Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GEDUNG TUA YANG JADI RUMAH
Fajar menyingsing bersama kabut tipis yang merayap lambat, menyelimuti rongsokan kota yang membeku.
Damar terbangun jauh lebih awal dari yang lain. Dia mengambil posisi duduk di ambang jendela lantai dua, mendekap senapan otomatis yang kini sudah menjelma seperti perpanjangan tangannya sendiri. Di luar, atmosfer masih senyap. Hanya ada satu-dua mayat hidup yang tersisa, menyeret kaki tanpa arah di antara deretan mobil berkarat yang menyumbat jalanan.
Janji mati yang dia bisikkan semalam kembali terngiang. Sebuah janji untuk menjadi pelindung. Dan pagi ini, saat fajar mulai mengusir pekat, Damar bisa merasakan bobot dari sumpah itu menekan pundaknya sepenuhnya.
"Belum tidur lagi?"
Sebuah suara lembut memutus lamunannya. Damar menoleh, mendapati Alya sudah berdiri di belakangnya sambil menyodorkan segelas kopi instan yang masih ngepul. Rambut gadis itu agak berantakan khas orang baru bangun tidur, tapi sepasang matanya langsung waspada dan tajam begitu melihat situasi luar.
Damar menerima gelas hangat itu. "Makasih, Al."
Alya mengambil posisi duduk di sebelahnya, menyandarkan punggung ke dinding semen yang dingin. "Mikirin apa? Kusut banget mukamu."
Damar terkekeh hambar, lalu menyesap kopinya pelan. "Memangnya kapan saya gak mikir keras?"
"Enggak, yang ini beda," sahut Alya, matanya menyipit selagi menatap Damar dari samping. "Kelihatan dari kerutan di jidatmu."
Damar terdiam beberapa saat, memandangi kepulan uap kopinya sebelum akhirnya melempar pandang ke langit-langit. "Saya lagi mikirin tempat ini."
Alya ikut mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Gedung tua bekas kantor pemerintahan yang mereka tempati sekarang memang punya ruang yang lapang, tapi kondisinya jauh dari kata layak. Kaca-kaca jendelanya banyak yang sudah pecah berantakan, jalur air bersih tersendat, dan yang paling krusial: bangunan ini terlalu rentan disusupi dari berbagai arah. Mereka tidak mungkin bisa bertahan hidup lama di tempat yang seadanya seperti ini.
"Kita butuh markas tetap yang aman," cetus Damar kemudian.
Alya mengangguk setuju. "Aku juga kepikiran hal yang sama. Kita gak bisa terus-terusan hidup nomaden kayak gini."
"Orang-orang juga sudah mulai berada di titik nadir mereka," tambah Damar, matanya beralih menatap ke arah aula besar di mana para penyintas lainnya perlahan mulai terbangun.
Beberapa anak kecil tampak saling meringkuk mencari kehangatan, sementara para orang tua duduk termenung dengan guratan lelah yang mendalam. Fisik mereka memang selamat dari kejaran monster di luar, tapi kondisi mental mereka perlahan-lahan mulai terkikis oleh ketidakpastian.
"Kita harus segera cari tempat yang benar-benar bisa dipertahankan mati-matian," tegas Damar.
"Mau mulai cari hari ini?" tanya Alya.
Damar mengangguk mantap. "Kalau Kapten Rendra setuju."
Setelah sarapan seadanya dengan membagi rata beberapa bungkus biskuit dan mi instan mentah, seluruh anggota inti kelompok langsung berkumpul.
Kapten Rendra memimpin jalannya diskusi pagi itu. Sebagai komandan kompi, karismanya membuat dia tetap menjadi sosok yang paling disegani di kelompok. Meski begitu, akhir-akhir ini, para anggota mulai menaruh perhatian besar pada setiap masukan yang keluar dari mulut Damar.
"Gedung ini gak bisa menampung kita lebih lama lagi," buka Kapten Rendra sambil melipat peta kota yang sudah lecek. "Logistik kita menipis, dan tempat ini terlalu terbuka untuk diserang."
Damar mengangkat tangan, menyela dengan sopan. "Aku sama Alya bisa keluar buat cari lokasi baru, Pak."
Kapten Rendra menatap Damar lekat-lekat. "Kamu sudah punya incaran?"
"Ada kawasan kantor pemerintahan di sisi barat kota. Agak masuk ke dalam," jawab Damar.
Kapten Rendra tampak mengetuk-ngetuk jarinya ke meja, mencoba mengingat-ingat tata kota. "Aku pernah lewat daerah sana beberapa kali."
