NovelToon NovelToon
Takdir Sang Pembantai Abadi

Takdir Sang Pembantai Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Action
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.

Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.

Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.

Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.

Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 - Hutan Kabut Beracun dan Anjing-Anjing Gerhana

Hutan Kabut Beracun hidup sesuai dengan namanya. Kabut hijau pucat yang tebal menggantung di antara dahan-dahan pohon yang membusuk, menghalangi cahaya matahari dan mengubah siang hari menjadi senja yang suram. Udara di sini berbau seperti belerang dan daging busuk, cukup untuk membuat kultivator biasa pusing dan mual dalam hitungan menit.

Kafilah Serigala bergerak lambat dan waspada. Para pengawal menutupi hidung dan mulut mereka dengan kain yang direndam dalam ramuan penawar racun. Namun, Lin Tian yang menunggangi Kuda Bersisik Hitam di barisan paling depan tampak sepenuhnya santai. Ia bahkan tidak menutup wajahnya.

Kabut racun yang terhirup olehnya langsung disaring oleh lautan qi hitam keemasan di dantiannya, berubah menjadi nutrisi murni yang perlahan memperkuat lapisan kulitnya. Kuda tunggangannya pun tetap tenang, dilindungi oleh aura tipis yang secara tidak sadar memancar dari tubuh Lin Tian.

Pemimpin pengawal berparut, yang kini menatap Lin Tian dengan rasa takut dan hormat yang mendalam, mendekatkan kudanya. "Senior, kita akan melewati Celah Tengkorak di depan. Tempat itu adalah sarang dari Bandit Kadal Darah. Mereka adalah sekelompok kultivator sesat yang kejam. Apakah kita perlu berputar arah?"

"Tidak perlu," jawab Lin Tian tanpa menoleh, matanya menatap lurus ke dalam kabut. "Jika mereka menghalangi jalan, singkirkan mereka. Aku tidak punya waktu untuk berputar arah."

Seolah merespons kata-katanya, suara desingan tajam tiba-tiba memecah keheningan hutan.

Puluhan jarum beracun melesat dari balik semak-semak, diikuti oleh jaring besi berat yang dijatuhkan dari atas dahan pohon. Tiga pengawal kafilah yang berada di belakang langsung menjerit saat jarum-jarum itu menembus leher mereka, racunnya membuat daging mereka meleleh dalam sekejap.

"Serang! Habisi mereka semua, ambil muatannya!"

Teriakan kasar menggema. Dari balik kabut hijau, sekitar tiga puluh pria bertubuh kekar dengan kulit bersisik merah melompat keluar. Mereka membawa golok berkarat yang meneteskan bisa ular. Ini bukan sekadar bandit biasa; mereka adalah kultivator yang mempraktikkan teknik sesat tingkat rendah.

Para pengawal Gerombolan Serigala panik dan mulai bertempur, namun mereka dengan cepat terdesak.

Dari tengah kerumunan bandit, seorang pria botak dengan bekas luka bakar di separuh wajahnya melangkah maju. Aura Pondasi Awal yang tidak stabil namun brutal meledak dari tubuhnya, menekan para pengawal Gerombolan hingga sulit bernapas.

"Aku dengar Gerombolan Serigala membawa barang berharga dari selatan," kata pria botak itu sambil menjilati goloknya yang berlumuran darah. "Serahkan semua cincin spasial kalian, dan aku mungkin akan membiarkan kalian mati dengan utuh."

Lin Tian menghela napas pelan, seolah bosan dengan adegan klise ini. Ia menepuk leher kudanya dan melangkah maju, menembus kerumunan pengawal yang sedang kewalahan.

"Siapa kau? Cari mati!" bentak salah satu bandit, mengayunkan goloknya ke arah leher Lin Tian.

Lin Tian tidak mencabut pedang hijaunya. Ia hanya mengangkat tangan kanannya dan menjepit bilah golok yang menebas ke arahnya dengan dua jari.

Krak.

Bilah besi yang tebal itu hancur berkeping-keping di bawah jepitan jari Lin Tian. Sebelum bandit itu sempat bereaksi, tangan kiri Lin Tian sudah mencengkeram wajahnya. Qi hitam berurat emas langsung membanjir, menyedot energi kehidupan dan qi bandit tersebut hingga menjadi mumi kering dalam hitungan detik. Mayat kering itu dilemparkan begitu saja ke tanah.

Keributan di medan perang tiba-tiba terhenti. Baik pengawal kafilah maupun para bandit menatap Lin Tian dengan mata terbelalak ngeri. Membunuh kultivator Pengumpulan Qi tingkat delapan hanya dengan satu tangan kosong, tanpa menggunakan senjata atau teknik qi yang terlihat?

Pria botak pemimpin bandit menyipitkan matanya, merasakan bahaya yang nyata. "Kau siapa? Kau berani ikut campur urusan Bandit Kadal Darah? Kau tidak tahu siapa yang melindungi kami?!"

