"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Waktu seakan berhenti berdetak di koridor lantai dua.
Almeera bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdentum gila-gilaan, mengalahkan suara bising anak-anak kelas sebelah yang sedang jam kosong. Di depannya, Sophia menatap lekat ujung rambut Almeera, lalu beralih menatap kunciran berbandul bintang perak di tangan Heera.
Tamat. Riwayat. Gue, rutuk Almeera dalam hati. Otaknya buntu, tidak bisa merangkai satu pun kebohongan yang masuk akal.
Namun, sang Ketua OSIS di seberang sana bergerak dengan sangat tenang, seolah tidak ada krisis mematikan yang sedang terjadi.
Akram menyipitkan matanya, menatap kunciran rambut itu sejenak, lalu mendengus pelan dan merampasnya dari tangan Heera.
"Oh, pantesan," gumam Akram santai, memutar-mutar kunciran itu di telunjuknya. "Dari kemarin malam Shilla nangis-nangis nyariin ini. Rupanya jatuh di jok motor."
Heera mengerutkan kening. "Shilla? Sepupu lo yang masih SD itu?"
"Iya. Kemarin sore gue bonceng dia beli es krim gara-gara ngambek. Kuncirannya lepas pas dia turun dari motor. Norak banget kan seleranya? Pakai bintang-bintang segala," Akram terkekeh pelan, memasukkan kunciran itu ke saku celananya dengan gerakan natural. "Nanti gue balikin ke anaknya biar berhenti rewel. Thanks ya, Ra."
Heera menghela napas lega. Senyum manisnya kembali merekah. "Gue kira punya cewek mana. Ya udah, sama-sama, Kram."
Di sisi lain, lutut Almeera rasanya lemas seketika. Hembusan napas lega lolos begitu saja dari bibirnya. Alibi Akram barusan begitu mulus, saking mulusnya Almeera sampai hampir percaya kalau kunciran favoritnya itu memang milik bocah SD.
Namun, ancaman belum sepenuhnya berakhir. Sophia masih menatap curiga ke arah Almeera, hidungnya kembali mengendus udara.
Akram yang menyadari Sophia masih curiga dengan aroma parfumnya yang menempel di tubuh Almeera, langsung mengambil langkah taktis. Ia berjalan mendekati kedua cewek itu. Saat berpapasan dengan Almeera, langkah Akram tiba-tiba terhenti.
Cowok itu mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Almeera, mengendus udara dengan ekspresi wajah jijik yang dibuat-buat dengan sangat sempurna.
"Buset, Al," tegur Akram dengan suara agak keras, sengaja menarik perhatian beberapa siswa yang lewat. "Koridor mendadak bau menyan. Lo habis mandi pakai parfum bapak-bapak? Nyengat banget sumpah. Selera lo bener-bener krisis identitas, ya? Muka preman, parfum om-om."
Darah Almeera yang tadi surut kini mendidih kembali. Umpatan Akram barusan berhasil membangkitkan insting bertarungnya. Ia mendelik garang, menatap nyalang tepat di manik mata hitam suaminya itu.
"Bacot lo, tiang listrik!" balas Almeera sengit, suaranya menggelegar. "Ini pewangi baju baru nyokap gue! Hidung lo aja yang mampet kebanyakan dosa makanya nyium bau menyan!"
Akram mengibaskan tangannya di depan hidung, berpura-pura tercekik. "Terserah lo deh. Mending lo jauhan dikit dari gue, bisa asma gue nyium bau detergen lo."
"Siapa juga yang mau deket-deket elo?!"
Melihat pertengkaran sengit yang sangat natural itu, kecurigaan di mata Sophia langsung menguap tak bersisa. Ia malah tertawa ngakak sambil memukul bahu Almeera.
"Tuh kan, Al! Gue bilang juga apa! Wanginya emang maskulin banget, pantesan Akram sampai ngatain lo bau bapak-bapak!" Sophia menarik lengan Almeera. "Udah yuk ke kelas, malu dilihatin anak-anak lo berantem terus sama Pak Ketos."
Almeera membiarkan dirinya diseret oleh Sophia, namun sebelum berbelok masuk ke kelas, ia menoleh sekilas ke belakang. Akram masih berdiri di sana bersama Heera, namun mata cowok itu menatap lurus ke arah Almeera. Sudut bibir Akram berkedut, menahan senyum kemenangan, lalu ia mengedipkan sebelah matanya dengan kilat jail.
Sialan, batin Almeera, meski jauh di lubuk hatinya, ada rasa terima kasih yang enggan ia akui. Cowok menyebalkan itu baru saja menyelamatkan nyawanya.
......................
Sore Hari, di Apartemen 2507.
