NovelToon NovelToon
Cinta Beda Umur Juga Asik

Cinta Beda Umur Juga Asik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

Arabella yang di paksa bertunangan dengan anak sahabat ayahnya. saat dia tau bahwa yang jadi tunangan nya adalah orang yang dia sukai, maka Bela dengan senang hati menerima nya.


Arga seorang CEO muda yang mempunyai kekasih matre harus rela bertunangan dengan Arabella.

apakah kisah mereka bakal berjalan dengan mulus atau kandas di tengah jalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30.

satu minggu setelah kejadian fitnahnya dari sela, Pak Samsul dan Ratna resmi di keluarkan dari sekolah SMA MAJU TERUS .. sela hanya di beri hukuman skorsing selama 2 minggu.

Di balik langit cerah dan sorak-sorai kemenangan itu, ada awan gelap yang perlahan bergerak mendekat, tak terlihat oleh siapa pun. Di sudut kota yang jauh lebih sempit dan kumuh, di sebuah rumah kontrakan kecil yang berbau lembap. seorang wanita bertubuh kurus, warna kulit nya pucat karena sakit, rambut ngga tertata rapi seperti biasa. tangannya gemetar hebat memegang kertas yang berisikan surat dari rumah sakit, dia ngga percaya dengan fakta ini. berulang kali dia membacanya tapi hasilnya tetap sama dia terkena penyakit HIV.

"nggak... nggak mungkin... ini salah... dokternya pasti salah diagnosa..." bisik Ratna parau, suaranya pecah dan bergetar hebat. Ia menjatuhkan diri ke lantai dingin, kertas itu terlepas dari tangannya dan melayang jatuh di sampingnya. Air mata yang sudah kering sejak kemarin kembali menetes, panas dan perih membasahi pipi yang mulai cekung.

Suasana di dalam kontrakan kecil itu kini berubah menjadi neraka kecil. Ratna mengamuk hebat, merobohkan segala benda yang ada di dekatnya. Gelas, piring, cermin, bingkai foto—semua dihantamkan ke dinding atau diinjak-injak hingga hancur berkeping-keping. Teriakannya melengking tinggi, bercampur dengan isak tangis yang menyayat hati, terdengar sampai ke luar tembok tipis rumah itu, membuat tetangga sekitar saling pandang heran dan ketakutan, namun tak ada yang berani mendekat atau menengok. Bagi mereka, wanita itu hanyalah orang asing yang baru pindah dan terlihat penuh masalah, jadi lebih baik menjauh saja.

Di tengah puing-puing barang pecah belah dan debu yang berterbangan, Ratna jatuh berlutut kembali, napasnya memburu dan berat. Di matanya yang merah menyala oleh amarah, dendam, dan rasa sakit, hanya ada satu nama yang berputar terus-menerus: Bela. Semua kejadian buruk yang menimpanya, dari kehilangan Arga, terjebak dalam hubungan kotor dengan Pak Samsul, kehilangan jabatan, dicemooh, hingga terkena penyakit mematikan ini, semuanya ia tuduhkan pada gadis muda itu. Logika dan akal sehatnya sudah tertutup rapat oleh rasa iri yang dipendamnya, diperparah oleh rasa bersalah yang ia tolak untuk diakui.

"Pasti dia... pasti dia penyebab segalanya," geramnya parau, sambil meremas rambutnya sendiri yang berantakan. "Dulu Arga dan gue bahagia. Kami hampir bersatu. Tapi gue bodoh, gue percaya saja omongan Arga bilang kalo perusahaan nya bangkrut, gue pergi begitu saja tanpa mau cari lebih dulu kebenarannya. tapi karena perjodohan sial itu Arga lebih memilih bocah ingusan itu dari pada gue.

Di benaknya, kenangan masa lalu kembali berputar seperti film buruk. Dulu, Ratna adalah kekasih Arga. Hubungan mereka tampak indah di mata orang lain, sampai satu saat muncul kabar tidak mengenakan bahwa perusahaan yang Arga bangun bangkrut . Tanpa konfirmasi, tanpa bertanya, Ratna yang memiliki rasa gengsi tinggi dan ingin segera hidup mewah, memilih pergi dan mendekati Pak Samsul yang kala itu sudah beristri namun berkuasa dan kaya raya. Ia pikir itu keputusan cerdas, ia pikir ia menukar masa depan yang biasa-biasa saja dengan kemewahan. Ternyata itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Dan saat ia sadar, saat ia ingin kembali ke pelukan Arga, laki-laki itu sudah berubah dingin. Arga menolak pelukannya, menolak permohonannya, dengan alasan tegas: "Aku sudah dijodohkan orang tuaku, dan aku sudah menemukan wanita yang jauh lebih tulus, lebih setia, dan lebih pantas menemani sisa hidupku. Maaf, Ratna. Kita sudah selesai sejak kamu memilih pergi."

Saat itu Ratna belum tahu siapa wanita yang dimaksud Arga. Ia hanya sakit hati dan iri bukan main. Tapi kini, setelah melihat kedekatan Arga dan Bela, setelah melihat betapa Arga berjuang mati-matian demi nama baik gadis itu, semuanya menjadi jelas baginya. Di otak yang sudah kacau itu, terbentuk satu keyakinan buta: Wanita yang dijodohkan orang tua Arga, wanita yang dicintai Arga, wanita yang mengambil tempatnya... adalah Bela.

"lo ngerebut Arga, lo ngerusak nama baik gue, lo bikin gue jatuh ke lumpur, dan sekarang lo hidup bahagia dengan segalanya? Harta, cinta, kehormatan... semuanya milik lo? Tidak akan! gue hancur, maka lo juga harus hancur bareng gue!" seru Ratna histeris, matanya melotot tajam seolah Bela ada di hadapannya.

