.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUMPIT
Kapak besar bermata ganda milik Si Jenggot Berdarah membelah udara Lembah Angin Hitam dengan kecepatan yang mengerikan. Energi spiritual ranah Foundation Establishment berwarna hitam pekat membubung tinggi, membentuk pusaran angin mati yang sanggup merobek zirah kulit para pengawal Keluarga Ji bahkan dari jarak jauh.
"Mati kamu, bocah gila!" raung Si Jenggot Berdarah dari atas udara. Di matanya, Ji Huang sudah tidak berbeda dengan seonggok daging yang siap dicincang.
"Huang'er!" Ji Zhen berteriak histeris. Dia mencoba memacu kudanya untuk menerobos, tetapi tekanan angin dari kapak maut itu terlalu besar, membuat kudanya meringkik ketakutan dan enggan melangkah maju. Seluruh pengawal Keluarga Ji memejamkan mata, tidak sanggup melihat Tuan Muda mereka terbelah menjadi dua.
Di atas tangga kereta, Ji Huang mendongak kecil. Wajah bantalnya masih menunjukkan tingkat cemberut yang maksimal. Menghadapi kultivator ranah Foundation Establishment yang dianggap sebagai monster oleh orang-orang fana, Ji Huang bahkan tidak sudi mengambil posisi kuda-kuda bertarung.
Dia melirik ke dalam pintu keretanya yang terbuka. Karena manisan buahnya tumpah, matanya tidak sengaja menangkap sepasang sumpit bambu murah bekas makan mi tadi pagi yang tergeletak di atas lantai kereta.
Ji Huang menghela napas malas. Mencari ranting pohon di bawah tanah butuh gerakan membungkuk, dan itu terlalu melelahkan bagi pinggang fana ini, pikirnya.
Dengan gerakan santai seperti orang yang hendak mengambil makanan di meja makan, Ji Huang mengulurkan tangan kanan dan memungut sebatang sumpit bambu tersebut. Sumpit itu sangat biasa, sedikit bernoda kuah mi yang sudah mengering, dan ujungnya agak kasar karena pengerjaan yang kurang rapi.
Tepat ketika mata kapak raksasa Si Jenggot Berdarah hanya berjarak satu meter dari ubun-ubunnya, Ji Huang mengangkat tangan kanannya yang memegang sumpit bambu.
Dao Pedang Mutlak di dalam jiwa dewa Ji Huang bergetar kecil. Hanya dengan secercah kehendak yang dia salurkan, sebatang sumpit bambu murah itu mendadak memancarkan struktur Hukum Alam yang paling murni. Tidak ada cahaya yang menyala, tidak ada ledakan Qi yang agung. Namun, seluruh partikel udara di Lembah Angin Hitam mendadak menajam, berubah menjadi miliaran bilah pedang tak kasat mata yang tunduk pada perintah Ji Huang.
Ji Huang menjentikkan sumpit bambunya ke atas dengan gerakan malas, seperti orang yang sedang mengusir lalat di siang bolong.
KLANG!!!
Bunyi benturan yang dihasilkan begitu nyaring hingga gema suaranya memantul di antara tebing-tebing batu hitam, membuat telinga para bandit dan pengawal yang mendengarnya mendadak berdengung hebat hingga mengeluarkan darah tipis.
Sebuah mukjizat konseptual kembali terjadi. Kapak raksasa seberat ratusan kilogram yang dialiri energi hitam pekat itu mendadak berhenti total di udara saat mata kapaknya menyentuh ujung sumpit bambu Ji Huang. Seluruh energi spiritual ranah Foundation Establishment milik Si Jenggot Berdarah langsung hancur berkeping-keping menjadi udara hampa, persis seperti lilin yang ditiup badai topan.
"A-Apa?!" Mata Si Jenggot Berdarah membelalak sempurna, urat-urat di wajahnya menonjol karena syok yang tak terbayangkan. Senjata tingkat tinggi miliknya ditahan oleh sebatang sumpit bambu?!
KREK... KRAK...
Retakan halus mendadak muncul di sepanjang mata kapak besi itu. Dalam hitungan milidetik, kapak besar bermata ganda tersebut hancur berantakan, berubah menjadi miliaran butiran debu besi yang berhamburan ditiup angin lembah.
Namun, kemurkaan Ji Huang karena tidurnya diganggu belum selesai meluap. Sisa gelombang Maksud Pedang dari kibasan malas sumpit bambunya melesat keluar, membentuk sebuah garis horizontal kasat mata yang membelah atmosfer lembah.
SUT!!!
Sebuah embusan angin pedang yang luar biasa tipis namun tajam melesat melintasi seluruh area Lembah Angin Hitam. Gelombang itu melewati tubuh Si Jenggot Berdarah, lalu terus melesat ke arah kanan dan kiri tebing batu.
GUMRRRBLKKK!!!
Suara gemuruh yang maha dahsyat meredam kesunyian. Di bawah tatapan horor lima puluh bandit bertopeng, ribuan pepohonan liar purba yang tumbuh kokoh di tebing batu sebelah kanan dan kiri mendadak terpotong rapi secara bersamaan pada ketinggian yang sama, lalu tumbang berhamburan ke bawah tebing. Tidak hanya pohon, dinding tebing batu hitam yang terkenal sangat keras itu kini memiliki garis torehan sedalam puluhan meter yang membentang sepanjang satu kilometer, seolah-olah lembah itu baru saja disayat oleh penggaris raksasa milik dewa pencipta.
