Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.
Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.
Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?
"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Pertemuan Elara dengan Edgard
Bau ini... Bau si berengsek semalam! batin Elara menjerit histeris.
Rahangnya seketika mengeras sempurna. Buku-buku jarinya terkepal begitu kuat hingga memutih di balik selimut. Dalam hitungan detik, seluruh tubuh Elara didera gelombang trauma yang menyakitkan, berbaur dengan gejolak dendam dan amarah yang membakar dada. Jelas pria di depan inilah yang telah merusak kesuciannya secara brutal di kamar VIP kasino.
"Ke rumah Tuan Cedric. Aku akan mengirimkan alamat navigasinya ke ponselmu agar kau tahu jalannya," ucap Scarlett memecah ketegangan, jemarinya sibuk mengetik di layar ponsel untuk mengirimkan titik lokasi milik Cedric kepada Edgard.
Selesai mengirim pesan, Scarlett menoleh sekilas ke arah samping. Melihat ekspresi wajah Elara yang mendadak menegang pucat dengan napas memburu, Scarlett menaikkan sebelah alisnya heran.
"Kak? Apa Kakak baik-baik saja?"
Tanpa sudi menolehkan kepalanya, Elara memaksakan sebuah jawaban keluar dari tenggorokannya yang mendadak kering. "A-ku... aku baik-baik saja," dustanya dengan suara bergetar.
Seandainya saja Scarlett tidak sedang berada di dalam mobil ini, Elara bersumpah ia akan langsung melompat ke kursi depan dan menghajar habis-habisan pemuda berengsek itu detik ini juga tanpa peduli pada fisiknya yang masih terluka.
Scarlett yang mengira Elara hanya kelelahan akibat urusannya dengan Kakek Jacob akhirnya hanya mengangguk paham.
Di kursi depan, setelah menerima pesan dari sepupunya, Edgard segera mengatur arah tujuan pada layar navigasi mobil.
"Sudah kuatur. Kita berangkat sekarang," ucap si pemuda yang tidak lain adalah Edgard.
Sebuah seringai tipis yang sarat akan kelicikan terukir di sudut bibir Edgard di balik bayang-bayang tudung hoodie-nya. Ia tidak menyangka takdir akan mempermudah jalannya secepat ini. Gadis Siren pembawa bom waktu yang selama ini ia cari-cari dengan panik, kini justru mengantarkan diri masuk ke dalam kurungannya secara sukarela.
Kau tidak akan pernah kubiarkan lolos lagi dari tanganku, batin Edgard penuh tekad dominan.
Tanpa ingin memancing kecurigaan Scarlett,
Edgard mulai memutar kemudi untuk segera melaju membelah jalanan kota. Namun, tepat saat roda mobil baru saja bergerak keluar dari area gerbang panti asuhan, pemuda Werewolf itu mendadak menginjak rem dan menghentikan mobilnya secara tiba-tiba.
"Scar, aku baru ingat sesuatu," ucap Edgard, sengaja mengubah intonasi suaranya menjadi penuh sesal. "Ibumu tadi sempat meneleponku. Katanya, kau diperintahkan untuk segera menjemput adik-adikmu agar cepat pulang ke Luminara."
Scarlett sontak menepuk keningnya sendiri dengan keras. "Ya ampun, Ed! Aku lupa! Ck, kenapa aku bisa sampai melupakan tujuan utamaku datang ke Alfheim, sih? Aduh, bagaimana ini... Ibu pasti akan sangat marah padaku kalau tahu aku malah keluyuran."
"Maka dari itu, awalnya aku mengira kau kembali dari dimensi sana membawa pulang adik-adikmu. Tugasku menunggumu di depan panti asuhan ini sebenarnya adalah untuk mengantarkanmu bersama Caelum dan Lyra. Aku pun sempat heran kenapa kau justru muncul sendirian tanpa mereka... dan sekarang, kau malah membawa orang asing," ucap Edgard, berakting seolah-olah ia benar-benar tidak mengenal Elara demi menyembunyikan dosa besarnya di depan sang sepupu.
"Dia bukan orang asing, dia teman baruku! Namanya Elara," ralat Scarlett cepat, membela sang Siren.
Otak Scarlett berputar cepat mencari solusi agar ia tidak terkena amukan ibunya. "Kalau begitu... Edgard, bisakah kau saja yang melanjutkan tugas untuk mengantarnya pulang ke rumah Tuan Cedric? Aku terpaksa harus melompat kembali ke Alfheim sekarang juga untuk menjemput anak-anak sebelum Ibu tiba di rumah!" ucap Scarlett memohon penuh harap.
