Hari itu dimana aku salah memilih dan bersikeras walau orang tua ku melarang dan memperingatkan atas apa yang ku pilih.
aku hidup dengan status baru sebagai seorang istri, dimana aku harus selalu berusaha menutupi apa yang ku rasakan.
Hingga dimana hidup ku bagai di ujung jurang neraka yang menjelma di dalam bumi,
rasa ingin mengakhiri waktu untuk diriku sendiri.
sayang Tuhan masih baik mengirimkan perantara untuk hidup ku.
hari hari ku masih dengan segala pertanyaan hingga ayah ku datang ke rumah ku dengan seribu misteri jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra Badrika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tidak menerima
Suara Ratna memanggil bunga, berbicara dengan lembut, "nak sudah lama sekali kamu berbaring, jangan paksakan dirimu disini, jika kamu mau pergi tidak apa nak, ibu akan ikhlas"
Banu yang baru datang menghampiri istri nya memeluk dengan hangat, "tidak apa dia masih mencari jawaban, dia akan kembali nanti bersama kita, biarlah dia belajar lewat kejadian ini Bu."
"ibu tidak tega melihat nya seperti ini ayah"
Tora yang di sisi ranjang kiri bunga menatap nya dengan harapan "cepatlah sadar ka, kau sangat berarti untuk kami"
Aku masih ingin melihat banyak hal yang ngak ku ketahui, apa masih ada waktu untuk ku mengetahui itu ?
"baiklah mari aku akan kembali mengajak mu ka"
Hati tulus bunga selalu menjadi ladang mata pencaharian bagi kaum laki laki yang selalu menumpang hidup pada gadis cantik itu, tidak pernah bertahan lama. Karena insting bunga selalu lebih peka dengan suatu kejadian yang mengganjal dan mencari tau sebelum terlambat.
Gadis cantik itu tidak pernah mempermainkan pasangan atau teman nya, lugu dan kepolosan nya begitu di segani mereka yang berhati mulia, urung membuat bunga patah hati, walau salah satu mereka layak mendampingi nya.
Helen yang termenung tidak pulang meninggalkan nya menunggu bunga untuk sadar, Banu memberikan Fasilitas untuk mereka yang menunggu bunga, karena ayah anak itu tau bunga begitu banyak di cintai dan hanya sedikit yang tidak ingin meninggalkan nya apapun keadaan nya, karena gadis itu terlalu memilih untuk memberi ruang di sekeliling nya untuk akrab, tapi tetap ramah dan santun pada siapa saja tidak memang usia dan range kehidupan orang lain.
Sudah dua bulan berlalu tidak ada tanda tanda kesadaran dari gadis itu yang membuat sang ibu dan sahabat nya khawatir, sejak satu bulan masa koma bunga, sudah di pindah di sebuah rumah yang tidak jauh dari rumah sakit besar yang menangani nya, banu khusus membeli nya untuk kenyamanan keluarga nya menjaga gadis itu.
"Nga, masih lama berkelana disana ? Aku sudah rindu suara mu yang selalu komplain banyak hal, Ayuk kita main nga, habiskan waktu seperti biasa yang membuat kita bahagia bersama"
Gadis itu yang mendengar dan melihat sesekali ke ruangan dimana dirinya berbaring, "aku baik baik aja kali, ngapain pake nanggis segala, heran deh."
Kehadiran bunga sesekali tertangkap nurani mereka yang begitu mengasihi nya, "jangan lama lama ngak cape apa kamu tiduran terus nga." Helen berlalu membuang tisu basah yang di pakai untuk mengelap tangan juga wajah bunga selama gadis itu tidak sadar.
tidak lama ruangan sepi, suara ketukan pintu terdengar jelas dari dalam Vandy bergegas memeriksa dari layar cctv yang di pasang dirumah itu setiap sudut ruangan bahkan setiap sudut teras rumah.
"Untuk apa kau datang kemari? Belum cukup atas ulah mu manusia serakah, kau begitu manipulatif atas hidup mu, berkepribadian ganda mu. pergi dari sini dan jangan pernah datang kembali kau binatang ******."
