NovelToon NovelToon
Kisah Arkan Dan Nara

Kisah Arkan Dan Nara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Rani Febrianti

Sinopsis:

Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.

Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24: Serangan Terakhir, Janji Abadi

Beberapa hari setelah malam pengakuan itu, nama Nara mulai dikenal luas. Tidak lagi sebagai gadis desa yang disayang karena belas kasihan, tapi sebagai wanita yang berhasil merebut hati dan rasa hormat dari Arkan Adhitama—pria paling berpengaruh di negeri itu. Orang-orang mulai berbicara dengan nada hormat, bahkan sedikit takut, setiap kali menyebut namanya. Mereka sadar, menyinggung Nara sama saja dengan menghancurkan masa depan mereka sendiri.

Namun bagi keluarga Pradipta, kekalahan itu adalah aib yang tak bisa dibiarkan begitu saja. Harga diri Bapak Pradipta terinjak-injak, dan amarah Sera memuncak hingga ke ubun-ubun. Mereka tidak akan mundur begitu saja. Jika cara halus tidak berhasil, mereka akan menggunakan cara paling kejam: menghancurkan sumber kekuatan Arkan.

Pagi itu, berita buruk datang bertubi-tubi.

"Pak Arkan! Ada masalah besar!" Pak Wijaya masuk ke ruangan dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat dan penuh keringat dingin. "Proyek pelabuhan baru yang sudah kita persiapkan setahun lamanya... izinnya dicabut sepihak oleh pemerintah. Alasannya ada ketidaksesuaian dokumen, padahal semuanya sudah lengkap dan sah sejak awal!"

Arkan berdiri kaget, keningnya berkerut kuat. "Apa? Itu proyek senilai ratusan miliar! Siapa yang berani mencabut izinnya?"

"Bapak Pradipta," jawab Pak Wijaya pelan namun tegas. "Beliau punya hubungan kuat di departemen terkait. Dia juga sudah menyebarkan kabar ke semua media bahwa Adhitama Group melakukan kecurangan, korupsi, dan melanggar peraturan lingkungan. Sekarang nama perusahaan kita buruk di mana-mana. Banyak mitra yang mulai menarik diri, dan bank bahkan menahan pencairan dana pinjaman kita."

Arkan mengepal tangannya kuat, urat di lehernya menonjol. Ia tahu ini serangan balasan. Sera dan ayahnya benar-benar tidak main-main, mereka ingin menjatuhkannya sampai ke dasar, berharap saat ia sudah tidak punya apa-apa lagi, ia akan meninggalkan Nara dan kembali memohon pada mereka.

"Baik," ucap Arkan tenang, meski matanya menyala marah. "Biarkan mereka lakukan apa yang mereka mau. Kita tidak akan mundur. Segera kumpulkan semua bukti sah, kita akan lawan mereka di jalur hukum kalau perlu. Dan kabarkan ke semua orang: Adhitama Group tidak akan runtuh hanya karena ulah orang yang sakit hati."

Sementara itu, di rumah besar, Nara juga mendengar kabar itu dari berita televisi. Wajahnya cemas, hatinya sakit melihat nama Arkan dan perusahaannya dihina dan dicemarkan begitu saja. Ia tahu semua ini terjadi karena dirinya. Rasa bersalah yang sempat hilang, kembali menyelinap masuk sedikit demi sedikit.

Saat Arkan pulang sore itu, ia mendapati Nara sedang duduk diam di teras, menatap kosong ke halaman luas. Langkah pria itu segera dipercepat, ia duduk di sampingnya, langsung memegang tangan gadis itu yang terasa dingin.

"Kenapa duduk di sini sendirian? Dingin," bisik Arkan, menarik bahu Nara agar bersandar padanya.

"Arkan... maafkan aku..." suara Nara bergetar, matanya berkaca-kaca. "Semua masalah ini datang karena aku. Kalau aku tidak ada, keluarga Pradipta tidak akan marah, perusahaanmu aman, namamu tidak akan kotor... aku jadi petaka buatmu..."

Arkan segera memegang wajah Nara dengan kedua tangannya, memaksanya menatap mata itu lekat-lekat.

"Dengar aku baik-baik, sayang. Masalah ini bukan salahmu, dan bukan karena kamu. Ini karena mereka yang tidak bisa menerima kenyataan. Jangan pernah salahkan dirimu sendiri, jangan pernah sebut dirimu beban atau petaka lagi. Kamu adalah berkah terbesar dalam hidupku. Kalau aku harus memilih antara kehilangan semua hartaku atau kehilangan kamu, aku tetap akan memilih kamu, seribu kali pun aku harus memilih."