Almeera melempar tas ranselnya ke atas sofa dan langsung menghempaskan tubuhnya ke karpet berbulu di ruang tamu. Hari ini benar-benar menguras energinya. Kabar baiknya, proposal pensiun NOISE sudah disetujui (berkat tanda tangan Akram semalam), jadi Nino dan anak-anak band lain tidak banyak bertanya. Kabar buruknya, ia harus pulang ke apartemen ini lagi.
Terdengar bunyi password ditekan dari pintu depan, disusul pintu yang terbuka. Akram melangkah masuk, wajahnya terlihat sedikit lelah, seragamnya kusut, namun entah kenapa kadar ketampanannya tidak berkurang sedikit pun.
Melihat Almeera yang telentang di karpet seperti bintang laut, Akram menggelengkan kepala.
"Minggir, zombi. Lo ngalangin jalan," usir Akram sambil menyenggol pelan kaki Almeera dengan ujung sepatunya.
Almeera menarik kakinya malas. "Kaki lo yang kepanjangan. Ruang tamu segede ini masih aja nyari jalan di tempat gue rebahan."
Akram tidak membalas. Ia berjalan ke arah dapur, mengambil sebotol air mineral dingin dari kulkas dan menenggaknya hingga tandas. Setelah dahaganya hilang, ia merogoh saku celananya dan melempar sebuah benda kecil ke arah Almeera.
Tuk!
Benda itu mendarat tepat di jidat Almeera.
"Aw! Sakit, bego!" Almeera memungut benda itu dan mendengus saat melihat kunciran rambut berbandul bintangnya.
"Nih, balikin kunciran SD lo. Bikin gue harus bohong dosa pagi-pagi," kata Akram santai sambil meletakkan botol kosong di wastafel. "Lain kali kalau barang-barang norak lo itu jatuh lagi, gue biarin aja dipungut Heera."
Almeera duduk bersila, mengusap jidatnya. "Ya sorry. Lagian siapa suruh lo ngegas motor tiba-tiba kemarin? Kalau kunciran gue jatuh, itu murni salah lo."
Akram memutar tubuhnya, bersandar di meja pantry sambil melipat tangan di dada. Matanya menatap intens ke arah Almeera. "Oh ya? Kemarin gue ngegas motor karena siapa yang nyuruh gue jalan cepet-cepet? Terus siapa yang refleks meluk gue dari belakang kenceng banget sampai nyaris bikin gue sesak napas?"
Wajah Almeera seketika memanas. Semburat merah menjalar dari leher hingga ke telinganya. "Gue nggak meluk! Gue... gue pegangan biar nggak jatuh!"
"Pegangan atau curi kesempatan?" Akram menaikkan sebelah alisnya, senyum miringnya kembali terbentuk. Ia melangkah maju mendekati Almeera yang masih duduk di karpet. "Ternyata lo agresif juga ya, Al."
"Dih! Pede gila!" Almeera buru-buru berdiri, tidak mau kalah dominan. Ia mendongak menatap Akram yang kini berdiri hanya berjarak dua jengkal darinya. "Denger ya, Kram. Dipeluk sama lo itu masuk ke dalam daftar hal-hal yang paling nggak mau gue lakuin seumur hidup. Gue mending disuruh meluk patung macan di perempatan jalan!"
"Masa?" Akram menundukkan kepalanya sedikit. Aroma mint dan keringat maskulin yang khas menguar, menyelimuti indra penciuman Almeera. "Kalau gitu, kenapa detak jantung lo kedengeran sampai sini, Almeera?"
Almeera terkesiap. Ia secara refleks mundur selangkah, namun tumitnya tersandung ujung karpet tebal. Kehilangan keseimbangan, tubuh Almeera oleng ke belakang.
"Eh—!"
Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, lengan kokoh Akram melingkar di pinggang Almeera, menarik tubuh gadis itu ke depan agar tidak jatuh menghantam lantai marmer.
Tarikan itu terlalu kuat.
Almeera menabrak dada bidang Akram. Kedua tangannya secara naluriah mencengkeram kerah kemeja cowok itu. Napas mereka beradu di udara. Waktu seolah melambat saat mata cokelat terang Almeera terkunci pada manik hitam legam milik Akram.
Mereka berdiri sangat dekat. Terlalu dekat. Almeera bisa merasakan kerasnya detak jantung di balik kemeja Akram, yang berpacu sama gilanya dengan detak jantungnya sendiri. Ia menatap bulu mata lentik Akram, rahangnya yang tegas, dan... tatapan matanya yang kini berubah. Tidak ada lagi kilat jahil di sana, yang ada hanyalah intensitas gelap yang membuat lutut Almeera benar-benar lemas.
Di sisi lain, otak rasional Akram sedang berteriak menyuruhnya melepaskan cewek ini. Namun, lengannya justru mengencang di pinggang Almeera. Wangi sampo stroberi bercampur aroma khas tubuh Almeera membuatnya enggan bergerak.