Bara benci begitu pekat tidak bisa bernegosiasi, Vandy ingin sekali memukul Chandra yang tidak tau malu setelah sekian lama baru lah datang meminta maaf dan memohon.
"Dia kekasih ku, aku hanya ingin melihat nya mengetahui kabar nya, apa ada yang salah dengan itu?"
"kau datang hanya sekedar basa basi dan selalu memiliki keperluan pribadi mu sendiri, enyah lah kau dari sini"
Vandy mendorong tubuh Chandra hingga terjatuh ke tanah, decakan dendam satu sama lain menggema saling mengutuk satu sama lain nya.
"Kau tidak harus nya mencampuri urusan kami, tunggu waktu nya nanti aku akan memperlakukan sama seperti sekarang kau memperlakukan ku."
Teriak chandra kepada vandy yang tidak terima di perlakukan seperti pengemis yang di usir.
"Emang dasar engak tau diri ya buaya."
Dua bulan tiga minggu berlalu, bunga belum ada tanda tanda sadar dari koma nya, tubuh nya stabil tidak ada masalah membuat para medis yang memeriksa heran.
"Begitu kuat semangat nya untuk hidup, semoga kau cepat pulih" ucap suster yang merawat nya yang haru saja mengganti cairan infus
Gadis itu di beri waktu melihat semua yang merawat, menanti kan kesadaran nya.
"kakak mau kembali sekarang ?" "belum, aku ingin melihat sesuatu aku ingin mengetahui dimana letak salah ku selama ini.
Bunga berjalan dan tiba dengan cepat di rumah yang tidak asing bagi nya, halaman yang penuh bunga hasil tanam ratna, aku rindu sekali duduk disini.
"Pulanglah jika rindu, untuk apa melayang tidak tentu sampai sekarang. Gerutu pahing yang menemani nya, begitu keras kepala mu ka, sulit di artikan"
Mata nya tertuju pada pagar yang jadi tutup antara jalan dan rumah nya, "loh ngapain dia kesini, dia tidak tau kondisi ku ?"
Satpam yang berjaga menandai nya dari jauh, hingga chandra berani masuk tanpa ijin sang pemilik rumah atau penjaga rumah.
"Kau akan tetap jadi milik ku bunga, kau tidak akan pernah bisa pergi meninggalkan aku dan aku akan menjadi lelaki yang beruntung memiliki perempuan kaya, pandai, tanpa harus bekerja aku tetap bisa memiliki uang. Aku menunggu mu sayang sementara aku akan bersenang senang sambil menunggu mu kembali."
Gadis itu geram dengan perlakuan chandra ngak abis pikir kok selama ini aku ngak menyadari nya. .
"itulah buruk nya dirimu jika sudah mencintai seseorang begitu buta, semua yang terbaik pasti di berikan dan di usakan"
Kamera Cctv terpasang dengan audio suara, merekam semua jejak laki laki itu tanpa di ketahui siapa pun kecuali pemilik rumah dan yang bekerja di dalam rumah itu, satpam yang berjaga mendengis kesal untung saya di tugaskan untuk tidak meladeninya, jika tidak akan ku habiskan dia membuat nona muda tersiksa.
Bunga mengikuti kemana dia pergi,
Benar dia bertemu perempuan itu lagi, "sabar ya sayang sisa pemasukan kita tinggal sedikit, perempuan bodoh itu belum sadar, aku memegang card credit milik nya tapi tidak mungkin kita pakai sementara pemilik lagi sekarang di jurang maut".
Mencelos hari bunga mendengar perkataan itu, "jadi selama ini aku hanya uang berjalan nya dan apa yang ku punya di manfaatkan dengan ngak baik, ya ampun."
Entah sejak kapan bunga bisa menyadari itu tersambung dengan sang ayah tanpa bertatap muka.
ayah yang sama dengan nya menandai gerak aura anak nya itu.