Arkan mengecup kening Nara lembut, lalu tersenyum misterius.

"Dan untuk membuktikan kalau aku serius... ada sesuatu yang sudah aku persiapkan. Sesuatu yang akan membuat seluruh kota terkejut, dan menutup mulut semua orang yang berani menghina kita."

Mata Nara membeling bingung. "Apa itu?"

"Tunggu saja hari Minggu depan. Aku sudah undang semua orang penting, pejabat, pengusaha, media, bahkan Bapak Pradipta dan Sera juga aku undang secara resmi. Aku mau mereka melihat dengan mata kepala sendiri, seberapa tak tergoyahkan kita berdua."

 

Hari Minggu yang ditunggu pun tiba.

Lokasi yang dipilih bukan hotel mewah atau gedung pertemuan biasa, melainkan sebuah lapangan luas di pinggir pantai—tempat yang terbuka, luas, dan angin laut bertiup segar. Seluruh tempat dihiasi dengan bunga-bunga putih dan emas, terlihat sederhana namun sangat megah dan indah. Ribuan kursi tersusun rapi, dipenuhi oleh tamu undangan dari berbagai kalangan.

Sera datang dengan wajah masam, mengenakan gaun paling mahal dan mencolok, berharap menjadi pusat perhatian. Ia yakin hari ini Arkan akan mengumumkan kerja sama baru atau rencana bisnis besar untuk menyelamatkan perusahaannya. Ia sudah bersiap untuk menyindir dan menertawakan kalau acara ini ternyata hanya kepura-puraan agar terlihat kuat.

Namun saat suara musik lembut bergema, dan pintu gerbang utama terbuka, semua orang terdiam.

Arkan berjalan masuk. Ia tampak luar biasa tampan dengan setelan jas putih gading yang pas di badan. Di sebelahnya, digandeng tangannya erat, berjalan Nara.

Hari ini Nara tidak mengenakan gaun malam yang berkilauan atau perhiasan mahal yang berlebihan. Ia mengenakan kebaya sederhana berwarna putih bersih, rambutnya dibiarkan terurai indah dengan bunga melati terselip di samping telinganya. Ia terlihat sangat polos, sangat sederhana, namun memancarkan keanggunan dan kecantikan yang begitu alami, membuat semua wanita lain di sana terlihat pucat jika dibandingkan dengannya.

Mereka berjalan perlahan menuju panggung utama, langkah mereka selaras, tatapan mereka saling terkunci seolah tidak ada orang lain di dunia ini selain mereka berdua.

Sesampainya di atas panggung, Arkan mengambil mikrofon, menatap seluruh hadirin dengan pandangan yang tegas dan penuh kebahagiaan.

"Selamat datang semuanya. Terima kasih sudah datang hari ini. Banyak dari kalian yang bertanya-tanya, apa tujuan acara besar ini diadakan di saat kondisi perusahaan saya sedang banyak masalah dan fitnah. Jawabannya sederhana."

Arkan berbalik menghadap Nara, mengambil kedua tangan gadis itu ke dalam genggamannya, lalu menatap mata itu dalam-dalam. Suaranya melembut, namun terdengar jelas hingga ke sudut paling jauh.

"Hari ini, aku tidak akan bicara soal uang, soal proyek, atau soal bisnis. Hari ini aku mau bicara soal janji. Janji yang aku ucapkan di hadapan Tuhan, di hadapan kalian semua, dan di hadapan seluruh dunia."

Ia berlutut satu lutut di depan Nara, mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cincin sederhana namun indah, dihiasi batu permata yang bersinar lembut.

"Nara... aku tidak mau menunggu lebih lama lagi. Aku tidak mau ada orang yang bisa meragukan posisimu di sisiku, tidak ada yang bisa bilang kamu cuma pacar sementara atau orang luar. Aku mau semua orang tahu: kamu adalah separuh jiwaku, pemilik seluruh hidupku, dan satu-satunya wanita yang akan menjadi istriku, ibunya anak-anakku, dan pendampingku sampai napas terakhirku."

Arkan menatap dalam ke mata Nara yang sudah basah penuh air mata bahagia.

"Maukah kamu menikah denganku sekarang? Di sini, di depan semua orang? Jadilah Nyonya Adhitama yang sesungguhnya, dan buktikan kalau cinta kita lebih kuat dari apa pun di dunia ini?"

