NovelToon NovelToon
Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Showbiz / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: daehwi25

Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.

Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.

" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"

"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Saat menuruni anak tangga, Nadya dikejutkan oleh pemandangan di ruang tamu, kedua orang tuanya sudah tampak rapi dengan dua buah koper besar di samping mereka.

​"Mama, Papa? Mau ke mana? Kok bawa koper segala?" tanya Nadya bingung.

​Marini tersenyum hangat, menghampiri putrinya dan merapikan helaian rambut Nadya yang sedikit berantakan. "Lho, sayang? Bukannya Mama sudah bilang kemarin? Papa ada pekerjaan mendadak di LA, jadi Mama ikut menemani. Kamu kan tahu sendiri, Papa kamu itu tidak akan bisa tidur nyenyak kalau jauh dari Mama," ucapnya diakhiri kekehan kecil.

​Nadya tertegun. Ingatannya berputar ke percakapan dua hari lalu. Ia memang sempat mendengar rencana itu, tapi ia tidak menyangka kepergiannya akan dilakukan hari ini. "Tapi... bukannya kemarin Mama bilang perginya besok?" protesnya dengan bibir yang mengerucut sebal.

​Andy, yang baru saja mematikan sambungan teleponnya, mendekat dan mengusap pundak putrinya. "Maaf ya, Nad. Jadwal pekerjaan Papa dipercepat. Papa tidak mungkin mengajak kamu, nanti kuliah kamu jadi terbengkalai," jawabnya lembut.

​Nadya terdiam. Biasanya, ia sudah terbiasa ditinggal sendirian saat Papa pergi dinas. Namun, ada firasat aneh yang menyusup di relung hatinya hari ini, sebuah keengganan tak biasa yang membuatnya seolah ingin menahan mereka agar tidak pergi.

​"Mama sama Papa cuma pergi dua hari, jangan cemberut begitu, Sayang," bujuk Marini seraya mendekap erat putrinya.

​"Kalau kamu kesepian, suruh saja Riska menginap di sini," tambah Andy. Nadya mengangguk pelan. Hubungan orang tuanya dengan Riska memang sudah seperti anak sendiri, bahkan dulu mereka pernah menawarkan Riska untuk tinggal menetap, meski sahabatnya itu menolak dengan halus karena enggan merepotkan.

​"Kapan berangkatnya, ma, pa?"

​"Ini mau berangkat" jawab Marini.

​"Ya sudah, kalau begitu Nadya antar ke bandara saja. Sekalian Nadya mau langsung ke Perusahaan X untuk membahas kontrak iklan produk mereka," putus Nadya.

​Andy yang mengetahui pekerjaan sampingan putrinya itu menatap putrinya dengan tatapan protektif. "Hati-hati, Nad. Perusahaan itu adalah mitra strategis Moko Group. Jika terjadi masalah apa pun di sana, segera hubungi Papa."

​Moko Group sendiri bukanlah perusahaan sembarangan. Sebagai pewaris generasi ketiga dari keluarga Sismoko, Andy memikul tanggung jawab besar mengelola kerajaan bisnis yang memiliki lini hingga ke mancanegara. Kutukan atau takdir, garis keturunan Sismoko memang selalu melahirkan anak tunggal, menjadikan Andy sebagai nahkoda tunggal yang harus mengendalikan semua lini ritel raksasa tersebut. Maka, bukan hal aneh jika banyak perusahaan lain, termasuk Perusahaan X, sangat bergantung pada kolaborasi dengan mereka.

​"Iya, Pa. Tapi..." Nadya menatap ayahnya dengan sorot mata tegas, "Nadya tidak mau memanfaatkan nama Papa. Nadya ingin berjuang dengan kemampuan Nadya sendiri, tanpa embel-embel Sismoko."

​"Terserah kamu saja, Sayang. Ucapan Papa tadi hanya untuk jaga-jaga," balas Andy mengalah, menyerah pada idealisme putrinya sembari tersenyum maklum.

​"Tuan, Nyonya, mobilnya sudah siap."

​Suara sopan yang familier itu seketika memecah obrolan hangat keluarga Sismoko. Paman Amar sudah berdiri tak jauh di dekat mereka, menampilkan postur tegap yang selalu sigap seperti biasa.

​"Ya sudah, ayo kita berangkat," ajak Andy seraya menggandeng mesra jemari istrinya.

​Paman Amar segera melangkah maju untuk mengangkat koper-koper besar milik majikannya. Namun, tepat saat tangan pria paruh baya itu hendak meraih gagang salah satu koper kecil, Nadya dengan gerakan cepat menyambarnya lebih dulu.

Nadya sengaja mengerahkan seluruh pesona rayuannya demi mencairkan gunung es di hati Paman Amar. Dalam hati, ia sebenarnya mulai ketar-ketir. Jika ia terus-menerus didiamkan seperti ini, bisa-bisa ia kehilangan restu dari Paman Amar untuk menjadi menantu, alias gagal mewujudkan impiannya menjadi istri sah Rexsaka. Bagaimanapun, restu sang ayah adalah kunci utama.

​Namun, Paman Amar tetap bergeming dengan wajah datarnya. "Tidak usah, Nona. Biar Bapak saja. Nanti Tuan Andy bisa marah kalau melihat Nona mengangkat barang sendiri."

​"Ih, tidak apa-apa. Papa tidak akan marah kok, Paman," bisik Nadya setengah merengek. Ia sengaja memajukan tubuhnya agar suaranya tidak terdengar oleh orang tuanya yang sudah melangkah lebih dulu ke arah pintu utama. Nadya menatap sopir kesayangannya itu dengan binar bersalah yang dibuat-buat. "Atau... Paman sebenarnya masih marah ya sama Nadya gara-gara kejadian seminggu lalu?"