"Aku juga sempat memetakan areanya, Pak," timpal Alya. "Beberapa gedungnya cukup besar dan punya struktur beton tebal."
Setelah menimbang beberapa saat, Kapten Rendra akhirnya mengangguk setuju. "Oke. Kalian berdua pergi sekalian bawa Rudi."
Rudi adalah seorang mantan teknisi berumur tiga puluh lima tahun. Pengalamannya dalam bidang konstruksi dan instalasi bangunan akan sangat berguna untuk menilai apakah calon markas baru mereka nanti layak huni atau justru rawan runtuh.
"Ingat, sebelum matahari terbenam kalian sudah harus sampai di sini lagi," pesan Kapten Rendra dengan nada mutlak. "Kalau situasi di luar memburuk?"
Damar menyunggingkan senyum tipis. "Pilihan pertamanya cuma satu: kami lari."
Jawaban blak-blakan itu spontan memicu tawa kecil dari beberapa orang di ruangan. Atmosfer yang semula tegang seketika mencair, setidaknya memberikan sedikit ruang untuk bernapas bagi mereka sebelum melepas tim kecil itu pergi.
Jarum jam menunjukkan pukul sembilan pagi ketika mereka bertiga mulai bergerak. Mereka sengaja menggunakan dua sepeda motor yang knalpotnya sudah dimodifikasi sedemikian rupa agar suaranya seminim mungkin. Damar membonceng Alya di depan, sementara Rudi mengiringi dari belakang dengan motor satunya.
Kondisi jalanan kota tampak semakin mengerikan dari hari ke hari. Etalase pertokoan hancur dijarah, beberapa ruko tampak hangus menghitam sisa kebakaran hebat, dan pemandangan mayat yang membusuk hingga tinggal tulang belulang menjadi santapan mata di sepanjang jalan. Sudah hampir satu bulan sejak virus itu merebak, kota yang dulunya bising ini telah menjelma menjadi ladang sunyi yang mati.
Saat motor mereka melintasi area pinggiran taman kota yang lengang, Alya yang duduk di jok belakang tiba-tiba bersuara di dekat telinga Damar. "Kamu banyak berubah ya, Mar."
Damar mengembuskan napas panjang, fokusnya tetap tertuju pada stang motor. "Kenapa belakangan ini semua orang mendadak hobi bilang begitu?"
"Ya karena kenyataannya memang begitu," sahut Alya. Damar melirik sedikit lewat kaca spion, menangkap senyum tipis di wajah gadis itu. "Kalau ini terjadi sebulan lalu, kamu pasti gak bakal mau repot-repot sukarela pasang badan buat nyariin tempat tinggal buat semua orang."
"Mungkin," jawab Damar pendek, tidak menampik.
"Dulu isi kepalamu kan cuma gimana caranya cari tempat aman buat diri sendiri."
Damar bungkam karena tahu omongan Alya seratus persen benar. Sebelum wabah sialan ini pecah, atau bahkan sebelum dia bergabung dengan kelompok ini, dia hanyalah pria biasa yang cuma peduli pada napasnya sendiri.
Sekarang? Dia justru mulai memikirkan orang lain. Sesuatu yang terkadang terasa sangat menakutkan bagi Damar. Sebab, semakin banyak orang yang kamu pedulikan di dunia yang hancur ini, semakin banyak pula rasa kehilangan yang siap mengintai kamu kapan saja.
Satu jam berkendara dengan penuh kehati-hatian, mereka akhirnya tiba di kawasan yang dimaksud. Daerah itu dulunya merupakan pusat administrasi kota yang ramai. Beberapa gedung bertingkat berdiri berjejer, sebagian besar rusak parah, namun beberapa di antaranya masih terlihat kokoh dari luar.
Mereka mematikan mesin motor di tempat tersembunyi, lalu segera mengokang senjata masing-masing. "Kita sisir satu-satu," bisik Damar, yang langsung diangguki oleh Rudi.
Pencarian awal tidak berjalan mulus. Gedung pertama yang mereka datangi ternyata sudah penuh oleh *infected*, memaksa mereka untuk mundur perlahan tanpa memicu keributan. Gedung kedua setali tiga uang; sebagian strukturnya sudah runtuh akibat kebakaran besar, tidak layak digunakan. Sementara gedung ketiga, meski kondisinya bagus dan terkunci rapat, memiliki terlalu banyak akses masuk, membuatnya sulit dipertahankan kalau diserbu gelombang besar.
Hingga akhirnya, pandangan mereka tertuju pada gedung keempat.
