NovelToon NovelToon
Buy 1 Get 1

Buy 1 Get 1

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Keesokan harinya, sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden kamar VIP rumah sakit, membawa kehangatan baru.

Suasana di dalam ruangan telah ditata sedemikian rupa menjadi lebih rapi.

Sebuah meja kecil dilapisi kain putih diletakkan di sisi ranjang Arka.

Di sana, seorang penghulu dari KUA telah duduk siap dengan berkas-berkas pernikahan di depannya, didampingi oleh dua orang saksi.

Tidak ada kebaya mewah atau setelan jas mahal. Sari dan Arka terpaksa mengenakan pakaian rumah sakit berwarna biru muda yang bersih.

Meski dahi Sari masih diperban dan Arka terbaring kaku dengan tangan serta kaki yang dibalut gips tebal, binar kebahagiaan dan kemantapan di mata keduanya tidak berkurang sedikit pun.

Sebelum prosesi dimulai, Nenek Maheswara mendekati penghulu.

Dengan suara yang tenang namun sarat akan wibawa, beliau menjelaskan situasi yang sebenarnya.

"Bapak Penghulu, terima kasih sudah bersedia hadir. Alasan saya meminta pernikahan ini dilangsungkan di rumah sakit secara mendadak adalah demi keselamatan dan kebaikan cucu-cucu saya. Kemarin mereka menjadi korban tabrak lari yang disengaja oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Saya tidak ingin menunda hari baik ini dan ingin memastikan mereka resmi menjadi suami istri agar bisa saling menjaga dengan kepastian hukum dan agama," jelas Nenek tegas.

Penghulu itu menatap kondisi Arka yang penuh luka, lalu beralih pada ketulusan di wajah Sari.

Ia menganggukkan kepalanya dengan takzim, merasa tersentuh.

"Saya paham, Nenek. Niat baik dalam kondisi apa pun harus segera ditunaikan. Mari kita mulai prosesinya."

Nanda segera maju, meletakkan selembar amplop berisi uang tunai sebesar lima ratus ribu rupiah di atas meja sebagai mas kawin yang disepakati secara mendadak namun sah.

Penghulu menjabat tangan kanan Arka yang bebas dari gips dengan erat.

Suasana kamar rumah sakit mendadak hening seketika.

Hanya terdengar bunyi bip konstan dari alat pemantau jantung Arka yang kini berdegup sedikit lebih cepat karena gugup.

"Saudara Arka bin Sutrisno," ucap Penghulu dengan lantang dan khidmat. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Saudari Sari Maheswara binti Maheswara, yang walinya telah mewakilkan kepada saya, dengan mas kawin berupa uang tunai sebesar lima ratus ribu rupiah, dibayar tunai."

Arka menarik napas panjang, menatap lurus ke dalam sepasang mata Sari yang sudah berkaca-kaca di sampingnya.

Dengan suara yang mantap, tegas, dan penuh penekanan tanpa ada keraguan sedikit pun, Arka mengikrarkan janjinya:

"Saya terima nikah dan kawinnya Sari Maheswara binti Maheswara dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!"

"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya Penghulu cepat.

"Sah! Sah!" sahut para saksi serempak.

"Alhamdulillahirabbil 'alamiin..."

Doa pun dipanjatkan bersama-sama. Air mata Sari luruh seketika, namun kali ini adalah air mata kebahagiaan yang teramat besar.

Ia langsung membungkuk, mencium punggung tangan kanan Arka dengan penuh rasa takzim dan cinta.

Sementara Arka tersenyum haru, mengusap pipi istrinya yang basah dengan jemarinya yang bebas.

Di balik dinding putih rumah sakit dan di tengah raga yang terluka, mereka kini telah resmi terikat dalam janji suci yang takkan tergoyahkan oleh badai apa pun.

Setelah doa penutup pernikahan selesai dipanjatkan, Nanda dan sopir pribadi Nenek Maheswara segera bergerak.

Atas perintah Nenek, mereka membawa beberapa troli besar berisi ratusan nasi kotak mewah yang sengaja dipesan dari restoran terbaik untuk dibagikan kepada para dokter, perawat, serta keluarga pasien lain yang berada di koridor dan bangsal rumah sakit.

