NovelToon NovelToon
Peluk Aku Di Kehidupan Ini

Peluk Aku Di Kehidupan Ini

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

‎Saat membuka mata kembali, Aruna mendapati dirinya hidup kembali, terbangun di masa lalu, tepat sebelum segala kehancuran dalam hidupnya dimulai.

‎Dengan ingatan yang masih utuh akan luka dan kematiannya, dia berjanji akan membuat Rafael dan semua orang yang menyakitinya merasakan penderitaan yang sama, bahkan berkali lipat lebih berat.

Di tengah rencananya yang penuh dendam itu, Aruna mencari kembali Zeffrano - pria dingin, misterius, dan berkuasa yang di kehidupan sebelumnya pernah dia tolak lamarannya.

‎"Kali ini bukan lagi aku yang ada di bawah kakimu. Kali ini, akulah yang akan berdiri di puncak tertinggi bersama orang paling berkuasa di kota ini." ~ Aruna Kirana Dirgantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1

Rasa sakit itu masih terasa membakar, seolah baru saja terjadi sedetik yang lalu. Rasa perih yang menjalar dari dada, dingin yang menjangkiti seluruh anggota tubuh, serta pandangan yang perlahan mengabur saat nyawa perlahan ditarik keluar dari raga. Aruna masih ingat betul saat-saat terakhir hidupnya di kehidupan yang lalu.

‎‎Di hadapannya berdiri Rafael, pria yang pernah menjadi segalanya, pria yang dia cintai dengan sepenuh hati, pria yang berjanji akan bersamanya dalam suka maupun duka. Namun pada akhirnya, dialah orang yang menghancurkannya hingga tak tersisa. Di balik punggung Rafael, ada wanita lain yang tersenyum penuh kemenangan, wanita yang merebut segalanya darinya, termasuk nyawanya sendiri.

‎‎"Maaf, Aruna. Sekarang aku sudah tidak membutuhkan kamu lagi. Jadi aku harus membuangmu," begitu ucap Rafael saat itu, tepat sebelum mendorongnya jatuh dari ketinggian, mengakhiri segalanya dengan begitu mudah dan kejam.

‎‎Saat itu, Aruna berpikir bahwa kegelapan abadi adalah akhir dari segalanya. Bahwa rasa sakit, pengkhianatan, dan penyesalan akan hilang bersamaan dengan berhentinya detak jantungnya. Dia mengira akan hanyut dalam ketiadaan selamanya.

‎‎Namun... mengapa masih ada rasa?

‎‎Suara bisik-bisik samar mulai terdengar, perlahan menjadi jelas. Suara orang-orang, suara langkah kaki. Bunyi-bunyian yang sangat dia kenal, suara yang seharusnya tak lagi bisa dia dengar setelah kematian menjemputnya.

‎‎Perlahan, dengan berat yang seolah menindih kelopak matanya, Aruna membuka matanya. Cahaya putih menyilaukan seketika menyapa penglihatannya, membuatnya mengerjap berulang kali hingga pandangannya mulai fokus.

‎‎Langit-langit putih bersih. Ruangan berbau obat-obatan dan antiseptik. Tempat tidur dengan selimut tebal berwarna biru muda.

‎‎Aruna mengerjap lagi, matanya membelalak lebar. Ini... ini adalah kamar rawat inap di rumah sakit kota. Ruangan yang sangat dia hafal, ruangan yang pernah dia tempati sebelumnya.

‎‎Dia bangkit dengan tergesa, meski tubuhnya terasa lemah. Tangannya gemetar saat meraba wajahnya, lehernya, dadanya. Tidak ada luka robekan, tidak ada darah, tidak ada rasa sakit yang luar biasa akibat jatuh dari ketinggian. Dia masih utuh. Dia masih bernapas.

‎Pandangannya jatuh pada kalender yang tergantung di dinding seberang tempat tidurnya.

‎‎Tanggal... bulan... tahun...

