NovelToon NovelToon
Mekanik Rongsokan Menaklukkan Galaksi

Mekanik Rongsokan Menaklukkan Galaksi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Ketika langit malam berkedip dan suara mekanis yang dingin bergema di benak miliaran manusia, Bumi tidak lagi sama. Kiamat tidak datang membawa api dari neraka atau wabah mematikan, melainkan sebuah layar biru transparan yang melayang di udara.
​Era damai telah dihancurkan oleh "Sistem". Manusia secara paksa ditarik ke dalam arena kelangsungan hidup semesta, di mana monster bermunculan dari bayang-bayang dan hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. Beradaptasi, berevolusi, atau mati.
​Yudha, seorang mekanik penyendiri yang lebih nyaman berbicara dengan mesin daripada manusia, secara tidak sengaja meretas anomali sesaat sebelum kiamat dimulai. Berkat sebuah kubus hitam misterius yang ia temukan di pasar loak, Sistem salah mengidentifikasinya dan memberikannya kelas yang belum pernah tercatat dalam sejarah integrasi: Mekanik Kosmik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Jalur Tikus dan Katup Pembuangan

​Stasiun kereta bawah tanah itu gelap gulita, dipenuhi bau karat, lumut, dan genangan air kotor yang menggenang setinggi mata kaki. Sinar matahari sama sekali tidak bisa menembus masuk ke dalam terowongan yang sebagian atapnya telah runtuh ini.

​Kumbang Baja Pengangkut merayap perlahan ke sudut peron yang tertutup bayang-bayang puing beton. Mengikuti perintah mental Yudha, mesin raksasa itu melipat keenam kakinya rapat-rapat ke tubuhnya, mematikan pendaran inti energinya, dan masuk ke mode hibernasi mutlak. Dari luar, mesin itu kini hanya terlihat seperti gundukan besi rongsokan yang tak bernilai.

​"Tunggu di sini sampai aku memanggilmu," batin Yudha, memutuskan koneksi sementaranya dengan mesin tersebut.

​Ia berbalik, menatap ke arah terowongan rel kereta yang mengarah lurus ke pusat alun-alun di atas mereka. Lin Tian dan Lin Chen berdiri di belakangnya, menutupi hawa keberadaan mereka dengan sangat baik. Napas kedua bersaudara itu sangat pelan dan teratur, bukti nyata dari penguasaan ilmu bela diri yang semakin matang.

​"Nyalakan penglihatan malam kalian. Kita bergerak sekarang," perintah Yudha dengan suara berbisik.

​Ketiganya mulai menyusuri rel kereta yang basah. Semakin jauh mereka berjalan, suhu udara terasa semakin meningkat. Udara lembap berubah menjadi kering dan menyengat kulit. Sesekali, terdengar suara geraman rendah dari monster tingkat bawah yang bersembunyi di rongga-rongga terowongan, namun hawa membunuh yang dipancarkan oleh Lin bersaudara membuat makhluk-makhluk rendahan itu tidak berani mendekat.

​Setelah dua puluh menit berjalan, lorong terowongan itu tiba-tiba terputus.

​Di depan mereka, bukan lagi dinding tanah atau beton buatan manusia, melainkan sebuah dinding logam berwarna hitam keperakan yang membentang menutupi seluruh ruang bawah tanah tersebut. Dinding itu adalah fondasi dari Reruntuhan Peradaban Kuno yang tertanam jauh ke dalam perut bumi.

​Di tengah-tengah dinding logam raksasa itu, terdapat sebuah lubang melingkar berdiameter lima meter. Kisi-kisi baja tebal menutupi lubang tersebut, menghembuskan hawa panas dan uap putih ke dalam terowongan kereta.

​"Itu saluran pembuangannya," tunjuk Yudha. Matanya yang diperkuat oleh atribut Kecerdasan 33 titik dengan cepat memindai struktur kisi-kisi tersebut. "Tidak ada kunci fisik. Itu dikendalikan oleh segel energi."

​Lin Tian melangkah maju, memegang erat Tombak Penembus Tulang di tangannya. "Biar saya hancurkan kisi-kisi itu, Ketua."

​"Jangan," cegah Yudha. "Dinding logam itu terhubung langsung dengan sistem pertahanan inti. Jika kau menghancurkannya dengan paksa, alarm akan berbunyi di seluruh reruntuhan, dan ratusan penjaga akan mengepung kita sebelum kita sempat masuk sejengkal pun."

​Yudha melangkah mendekati kisi-kisi baja tersebut. Udara panas menerpa wajahnya, namun rompi zirah tulang putih di balik jaketnya menetralisir suhu ekstrem itu dengan mudah. Ia mengangkat lengan kanannya, membiarkan ujung jemari mekanisnya menyentuh permukaan baja yang panas.

​Otaknya yang memiliki batas Daya Komputasi 250 titik mulai bekerja layaknya mesin pemecah sandi tingkat tinggi.

​[Menganalisis struktur pengunci gerbang pembuangan energi...]

[Ditemukan enkripsi energi tingkat kuno. Memulai peretasan paksa. Estimasi waktu: 3 Menit.]

​Garis-garis cahaya biru menjalar dari telapak tangan Yudha, merayap memasuki sela-sela logam dan mencari titik lemah dari mekanisme pengunci.

​"Jaga punggungku. Jangan biarkan apa pun menggangguku selama tiga menit ke depan," perintah Yudha tanpa menoleh.

​"Baik!" jawab Lin bersaudara serempak. Mereka segera berbalik membelakangi Yudha, menghadap ke arah kegelapan terowongan kereta.

​Tidak sampai satu menit berselang, air kotor di bawah kaki mereka mulai beriak. Suara gesekan logam yang tajam dan berirama terdengar dari langit-langit terowongan yang gelap.