Itu adalah sebuah bangunan tua berlantai lima yang dikelilingi oleh halaman luas dan pagar besi tinggi menjulang. Tulisan di papan nama depannya sudah hampir tidak terbaca lagi akibat karat. Cat dindingnya mengelupas parah, dan sebagian jendelanya pecah, tapi fondasi bangunannya masih berdiri tegak dengan sangat kokoh.
"Ini baru menarik," gumam Rudi, matanya meneliti ketebalan dinding luar.
Mereka masuk ke dalam dengan tingkat kewaspadaan tinggi. Bagian koridor dipenuhi debu tebal, dengan meja dan kursi kerja yang berserakan akibat kepanikan di masa lalu, tapi tidak ada tanda kerusakan struktural yang besar.
Damar dan Alya bergerak cepat memeriksa lantai demi lantai, naik ke lantai dua, tiga, hingga akhirnya menembus ke area atap terbuka. Begitu menginjakkan kaki di dak beton paling atas, keduanya refleks saling berpandangan dengan senyum yang tertahan.
Sudut pandang dari atap ini luar biasa bersih. Mereka bisa memantau jalan utama, gang-gang kecil di sekitar, hingga radius beberapa kilometer ke depan tanpa terhalang apa pun.
"Ini posisi pengawas yang sempurna," puji Alya.
Damar mengangguk mantap. "Kalau ada gerombolan zombie datang, kita bisa lihat mereka dari jauh."
Rudi yang menyusul naik belakangan pun tampak tak bisa menyembunyikan rasa puasnya. "Dindingnya tebal. Pintu utamanya juga kuat. Dan yang paling penting, akses masuk cuma ada beberapa titik gampang."
Satu kurva senyum akhirnya terukir di wajah Damar. Untuk pertama kalinya sejak mereka berangkat pagi tadi, ada rasa lega yang nyata. Mereka tampaknya baru saja menemukan calon rumah baru.
Namun, di dunia yang baru ini, keberuntungan jarang datang tanpa masalah.
Saat mereka sedang memeriksa area lantai dasar, sebuah dentuman keras mendadak menggema dari arah halaman luar.
*BRAK!*
Ketiganya langsung siaga, senjata otomatis langsung terangkat ke depan.
"Apa itu?" bisik Alya, nadanya menegang.
Damar mengendap-endap mendekati jendela, mengintip ke arah luar. Detik itu juga, wajahnya menegang. "Sialan..."
Di luar pagar, sekitar tiga puluh lebih *infected* sedang bergerak serentak merangsek masuk ke area halaman. Tampaknya suara keras yang mereka buat selama pemeriksaan tadi telah menarik perhatian monster-monster itu. Jumlah sebanyak itu jelas terlalu banyak untuk dihadapi dengan pertarungan terbuka.
"Gak bisa lewat sini. Kita harus pergi sekarang!" kata Rudi panik.
Namun baru saja mereka bergerak menuju pintu belakang, gema geraman parau yang lain justru terdengar memantul dari arah sana. Belasan *infected* tambahan muncul dari gang samping, menutup jalur pelarian. Mereka resmi terjebak di tengah-tengah.
Alya menggenggam erat pisau taktisnya, napasnya mulai memburu. "Damar..."
"Aku tahu," sahut Damar pendek. Otaknya dipaksa berputar secepat kilat, memindai situasi luar lewat celah jendela. Pandangannya mendadak terkunci pada sebuah truk tua yang terparkir membisu di depan gedung. Kendaraannya tampak masih utuh dan kokoh.
Sebuah ide gila mendadak melintas di kepala Damar. "Aku punya rencana."
Beberapa menit kemudian, tanpa aba-aba lama, Damar langsung berlari melesat keluar dari gedung.
"Apa yang dia lakukan?!" pekik Rudi syok dari balik jendela.
Alya yang melihat aksi nekat itu langsung mengumpat kasar, "Orang gila itu... bener-bener nekat!"
Damar memacu tungkainya sekuat tenaga menuju truk tua tersebut. Kehadirannya yang mendadak di area terbuka langsung membuat puluhan pasang mata kosong monster-monster itu beralih. Mereka serentak mengubah arah buruan, mulai mengejar Damar dengan raungan lapar.
Jarak mereka semakin mengikis. Sepuluh meter... delapan meter... lima meter...
Dengan satu lompatan instan, Damar berhasil meraih handle pintu kabin, menarik dirinya masuk, dan langsung membanting pintunya rapat. Beruntung, dewi fortuna masih berpihak padanya—kunci kontak truk itu masih tergantung manis di sana.