Isak tangis terdengar di mana-mana. Banyak wanita yang menangis terharu, banyak pria yang mengangguk kagum melihat ketulusan dan keberanian Arkan.

Nara mengangguk kuat, air matanya mengalir deras namun senyumnya begitu indah bersinar.

"Mau... aku mau, Arkan. Aku mau menemani kamu seumur hidupku, dalam suka maupun duka, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit. Aku cinta kamu, lebih dari apa pun..."

Arkan memasangkan cincin itu di jari manis Nara, lalu berdiri, menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukan erat, mencium bibirnya dengan lembut namun penuh rasa memiliki, diiringi suara tepuk tangan yang bergemuruh memecah langit pantai.

Di sudut ruangan, wajah Sera pucat pasi, kakinya terasa lemas tak bertulang. Ia tahu, hari ini ia benar-benar kalah telak. Tidak ada lagi harapan, tidak ada lagi celah. Arkan bukan hanya mencintai Nara, tapi ia mengangkatnya menjadi ratu yang tidak bisa disentuh atau direndahkan siapa pun. Dengan pengumuman pernikahan ini, semua ancaman, fitnah, dan serangan mereka menjadi tidak berarti sama sekali.

Bapak Pradipta menunduk dalam, merasa sangat malu dan sadar bahwa ia telah salah langkah sepenuhnya. Arkan bukan orang yang bisa dipaksa atau diancam.

 

Malam itu, setelah semua tamu pulang, Arkan dan Nara kembali ke rumah besar mereka. Suasana begitu damai dan bahagia. Arkan langsung menggendong Nara masuk ke kamar, meletakkannya perlahan di atas kasur empuk, lalu menindih tubuhnya dengan lembut, menatap wajah itu lekat-lekat.

"Sudah resmi sekarang," bisik Arkan sambil mengecup kening, mata, dan pipi Nara bergantian. "Kamu sudah milikku sepenuhnya, tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi."

"Aku sangat bahagia, Arkan... rasanya seperti mimpi..." bisik Nara sambil memeluk leher pria itu erat.

"Ini bukan mimpi, sayang. Ini kenyataan. Dan malam ini, aku mau merayakan janji kita. Aku mau buktikan padamu, bahwa mulai malam ini, tubuhmu, hatimu, dan jiwamu akan selalu aku jaga, aku puja, dan aku cintai lebih dari apa pun."

Arkan mulai melepas pakaian Nara perlahan, dengan gerakan yang penuh hormat dan kelembutan, seolah sedang membuka harta paling berharga di dunia ini. Setiap sentuhan tangannya terasa hangat dan membakar kulit, setiap ciumannya penuh dengan janji dan rasa syukur yang mendalam.

"Kamu cantik sekali... milikku... istriku..." bisiknya berulang kali di sela-sela ciuman yang turun dari bibir, ke leher, lalu perlahan turun ke seluruh lekuk tubuh yang indah itu.

Nara melengkungkan tubuhnya menyambut sentuhan itu, desahan halus keluar dari bibirnya, matanya terpejam menikmati setiap rasa nikmat yang diberikan Arkan. Malam ini tidak ada rasa takut, tidak ada rasa rendah diri, hanya rasa saling memiliki yang begitu utuh dan mendalam.

Arkan menyatu dengan Nara dengan gerakan yang lambat, dalam, dan penuh perasaan. Ia tidak terburu-buru, ia ingin menikmati setiap detik momen suci ini, seolah ingin menyatukan seluruh jiwa mereka menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Setiap dorongan, setiap belaian, adalah ungkapan rasa cinta yang tak terucapkan.

"Aku cinta kamu... selamanya..." desis Arkan di telinga Nara, napasnya panas dan berat, seirama dengan detak jantung mereka yang berpacu sama cepatnya.

"Aku juga... cinta kamu selamanya..." jawab Nara parau, tangannya mencengkeram bahu Arkan erat, membiarkan dirinya tenggelam sepenuhnya dalam rasa bahagia dan kenikmatan yang tak terbatas.

Malam itu, di bawah cahaya bulan yang masuk lembut lewat jendela, mereka tidur dalam pelukan satu sama lain, hati mereka penuh, pikiran mereka damai. Semua badai sudah berlalu, semua rintangan sudah terlewati. Kini hanya ada jalan panjang yang indah di depan mereka, yang akan mereka tempuh berdua, dengan cinta sebagai penuntun, dan janji setia sebagai pondasi yang tak akan pernah runtuh.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!