"Siapa?" tanya Lin Tian datar, melangkah mendekat. Setiap langkahnya membuat tanah di bawahnya retak dan layu.

"Kami dilindungi oleh Perkumpulan Dagang Gerhana di Kota Qilin Hitam! Kau membunuh anak buahku, sama saja dengan menantang nyonya besar di kota!" ancam pria botak itu, mencoba menggertak sambil memundurkan langkahnya. Aura Pondasi Awalnya bergetar ketakutan.

Mata Lin Tian berkilat tajam. Perkumpulan Dagang Gerhana. Nama yang sama dengan yang tercatat di buku hitam Jin Wuya.

Lin Tian melesat. Kecepatannya menembus batas penglihatan mata manusia biasa. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan pria botak itu. Tinju kanannya yang diselimuti qi hitam keemasan menghantam perut pemimpin bandit tersebut.

Bugghhk!

Suara tulang rusuk dan organ dalam yang hancur terdengar mengerikan. Pria botak itu memuntahkan darah kental bercampur potongan organ, tubuhnya terlipat dan jatuh berlutut di depan Lin Tian. Aura Pondasi Awalnya langsung runtuh, dantiannya hancur oleh satu pukulan tersebut.

Lin Tian mencengkeram rambut pria botak itu, mengangkat wajahnya yang berlumuran darah dan air mata. "Jawab pertanyaanku, dan aku akan memberimu kematian yang cepat. Apa hubungan kalian dengan Perkumpulan Dagang Gerhana? Dan mengapa kalian menyergap kafilah dari selatan?"

Pria botak itu terbatuk, matanya penuh dengan ketakutan primal. "K-kami... kami hanya anjing penjaga... Nyonya besar membayar kami untuk menjaga jalan selatan... mencari siapa pun yang membawa Token Besi Hitam dari Sekte Pedang Perak..."

Lin Tian menyipitkan matanya. Mereka mencari Token Besi Hitam.

Istana Langit Hitam ternyata sudah tidak sabar. Mereka mengirim anjing-anjing jalanan untuk memblokir rute selatan, mengira Jin Wuya atau utusannya akan segera datang mengantarkan kunci brankas. Zhao Yan dan organisasinya benar-benar telah menyusup jauh ke dalam jaringan bawah tanah kota ini.

"Terima kasih," bisik Lin Tian. Qi hitam di tangannya berputar, langsung menghancurkan otak pria botak itu dari dalam. Mayat pemimpin bandit itu ambruk tanpa suara.

Melihat pemimpin mereka mati dengan cara yang begitu mengerikan, sisa bandit Kadal Darah langsung membuang senjata mereka dan berlarian panik ke dalam hutan, tidak berani menoleh ke belakang.

Pemimpin pengawal berparut menelan ludahnya, kakinya gemetar hebat. Ia menatap tumpukan mayat kering dan berlubang di tanah, lalu menatap Lin Tian yang sedang menyeka darah dari tangannya dengan kain sutra. Ia sadar, pemuda berjubah abu-abu ini bukanlah pelindung, melainkan iblis pemakan manusia yang kebetulan sedang berjalan ke arah yang sama dengan mereka.

"Gerombolan ini aman sekarang," ucap Lin Tian, kembali menaiki kudanya. "Teruslah bergerak. Kita sudah dekat."

Dua jam kemudian, kabut racun akhirnya menipis. Di hadapan mereka, terbentang sebuah dataran tandus berwarna hitam. Dan di ujung dataran itu, berdiri sebuah benteng raksasa yang dindingnya dibangun dari batu obsidian dan tengkorak monster.

Kota Qilin Hitam. Tempat di mana hukum kekaisaran tidak berlaku, dan nyawa manusia lebih murah daripada seekor anjing liar.

Gerbang kota setinggi tiga puluh meter dijaga oleh puluhan kultivator berbaju zirah hitam bermotif gerhana. Itu adalah lambang dari faksi penguasa kota tersebut.

Lin Tian turun dari kudanya di luar gerbang, melemparkan sekantong batu roh kepada pemimpin kafilah sebagai ganti kuda tersebut, lalu melangkah sendirian menuju gerbang raksasa itu. Di dalam saku jubahnya, Token Besi Hitam terasa dingin, siap untuk membuka pintu gerbang menuju sarang ular yang sesungguhnya.

1
Alia Chans
semangat thor nulisnya💪
Restu Agung Nirwana: hehe.. iya.. makasih dukungannya 👍
total 1 replies
B. Toon
Wah, seru. Suka MC nya, sadis, kejam, tanpa ampun, tapi masih punya batasan. Cuma musuh-musuhnya saja yang di bantai habis, orang yang tidak bersalah aman. Yang baik sama MC di balas 10x lipat kebaikannya, yang jahat sama MC di balas 100x lipat kejahatannya. Lanjut Thor 🔥🔥🔥
Restu Agung Nirwana: Hehehe... makasih bro. Ikuti trs ceritanya, jgn loncat-loncat bab. Biar gak bingung sama alurnya, slmt membaca 🙂🙂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!