NovelToon NovelToon
Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak tii

Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.

Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.

Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sentuhan tangan di ruang kerja

Genggaman tangan Mas Arkan pada pergelangan tangan kananku masih terasa begitu hangat dan erat. Detik demi detik berlalu di dalam ruang kerja yang sunyi itu, namun tidak ada satu pun dari kami yang berinisiatif untuk melepaskan tautan tersebut. Udara AC yang dingin seolah tidak mampu menembus lingkaran kehangatan yang tercipta di antara kami berdua saat ini.

Aku perlahan mendongakkan wajah, memberanikan diri menatap sepasang mata cokelat gelap di balik kacamata baca tebal itu.

"M-Mas..." suaraku terdengar sangat lirih, hampir menyerupai bisikan saking gugupnya. "Tangannya... nggak mau dilepas?"

Mas Arkan tampak sedikit tersentak, seolah baru saja tersadar dari lamunan panjang yang menyita seluruh fokusnya. Ia melirik ke arah pergelangan tanganku yang masih melingkar erat di dalam genggamannya, lalu perlahan-lahan mengendurkan jepitan jemarinya dengan gerakan yang sangat lambat dan tampak enggan.

"Maaf," ujarnya pelan, berdeham pendek sekali untuk menetralisir rasa canggung yang mendadak kembali menyeruak di antara kami. "Saya... hanya refleks karena merasa sangat lelah tadi."

"Nggak apa-apa, Mas. Karin paham kok," jawabku buru-buru sembari menarik kembali tanganku dan menyembunyikannya di balik saku kulot cokelat mudaku, mencoba meredam getaran halus yang masih terasa menjalar di ujung-ujung jariku.

Mas Arkan meraih cangkir keramik abu-abu berisi teh melati hangat yang kubawakan tadi, lalu menyesapnya perlahan. Aroma harum melati yang menguar dari cangkir itu tampak sedikit membantu merilekskan ketegangan di bahu tegapnya.

"Teh buatan kamu selalu pas, Karin. Tidak terlalu manis dan aromanya sangat menenangkan," pujinya tulus sembari meletakkan kembali cangkirnya di atas tatakan kayu meja.

"Karin kan emang jago kalau cuma bikin teh hangat, Mas," sahutku penuh percaya diri sembari tersenyum lebar, mencoba mengusir sisa kecanggungan yang masih menggelayuti udara di sekitar kami. "Oh ya, kalau Mas Arkan masih pusing sama algoritmanya, kenapa nggak coba istirahat sebentar? Mungkin dengan jalan-jalan keluar atau sekadar nonton TV di ruang tengah, otaknya bisa jadi lebih segar."

Mas Arkan menatap papan tulis kaca di sudut ruangannya yang penuh dengan coretan rumus matematika rumit. "Deadline riset ini sangat ketat, Karin. Saya tidak yakin memiliki waktu luang untuk bersantai hari ini."

"Tapi kalau dipaksakan terus-menerus, nanti Mas Arkan bisa sakit. Kalau Mas Arkan sakit, siapa yang mau masakin Karin tumis ayam mentega yang enak lagi?" rajukku manja, sengaja menggunakan alasan makanan agar pria keras kepala ini mau mendengarkan saranku.

Mendengar alasan konyolku, Mas Arkan tidak bisa menahan senyum tipisnya yang sangat menawan. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan, menatapku dengan binar kegemasan yang sangat nyata di sepasang matanya. "Jadi, kamu mengkhawatirkan kesehatan saya hanya karena takut tidak ada yang memasak makanan enak untuk kamu?"

"E-eh! Ya nggak gitu juga sih, Mas!" sanggahku panik dengan wajah yang mendadak kembali memerah. "Karin beneran khawatir sama kesehatan Mas Arkan tahu! Kan Mas Arkan udah banyak banget bantu pengobatan Ibu, jadi Karin juga mau Mas Arkan selalu sehat."

Mendengar penuturanku yang sangat tulus, sorot mata Mas Arkan kembali melembut. Ia melepas kacamata bacanya, melipatnya dengan rapi, lalu meletakkannya di atas meja kerja sebelum akhirnya bangkit berdiri dari kursi kulitnya yang besar.