Hanya dengan satu kibasan sumpit bambu bekas, Ji Huang telah mengubah topografi Lembah Angin Hitam secara permanen!
BRUK!
Tubuh raksasa Si Jenggot Berdarah jatuh berdebam ke atas tanah fana dengan posisi berlutut tepat di depan tangga kereta Ji Huang. Kedua tangannya yang kosong gemetar hebat, dan sebuah garis darah tipis muncul di jidatnya—bukan karena terluka fisik, melainkan karena mentalnya baru saja dihantam oleh konsep pedang yang melampaui batas kedewasaan.
Seluruh kultivasi ranah Foundation Establishment yang dia banggakan mendadak terkunci total, tidak berani bergerak satu milimeter pun karena ketakutan pada eksistensi di hadapannya.
"P-Pakar... Pakar Agung..." Si Jenggot Berdarah terbata-bata, wajah garangnya kini dipenuhi oleh air mata ketakutan dan keringat dingin yang mengucur deras. Celananya mendadak basah karena dia kencing di tempat akibat penindasan mental yang terlalu mengerikan. "M-Mohon ampun... hamba yang hina ini tidak tahu kalau Anda adalah Leluhur Pedang yang sedang menyamar!"
Lima puluh bandit bertopeng di belakangnya langsung menjatuhkan senjata mereka ke tanah dengan bunyi klang-kleng yang berisik. Mereka semua ikut berlutut dan bersujud massal hingga dahi mereka membentur tanah berkali-kali. Jangankan merampok, untuk bernapas pun mereka sekarang harus meminta izin di dalam hati.
Ji Zhen dan para pengawal Keluarga Ji membatu di atas kuda mereka. Mulut sang ayah terbuka lebar, begitu luas hingga seekor burung fana bisa masuk ke dalamnya. Menghancurkan ranah Foundation Establishment dengan sumpit bambu? Bahkan pelopor kekaisaran pun tidak akan berani menulis lelucon segila ini di dalam buku sejarah mereka!
Di tengah-tengah pemandangan sujud massal yang megah itu, Ji Huang justru tidak memedulikan mereka semua. Dia mengangkat sumpit bambunya, melihat ujungnya yang masih utuh tanpa goresan sedikit pun, lalu menggunakan ujung sumpit tersebut untuk membersihkan sisa manisan buah yang terselip di gigi gerahamnya dengan wajah watados tanpa beban.
"Ck, untung sumpitnya tidak patah. Kalau patah, aku harus mencari tusuk gigi fana lagi dan itu merepotkan," gerutu Ji Huang pelan.
Dia mengalihkan sepasang mata sayunya ke arah Si Jenggot Berdarah yang masih bersujud gemetaran di bawah kakinya.
"Hei, janggut basah," panggil Ji Huang malas. "Kalian semua benar-benar mengganggu. Lain kali, kalau mau merampok atau menerima pesanan dari Keluarga Wang, lakukan di jam kerja mereka, jangan di jam tidur siangkuku. Mengerti?"
"M-Mengerti, Senior! Sangat mengerti!" Si Jenggot Berdarah menyahut dengan suara melengking ketakutan.
"Bagus. Sekarang, singkirkan semua pohon tumbang itu dari jalanan. Kereta kudaku harus lewat dengan mulus tanpa guncangan. Kalau perjalananku terhambat lagi dan membuat tidur soreku rusak..." Ji Huang menatap sebatang sumpit di tangannya dengan pandangan mengantuk, "...aku akan menggunakan sumpit ini untuk mencongkel seluruh gigi di mulutmu satu per satu."
"Baik, Senior! Kami akan segera membersihkannya dalam satu menit!" Si Jenggot Berdarah berteriak panik. Dia langsung melompat bangkit, memimpin lima puluh anak buahnya untuk menyingkirkan batang-batang pohon raksasa dari jalanan dengan kecepatan yang bahkan lebih cepat daripada saat mereka melakukan penyergapan tadi.
Ji Huang menguap lebar-lebar untuk kesekian kalinya, membalikkan badannya, lalu melangkah kembali ke dalam kehangatan kereta raksasanya yang empuk. Sebelum menutup pintu kayu kereta, dia melemparkan sumpit bambunya ke atas meja dengan santai.
"Ayah! Suruh kusir jalankan keretanya kalau jalannya sudah bersih ya! Aku mau lanjut mencari bebek panggangku yang hilang tadi!" seru Ji Huang dari dalam kereta sebelum akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur tiga lapis dan kembali mendengkur halus dalam hitungan tiga detik.
Ji Zhen yang masih duduk di atas kudanya hanya bisa menatap pintu kereta yang tertutup dengan pandangan yang benar-benar kosong. Rombongan logistik Keluarga Ji yang dikira akan menuju ke liang kubur, kini justru melanjutkan perjalanan mereka dengan dikawal oleh sekelompok bandit paling ditakuti di wilayah tersebut, yang sibuk menyapu jalanan dengan sapu ranting agar kereta sang Tuan Muda malas tidak mengalami guncangan sedikit pun.