NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Pilihan Umi

Bukan Menantu Pilihan Umi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:466
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Undangan Pengajian Yang Salah Alamat

Undangan pengajian yang salah alamat itu mendarat kasar di atas meja kaca butik setelah Hana melemparnya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Dada wanita muda itu naik turun menahan guncangan emosi yang mendadak meluap ketika membaca baris demi baris kalimat formal bernada perintah tersebut. Surat berstempel resmi yayasan pesantren ternyata menuntut kehadiran dirinya sebagai menantu pengasuh untuk duduk di sebelah Sarah sebagai simbol kerukunan keluarga. Keberanian panitia mengirimkan paksaan fisik ini ke ruko persembunyiannya merupakan sebuah penghinaan besar yang sengaja dirancang demi membersihkan nama baik pondok di mata para donatur kota.

"Mereka benar benar tidak punya malu setelah melimpahkan segudang fitnah keji pada nama baikmu minggu lalu," cetus sang asisten butik seraya memungut amplop cokelat yang terjatuh di lantai ubin.

Hana memalingkan wajah ke arah deretan manekin, mencoba menyembunyikan sepasang mata yang mulai berkaca kaca menahan kepedihan batin. "Biarkan saja surat itu tergeletak di sana karena saya tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi di atas tanah penuh kepalsuan tersebut."

"Namun, Neng, utusan yang membawa surat ini masih berdiri di depan pintu gerbang besi dan menolak pergi sebelum mendapat kepastian," bisik sang asisten dengan raut muka yang diselimuti kecemasan.

Keteguhan sikap Hana langsung diuji sewaktu ia melangkah keluar menuju selasar depan untuk menghadapi langsung sang kurir yayasan yang ternyata merupakan santri senior kepercayaan Umi Kalsum. Lelaki muda itu berdiri mematung dengan tatapan mata yang meremehkan status baru Hana sebagai wanita mandiri yang lepas dari otoritas pesantren. Di bawah terik matahari siang yang mulai membakar aspal jalanan, Hana melipat kedua belah tangan di dada, memancarkan wibawa seorang pemilik usaha yang tidak bisa lagi diintimidasi oleh bayang bayang feodal masa lalu. Kehadiran utusan tersebut mengundang perhatian beberapa pemilik ruko sekitar, menciptakan ketegangan baru yang sangat terasa di sepanjang koridor pertokoan modern itu.

Sementara itu, di dalam area parkir rumah sakit daerah yang gersang, Azzam sedang terduduk lemas di atas sebuah bangku semen dengan jubah abu tua yang masih menyisakan noda oli hitam. Luka lecet di telapak tangan akibat kecelakaan sepeda motor tadi malam sama sekali tidak ia hiraukan karena fokus pikirannya sepenuhnya tersita oleh kelakuan licik Sarah. Sang ustaz muda baru saja mengetahui bahwa dalang di balik pengiriman undangan paksaan kepada Hana adalah Sarah yang memanfaatkan tanda tangan Umi Kalsum sewaktu wanita tua itu tidak sadarkan diri. Amarah yang selama ini terpendam rapi di balik kelembutan sikap seorang pendidik kini mendidih hebat, mendesak Azzam untuk segera mengakhiri segala bentuk kompromi yang merusak keadilan syariat.

"Azzam, mengapa kamu belum juga berganti pakaian bersih padahal rombongan ulama kabupaten sudah tiba di ruang tunggu utama?" tanya ayah Sarah yang tiba tiba muncul dengan suara berwibawa yang menuntut kepatuhan.

Azzam bangkit berdiri perlahan, menatap tajam lelaki paruh baya yang merupakan salah satu penyokong dana terbesar bagi kelangsungan operasional pesantren ibundanya. "Saya tidak akan menghadiri acara apa pun sebelum putri Anda menarik kembali surat undangan provokatif yang sengaja dikirimkan ke alamat butik istri saya."

"Jaga bicaramu, Azzam, pernikahanmu dengan Hana sudah di ambang kehancuran dan Sarah adalah satu satunya penyelamat masa depan yayasan kita," tegas lelaki paruh baya itu sambil menunjuk dada Azzam.

"Masa depan yang dibangun di atas air mata kegetiran seorang wanita suci tidak akan pernah mendatangkan berkah tuhan," sahut Azzam sebelum melangkah pergi meninggalkan area parkir.

Langkah berani Azzam membelah koridor rumah sakit memancarkan tekad mutlak yang belum pernah ia tunjukkan selama menjalani kehidupan pernikahan di bawah ketiak ibundanya. Ia segera memesan kendaraan roda empat nirkabel melalui gawai digitalnya, berniat menyusul utusan pesantren sebelum tindakan kasar mereka semakin melukai perasaan Hana di kota besar. Guncangan batin yang melanda sang ustaz muda melahirkan sebuah kesadaran spiritual yang mendalam bahwa kepatuhan kepada orang tua memiliki batasan suci sewaktu tindakan tersebut mulai menjurus pada kezaliman nyata terhadap sesama manusia. Roda kendaraan berputar cepat membelah jalur cepat antarkota, membawa sekeranjang penyesalan dan harapan tipis untuk merajut kembali benang pernikahan yang telah koyak berantakan.