​Dari balik uap panas yang memenuhi ruangan, dua pasang mata merah menyala terang. Siluet panjang merayap turun dari dinding beton. Bentuknya menyerupai kelabang raksasa sepanjang empat meter, namun seluruh tubuhnya terbuat dari lempengan baja berkarat yang disatukan oleh kabel-kabel energi yang berdenyut.

​[Kelabang Baja Penjaga - Tingkat 5]

[Status: Menjaga Batas Wilayah Reruntuhan]

​"Benda mati yang digerakkan oleh energi murni," gumam Lin Tian, menyipitkan matanya. Ia memutar tombaknya, mengalirkan tenaga dari dalam tubuhnya ke senjata tersebut. Ujung tulang pilar sang algojo kini berpendar putih menyilaukan.

​Kedua kelabang mekanis itu mendesis, mengeluarkan suara bising layaknya mesin gergaji yang saling bergesekan, lalu menerjang turun secara bersamaan. Kaki-kaki logam mereka yang jumlahnya puluhan menancap ke lantai, merobek aspal dan beton dengan mudah.

​Lin Chen tidak menunggu diserang. Ia menolak tanah, melesat ke depan layaknya bayangan hantu. Kelincahannya yang luar biasa memungkinkannya menghindari semburan cairan panas yang dimuntahkan oleh kelabang pertama.

​"Mati!"

​Lin Chen mengayunkan sepasang pedang lengkungnya secara menyilang. Senjata yang ditempa dari cakar Pengintai Kulit Besi itu merobek udara tanpa suara.

​TRANG! KRAK!

​Bilah pedang itu dengan mulus menyusup ke celah lempengan baja di leher sang kelabang, memutus kabel energi utamanya dalam satu tebasan presisi. Kelabang mekanis pertama itu langsung kehilangan tenaga, menabrak dinding, dan berkedut liar sebelum akhirnya mati total.

​Di sisi lain, kelabang kedua mencoba menggulung tubuh Lin Tian dengan ratusan kaki besinya yang tajam. Namun Lin Tian berdiri kokoh layaknya gunung. Ia tidak menghindar, melainkan menarik tombaknya ke belakang, memusatkan seluruh kekuatannya pada satu titik, lalu menusukkannya lurus ke depan dengan daya hancur maksimal.

​BOOM!

​Tombak Penembus Tulang itu menghantam kepala baja sang kelabang. Baja berkarat itu hancur berantakan seolah terbuat dari kaca tipis. Ujung tombak menembus lurus hingga ke inti energi di dalam tubuh mesin tersebut, menghancurkannya berkeping-keping.

​Kedua penjaga Tingkat 5 itu dihabisi dalam waktu kurang dari sepuluh detik, tanpa menimbulkan ledakan besar. Perpaduan antara senjata buatan Yudha dan ilmu bela diri murni Lin bersaudara benar-benar menghasilkan daya mematikan yang tak terbendung.

​"Ketua, area aman," lapor Lin Tian tenang, menarik tombaknya dari bangkai mesin tersebut.

​Tepat pada detik itu, suara putaran gigi roda yang sangat berat terdengar dari arah dinding logam raksasa.

​KACHA!

​Kisi-kisi baja tebal di depan Yudha terbelah menjadi empat bagian dan perlahan terbuka, memperlihatkan lorong gelap yang melingkar dan terbuat dari logam murni di baliknya. Hawa dingin seketika menggantikan uap panas, menandakan bahwa sistem pendingin utama reruntuhan ada di ujung lorong ini.

​"Kerja bagus," ucap Yudha seraya menarik tangannya kembali. "Segelnya sudah terbuka."

​DUARRR!

​Tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka berguncang sangat hebat, seolah kiamat gelombang kedua baru saja menghantam bumi. Langit-langit terowongan runtuh meneteskan air dan kerikil. Guncangan itu berasal dari atas, dari arah alun-alun kota.

​Suara mekanis Sistem yang dingin bergema di benak seluruh makhluk hidup di wilayah tersebut.

​[Peringatan: Pelindung Energi Reruntuhan Peradaban Kuno (Pusat Kota) telah dihancurkan lebih awal dari perkiraan oleh serangan gabungan.]

[Reruntuhan resmi terbuka! Hukum pembantaian dimulai.]

​Yudha menyeringai lebar. Bayangan wajahnya yang keras diterangi oleh pendaran cahaya dari dalam lorong logam.

​Para petarung dari Fraksi Darah Besi dan kelompok-kelompok besar lainnya di atas sana pasti sedang bersorak, berpikir bahwa mereka telah berhasil mendobrak pintu depan dan siap memperebutkan harta karun. Mereka tidak tahu bahwa dengan menghancurkan kubah itu, mereka baru saja membangunkan ribuan penjaga utama yang akan membantai mereka tanpa ampun.

​"Pesta di lantai atas sudah dimulai," ucap Yudha dingin. Ia melangkah masuk ke dalam lorong logam pembuangan energi, diikuti rapat oleh Lin Tian dan Lin Chen.

​"Mari kita kuras habis brankas mereka dari bawah, selagi anjing-anjing itu sibuk menjadi tameng daging kita."

1
REY ASMODEUS
lanjut thor
Aisyah Suyuti
good
REY ASMODEUS
karya ini menarik untuk dinanti kelanjutannya. petualangan di dunia apocalipse sungguh membawa aroma baru untuk kalian yang haus ketegangan dan pertempuran epik. 10 Jempol untuk karya terbarumu othor badhot
REY ASMODEUS: othornya salh 🤣🤣🤣. othor bhodat
total 1 replies
REY ASMODEUS
i like it
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!