Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.
Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.
Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.
Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.
Namun kali ini, takdir berubah.
Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.
Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Jam istirahat siang, Elora, Lily, Chloe, dan Emma berkumpul di sudut kamar mandi perempuan yang sepi, ritual kecil yang sering mereka lakukan setiap kali Lily punya "berita penting" untuk dibahas.
"Jadi," Lily memulai dengan seringai lebar, bersandar di wastafel, "sampai kapan kamu mau pura-pura nggak sadar sama perasaanmu sendiri, Elora?"
"Aku nggak pura-pura apa-apa," bantah Elora cepat, meski pipinya sudah mulai merona sebelum kalimat itu selesai.
"Oh, ayolah," Chloe ikut menimpali sambil merapikan poninya di depan cermin. "Kamu pinjamkan jaket, kasih catatan pelajaran, ngajak nonton drama, terus sekarang bela-belain jadi tutor belajar dia. Itu bukan hal yang biasa dilakukan orang ke 'teman' biasa."
"Kami memang berteman," Elora masih berusaha mempertahankan alasannya, meski suaranya semakin pelan di akhir kalimat.
Emma, yang biasanya diam, kali ini ikut bersuara sambil menutup buku yang sedang ia baca. "Elora, kamu tersenyum sendiri setiap kali dapat pesan darinya. Aku duduk di sebelahmu waktu itu."
Elora terdiam, tidak bisa membantah fakta itu. Ia menghela napas panjang, akhirnya menyerah menyembunyikan sesuatu yang sebenarnya sudah cukup jelas bagi orang-orang terdekatnya.
"Oke, oke," akunya, menutup wajah dengan kedua tangan. "Mungkin aku... suka sama dia."
Sorak kecil terdengar dari Lily, yang langsung bertepuk tangan pelan. "Akhirnya! Sudah dari minggu pertama sekolah aku nunggu kamu ngaku!"
"Tapi masalahnya," lanjut Elora, menurunkan tangannya, wajahnya berubah sedikit murung, "Rean itu... beda. Dia nggak paham sama sekali soal hal-hal kayak gini. Setiap kali aku kasih kode, dia malah jawab dengan cara yang bikin aku pengen teriak."
"Serius sepolos itu?" tanya Chloe, mengangkat alis tidak percaya.
"Sangat," Elora mengangguk pasrah. "Waktu aku bilang mau bikinin bekal tiap hari, dia cuma bilang makasih dan muji aku baik banget. Nggak ada tanda-tanda dia ngerti maksudnya apa."
Ketiga sahabatnya saling pandang, menahan tawa geli mendengar cerita itu.
"Ya ampun, itu lucu banget," Lily tertawa kecil. "Tapi manis juga, sih. Jarang-jarang ada cowok sepolos itu."
"Manis, tapi bikin frustrasi," gerutu Elora, meski ada senyum kecil yang tidak bisa ia sembunyikan di baliknya.
Emma menepuk bahu sahabatnya, memberi tatapan menenangkan. "Kalau memang dia sepolos itu, mungkin kamu harus lebih jelas. Nggak semua orang bisa menangkap kode-kode halus."
"Aku juga sudah coba lebih berani," aku Elora. "Tapi entah kenapa, tetap aja dia menganggapnya biasa."
"Sabar aja," kata Chloe, tersenyum menyemangati. "Kalau memang jodoh, cepat atau lambat dia bakal sadar juga."
Elora tersenyum tipis mendengar dukungan sahabat-sahabatnya, meski di dalam hati, ia tahu perjalanan ini masih panjang dan penuh kesabaran yang harus ia jaga.
"Lagian," celetuk Lily jahil, "justru serunya di situ, kan? Kalau dia langsung sadar dari awal, nggak ada serunya."
Elora memukul pelan lengan Lily, meski akhirnya ikut tertawa bersama sahabat-sahabatnya. Di tengah tawa itu, ia merasa sedikit lebih lega — setidaknya sekarang, ia tidak lagi memendam perasaan itu sendirian.
Bel masuk berbunyi, mengakhiri obrolan singkat mereka. Keempatnya bergegas keluar dari kamar mandi, kembali menuju kelas masing-masing dengan rahasia kecil yang kini sudah terbagi di antara mereka berempat — sebuah rahasia yang, entah kapan, akan menemukan jalannya sendiri menuju kebenaran.