Di pelataran butik muslimah, ketegangan antara Hana dan utusan pesantren telah mencapai puncaknya sewaktu santri senior tersebut mulai melontarkan kalimat bernada ancaman sosial. Lelaki muda itu menuduh Hana telah melupakan jasa besar keluarga pengasuh yang telah mengangkat derajat hidupnya melalui jalur pernikahan sakral dengan putra mahkota surau. Hana mendengarkan khotbah sepihak itu dengan senyuman dingin yang memancarkan ketegaran luar biasa, sebuah ekspresi kedewasaan yang lahir dari tempaan penderitaan fisik dan mental selama menetap di pondok. Ia tidak lagi melihat institusi tersebut sebagai tempat pelindung jiwa, melainkan sebuah kurungan emas yang dikendalikan oleh kesombongan kelompok manusia yang haus akan penghormatan duniawi.

"Jika Anda tidak menghormati hukum adat keluarga kami, maka jangan salahkan jika seluruh pasokan kain dari konveksi alumni dihentikan total mulai besok pagi," ancam santri senior itu dengan nada suara yang sengaja dikeraskan.

Hana melangkah satu jengkal lebih maju, menatap lurus ke dalam sepasang mata lelaki itu tanpa ada keraguan sedikit pun di wajah ayunya. "Silakan hentikan seluruh pasokan tersebut karena rezeki yang menghidupi butik ini datang dari tuhan, bukan dari belas kasihan dewan yayasan Anda."

"Kesombonganmu ini akan menjadi awal dari kejatuhan bisnismu yang baru seumur jagung ini, Hana," seru utusan itu seraya membalikkan badan dengan geram.

"Tunggu dulu, jangan berani melangkah satu senti pun sebelum Anda menyerahkan kembali berkas dokumen pribadi milik istri saya," potong sebuah suara bariton yang mendadak menggema dari arah pintu masuk halaman.

Sosok Azzam muncul dengan langkah tegap, meskipun penampilan fisiknya tampak sangat kacau dengan balutan perban putih di telapak tangan kanannya yang terluka. Kehadiran sang suami yang mendadak itu seketika meruntuhkan keangkuhan sang utusan pesantren yang langsung menundukkan kepala sebagai bentuk rasa takzim yang mekanis. Hana tersentak kecil melihat kondisi fisik Azzam yang memprihatinkan, namun ia segera melapisi hatinya kembali dengan dinding es keangkuhan demi menjaga jarak aman dari pesona masa lalu. Pertemuan segitiga di halaman butik itu menciptakan sebuah pemandangan dramatis yang mengundang desas desus berbisik dari para karyawan yang mengintip dari balik tirai jendela lantai atas.

Azzam berjalan mendekati istrinya, memandang wajah Hana dengan tatapan mata yang sarat akan permohonan maaf yang teramat sangat dalam. Ia kemudian berbalik menghadapi utusan pondok, merebut paksa tas dokumen yang dipegang oleh santri senior tersebut lalu menyerahkannya kembali ke dalam dekapan hangat tangan Hana.

"Kembalilah ke pesantren sekarang juga, dan katakan pada Sarah bahwa saya yang membatalkan seluruh skenario pengajian akbar yang penuh tipu daya tersebut," perintah Azzam dengan nada rendah yang bergetar penuh otoritas mutlak.

Santri senior itu tidak berani membantah lagi, segera pamit mengundurkan diri dan masuk ke dalam mobil bak terbuka yang langsung melaju cepat meninggalkan area ruko pertokoan. Setelah situasi kembali sunyi, Azzam membalikkan tubuhnya menghadap Hana, mencoba mencari sisa sisa kehangatan di dalam sorot mata wanita yang masih sah menjadi pendamping hidupnya itu. Namun, yang ia temukan hanyalah kekosongan yang dingin, sebuah pertanda nyata bahwa dinding sabar seorang wanita shalihah telah hancur berantakan akibat akumulasi kekecewaan yang terlalu sering diabaikan.

"Terima kasih atas bantuan Anda barusan, Ustaz Azzam, sekarang silakan Anda kembali menjaga ibunda Anda di rumah sakit daerah," ucap Hana dengan nada suara datar tanpa ekspresi rindu sedikit pun.

Azzam melangkah maju satu langkah, mencoba meraih ujung jilbab Hana namun wanita itu segera mundur teratur guna menghindari kontak fisik yang tidak perlu. "Hana, saya datang bukan untuk membela nama baik yayasan, melainkan untuk membuktikan bahwa jiwa saya sepenuhnya berada di pihakmu dalam pertempuran batin ini."

"Pembelaan Anda sudah sangat terlambat, Mas, karena skenario halus Umi untuk memisahkan kita telah berjalan sukses tanpa bisa dihentikan lagi oleh selembar kertas pengunduran diri Anda," bisik Hana sebelum membalikkan tubuh masuk ke dalam ruko.

Pintu kaca butik tertutup rapat dengan bunyi klik yang tegas, meninggalkan Azzam yang berdiri mematung di bawah guyuran hawa panas kota besar yang kian membakar asa batinnya. Sang ustaz muda memandangi telapak tangannya yang terluka, menyadari bahwa setiap detik penundaannya di masa lalu kini telah menjelma menjadi tembok raksasa yang memisahkan jalur kehidupan mereka secara permanen. Ia tahu bahwa perjuangan untuk meruntuhkan skenario halus sang ibu akan menuntut pengorbanan yang jauh lebih besar daripada sekadar kehilangan jabatan pengurus yayasan. Dari balik kaca jendela yang buram, Hana mengawasi kepergian suaminya dengan hati yang berkeping keping, bersiap menghadapi babak baru yang penuh dengan konspirasi domestik yang kian kejam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!