JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘
Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Gedung ruko tiga lantai di kawasan elit Jakarta Selatan itu bergetar oleh kesibukan yang tak henti-hentinya. Di lantai dua, yang disulap menjadi pusat operasi jastip branded miliknya, Haura Widjaja tampak seperti komandan perang. Keringat tipis membasahi pelipisnya yang tertutup poni samping, sementara jemarinya bergerak lincah di atas keyboard laptop, memproses data pengiriman yang seolah tak ada habisnya.
"Ra, stok Chanel klasik habis, klien di Surabaya minta refund kalau nggak ada unitnya sore ini," suara Emilia, rekan bisnisnya, terdengar cemas dari seberang meja.
Haura tidak mendongak. Matanya masih tertuju pada layar, membaca deretan angka pesanan yang mencapai angka ribuan. "Kasih opsi lain, bilang ke dia ada model terbaru yang masuk dari Paris besok pagi. Kalau dia tetap minta refund, proses sekarang. Jangan sampai kita kena komplain karena kelamaan nunggu."
"Kamu udah tiga hari nggak pulang, Ra," Emilia meletakkan secangkir kopi di samping tumpukan kardus. "Muka kamu pucat banget. Istirahatlah sebentar."
"Nanti, Em. Barang yang baru mendarat dari Milan ini harus selesai di-packing malam ini juga supaya bisa dikirim besok subuh," jawab Haura datar. Ia bangkit berdiri, meraih gulungan lakban dan mulai membungkus kotak-kotak hard-case dengan presisi yang sempurna.
Haura adalah definisi perfeksionis. Baginya, bisnis ini adalah satu-satunya pelabuhan yang bisa ia kendalikan. Tidak ada drama, tidak ada ekspektasi berlebihan, hanya angka, barang, dan profit. Soal kehidupan pribadinya? Itu adalah variabel yang sudah lama ia coret dari daftar prioritasnya. Baginya, pria hanyalah entitas yang akan mengacaukan ritme hidupnya yang sudah terstruktur rapi.
Di tengah kesibukan itu, ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah notifikasi pesan muncul.
Papa (Anggara): Haura, malam ini kamu harus datang ke restoran Sky-View jam 7. Papa sudah mengatur pertemuan dengan Danis. Dia pria yang baik, mapan, dan sangat menghargai wanita. Papa harap kamu tidak membantah kali ini.
Haura mendengus kasar, jemarinya mengetik dengan ketus tanpa menghentikan gerakannya membungkus tas mewah.
Haura: Pa, sudah berapa kali aku bilang? Aku tidak punya waktu untuk kencan tidak penting. Pekerjaanku sedang hectic. Tolong berhenti mengatur hidupku seolah aku masih remaja.
Ponselnya kembali bergetar.
Papa (Anggara): Usiamu sudah 38 tahun, Haura. Apa kamu mau menghabiskan sisa hidupmu sendirian hanya dengan kotak-kotak kardus itu? Malam ini, titik. Jangan buat Papa malu.
Haura mematikan ponselnya dengan kasar, lalu membantingnya ke atas meja hingga menimbulkan bunyi dentuman yang membuat Emilia terlonjak.
"Kenapa lagi? Papa?" tanya Emilia hati-hati.
"Dia selalu saja begitu," desis Haura, rahangnya mengeras. "Menjodohkanku dengan pria-pria membosankan yang bahkan tidak tahu bedanya seasonal collection dan permanent line. Mereka pikir karena aku sudah hampir menginjak kepala empat, aku harus segera menyerahkan diri pada pria yang mereka pilihkan."
"Danis yang kali ini bagaimana?"
"Entahlah. Mungkin seorang pengusaha kaku yang hobi bicara soal saham sambil memandangi jam tangannya. Aku sama sekali tidak berminat," jawab Haura sinis. Ia kembali meraih cutter, memotong bubble wrap dengan gerakan agresif. "Mereka tidak paham kalau satu-satunya hal yang ingin aku nikmati malam ini adalah menyelesaikan packing ini sampai selesai, bukan berpura-pura tertarik pada pria yang bahkan tidak punya nyali untuk memintaku keluar secara langsung."
Emilia menghela napas panjang, memahami keras kepalanya sang sahabat. "Kamu memang tidak butuh pria, Ra. Tapi terkadang, punya seseorang untuk sekadar berbagi lelah..."