"Baiklah. Saya rasa saran dari mahasiswi bimbingan saya kali ini ada benarnya," ujarnya dengan nada suara yang sangat santai dan hangat. "Saya akan istirahat selama satu jam ke depan. Kamu mau menemani saya menonton televisi di ruang tengah?"

"Mau banget, Mas! Kebetulan hari ini ada jadwal tayang film animasi kesukaan Karin di televisi!" seruku gembira, langsung berbalik badan memimpin jalan keluar dari ruang kerjanya yang sunyi.

Kami berdua kini duduk berdampingan di atas sofa krem ruang tengah yang sangat empuk dan nyaman.

Jarak di antara kami hanya dipisahkan oleh sebuah bantal sofa kecil berwarna abu-abu yang sengaja kuletakkan di tengah-tengah sebagai batas darurat agar tubuh kami tidak terlalu menempel rapat. Di atas meja kaca di hadapan kami, sudah tersedia satu piring kecil buah apel merah yang sudah kukupas dan kupotong rapi, serta dua gelas air putih dingin.

Televisi layar datar besar di depan kami sedang menayangkan sebuah film animasi petualangan keluarga yang sangat seru. Aku menonton dengan sangat fokus, sesekali tertawa renyah atau berteriak gemas setiap kali karakter utama dalam film tersebut melakukan tindakan konyol yang memicu tawa.

Sementara itu, Mas Arkan duduk dengan posisi bersandar santai pada sandaran sofa. Pria itu tampak tidak terlalu fokus pada jalannya cerita di layar televisi; melainkan lebih sering melirik ke arah samping wajahku—memperhatikan bagaimana ekspresi wajahku berubah-ubah dengan sangat cepat setiap detiknya saat menonton.

"Karin," panggilnya lirih di sela-sela suara gemuruh musik latar film animasi.

"Iya, Mas?" sahutku tanpa mengalihkan pandangan mataku dari layar televisi, masih sibuk mengunyah sepotong buah apel manis di dalam mulutku.

"Terima kasih," ujarnya lagi.

Aku menghentikan kunyahanku sejenak, lalu memutar kepalaku menghadap ke arahnya dengan pandangan heran. "Terima kasih buat apa lagi, Mas? Kan tadi di ruang kerja sudah bilang makasih."

"Terima kasih karena sudah ada di sini, menemani saya," jawab Mas Arkan dengan nada suara yang sangat rendah, penuh dengan kelembutan yang sangat murni. "Selama beberapa tahun terakhir ini, hidup saya hanya dipenuhi oleh pekerjaan, riset, dan ruang kelas yang sunyi. Saya selalu berpikir bahwa kesendirian adalah hal yang paling menenangkan untuk saya. Tapi setelah tinggal bersama kamu di apartemen ini... saya baru menyadari bahwa kehadiran seseorang yang selalu ceria seperti kamu ternyata bisa membuat hidup saya terasa jauh lebih bermakna."

Mendengar pengakuan jujur dan sangat mendalam yang keluar langsung dari bibir suamiku sendiri, seluruh kata-kata yang sudah kusiapkan di ujung lidahku seketika menguap tanpa sisa. Dada bidangku rasanya bergetar hebat dengan debaran jantung yang sangat kencang, seolah-olah seluruh pasokan oksigen di ruang tengah ini mendadak hilang tersedot oleh tatapan matanya yang sangat intens dan penuh perasaan itu.

Aku memandang lekat-lekat ke dalam sepasang mata cokelat gelapnya yang teduh, merasakan getaran kenyamanan dan rasa dicintai yang sangat nyata mulai tumbuh subur menyelimuti seluruh sudut hatiku yang terdalam sore itu. Hubungan pernikahan kontrak satu tahun yang awalnya terasa seperti sebuah beban yang sangat menakutkan, kini rasanya telah sepenuhnya berubah menjadi takdir manis yang sangat kusyukuri keberadaannya di dalam lembaran hidupku setelah hari ini.

Aku hanya bisa mengangguk pelan sembari tersenyum sangat manis, tidak mampu lagi menyembunyikan debaran kebahagiaan yang membuncah indah di dalam dadaku saat menatap lekat sepasang mata teduhnya sore itu.

1
Rian Moontero
mampiiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!