​"Nadya, kalau memang mau bantu, bawa saja kopernya. Jangan malah mengajak Paman Amar mengobrol terus. Ayo cepat, nanti Papa bisa terlambat ke bandara," tegor Andy, menghentikan langkahnya di ambang pintu utama setelah menyadari putrinya dan sang sopir malah asyik berbisik-bisik.

​Nadya seketika mendongak dan mengerucutkan bibirnya. "Ih... iya, Pa! Papa juga bukannya ikut bantuin angkat. Ini barang bawaan Papa sama Mama banyak banget tau, kasihan Paman Amar kalau harus bawa semuanya sendirian."

​Andy terkekeh pelan, lalu mengangkat tautan jemarinya bersama sang istri ke udara dengan wajah tanpa dosa. "Ini Papa juga lagi bawa muatan yang sangat berharga, Nad," sahutnya pamer, memperlihatkan betapa eratnya ia menggenggam tangan Marini yang hanya tersenyum.

​Nadya langsung memicingkan mata, menatap tidak percaya pada kelakuan bucin ayahnya itu. Ish... dasar Papa! Bisa aja ngelesnya, gerutu Nadya dalam hati, setengah gemas dengan kemanjaan orang tuanya yang terkadang mengalahkan dirinya sendiri.

​Sambil menghela napas pasrah, Nadya akhirnya mulai menggeret koper kecil itu keluar menuju halaman, diikuti oleh Paman Amar yang berjalan tegap menggeret koper besar di belakangnya tanpa sepatah kata pun, meski dalam hati, ketegangan pria paruh baya itu sedikit mencair melihat kehangatan keluarga majikannya.

***

Setelah mengantar kedua orang tuanya ke bandara, Nadya meminta Paman Amar untuk langsung mengantarnya ke Perusahaan X. Sesuai janjinya pada Riska, ia harus menghadiri pertemuan untuk membahas proyek baru yang akan ia kerjakan sebagai model. Namun, keheningan di dalam kabin mobil yang terus berlanjut membuat Nadya tidak tahan lagi.

​Ia memutar tubuhnya, lalu naik ke atas jok kulit dan bersimpuh miring menghadap Paman Amar yang sedang fokus menyetir. Dengan kedua tangan tertangkup di depan dada, ia mulai melancarkan aksi meluluhkan hati sang sopir.

​"Paman, sudah dong... jangan marah lagi sama Nadya. Nadya minta maaf," ratapnya dengan raut memelas. "Nadya kemarin tidak berpikir panjang sampai ke sana, Paman.

Nadya bodoh. Nadya pikir dengan cara begitu Nadya bisa langsung bertemu dengan Kak Rex. Jujur, Nadya sudah di tahap frustrasi karena tidak ada kabar sama sekali dari Kak Rex, Paman. Jadi please, maafin Nadya, ya?"

​"Aduhh, Nona! Duduk baik-baik, Nona! Jangan begitu, nanti bahaya! Pakai sabuk pengamannya lagi!" Paman Amar seketika panik. Matanya bergerak liar antara melirik tingkah nekat Nadya dan memantau arus lalu lintas. Ia ingin sekali menepikan mobil, sayangnya mereka sedang melaju di tengah jalan tol yang melarang kendaraan untuk berhenti sembarangan.

​"Makanya, Paman maafin Nadya dulu! Nadya janji tidak akan mengulanginya lagi. Nadya bakal pakai otak ini kalau mau bertindak!" lanjut Nadya seraya memukul pelan pelipisnya sendiri. "Terus, Nadya bakal melakukan apa pun, asal Paman mau maafin Nadya!"

​"Iya... iya, Bapak maafkan. Tapi turunkan dulu kakinya, Non. Pakai sabuk pengamannya," sahut Paman Amar pasrah. Pria paruh baya itu akhirnya menyerah, lelah dengan 'teror permohonan maaf' yang gencar dilayangkan Nadya sepanjang minggu ini. Lagi pula, setelah dipikir-pikir, tidak ada gunanya juga ia terus menyimpan dongkol pada anak majikannya. Toh semuanya sudah terlanjur terjadi, dan sejauh ini ia tidak mendengar kabar buruk apa pun mengenai putranya di markas.

​Paman Amar mengembuskan napas lega setelah melihat Nadya akhirnya menurunkan kaki dan memasang kembali sabuk pengamannya dengan patuh.

​"Beneran, Paman? Tidak marah lagi? Tidak bakal mendiamkan Nadya lagi?" kejar Nadya memastikan, matanya berbinar penuh harap.

​"Iya, Nona."

​Nadya akhirnya tersenyum puas. Setelah ketegangan itu mencair, suasana di dalam mobil kembali tenang. Nadya mulai sibuk dengan ponselnya, memeriksa detail lokasi dari Riska. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Mobil mereka mendadak melambat secara ekstrem saat beberapa kendaraan bermotor di depan sana sengaja bermanuver memotong jalan, memaksa Paman Amar menginjak rem dalam-dalam.

​"Non... mereka itu siapa?" tanya Paman Amar heran sekaligus waspada. Ia menghentikan mobil beberapa meter di depan sekumpulan pemuda berandalan yang mulai turun dari motor, masing-masing menggenggam tongkat kayu dengan tatapan intimidatif.

​Jantung Nadya seakan mencelos ke perut. Matanya melebar menangkap satu sosok familier yang berdiri paling depan di antara gerombolan itu.

​"Arnold..."

1
falea sezi
uda g lanjut kah thor😕
falea sezi
ada rahasia apa
falea sezi
saka 😒 g tau diri lu ya 😒 coba ayah lu g di tolongin bisa metong dia 😒
falea sezi
bodoh bilang ke orang tua lo bego😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!