"Aku tidak lelah," potong Haura dingin. "Aku hanya sedang sibuk membangun sesuatu yang tidak akan pernah meninggalkanku. Pria bisa pergi kapan saja, tapi bisnis ini... dia selalu ada di sini, menungguku memberikan yang terbaik."
Haura kembali tenggelam dalam dunianya. Ia tidak menyadari bahwa di balik kesibukan ini, takdir sedang menyiapkan gangguan yang jauh lebih besar daripada sekadar kencan buta yang membosankan. Ia tidak tahu bahwa dalam waktu dekat, kehidupannya yang steril dan terkontrol ini akan segera diruntuhkan oleh seseorang yang tidak ada dalam daftar rencananya, seseorang yang bahkan tidak peduli dengan standar "pria mapan" yang diinginkan papanya.
Saat jam dinding menunjukkan pukul enam sore, Haura masih di sana, di antara aroma kardus baru dan dinginnya AC ruko, membiarkan dirinya tenggelam dalam tumpukan tugas. Ia mengabaikan panggilan masuk dari asisten pribadinya yang mengingatkan soal kencan malam itu.
"Biarkan saja," bisiknya saat ponselnya kembali berdering keras. "Jika mereka ingin menemuiku, mereka harus berurusan dengan tumpukan barang ini dulu. Dan aku yakin, tidak akan ada pria yang cukup gila untuk datang ke sini dan melihatku berantakan seperti ini."
Haura tersenyum puas pada tumpukan kardus yang sudah rapi, tanpa menyadari bahwa obsesinya pada kendali justru sedang membawanya ke sebuah lubang yang akan membuatnya kehilangan kendali itu selamanya.
***
Haura menatap arloji di pergelangan tangannya. Pukul 19:00 tepat. Ia memarkirkan SUV hitamnya dengan gerakan kasar di basement restoran Sky-View, gedung tertinggi di pusat kota yang menawarkan pemandangan gemerlap lampu Jakarta—pemandangan yang bagi Haura hanyalah distraksi dari tumpukan pekerjaan yang menanti di ruko.
Ia melangkah masuk ke dalam restoran dengan gaun formal yang sebenarnya ia kenakan terpaksa. Rambutnya disanggul asal, menyisakan beberapa helai yang justru membuatnya tampak lebih lelah daripada anggun. Begitu ia menemukan meja di sudut yang disarankan papanya, ia melihat seorang pria dengan setelan jas rapi, rambut klimis, dan senyum yang terlalu lebar untuk seleranya.
"Haura, ya?" Pria itu berdiri, menawarkan tangan.
"Heem," jawab Haura singkat, mengabaikan uluran tangan pria itu dan langsung duduk di kursi beludru dengan gerakan yang seolah ingin segera pergi dari sana.
"Silakan duduk," ujar pria itu, Danis, dengan nada yang berusaha sangat sabar.
Haura hanya menatap menu di depannya tanpa benar-benar membacanya. Ia tidak lapar. Ia hanya ingin pulang dan memastikan kiriman tas pesanan klien sudah masuk ke sistem kurir.
"Luar biasa ya pemandangannya malam ini," Danis memulai pembicaraan, berusaha mencairkan suasana yang kaku layaknya es batu di tengah gurun. "Kamu sering ke sini, Haura?"
"Nggak," jawab Haura ketus. Matanya masih menempel pada daftar menu. "Aku lebih suka di gudang daripada di tempat tinggi yang bising kayak gini."
Danis tertegun sejenak, namun ia tertawa kecil, mencoba memaklumi sikap wanita di depannya. "Gudang? Ah, maksud kamu ruko tempat bisnismu itu? Papa kamu bilang kamu menjalankan bisnis jastip yang sangat sukses. Itu sangat hebat untuk seorang wanita."
Haura mendongak, matanya yang tajam menatap Danis. "Bisnis itu bukan sekadar 'hebat', Danis. Itu adalah hidupku. Dan aku tidak butuh validasi dari siapapun soal seberapa sukses aku."
Danis berdehem, merasa canggung. Ia memberi isyarat pada pelayan untuk memesan minuman. "Tentu, aku mengerti. Fokusmu luar biasa. Tapi bukankah hidup butuh keseimbangan? Kita tidak bisa hanya bekerja sampai lupa waktu."