Tanpa membuang waktu, Damar memutar kunci itu kuat-kuat. Mesin tua yang besar itu langsung terbatuk sebelum akhirnya meraung keras memecah keheningan distrik.
*BRRRRRRRMMM!!!*
Suara raungan mesin yang memekakkan telinga itu sukses besar. Seluruh perhatian *infected* di area tersebut langsung terdistraksi total oleh sumber suara baru yang jauh lebih bising.
"YESS!" teriak Damar dari dalam kabin.
Dia langsung memindahkan gigi, menginjak pedal gas dalam-dalam, dan membawa truk besar itu bergerak maju, mengarahkan kendaraan menjauhi area kompleks gedung. Rencananya sederhana: dia akan menjadi umpan untuk menarik seluruh kerumunan itu keluar dari sana.
Dari jendela lantai dua, Alya menyaksikan seluruh manuver gila itu dengan jantung yang rasanya mau copot. "Idiot..." bisiknya lirih. Namun, perlahan-lahan senyum tipis terbit di bibirnya. Rencana nekat pria itu berhasil total.
Gerombolan *infected* itu kini berbondong-bondong mengekor di belakang truk, meninggalkan area halaman gedung hingga kembali kosong dan sepi dalam hitungan menit.
Satu jam kemudian, setelah berhasil menyesatkan kerumunan monster itu, Damar kembali ke titik kumpul awal dan turun dari truk dengan tawa puas yang tertahan.
"Lihat? Aku masih hidup," seloroh Damar, menepuk bajunya yang berdebu.
*BUK!*
Alya langsung mendaratkan satu pukulan keras di lengan atas Damar tanpa ampun.
"Aduh! Sakit, Al!" ringis Damar sambil mengusap lengannya.
"Kamu itu emang gila ya?!" omel Alya, meski matanya menyiratkan rasa lega yang teramat sangat. "Aku hampir kena serangan jantung di dalam tadi, tahu!"
"Tapi yang penting kita berhasil, kan?" bela Damar sambil tertawa lepas.
Melihat interaksi kedua anak muda itu, Rudi yang biasanya kaku pun akhirnya ikut tersenyum lebar. Sudah sangat lama sejak terakhir kali mereka bisa merasakan kemenangan kecil yang bersih seperti ini. Dan di dunia baru seperti sekarang, kemenangan sekecil apa pun tetaplah kemenangan besar.
Menjelang sore, tim kecil itu akhirnya tiba kembali di markas sementara mereka. Begitu deru motor terdengar, seluruh anggota kelompok langsung keluar berkerumun, menyambut mereka dengan tatapan penuh tanya.
Kapten Rendra berdiri paling depan di ambang pintu. "Gimana hasilnya?"
Damar menatap wajah-wajah lelah yang menantinya di dalam ruangan. Dia melempar senyum lebar ke arah mereka semua. "Kita nemu tempat, Pak."
Seketika itu juga, raut-raut wajah yang semula layu langsung berubah drastis. Ada binar harapan yang mendadak menyala di mata mereka. Sebuah antusiasme yang sudah lama hilang kini bangkit kembali.
Harapan untuk memiliki rumah yang sesungguhnya. Bukan sekadar tempat singgah darurat yang harus mereka tinggalkan beberapa hari kemudian, melainkan sebuah markas yang benar-benar bisa mereka pertahankan dengan aman.
Kapten Rendra mengangguk pelan, seulas senyum lega akhirnya muncul di wajah tegasnya. "Bagus. Apa tempatnya layak?"
Rudi langsung menyela dari belakang, menjawab dengan nada mantap. "Sangat layak, Pak. Kalau diperkuat sedikit di beberapa titik, kita bisa bertahan lama di sana."
Kerumunan mulai berbisik antusias di antara para penyintas. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, mereka akhirnya memiliki sebuah kabar baik yang konkret untuk didengar.
Malam itu, atmosfer di dalam gedung tua terasa sangat berbeda. Walau makanan mereka tetap terbatas, walau dunia di luar sana masih penuh dengan ancaman kematian, setidaknya kini mereka semua memiliki satu tujuan yang pasti.
Besok pagi, mereka akan pindah. Membangun markas yang baru, sekaligus menyusun kembali harapan baru. Dan tanpa disadari oleh siapa pun, langkah kecil itu akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Sebab, gedung tua yang mereka temukan bukan hanya akan menjadi tempat tinggal baru mereka. Tempat itu, kelak, akan menjadi benteng pertama yang harus mereka pertahankan mati-matian ketika badai yang sesungguhnya datang menerjang.