Dia cuma Almeera. Musuh lo, batin Akram berusaha menolak. Tapi matanya tanpa sadar turun, menatap bibir cewek itu yang sedikit terbuka karena terkejut.
Udara di ruang tamu itu tiba-tiba terasa menipis. Ketegangan yang mengudara di antara mereka bukan lagi permusuhan, melainkan daya tarik magnetis yang sangat berbahaya.
"Lepasin..." bisik Almeera akhirnya, suaranya parau dan bergetar, memecah keheningan yang menyesakkan itu.
Akram seperti tersadar dari mantra. Ia mengerjap cepat, lalu menguraikan pelukannya dengan sedikit canggung. Ia berdeham, mundur satu langkah, berusaha menormalkan kembali ekspresi wajahnya.
"Mangkanya, kalau jalan pakai mata, jangan pakai ego," omel Akram, meski suaranya tidak setajam biasanya. Ia mengusap belakang lehernya yang tiba-tiba terasa panas. "Gue mandi dulu. Jangan sampai lo kesandung lagi terus gue yang repot."
Tanpa menunggu balasan Almeera, Akram membalikkan badan dan bergegas masuk ke dalam kamar tidur, menutup pintu sedikit lebih keras dari biasanya.
Almeera masih berdiri mematung di tengah ruang tamu. Ia menyentuh dadanya sendiri. Jantungnya bergemuruh hebat, seolah baru saja menyelesaikan konser rock berdurasi dua jam tanpa henti.
Gila. Ini gila, ratapnya dalam hati. Pertahanan emosinya mulai runtuh, dan itu sangat menakutkan.
......................
Pukul 19.30 WIB.
Suasana di apartemen kembali "normal". Normal dalam artian Almeera dan Akram kembali membangun tembok tak kasatmata. Almeera sedang duduk di sofa ruang tamu sambil menonton Netflix dengan volume cukup keras, sementara Akram duduk di kursi meja pantry, fokus mengetik sesuatu di laptopnya dengan earphone terpasang di telinga.
Keduanya diam-diam menghindari kontak mata sejak kejadian "jatuh" sore tadi.
Tiba-tiba, suara bel pintu apartemen memecah konsentrasi mereka.
Ting tong! Ting tong!
Almeera memelankan volume TV. Ia menoleh ke arah Akram yang juga baru saja melepas sebelah earphone-nya.
"Bastian lagi?" bisik Almeera panik, bayangan harus bersembunyi di kamar sambil membawa sisa camilannya terbayang di kepala.
Akram mengernyitkan dahi. "Bastian bilang malam ini dia ada acara keluarga. Nggak mungkin ke sini."
Akram beranjak dari kursinya, berjalan mendekati layar intercom di dekat pintu utama. Saat layar itu menyala, wajah Akram seketika berubah. Rahangnya mengeras, dan darahnya seolah berdesir dingin.
"Siapa?" tanya Almeera yang kini sudah berdiri di belakang Akram, ikut mengintip ke arah layar kecil itu.
Mata Almeera membelalak ngeri.
Di layar intercom, terlihat seorang gadis cantik berambut ikal terurai, mengenakan cardigan rajut merah muda dan celana jins pas badan. Di tangannya, gadis itu membawa sebuah paper bag kecil.
Itu Heera.
"Ngapain mantan lo ke sini?!" desis Almeera panik, memukul lengan Akram. "Dia tahu lo pindah ke apartemen?!"
"Gue nggak tahu, Al! Sumpah!" balas Akram dengan kepanikan yang sama. "Gue nggak pernah ngasih tahu siapa pun alamat gue selain Bastian!"
Belum sempat mereka berpikir jernih, suara Heera mengalun lembut dari speaker intercom.
"Kram? Lo di dalem, kan? Tadi siang gue ketemu Tante Jihan di lobi sekolah. Beliau bilang lo agak nggak enak badan, makanya gue minta alamat apartemen baru lo ke Tante Jihan. Gue bawain sup iga kesukaan lo nih. Buka pintunya dong, Kram."
Jantung Almeera rasanya berhenti berdetak. Ia menatap Akram dengan horor.
Tante Jihan. Mamanya Akram yang luar biasa baik hati itu tanpa sengaja membocorkan lokasi persembunyian rahasia mereka kepada musuh nomor satu Almeera.
"Kram..." suara Almeera mencicit, ketakutannya benar-benar nyata sekarang. "Kalau dia sampai maksa masuk... kita beneran hancur."
Akram menatap layar intercom, lalu menatap Almeera. Otak jenius sang Ketua OSIS bekerja dengan kecepatan maksimal, mencari jalan keluar dari skenario kiamat yang kini benar-benar mengetuk pintu rumah mereka.