‎‎Aruna menatap angka-angka itu dengan napas tertahan. Jantungnya berdegup kencang, begitu kencang hingga rasanya akan melompat keluar dari dada.

‎‎Ini bukan tahun dimana dia meninggal. Ini adalah dua tahun sebelum kejadian itu. Ini adalah masa lalu. Masa dimana Rafael belum sepenuhnya menampakkan sifat aslinya, masa dimana Aruna masih percaya bahwa cinta mereka abadi, masa dimana segala kehancuran itu baru saja akan mulai dijalani.

‎"Rafael..." nama itu keluar dalam bisikan berat, namun penuh dengan racun yang tersimpan bertahun-tahun. "Ternyata... aku kembali."

‎‎Dia hidup kembali. Diberi kesempatan kedua oleh takdir yang entah mengapa berbelok arah. Aruna mengeratkan tangannya menjadi kepalan tangan hingga buku jarinya memutih. Di kehidupan yang lalu, dia mati sebagai orang bodoh yang percaya pada janji manis dan dikhianati dengan kejam. Dia mati dalam kepedihan dan ketidakberdayaan.

‎‎"Kali ini aku yang akan membuatmu merasakan neraka," ucap Aruna pelan, seringai tipis mulai terukir di wajahnya. "Kamu pikir kamu bisa menghancurkanku begitu saja, Rafael? Tunggu saja. Aku akan membalas segalanya. Berkali lipat lebih sakit dari apa yang pernah kamu berikan padaku."

‎‎Pintu kamar terbuka perlahan. Seorang perawat masuk membawa nampan berisi obat-obatan.

‎‎Perawat itu menoleh, tersenyum ramah saat melihat Aruna sudah duduk tegak. “Wah, Nona Aruna sudah sadar rupanya. Bagaimana perasaanmu sekarang? Kepalanya masih sakit atau masih pusing?”

‎‎Aruna menatap wanita berseragam putih itu dengan pandangan yang masih sedikit kosong, namun otaknya berputar cepat. Dia ingat kejadian ini. Dia ingat betul mengapa dia ada di sini, di rumah sakit ini, pada waktu ini. Dua tahun yang lalu, dalam ingatannya dia mengalami kecelakaan kecil saat menyeberang jalan, sedikit benturan di kepala yang membuatnya harus dirawat sehari. Saat itu Aruna menganggap ini sebagai hal sial.

‎‎"Aruna?" panggil perawat itu lagi, sedikit khawatir karena pasiennya hanya diam menatapnya tajam.

‎‎Aruna segera mengubah ekspresinya, menarik senyum tipis yang dipaksakan namun cukup wajar. "Aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing, itu saja."

‎‎"Syukurlah. Dokter bilang tidak ada luka serius, hanya gegar otak ringan. Nanti sore kamu sudah boleh pulang," jelas si perawat sambil menaruh obat di meja samping tempat tidur. "Istirahat saja ya, jangan banyak bergerak dulu."

‎‎Setelah perawat itu keluar dan menutup pintu kembali, senyum di bibir Aruna lenyap seketika. Digantikan oleh raut dingin yang membeku. Matanya tertuju pada tangannya sendiri, kulit halus, jari-jari lentik, tubuh yang masih muda dan sehat. Tubuh yang sama persis seperti yang dia miliki sebelum Rafael menghancurkan segalanya.

‎‎"Dua tahun…" gumamnya pelan, jari-jarinya menyentuh dada kirinya, tepat di tempat jantungnya berdetak kencang. "Dua tahun sebelum aku kehilangan segalanya. Sebelum aku percaya pada kata-kata manismu, Rafael. Sebelum aku menyerahkan seluruh hidupku padamu yang tidak tahu diri."

