NovelToon NovelToon
Jalanan Di Bawah Sayap Hitam

Jalanan Di Bawah Sayap Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: ArdaKings

Di sebuah kota yang dikuasai geng-geng jalanan dan kekuasaan gelap, sekelompok pemuda memilih bertahan hidup sambil melindungi warga lemah. Di markas tua mereka, tersembunyi sebuah rahasia berusia puluhan tahun — sebuah benda yang bisa mengubah nasib banyak orang, sekaligus menjadi sumber malapetaka kalau jatuh ke tangan yang salah.

Ketika kelompok berbahaya bernama Elang Darah mulai memburunya, identitas tersembunyi dan masa lalu kelam setiap tokoh perlahan terungkap. Arda yang terlihat malas ternyata menyimpan kekuatan dan tanggung jawab besar, sementara Kael dan kawan-kawannya harus memilih: ikut berebut kekuasaan, atau tetap memegang prinsip di tengah pertarungan yang melibatkan banyak pihak rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArdaKings, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Persimpangan Takdir

Suasana di dalam dan luar pabrik tua itu makin terasa sesak. Dari tiga arah berbeda, cahaya obor makin memadati jalanan, membentuk garis-garis cahaya yang bergerak cepat mendekat seolah menutup semua jalan keluar. Suara langkah kaki yang teratur dan berat berpadu dengan teriakan komando, menciptakan ketegangan yang bisa terasa sampai ke tulang belulang.

Di dalam ruangan, pertarungan antara anak buah Elang Darah dan pasukan Penjaga Keseimbangan sempat melambat. Keduanya sadar bahwa mereka tidak lagi menjadi satu-satunya pihak yang berebut kekuasaan malam ini. Setiap orang saling pandang dengan waspada, tidak tahu apakah harus melanjutkan serangan atau bersiap menghadapi musuh yang lebih banyak lagi.

Kaelin berdiri tegak meski napasnya sedikit memburu. Matanya melirik ke arah luar, lalu kembali menatap cahaya keemasan yang masih menyala terang dari bawah lantai. Wajahnya berubah dari rasa percaya diri menjadi campuran kekhawatiran dan kegigihan.

“Siapa lagi yang berani ikut campur?” geramnya pelan. “Sudah cukup banyak pihak yang menginginkan benda ini. Kalau semua datang bersamaan, kita hanya akan saling bunuh tanpa ada yang benar-benar mendapatkannya.”

Alden melangkah mundur sedikit, mengatur posisi pasukannya agar lebih rapat dan siap menghadapi serangan dari segala arah. Tatapannya tajam mengamati gerakan di luar, suaranya terdengar tenang meski situasinya makin kacau.

“Sudah aku duga ini akan terjadi,” ucapnya perlahan. “Begitu energi benda ini menyebar, tidak hanya kita yang merasakannya. Kelompok-kelompok yang sudah lama mengintai dari kegelapan juga akan segera bergerak. Mereka tidak punya aturan, tidak punya prinsip — hanya menginginkan kekuasaan mutlak.”

Sementara itu, di sisi lain ruangan, Kael dan kawan-kawannya berkumpul di sudut yang agak terlindung. Mereka tidak ikut menyerang, tapi juga tidak lengah. Bastian memegang gagang kapak kayu dengan erat, matanya mengawasi setiap gerakan orang di sekitarnya, sementara Niko mencatat posisi setiap pintu dan jendela, menghitung jalan keluar yang masih memungkinkan.

“Kita nggak bisa tetap diam di sini terus,” bisik Bastian. “Kalau pertarungan makin meluas, tempat ini bisa hancur dan kita terjebak di dalamnya.”

“Tapi kita juga nggak bisa pergi begitu saja,” jawab Niko sambil menggeleng. “Cahaya itu sudah terikat dengan tempat ini. Selama ia menyala, kita akan terus menjadi sasaran di mana pun kita lari. Satu-satunya jalan adalah menyelesaikannya di sini juga.”