"Silakan dinikmati, Pak, Ibu. Mohon doa restunya untuk pernikahan Ibu Sari dan Pak Arka yang baru saja dilangsungkan di dalam," ucap Nanda dengan senyum ramah saat membagikan kotak-kotak tersebut.

"Ya ampun, alhamdulillah. Semoga suaminya lekas sembuh ya, Mbak. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah," sahut salah seorang keluarga pasien dengan tulus.

Doa-doa baik pun mengalir deras dari sudut-sudut rumah sakit, menciptakan atmosfer hangat yang mengelilingi hari bahagia Arka dan Sari.

Di dalam kamar VIP, Nenek Maheswara duduk tenang di sofanya.

Beliau sengaja menyimpan rapat-rapat kabar pernikahan ini dari Marta dan Diana.

Tidak ada satu pun unggahan di media sosial, dan tidak ada pemberitahuan ke grup keluarga besar.

Nenek sengaja memasang perangkap keheningan.

Beliau ingin melihat reaksi kedua wanita ular itu. Jika mereka berdua memang terlibat dalam kecelakaan tragis yang menimpa cucunya, maka ketenangan rumah sakit ini akan menjadi umpan terbaik untuk memancing mereka keluar dan menunjukkan gelagat mencurigakan.

Sari berjalan mendekati neneknya, lalu berlutut pelan di samping sofa dan menggenggam tangan keriput itu.

"Nenek... terima kasih. Terima kasih untuk segalanya. Kalau bukan karena ketegasan Nenek, mungkin kami sudah menyerah."

Arka yang terbaring di ranjang ikut menoleh dengan tatapan penuh rasa hormat.

"Iya, Nenek. Terima kasih banyak sudah merestui dan melindungi kami."

Namun, sejurus kemudian, Arka menundukkan pandangannya, terselip rasa tidak enak di hatinya.

"Nenek, maafkan saya. Saya hanya bisa memberikan mahar yang sangat sedikit untuk Sari. Lima ratus ribu rupiah tentu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan status Sari..."

Nenek Maheswara meletakkan cangkir tehnya, lalu menatap Arka dengan pandangan mata yang teduh namun penuh penekanan. Beliau menggelengkan kepalanya perlahan.

"Arka, dengarkan Nenek baik-baik," ucap Nenek dengan suara yang dalam.

"Mahar di dalam pernikahan itu adalah simbol ketulusan dan tanggung jawab seorang lelaki, bukan ajang untuk memamerkan kekayaan atau gengsi di mata manusia. Nilai seorang lelaki tidak ditentukan dari berapa digit angka yang tertera di atas kertas mahar, melainkan dari bagaimana ia menghormati hak istrinya setelah ijab kabul diucapkan."

Nenek mengulas senyum tipis, menatap Sari yang kini sudah resmi menjadi istri Arka.

"Uang lima ratus ribu yang kamu berikan dengan tetes keringat yang halal, jauh lebih mulia di hadapan Allah daripada mahar miliaran rupiah yang diberikan hanya untuk kesombongan. Sari tidak kekurangan harta, Arka. Yang cucu Nenek butuhkan adalah hati yang kokoh untuk menjaganya, dan kamu sudah membuktikannya dengan mempertaruhkan nyawamu sendiri kemarin. Jadi, jangan pernah merasa kecil hati hanya karena mahar itu."

Mendengar nasihat bijak yang begitu menyejukkan hati dari Nenek Maheswara, rasa sesak di dada Arka seketika sirna, berganti dengan rasa syukur yang membuncah.

Ia melirik Sari yang tersenyum manis ke arahnya, siap menghadapi hari-hari baru sebagai sepasang suami istri yang sah.

Setelah memberikan nasihat yang meneduhkan hati, Nenek Maheswara melirik jam tangan emasnya.

Ada beberapa dokumen mendesak di Maheswara Group yang harus segera beliau tinjau, sekaligus memantau pergerakan Marta dan Diana dari jauh.

Beliau pun bangkit dari sofa dengan anggun, bertumpu pada tongkat setianya.

"Ya sudah, Nenek dan Nanda pamit keluar dulu. Masih ada urusan mendesak yang harus diselesaikan di perusahaan," pamit Nenek, menatap lekat kedua cucunya yang kini telah resmi bersatu.