‎‎Di kehidupan yang lalu, masa-masa ini adalah masa-masa paling indah yang dia kenang. Rafael begitu perhatian, begitu lembut, seolah dia adalah satu-satunya wanita di dunia ini. Aruna buta oleh cinta, hingga dia tak melihat lubang jebakan yang perlahan digali di bawah kakinya. Dia rela melakukan apa saja demi Rafael, bahkan mengorbankan warisan orang tuanya, masa depannya, dan harga dirinya sendiri, hanya demi pria itu.

‎‎Namun kini ingatan itu bukan lagi kenangan manis. Itu adalah catatan kecil dari setiap kesalahan yang pernah dia buat. Setiap kebaikan yang disia-siakan, setiap kepercayaan yang dikhianati.

‎‎Aruna turun dari tempat tidur, kakinya menyentuh lantai dingin. Dia berjalan gontai menuju cermin besar yang menempel di dinding kamar rawat itu. Disana terpantul sosok wanita muda berusia dua puluh dua tahun. Wajah cantik dengan mata berbinar, kulit bersih, rambut hitam panjang yang terurai berantakan.

‎‎"Lihatlah dirimu, Aruna," ucapnya pada bayangan di cermin, suaranya berbisik namun penuh penekanan. "Dulu kamu mati karena terlalu bodoh dan terlalu lemah. Kamu mati karena terlalu percaya bahwa kebaikan akan dibalas dengan kebaikan. Tapi kamu sudah belajar pelajaran itu dengan cara paling menyakitkan, bukan?"

‎‎Dia menyentuh kaca cermin itu dengan ujung jarinya.

‎‎"Kali ini tidak ada lagi kelembutan. Tidak ada lagi pengampunan. Kali ini aku akan gunakan semua yang aku tahu untuk menjatuhkanmu, Rafael. Aku tahu semua rencanamu, aku tahu semua kebohonganmu, aku tahu setiap niat buruk yang kamu sembunyikan di balik senyum manismu."

‎‎Aruna ingat, kurang dari satu jam lagi, Rafael akan datang menjenguknya. Di kehidupan yang lalu, kedatangan itu membuatnya sangat bahagia, membuatnya merasa dicintai dan terlindungi. Rafael akan membawakan bunga mawar merah, memegang tangannya, dan berjanji akan selalu ada. Padahal, di saat yang sama, Rafael juga menjalin hubungan dengan wanita lain, putri pemilik perusahaan dimana Rafael bekerja.

‎‎"Dia akan datang sebentar lagi," batin Aruna, senyum miring mulai terukir di bibirnya. "Baiklah, Rafael. Datanglah. Bermainlah dengan kata-katamu yang indah. Tapi ingatlah… kali ini aku bukan lagi Aruna yang kamu kenal. Aku adalah hantu yang kembali dari kematian untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku, dan menghancurkan apa yang ingin kamu miliki."

‎‎Langkah kaki terdengar dari luar koridor, mendekat ke arah kamarnya. Suara yang sangat dia kenal, irama langkah yang selama ini dia hafal betul.

‎‎Jantungnya berdebar bukan karena rindu, melainkan karena amarah yang tertahan. Aruna membalikkan badan, duduk kembali di atas tempat tidur, mengatur napasnya, dan menyusun ekspresi wajahnya agar tampak biasa saja.

‎‎Pintu kamar terbuka lebar.

‎‎Di ambang pintu, berdiri sosok pria dengan senyum paling menawan dan paling palsu di dunia. Tangan kanannya membawa seikat bunga mawar merah, dan matanya menatap Aruna seolah dia adalah harta paling berharga.

‎‎"Maaf Sayang… aku terlambat," suara berat dan lembut itu terdengar, persis seperti yang dia ingat. Rafael berjalan masuk, langkahnya santai dan percaya diri.

‎‎Aruna menatap pria itu, menatap wajah yang pernah dia puja, wajah yang terakhir kali dia lihat saat dia jatuh menjauh darinya dari ketinggian. Rasa sakit itu kembali berdenyut di kepalanya, namun Aruna menelannya dalam-dalam.