Mikhael memeriksa luka kecil di lengan Lio yang tergores saat menghindari serangan tadi, suaranya tetap tenang seperti biasa. “Apapun yang terjadi, kita tetap satu kesatuan. Kita tidak memihak siapa pun, tapi kita juga tidak akan membiarkan ada yang menghancurkan tempat ini atau menyakiti orang-orang yang kita lindungi.”

Di depan kotak bercahaya itu, Arda masih berdiri tegak bagaikan tiang penyangga terakhir. Matanya menatap ke luar jendela, seolah bisa melihat melampaui kegelapan malam, mengenali siapa saja yang datang dan apa tujuan mereka. Wajahnya yang selama ini sering terlihat santai dan malas kini terlihat sangat serius, seolah beban masa lalu yang selama ini ia pikul akhirnya harus ditanggungnya sepenuhnya.

“Mereka yang datang dari arah timur adalah kelompok Bayangan Malam,” ucapnya tiba-tiba, suaranya cukup keras didengar oleh semua orang di ruangan itu. “Mereka dulu bagian dari pengawal pribadi, tapi berkhianat karena tergoda kekuasaan. Dari arah barat, kemungkinan besar adalah para pedagang gelap yang punya hubungan dengan pejabat tinggi kota. Mereka datang bukan untuk menjaga, tapi untuk menjualnya ke penawar tertinggi.”

Dia menoleh, menatap Kaelin dan Alden bergantian. “Jadi kalian lihat sendiri? Kalau kita terus saling serang, kita hanya akan memudahkan mereka mengambil alih semuanya. Kalau kalian masih punya sedikit akal sehat yang tersisa, lupakan perselisihan lama sejenak. Kalau tidak, malam ini kita semua akan mati tanpa hasil apa pun.”

Kata-kata itu menggantung di udara, memicu perdebatan batin di hati setiap orang. Kaelin mengepalkan tangannya erat, dadanya naik turun. Selama puluhan tahun ia membenci Arda, menganggapnya pengecut dan pengkhianat, tapi sekarang ia sadar bahwa situasinya jauh lebih rumit dan berbahaya dari yang ia bayangkan.

Alden menghela napas panjang, lalu mengangkat tangannya memberi isyarat agar pasukannya menurunkan senjata sedikit. “Arda punya alasan. Kalau kita terus bertarung satu sama lain, kita hanya akan menjadi mangsa yang mudah bagi mereka yang datang kemudian. Tapi ingat — ini bukan berarti kita percaya satu sama lain. Ini hanya kesepakatan sementara agar kita semua selamat dan benda ini tidak jatuh ke tangan yang lebih buruk.”

Kaelin terdiam beberapa saat, lalu akhirnya mengangguk pelan dengan wajah yang penuh keraguan. “Baiklah… untuk kali ini saja. Tapi setelah bahaya ini lewat, kita akan menyelesaikan urusan kita sendiri.”

Saat kesepakatan itu baru saja terjalin, suara teriakan keras terdengar dari luar. Serangan pertama sudah dimulai. Kelompok yang datang dari arah sungai melompat masuk lewat jendela dan pintu samping, tanpa memberi peringatan apa pun. Mereka bergerak cepat dan diam, mengenakan pakaian gelap yang hampir menyatu dengan kegelapan malam.

“Mereka sudah masuk!” teriak Lio.

Pertarungan kembali meletus, tapi kali ini garis pertempuran berubah. Kelompok Elang Darah dan Penjaga Keseimbangan, meski masih saling curiga, terpaksa bertarung berdampingan melawan musuh yang lebih asing dan kejam.

Di tengah kekacauan itu, Kael dan kawan-kawannya tetap bertahan di posisi mereka, bergerak lincah menghindari serangan sambil menjaga satu sama lain. Kael mengarahkan setiap gerakan dengan tenang, memanfaatkan setiap sudut ruangan yang ia hafal selama ini.

“Jangan melawan mereka secara langsung kalau tidak perlu!” teriaknya pada Bastian dan Niko. “Gunakan tempat ini untuk keuntungan kita! Kita tahu setiap celah dan setiap sudutnya!”

Mikhael dan Lio bertugas menolong mereka yang terjatuh dan melumpuhkan musuh yang terlalu dekat, tanpa membunuh — sesuai prinsip yang mereka pegang selama ini.