"Ya, ayah mendengar walau tidak melihat nya nak"
"kau baik baik saja ? Pulang lah nak tidak perlu kau larut dalam hal ini, ayah akan mengurus nya, kita masih punya pihak berwajib untuk menghukum nya"
Suara nya menghilang, bunga mencari kemana pun tidak menemukan nya. "apa yang kakak cari ? Suara ayah?"
"iya itu suara ayah, de..."
"kakak yang memanggil nya, tapi kakak juga yang bingung." semua bisa jika di niati ka, kakak sudah mencoba hal baru.
"Bagaimana sudah bisa untuk kembali kak?"
"banyak sekali perempuan disana menatap ku lekat ? Siapa mereka de ?"
"Oh mereka merasakan aura mu sebagai manusia dan mereka menyukainya, jin yang akan menggoda manusia lemah untuk menjadi pengikut nya".
"Pantas begitu panas rasa nya bagai tidak ada angin begitu padat, aku sering merasakan ini jika berada di lingkungan yang tidak ku kenali"
"Masih banyak sekali aura yang akan kakak rasakan sensasi nya, tergantung dari mereka memiliki niat apa pada mu".
Mereka terus berjalan entah kemana kemana sesuka bunga melangkah.
Sungguh sejuk dan nyaman berada di tempat ini, siapa mereka wajah nya begitu menyeramkan tapi tidak pada aura nya?
bunga begitu senang berada sebuah taman dimana yang tidak pernah di lihat orang lain.
Penjaga tanah dimana mereka singgah, mereka hidup sudah lebih dulu bahkan ada yang puluhan ribu tahun yang lalu, mereka hanya menjaga tanah supaya tidak lebur karena keserakahan manusia.
"kakak melihat disana?"
bunga mengikuti ke arah yang di tunjuk, tempat di bawah pohon besar.
Seperti mengenal nya akrab dengan sosok itu dan tempat itu, "apa aku pernah ada disana ?"
Sosok harimau putih besar menatap nya dengan bahagia melihat sang tuan menyadari keberadaan nya.
"Dia milik mu, dahulu sekali kakak pernah hidup sebagai seorang pendekar gagah berani yang memelihara harimau dari ilmu bela diri, dia selalu menjaga mu di setiap masa reinkarnasi mu ka, hingga sekarang."
Siluman harimau yang suka berubah wujud menjadi seorang guru besar yang di segani, jiwa nya memuja pencipta nya, berkeyakinan suatu agama maka nya dia begitu sejuk.
Bunga mendekat pada harimau putih itu.
"senang sekali kau mengenali ku lagi, cah ayu. Aku Senopati Pamungkas" mungkin kau lupa nama ku, hormat di berikan pada bunga.
"Jangan kamu tinggal kan tuhan mu ya Seno, tetap menjadi makhluk yang baik menjaga sesama makhluk ciptaan nya" titah bunga pada nya.
"Baik perintah mu ku lakukan"
"aku tidak memerintah, kita sama sama makhluk ciptaan Tuhan yang esa". Panggil aku Bunga.
"Kau tidak berubah sedari dulu hingga sekarang begitu ramah dan baik budi mu, senang bisa selalu bersama mu, yang tidak melupakan pencipta mu dan baik kepada siapapun".
"Aku akan berada lebih di dekat mu setelah kau kembali cah ayu."
Bunga bangkit dan berjalan lagi, terus menelusuri setiap bagian hidup yang tidak pernah dia ketahui selama ini, apa yang ayah nya katakan seperti tanda tanya besar, tidak pernah berkata tanpa dasar dan tujuan.
"taman yang begitu indah tidak ada sedikit pun sampah dan daun rusak disini, begitu damai"
"Aissshhh jangan mudah terlena ka, nanti sulit untuk kembali dengar suara ibu tidak henti mengharapkan mu kembali."
"De, kenapa ayah selalu berkata singkat tapi seperti memiliki maksud dan kadang terkesan menghentak untuk di perbaiki alam juga hidup."