"Siapa bilang?" tanya Haura tajam. "Aku punya semua yang aku mau. Keseimbangan menurutmu mungkin adalah duduk di sini, memesan wine mahal, dan berbasa-basi tentang cuaca. Tapi bagiku, keseimbangan adalah saat logistik lancar dan klien puas."
Danis menarik napas panjang, matanya menatap Haura dengan tatapan yang sedikit lebih serius, mencoba menembus pertahanan wanita itu. "Kamu cukup... keras kepala, ya?"
"Aku realistis," sahut Haura.
Suasana kembali hening, hanya ada suara denting alat makan dari meja sebelah. Danis mencoba lagi. "Apa kamu pernah berpikir... untuk membagi beban itu dengan seseorang? Seseorang yang bisa kamu ajak bicara saat kamu lelah?"
Haura meletakkan menu itu dengan dentuman kecil di meja. "Kamu sudah mulai masuk ke wilayah yang tidak kamu mengerti, Danis."
"Aku hanya bertanya. Kamu... udah punya pacar?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Danis, disertai tatapan ingin tahu yang membuat Haura merasa risih. Bagi Haura, pertanyaan itu bukan sekadar pertanyaan, melainkan sebuah interogasi yang sangat mengganggu.
"Pacar?" Haura mengulang kata itu dengan nada mengejek. Ia menatap Danis tepat di manik matanya, sorot matanya dingin dan tak tersentuh. "Apa itu? Jenis komoditas baru? Aku nggak minat, Danis. Aku tidak tertarik pada hubungan yang hanya akan menguras waktu, emosi, dan prioritasku."
"Haura, itu bukan hubungan, itu namanya berkomitmen," sanggah Danis, mulai merasa tersinggung.
"Komitmen apa?" Haura tertawa sinis. "Komitmen untuk pura-pura peduli? Komitmen untuk memberi laporan harian tentang apa yang aku lakukan? Tidak, terima kasih. Aku sudah punya terlalu banyak tanggung jawab, aku tidak berniat menambah satu 'beban' lagi dalam bentuk laki-laki yang akan menuntut perhatianku."
"Kamu bicara seolah-olah pria itu hanya benalu," ujar Danis, suaranya sedikit meninggi.
"Karena sebagian besar dari mereka memang begitu," balas Haura tanpa ragu. Ia menatap jam tangannya kembali. "Dengar, Danis. Kita menghabiskan waktu yang tidak perlu di sini. Papa mengirimku ke sini karena dia merasa aku perlu 'dipasangkan' seperti barang dagangan yang harus segera dijual sebelum kadaluwarsa. Tapi aku bukan barang, dan aku tidak sedang mencari pembeli."
Danis terdiam, wajahnya memerah karena malu sekaligus jengkel. "Kamu tahu, Haura? Kamu mungkin sukses di bisnismu, tapi cara kamu memperlakukan orang lain menunjukkan betapa kosongnya hidup kamu."
"Kosong atau tidak, itu urusanku," jawab Haura sambil berdiri, menyampirkan tasnya di bahu dengan gerakan elegan namun intimidatif. "Silakan selesaikan makan malammu. Aku sudah tidak punya minat untuk melanjutkan pembicaraan ini. Jangan hubungi Papa, jangan hubungi aku. Hidup kita berada di orbit yang berbeda, dan aku sama sekali tidak tertarik untuk beririsan."
Tanpa menunggu balasan dari Danis, Haura berbalik dan melangkah pergi dengan langkah yang mantap dan tegas. Ia tidak peduli dengan tatapan mata pengunjung restoran yang tertuju padanya. Ia hanya ingin kembali ke rukonya, ke tumpukan barang yang jauh lebih bisa ditebak daripada isi kepala seorang pria.
Di dalam mobil, Haura mencengkeram kemudi dengan erat. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya, bukan karena kencannya, tapi karena iritasi yang ia rasakan. Pacar? pikirnya. Apa-apaan pertanyaan konyol itu?
Ia menyalakan mesin mobil, lalu melaju membelah kota, kembali menuju ruko. Ia merasa menang karena telah berhasil mengusir gangguan itu, namun jauh di lubuk hatinya, ada rasa hampa yang ia tekan dalam-dalam—sebuah kekosongan yang entah sampai kapan bisa ia tutupi dengan tumpukan kardus barang jastipnya. Ia tidak tahu bahwa dalam waktu dekat, ia akan bertemu dengan seseorang yang tidak akan pernah membiarkannya pergi semudah ia mengusir Danis malam ini.
semangattt