Sementara itu, Arda bergerak di garis depan, menjadi tembok terkuat yang menghalangi jalan menuju benda berharga itu. Setiap serangan yang mengarah ke sana ia tangkal dengan gerakan yang terlihat sederhana tapi sangat efektif. Ia tidak menggunakan kekuatan penuhnya, cukup mengeluarkan tenaga secukupnya agar tidak merusak lingkungan sekitar, tapi cukup untuk membuat siapa saja yang melawannya terkejut dan mundur.

“Kalian semua datang hanya untuk ambil keuntungan semata!” teriak Arda di tengah suara benturan senjata. “Kalian tidak tahu apa yang kalian cari! Kalau sampai kalian membukanya dengan niat yang salah, bukan hanya nyawa kalian yang melayang, tapi seluruh distrik ini akan hancur tertelan energi yang tidak bisa dikendalikan!”

Namun peringatannya seolah tidak didengar. Keserakahan sudah menutupi akal sehat mereka. Semakin banyak orang yang mencoba mendekat, semakin kuat pula energi yang dipancarkan dari bawah lantai. Cahaya keemasan itu makin terang, sampai akhirnya mulai membentuk lapisan pelindung yang menyelimuti seluruh ruangan belakang, membuat siapa pun yang mencoba mendekat terlempar mundur dengan rasa sakit yang menusuk tulang.

Getaran di bawah tanah makin terasa kuat, seolah bumi itu sendiri tidak sabar menahan energi yang terpendam. Suara gemuruh samar terdengar dari dalam, bercampur dengan suara pertarungan yang makin ramai.

Di tengah kekacauan itu, mata Kael tiba-tiba tertuju pada satu titik. Di balik tumpukan kayu yang sudah lapuk, terlihat sebuah ukiran yang selama ini tidak pernah ia perhatikan. Ukirannya sederhana, bentuknya seperti dua tangan yang saling memegang, tapi saat cahaya keemasan menyentuhnya, ukiran itu ikut menyala dengan warna yang sama.

“Arda! Lihat ini!” serunya sambil menunjuk ke arah dinding.

Arda melompat mundur menghindari serangan, lalu menoleh mengikuti arah jari Kael. Matanya melebar sejenak, seolah baru menyadari sesuatu yang selama ini terlewatkan.

“Itu bukan sekadar ukiran hiasan,” gumamnya pelan. “Itu adalah kunci untuk mengendalikan energi itu. Benda ini tidak bisa dibuka atau ditutup hanya dengan kekuatan fisik. Ia butuh keseimbangan — dua kekuatan yang saling melengkapi, tidak saling menekan.”

Dia menatap Kael dengan pandangan yang lebih dalam. “Selama ini aku menghindarinya karena aku sendirian. Tapi sekarang… sepertinya takdir membawa kalian ke sini bukan secara kebetulan.”

Belum sempat dia menjelaskan lebih lanjut, gelombang energi yang lebih besar meledak keluar dari bawah lantai, menyapu seluruh ruangan dan membuat semua orang terlempar mundur, terhuyung-huyung sampai jatuh ke lantai. Cahaya itu menyilaukan mata, menutupi segala pandangan, dan dalam sekejap semuanya terasa sunyi — hanya suara detak jantung yang terasa berirama mengikuti denyutan energi itu.

Saat cahaya perlahan meredup, terlihat bahwa kotak di bawah lantai itu kini terbuka sedikit, dan dari dalamnya terlihat sebuah benda yang tidak bisa dijelaskan bentuknya — terlihat seperti cahaya yang dipadatkan, berputar perlahan dan memancarkan kehangatan sekaligus kekuatan yang menenangkan.

Dan di tengah ruangan itu, cahaya itu kini tidak hanya menyelimuti kotak itu saja, tapi juga mulai menyentuh Kael, Arda, dan bahkan sedikit menjangkau Kaelin serta Alden, seolah sedang menguji hati dan niat setiap orang yang hadir malam itu.

Takdir mereka semua kini tergantung pada satu hal: apakah mereka cukup bijak untuk mengerti, atau hanya akan terus terjebak dalam lingkaran ambisi yang tak berujung?

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!