Edgard mengangguk lambat. Ia menoleh ke belakang, menampilkan senyum lebarnya yang terkesan ramah pada Scarlett. Namun, sepasang mata serigalanya diam-diam menghujam tajam, menguliti sosok Elara yang duduk kaku di sudut jok penumpang.
"Dengan senang hati, Sepupuku. Aku sama sekali tidak masalah dan berjanji akan mengantarnya sampai ke tempat tujuan dengan selamat," ucap Edgard dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin.
Begitu ia berbalik kembali menghadap kemudi, senyuman manis itu seketika luntur, digantikan oleh seringai dingin yang mengerikan.
Jangan harap, batin Edgard penuh rencana licik. Aku akan membawa gadis Siren ini ke tempat yang sepi. Setelah itu, aku akan memastikan sendiri bahwa dia tidak akan pernah menjadi aib, apalagi merusak masa depanku.
"Terima kasih banyak, Ed. Maaf sudah merepotkanmu," ucap Scarlett tulus.
Ia kemudian berbalik menatap Elara dengan gurat rasa bersalah yang kentara di wajah cantiknya. "Kakak, maafkan aku, ya. Aku tidak bisa menemanimu sampai ke rumah Tuan Cedric. Biar sepupuku ini saja yang mengantarmu. Aku harus segera melompat kembali ke Alfheim sekarang juga."
Elara memaksakan sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya yang pucat, menutupi badai kepanikan yang nyaris meledak di dalam dadanya. "Tidak apa-apa, Scar. Pergilah, dan hati-hati di jalan."
Kalimat yang sarat akan peringatan itu seharusnya ditujukan untuk dirinya sendiri. Di dalam kabin mobil yang sunyi ini, yang harus berhati-hati dan terancam bahaya maut justru adalah Elara sendiri. Sang Siren sama sekali tidak menyangka jika pemuda Werewolf di depannya ini jauh lebih licik, manipulatif, dan berbahaya dari apa pun yang pernah ia temui di daratan.
"Iya, Kak. Selamat tinggal! Sampai jumpa lagi di lain waktu!" seru Scarlett riang.
Gadis berambut perak itu segera turun dari mobil mewah tersebut. Ia melambaikan tangannya sekilas ke arah jendela, sebelum akhirnya membalikkan badan dan berlari dengan tergesa menuju altar perak di seberang jalan, menghilang kembali ke dimensi Alfheim.
Suasana di dalam kabin mobil mewah itu seketika berubah hening dan mencekam setelah kepergian Scarlett.
Ternyata... sepupu dari gadis secantik dan sebaik Scarlett adalah pria ini, batin Elara, dadanya bergemuruh hebat hingga ia harus menyandarkan kepala demi menahan pusing.
Ternyata pemuda bajingan ini adalah Werewolf yang kutemui saat pertama kali aku terdampar di danau belakang kastil Raja Vampir itu.
Elara mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Kau... aku tidak akan pernah memaafkanmu, demi apa pun! Amarah di dalam dada sang Siren kian membara, membakar habis sisa rasa takutnya.
Sementara itu, Edgard mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia sengaja mengarahkan kemudi menuju sebuah wilayah pinggiran kota yang sunyi dan jarang dilalui kendaraan. Sepanjang perjalanan, fokus utamanya hanya satu: menyusun skenario paling rapi untuk menghabisi nyawa Elara tanpa meninggalkan jejak. Namun, Elara tidak berniat menjadi mangsa yang pasrah begitu saja.
"Kau pria berengsek itu, bukan?" ucap Elara tiba-tiba, memecah keheningan dengan suara bergetar menahan luapan emosi. "Pria yang datang dan melecehkanku secara brutal saat aku berada di tempat Madam Jane! Kenapa kau melakukan hal sekeji itu padaku? Dan kenapa kau justru pergi melarikan diri begitu saja tanpa rasa bersalah?!"
Edgard sempat tersentak mendengar tuduhan langsung yang menembus keheningan tersebut. Namun, sebagai keturunan Alpha, ia tidak membiarkan dirinya panik. Ia tetap mencengkeram kemudi dengan tenang.
"Benar, itu aku," jawab Edgard dingin tanpa menoleh. "Memangnya apa yang kau inginkan dariku sekarang? Tanggung jawab? Atau kompensasi uang? Jika kau menginginkan hal yang pertama, jangan pernah bermimpi karena itu mustahil kulakukan. Namun, jika kau hanya menginginkan uang, aku akan memberimu berapa pun nominal yang kau minta. Asalkan... kau bisa memastikan bahwa rahimmu tidak mengandung anakku. Setelah itu, aku akan membiarkanmu pergi."