----
Perpustakaan sekolah lebih ramai dari biasanya menjelang ujian tengah semester, dipenuhi kelompok-kelompok belajar yang tersebar di setiap sudut meja. Rean duduk di meja dekat jendela bersama Ethan, Lucas, dan beberapa teman sekelas lainnya, buku-buku catatan terbuka di depan mereka.
"Rumus ini gimana cara pakainya?" tanya Rean, menunjuk salah satu soal matematika yang membuatnya kebingungan sejak tadi.
Lucas menyesuaikan kacamatanya, mencondongkan tubuh untuk melihat soal itu lebih dekat. "Oh, ini gampang, kok. Coba lihat, kamu tinggal—"
Penjelasan Lucas terhenti sejenak ketika sebuah suara familiar menyapa dari belakang.
"Butuh bantuan?"
Elora berdiri di sana, membawa tumpukan buku catatannya sendiri, tersenyum ramah. Tanpa menunggu jawaban, ia menarik kursi kosong dan duduk tepat di sebelah Rean.
"Kebetulan aku sudah paham materi ini," katanya, langsung mengambil alih penjelasan dari Lucas yang hanya mengangkat bahu, tidak keberatan.
Elora menjelaskan dengan sabar, sesekali menulis contoh soal di kertas kosong, memastikan Rean benar-benar memahami setiap langkahnya sebelum melanjutkan ke bagian berikutnya.
"Coba sekarang kamu kerjain sendiri," katanya, menyodorkan soal serupa.
Rean mengerjakan dengan serius, dahinya sedikit berkerut karena konsentrasi. Ketika akhirnya ia berhasil menyelesaikan soal itu dengan benar, wajahnya langsung berbinar bangga.
"Aku berhasil!" serunya spontan, sedikit terlalu keras hingga beberapa orang di meja sebelah menoleh.
Elora tertawa kecil melihat reaksi antusias itu, merasa gemas dengan caranya yang begitu polos merayakan pencapaian sederhana. "Bagus banget! Lihat, kamu sebenarnya cepat paham, kok, cuma butuh penjelasan yang tepat."
"Makasih udah mau ajarin," kata Rean tulus, menatap Elora dengan mata berbinar penuh rasa terima kasih.
"Sama-sama," jawab Elora, mencoba menyembunyikan senyum lebar yang mulai sulit ia kendalikan.
Mereka melanjutkan belajar bersama hingga sore, sesekali diselingi obrolan ringan di sela-sela mengerjakan soal. Ethan dan Lucas, yang duduk tak jauh dari mereka, sesekali saling melempar pandang jahil melihat interaksi keduanya yang semakin terasa alami.
"Mereka berdua tuh," bisik Ethan pelan pada Lucas, "kayak nggak nyadar aja kalau dari tadi cuma fokus berdua."
"Biarin aja," Lucas terkekeh pelan, kembali fokus pada soal-soalnya sendiri. "Seru juga liatnya."
Menjelang perpustakaan hendak tutup, Rean merapikan buku-bukunya, merasa jauh lebih percaya diri menghadapi ujian setelah sesi belajar hari itu.
"Makasih banyak, Elora," katanya sekali lagi sebelum berpamitan. "Aku jadi lebih paham banyak hal berkat kamu."
"Kapan-kapan kita belajar bareng lagi," usul Elora, mencoba terdengar santai meski dalam hati berharap ajakan itu akan sering terulang.
"Aku mau banget," jawab Rean tanpa ragu, tersenyum tulus. "Kamu guru yang sabar banget."
Kata "guru" itu membuat Elora sedikit tertawa getir dalam hati — bukan status yang ia harapkan disematkan padanya, meski ia tahu untuk saat ini, itulah satu-satunya peran yang bisa ia mainkan di mata Rean.
Namun ia memilih untuk tidak mengoreksi, hanya tersenyum dan melambaikan tangan ketika Rean akhirnya melangkah pergi, membawa langkah ringan penuh semangat menuju gerbang sekolah.
Elora duduk sendirian sejenak setelah kepergiannya, menatap meja yang masih berantakan dengan kertas-kertas latihan soal. Ia menghela napas panjang, antara gemas dan pasrah, namun tidak sedikit pun menyesali waktu yang ia habiskan sore itu.
*Pelan-pelan juga tidak apa-apa,* pikirnya, mulai merapikan buku-bukunya sendiri. *Yang penting aku terus berada di dekatnya.*