Ia merangkak bangkit dari lantai yang penuh pecahan kaca, rasa sakit di lututnya tak ia hiraukan. Ia berjalan terhuyung ke arah sudut ruangan, mengambil pisau dapur yang tumpul namun cukup tajam untuk melukai. Ia mengusap bilahnya dengan pandangan kosong namun penuh kebencian yang pekat.

"gue sakit, gue sekarat, gue akan mati dijauhi semua orang... tapi sebelum itu, gue pastikan lo juga tidak bisa hidup tenang, Bela. lo akan ikut merasakan penderitaan gue. lo akan merasakan sakitnya mati perlahan, dihina, dijauhi, dan dibenci semua orang. lo pikir penyakit ini cuma milik gue? nggak... gue akan bagi sama rata sama lo," bisiknya dengan senyum menyeramkan yang terukir di wajah pucatnya.

Malam itu, Ratna tidak tidur. Ia duduk di kursi kayu yang sudah goyang, merencanakan segalanya dengan detail. Ia tahu jadwal sekolah Bela, ia tahu rute yang biasa gadis itu lewati, ia tahu kebiasaan Bela yang suka berhenti membeli makanan di pinggir jalan. Ia juga tahu Arga dan Pak Rudi akan selalu menjaga ketat, tapi ia punya kelebihan: ia sudah dianggap musuh yang kalah dan hancur, jadi tidak ada yang akan mengawasinya. Semua orang mengira Bu Ratna sudah kabur, sudah malu, sudah menyerah. Tidak ada yang menyangka musuh yang paling berbahaya justru adalah musuh yang sudah dianggap mati.

Keesokan harinya, berita mengenai kepergian Bu Ratna sampai ke telinga Arga dan Pak Rudi. Mereka mengira wanita itu pergi jauh demi malu dan ingin melupakan segalanya. Arga hanya menghela napas panjang, merasa sedikit bersalah namun tahu bahwa apa yang menimpa Ratna adalah buah dari perbuatannya sendiri. Ia berharap mantan kekasihnya itu sadar dan bertobat, memulai hidup baru yang lebih baik di tempat lain.

"Biarkan dia pergi, Pak. Semoga dia menemukan jalan yang benar di sana," ucap Arga tenang saat berbicara dengan Pak Rudi. "Kita sudah cukup berikan keadilan, kita sudah cukup sabar. Sekarang waktunya kita fokus ke masa depan Bela dan sekolah ini."

Pak Rudi mengangguk setuju. "Kau benar, Arga. Kebencian hanya melahirkan kebencian. Kita berdamai dengan keadaan, biarkan semesta yang membalas sisanya."

Namun mereka semua tidak tahu, tidak ada penyesalan di hati Bu Ratna. Di balik pakaian lusuh dan penampilan menyedihkannya, wanita itu sedang menajamkan pisau dan mematangkan rencana jahatnya.

Beberapa hari kemudian, suasana di sekolah kembali normal sepenuhnya. Sela kembali masuk sekolah setelah masa skorsingnya habis. Ia berjalan menunduk, rambut menutupi sebagian wajah, tidak lagi berani menatap orang lain, apalagi menyapa atau memerintah. Ia belajar hidup rendah hati, meski penyesalannya datang terlambat. Tak ada lagi yang mau berteman dengannya, ia makan sendirian, berjalan sendirian, dan duduk sendirian. Hukuman sosial itu jauh lebih menyakitkan daripada hukuman apa pun.

Sore itu, seperti biasa, Bela berjalan pulang bersama Lula dan Galang sampai persimpangan jalan, lalu berpisah karena arah rumah mereka berbeda. Bela berjalan sendirian dengan langkah ringan, bersenandung kecil menikmati udara sore yang sejuk. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa dari balik tumpukan barang bekas di pinggir jalan sempit itu, sepasang mata yang berkilat jahat sedang mengawasi setiap gerak-geriknya.

Ratna menunggu saat yang tepat. Saat jalanan benar-benar sepi, saat tidak ada orang yang lewat, saat gadis itu lengah. Dengan napas tertahan dan tangan gemetar bukan lagi karena sakit, tapi karena campuran rasa takut dan bahaya yang mengerikan, Ratna melangkah keluar dari persembunyiannya. Di balik punggungnya, ia menyembunyikan benda tajam yang sudah disiapkan.

"Datanglah... mendekatlah, Bela..." gumam Ratna penuh kemenangan. "Ini saatnya kita selesaikan semuanya. lo ambil kebahagiaan gue, maka lo harus menukarnya dengan kebahagiaan lo sendiri."

Takdir memang bekerja dengan cara yang aneh. Di satu sisi ada kemenangan dan kebahagiaan yang terlihat begitu utuh, namun di sisi lain, bahaya maut sedang berjalan perlahan namun pasti menuju sasaran. Arga yang sedang dalam perjalanan pulang merasa ada yang salah, ada rasa tidak nyaman yang menyesakkan dadanya, tapi ia tidak tahu dari mana datangnya bahaya itu. Ia hanya mempercepat langkahnya, berharap bisa sampai di rumah Bela lebih cepat dari biasanya, berharap firasatnya salah belaka.

Namun kali ini, musuhnya bukan lagi iri hati atau fitnah belaka. Musuhnya kini adalah orang yang sakit hati, orang yang merasa sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, orang yang rela menyeret orang lain ke dalam jurang kehancuran bersamanya. Dan Bela, gadis polos yang tidak tahu apa-apa itu, kini berada hanya beberapa langkah lagi dari ancaman maut yang mengerikan.

1
Rafi Hafizh
👍
Ananda Anggit
😍💪💪
Rafi Hafizh
semangat author👍
Rafi Hafizh
semangat author.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!