Aku sering sekali tidak mengerti dan membantah apa yang ayah katakan, tapi selalu berakibat fatal untuk hidup ku.
"Beliau ingin kau tumbuh menjadi gadis yang sempurna cah ayu, kau istimewa seperti yang kau sedikit ketahui dari tadi, tapi sayang beliau tidak menyadari dengan menutup nutupi jati mu membuat nya kewalahan menghadapi kenyataan hidup yang kau jalani".
Sosok nenek tua dengan kebaya kuno nan indah berbalut di tubuh yang cantik walau tua, berhias perhiasan kuno begitu menawan.
"Siapa kau? tidak pernah aku mengenal mu selama ini".
"dialah Eyang Puteri yang Mbah murni ceritakan kak, dia yang selama ini bersama mu sejak kakak terlahir di dunia ini"
"Betul, akulah khodam leluhur mu yang menjaga mu, baik buruk dirimu, tapi eyang tidak pernah melihat kau seperti manusia pada umum nya, hati mu bersih, pikiran mu bersih , itu yang membuat ku masih bisa bersama mu tidak seperti generasi ku yang lain."
Kau tidak pernah tega menyakiti orang lain lewat lisan atau perbuatan mu."
"lalu kenapa mereka bisa menyakiti ku dengan mudah jika aku seperti yang eyang katakan".
"manusia yang memiliki sifat ingin memenuhi nafsu dunia baik harta, tahta dan kekayaan alam tidak akan mempedulikan apa sesama nya sakit ataupun tidak, mereka hanya akan menyenangkan dirinya sendiri kepuasan semata"
"Kembalilah terlalu lama kau disini cah ayu, sebelum kau tersesat dan sulit untuk kembali."
"semua akan kau ketahui lebih banyak setelah kau pulih, tidak ada yang bisa menutup jati diri aura mu sesungguhnya, karena kau telah masuk kedalam portal roh terlalu dalam, bagaimana kau menelaah dan menerima nya."
"Jika kau bisa seimbang maka sempurna lah diri mu, jangan tinggalkan Tuhan mu yang esa berlindung lah pada Nya sebagai pemilik hidup mu walau ada kami yang menjaga mu disini".
Bunga seketika melihat begitu banyak barisan di belakang Eyang Puteri yang ber sisihan dengan Harimau putih Senopati, di belakang mereka perajurit yang di pimpin Pangeran Agung Wiraguna, "mereka milik mu sedari dulu sebelum kau hidup menjadi gadis ayu seperti sekarang".
"Pulanglah sekarang ikuti suara ibu mu yang sedang merayu tuhan mu dengan doa doa nya".
"jangan engkau toleh lagi kebelakang, jadilah pelajaran untuk hidup mu apa yang kau lihat selama disini, kau akan di temani adik mu juga Senopati di sana akan di jemput ayah mu".
Mulai lah hidup baru dengan cinta dan damai, jangan lelah menabur benih kebaikan kepada siapapun yang kau lihat, pelihara lah iman mu dalam kasih.
Gusti Allah mencintai umat nya yang lemah lembut dan penuh kasih. eyang tidak jauh dari mu.
"jika engkau menaruh Angkara murka redamlah hati emosi mu, maafkan lah mereka yang menyakiti mu, jika tidak sesuatu yang tidak di inginkan akan terjadi."
"Pulang lah Cah Ayu."
"ingat pesan Eyang dan murni, maka jadilah hidupmu seperti taman ini".
"Eyang Putri menunjuk taman yang luas dengan bunga bunga indah, mengantar gadis itu untuk kembali, sudah terlalu larut bunga mencari dimana letak yang mengganjal hati nya".
Tidak urung lepas dari penyesalan walau bukan seutuh nya itu adalah salah diri gadis itu, tapi welas asih nya mengantar nya pada titik dimana menyalahkan diri sendiri hingga lupa masih ada hari esok yang lebih baik.
masih ada kasih yang selalu menghangatkan hidup nya di kelilingi orang orang begitu tulus mencintai nya.