang tinggal di sekitar mereka."

Sebastian mengalihkan pandangan. Otot di rahangnya menegang. "Itu bukan urusan yang perlu kamu tahu sekarang."

Kalimat itu terasa lebih dingin setelah percakapan semalam.

Baru beberapa jam lalu Sebastian membiarkannya melihat luka yang disembunyikan bertahun-tahun. Sekarang, ketika rahasia rumah itu menyentuh Lucas secara langsung, ia kembali menutup semua pintu. Perhatian yang hanya hadir setelah bahaya terjadi tidak cukup jika Karina bahkan dilarang mengetahui dari mana bahaya berikutnya bisa datang.

Karina memeluk Lucas lebih erat. "Baik. Kalau begitu jangan salahkan saya kalau saya menganggap rumah ini tidak aman."

Punggung Sebastian menegang saat ia berbalik, tetapi ia tidak menjawab.

Bi Asih kembali dari pintu kecil beberapa menit kemudian. Ia hendak mengantar Karina ke gazebo dan mengambil kotak P3K untuk telapak tangannya. Saat membungkuk memeriksa goresan, sebuah rangkaian kunci beradu pelan di bawah celemeknya.

Bi Asih segera memasukkannya ke saku.

Namun Karina telah melihat satu gantungan kayu kusam di antara kunci-kunci itu.

Tulisan yang memudar masih dapat dibaca.

Taman Belakang - Khusus.

1
awesome moment
pelakor ternuata tu jess jess
awesome moment
vincent dan sebastian punya rahasia p n
awesome moment
udh makin cinta kn
awesome moment
cinta yg tumbuh perlahan
awesome moment
lucas pernah ke sana
awesome moment
vincent c kuman
awesome moment
sebastian lahir dri kekejian herman thd elina
awesome moment
sebastian dan karina sama2 hidup kembali
awesome moment
ratih n lbh jahat dri dajjal. tega dgn anak kecil. demi harta
awesome moment
sabrina n wujud dajjal
awesome moment
banyak tangan yg mau menjaga nabil dan rafi. smg mrk ttp terlindungi dri org2 dws yg hnya melihat uang
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
awesome moment
kasihan anak2. sejarah adopsi nabil dan rafi penuh cerita keknya
awesome moment
mmg membangun mental yg hampir runtuh butuh perjuangan dan kejujuran
awesome moment
kasihan 2 bocil.
awesome moment
smua butuh proses
awesome moment
sll d yg bemar di lautan kesalahan
awesome moment
s7 bgts dgn alya.
awesome moment
siapa yg bantu raka dan alya. d pemain lain n
awesome moment
alya brubah. demi nabil dan rafi. smg sm author, alya g dibalikin lg ke dunia nyata. tar nabil sm rafi oleng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!