‎‎Dia mengangkat sudut bibirnya, memberikan senyum yang tampak tulus namun di dalamnya tersimpan racun yang pekat.

‎"Tidak apa-apa, Rafael. Kamu datang saja aku sudah senang,"

-

-

-

Bersambung...

1
W I 2 K
idihhhhhh nyebelin banget kamu tania... celamitan.... sok²an mau ngelakuin apa aja....
🔥Violetta🔥: Kangen belaian plus belalai dia kak ,🤭🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
W I 2 K
mimpi terindah... khayalan belaka....
bangun woyyyy... bangun Tania... udah siang..... mimpinya dilanjut si balik jeruji aja... 🤣🤣
🔥Violetta🔥: Perlu diceburkan ke comberan sepertinya dia 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
secangkir kopi sm Sajen bunga sekebon meluncur.. biar authornya tambah cemangat....... 💃
🔥Violetta🔥: Wah... terimakasih banyak kakak /Grin//Pray/
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
langsung ciut🤣
〈⎳ FT. Zira
siap siap bangun dari mimpi dengan seember air yak🤣
W I 2 K: prikitiw... disegeriinnnnnn💃
total 3 replies
〈⎳ FT. Zira
Faunai siapa??? apa itu panggilan?
〈⎳ FT. Zira
bicaramu sungguh manis bang/Hammer//Hammer//Hammer/
〈⎳ FT. Zira
tinggikan saja percaya dirimu.. semakin tinggi semakin sakit saat jatuh🤧
W I 2 K
slow Rafael.... baru juga disedot dasar bumi.... belum sedot dasar neraka kan... aman.. aman... aman..
🔥Violetta🔥: astaga 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
dateng zeff... siapa tau kejutannya bikin terkejot.. kejott.... 🤣
🔥Violetta🔥: Zeff langsung guling-guling di ranjang... ehhh 🤭🤭🤭
total 3 replies
W I 2 K
astaga drama apa lagi Rafael... mimpi mana lg yg km mau gapai... nanti jatuh sejatuhnya sakit loh🤭
🔥Violetta🔥: EEEE.... AAAAA 💃💃💃💃🕺🕺🕺🕺
total 7 replies
〈⎳ FT. Zira
Luar biasa..
kisah balas dendam yang ditulis dengan apik. definisi wanita bisa melakukan apa saja setelah disakiti, bisa bangikit dan kuat dari rasa dakit yang sudah diterima.
kisah ini memang reinkarnasi, tapi mengajarkan jika kesempatan itu bisa datang dua kali,
karyamu luar biasa Kak..
semangat berkarya😍😍😍
🔥Violetta🔥: Wah, terimakasih banyak kakak /Pray//Grin/ Semangat juga untuk kakak /Good/
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mimpi Rafael ternyata belum berakhir🤧🤧
🔥Violetta🔥: Berakhirnya kalau sudah mau end 🤣🤣🤣
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mokondonya kental dong ya Rafael ini🤧
〈⎳ FT. Zira: rujak biar asem, enak di makan. lah rafael di mana bagian enaknya../Silent//Silent/
total 2 replies
〈⎳ FT. Zira
nikah aja dah.. mending mereka nikah biar gak jadi masalah setelahnya
〈⎳ FT. Zira
puas puasin dah mau ngapain aja gak ada yg larang
〈⎳ FT. Zira
nampar doang mah napa gak berani
〈⎳ FT. Zira: hilanglah masa depan🤧🤧
total 2 replies
〈⎳ FT. Zira
makin berani aruna🤣
🔥Violetta🔥: Biar Zeff meleleh' 😂😂😂
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
percaya saja pada kemampanmu, ada Zef yg siap berdiri di garda depan ini
W I 2 K
sok suci banget Rafael... lah km aja peluk sana peluk sini sm cewek lain loh...
W I 2 K: du du du.... ngalamat viral nanti lipen gosong.... 🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!