"Dan untuk kalian, selamat menikmati hari pertama sebagai pengantin baru. Semoga pernikahan kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah."

"Aamiin. Terima kasih banyak, Nenek," sahut Arka dan Sari serempak dengan binar kebahagiaan yang terpancar jelas dari wajah mereka.

Nenek Maheswara mengangguk puas, lalu melangkah perlahan menuju pintu keluar.

Namun, Nanda tidak langsung mengikuti langkah sang Nenek. Asisten itu mendadak melangkah maju mendekati ranjang dengan gerak-gerik yang mencurigakan.

Dari balik tas kerjanya, ia mengeluarkan sebuah kotak kado berukuran sedang yang dibungkus kertas kado merah cerah dengan pita besar di atasnya.

Plop!

Nanda meletakkan kado itu secara instan di atas nakas sebelah ranjang Arka.

"Ibu Sari, Pak Arka, ini kado pernikahan dariku! Dipakai ya, jangan ditolak!" seru Nanda dengan nada super cepat.

Belum sempat Sari merespons atau melihat isi kado tersebut, Nanda sudah berbalik arah dan berlari terbirit-birit keluar dari kamar VIP seolah-olah sedang dikejar hantu.

Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang cepat. Nanda sengaja kabur secepat kilat karena ia tahu persis watak bos CEO-nya itu—jika ia tetap di sana, Sari pasti akan menolak kado pemberiannya dengan alasan tidak ingin merepotkan bawahan.

Sari tertegun menatap pintu yang sudah tertutup rapat, lalu beralih menatap kado merah di atas nakas. Ia tidak bisa menahan tawa ringannya.

"Nanda itu... ada-ada saja. Menikah di rumah sakit begini pun masih sempat-sempatnya menyiapkan kado."

Arka ikut terkekeh pelan dari ranjangnya, melupakan sejenak rasa sakit di sekujur tubuhnya.

"Memangnya kamu tahu itu isinya apa, Dek?"

Sari menaikkan sebelah alisnya, menatap suaminya dengan tatapan jenaka.

"Entahlah, Mas. Tapi melihat dia sampai kabur begitu, aku jadi punya firasat kalau isinya adalah sesuatu yang tidak terduga untuk pengantin baru."

Rasa penasaran yang menggelitik membuat Sari akhirnya melangkah mendekati nakas.

Dengan hati-hati, ia menarik pita besar di atas kotak kado pemberian Nanda dan merobek kertas pembungkusnya perlahan.

Begitu tutup kotak itu terbuka, mata Sari langsung terbelalak.

Wajahnya yang semula pucat pasca-kecelakaan seketika berubah merona merah matang hingga ke daun telinga.

Di dalam kotak itu, terlipat rapi sepasang piyama satin mewah berwarna merah marun.

Piyama untuk pria tampak kasual dan elegan, sementara piyama untuk wanita memiliki potongan tirisan yang cukup terbuka dan sangat seksi.

Namun, yang membuat jantung Sari semakin berdegup kencang adalah sebuah kartu ucapan kecil berwarna merah jambu yang terselip di atas kain satin tersebut.

Dengan tulisan tangan Nanda yang rapi, pesan singkat itu tertulis jelas:

Selamat menempuh hidup baru, Bos Sari dan Pak Arka! Semoga suka hadiahnya. Lekas punya momongan ya, biar rumah besar Nenek jadi ramai!

"Nanda... awas kamu ya, kalau masuk kerja nanti!" gumam Sari setengah berbisik, meremas pelan kartu ucapan itu dengan wajah yang makin memanas karena malu.

Arka yang memperhatikan gerak-gerik istrinya dari atas ranjang merasa heran.

Karena posisinya yang kaku terbungkus gips, ia tidak bisa melihat isi kotak tersebut.

"Ada apa, Dek? Isinya apa sampai wajahmu merah begitu?" tanya Arka polos.

Sari menoleh dengan gugup, berusaha menyembunyikan sisi piyama wanita ke bagian bawah kotak.

"I-ini... Nanda memberikan kita piyama sepasang, Mas. Tapi tulisannya itu loh, benar-benar tidak sopan," jawab Sari sambil mengerucutkan bibirnya.

Arka terkekeh pelan setelah mendengar penjelasan Sari.

Sorot mata pria itu melembut, menatap hangat ke arah wanita yang kini telah sah menjadi pendamping hidupnya.

Meskipun mereka berada di dalam kamar rumah sakit yang berbau antiseptik dengan tubuh yang penuh perban dan gips, doa jahil dari Nanda seolah membawa embusan angin segar yang penuh dengan harapan tentang masa depan kecil yang bahagia di antara mereka berdua kelak.

Melihat rona merah di pipi Sari yang begitu menggemaskan, rasa hangat menjalar di dada Arka.

Perlahan, ia menggerakkan tangan kanannya yang bebas dari gips, meraih tengkuk Sari dengan lembut agar wanita itu mendekat ke arahnya.

Sari mencondongkan tubuhnya tanpa memedulikan rasa pening yang sesekali masih menyerang kepalanya.

Cup.

Sebuah kecupan yang teramat dalam dan penuh rasa takzim mendarat di kening Sari.

Arka membiarkan bibirnya menempel di sana selama beberapa detik, menyalurkan seluruh rasa cinta, kelegaan, dan janji setia yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.

"Terima kasih sudah menerimaku apa adanya ya, Dik... Terima kasih sudah memilih bertahan di samping pria yang penuh kekurangan ini," bisik Arka lirih tepat di depan wajah Sari, tatapannya begitu teduh dan berkaca-kaca.

Sari memejamkan mata menikmati sentuhan itu, sebelum akhirnya mendongak dan menatap lekat manik mata suaminya.

Ia menggelengkan kepala perlahan dengan senyuman paling tulus yang ia miliki.

"Aku yang seharusnya berterima kasih, Mas," sahut Sari dengan suara melembut, menyeka sebutir air mata kebahagiaan yang hendak luruh di sudut matanya.

"Terima kasih karena Mas sudah bangun lagi untukku. Terima kasih sudah menjadi perisai hidupku kemarin. Di mataku, Mas Arka adalah pria paling sempurna."

Sari kemudian memajukan wajahnya dan mendaratkan sebuah kecupan hangat di pipi kanan Arka yang kasar namun terasa menenangkan.

Keheningan kamar rumah sakit itu kini terasa begitu magis.

Tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi keraguan. Piyama merah dari Nanda dan aroma antiseptik di sekitar mereka seolah menjadi saksi bisu bahwa di atas ranjang pesakitan ini, cinta mereka justru tumbuh menjadi jauh lebih kokoh dari sebelumnya.

1
Heriyani Lawi
arka kok terkesan TDK tau diri. istrinya seharian kerja, eh bukannya kasian malah minta jatah pdhl tgn dan kaki masih digibs, terkesan sekali egoisnya
my name is pho: namanya lelaki 🤭. kalau sudah ingin tidak bisa di tahan.
😄
total 1 replies
Diah Anggraini
lanjut ya Ka
Eli herlina
sumpah bagus bangets ceritanya👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Diah Anggraini
lamjut ya Ka
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,,
nunik rahyuni
lagian klo baru pertama kerja itu jgn lgsung dilepas di beri bimbingan dlu..suruh melihat dlu atau sambil di kasih aba aba apa dlu urutanya dan cara kerjanya..sdh tau orang kota kaya nyata ae g pernah tau bab dapur..melepuh kh tangan org..lgsg terjadi kecelakaan kerja
nunik rahyuni
thor sepanjang cerita aq masih bingung..bagaimana mereka lgsg serumah seatap tanpa ada ikatan pernikahan.....yg satu duda satunya wanita dewasa lho thor..mereka hidup di negara mana..pasti punya norma dan adat istiadat kan✌️✌️
nunik rahyuni
klo di dunia kita g ada ya thor modelan sari kya ini...yg ada sih sarimin🤣🤣🤣
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎
nunik rahyuni
mampir ya thor...perdana ni di lapak author..✌️✌️✌️
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Gege
cepetan kek arka disambar petirnya..🤣 trus diinjek sistem trilyuner gitu...🤭😄🤣
Gege
semua yang namanya sari selalu keras kepala ego tinggi suka bermain perasaan 🤣🤭😄kenyataan...
Rian Moontero
mampiiirr👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!