NovelToon NovelToon
NEVER TRULY GONE

NEVER TRULY GONE

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Mengubah Takdir
Popularitas:133
Nilai: 5
Nama Author: Selene Mora

Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?

​Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.


!!!⚠️!!!

#BL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Setelah beberapa hari berkutat dengan demam dan kompresan, akhirnya Luca dinyatakan sembuh total. Sore itu, seperti biasa, Brant mengantarnya pulang selepas kuliah. Namun, ada yang beda dengan raut wajah Brant. Biasanya dia langsung tancap gas pulang setelah memastikan Luca masuk rumah, tapi kali ini dia menahan pintu mobilnya sebentar.

​"Ca, malming besok kita keluar," ucap Brant tanpa menatap Luca, jemarinya mengetuk-ngetuk setir.

​Luca mengernyit heran, bibirnya mengerucut manja. "Keluar ke mana? Tumben ngajaknya dari sekarang" Mau ajak aku makan seblak ya?"

​"Nggak usah banyak tanya. Pokoknya rapi, pake baju yang paling bagus. Dandan yang keren. Jam tujuh gue jemput."

​Kalimat itu sukses bikin Luca penasaran setengah mati. Sepanjang sore di hari sabtu, dia mondar-mandir di depan lemari pakaiannya, bahkan sempat mencoba tiga kemeja berbeda sambil sesekali bercermin dan memuji dirinya sendiri. Tepat jam tujuh, Luca sudah berdiri tegak di depan pagar rumahnya, bergoyang-goyang kecil tidak sabaran menunggu lampu mobil Brant muncul di persimpangan jalan.

​Dan benar saja, Brant datang tidak main-main. Dia menjemput Luca dengan kemeja hitam yang sangat pas di badannya, membuat Luca sempat terdiam beberapa detik sebelum masuk ke mobil. Brant sendiri tidak bisa menyembunyikan rasa takjubnya. Malam itu, wajah Luca benar-benar tampak bersinar, ada binar kebahagiaan yang membuat wajah polosnya terlihat berkali-kali lipat lebih menawan. Sumpah, dalam hati Brant mengakui kalau Luca sangat mempesona dengan setelan yang ia pilih.

​Brant membawanya ke pusat kota, berhenti di depan sebuah gedung mewah. Begitu masuk, suasana restoran bintang lima itu benar-benar sesuai bayangan Luca. Cahaya lampu kristal memantul di atas lantai marmer yang mengkilap. Suasananya begitu sunyi, hanya ada suara denting biola di sudut ruangan.

​"Wah... kak Brant, beneran ada dasi kupu-kupunya! Liat tuh, ih lucu banget!" seru Luca sambil bertepuk tangan kecil saking takjubnya saat pelayan membukakan pintu untuk mereka.

​Brant hampir saja menutup wajahnya dengan telapak tangan, telinganya memerah. Beberapa tamu lain yang sedang makan dengan anggun menoleh ke arah mereka. "Luca, please... jangan bikin gue pengen pura-pura nggak kenal lu di sini," bisik Brant sambil menarik pelan tangan Luca menuju meja pojok yang sudah ia pesan khusus.

​Begitu duduk, seorang pelayan memberikan buku menu berlapis kulit. Luca membukanya dan matanya langsung berbinar-binar, ia menunjuk-nunjuk gambar di menu dengan antusias seperti anak kecil.

​"Mau pesan apa? Pilih aja, asal jangan pesan ketoprak di sini," gumam Brant, mencoba terlihat tenang meskipun kemeja kaku yang dipakainya mulai terasa panas karena tingkah Luca.

​Luca nyengir kuda, matanya menyipit jenaka. " mau makanan Ceo seperti di dracin, jadi aku mau Abalone with Black Truffle sama Braised Bird's Nest Soup. Terus main course-nya Wagyu A5 Steak yang pake saus Red Wine reduction. Oh, minumnya Sparkling Water yang botolnya biru itu ya! Biar keren kalau difoto!"

​Brant menelan ludah. Ia melirik sekilas harga di samping menu tersebut—angka nolnya seolah menari-nari mengejek isi dompetnya. Abalone? Wagyu A5? Seketika bayangan saldo ATM-nya yang baru diisi Ayahnya kemarin sore seolah melambai pamit menuju kasir.

​"Otak lu beneran edan, Ca," bisik Brant setelah pelayan pergi. "Itu harga supnya aja bisa buat beli bakso tetelan satu gerobak. Lu mau makan atau mau beli saham restorannya?"

​Luca tertawa renyah, ia memajukan kursinya dan meraih tangan Brant di atas meja, lalu mengayun-ayunkannya manja. "Ya ampun, kak Brant. Masa di resto bintang lima pesannya biasa aja. Rugi dong, mumpung kakak yang bayar! Hehe."

​Wajah Brant yang tadinya tegang karena memikirkan dompet, seketika melunak. Ia menggenggam balik tangan Luca, jemarinya mengusap punggung tangan itu dengan lembut. Tatapannya menjadi sangat dalam dan serius.

​"ya udah, Nggak apa-apa," bisik Brant pelan. "Anggap aja ini perayaan karena lu udah sembuh... dan karena kita udah ngelewatin malam 'itu'." Ucap Brant sedikit menggoda.

​Seketika pipi Luca merona merah, ia yang tadinya konyol langsung terdiam malu. Benar kata hati Brant, uang bisa dicari lagi, tapi melihat binar bahagia dan wajah tersipu Luca setelah memberikan segalanya untuk Brant tempo hari? Itu benar-benar tak ternilai harganya.

Setelah makan malam yang menguras saldo ATM, mereka tidak langsung pulang. Brant membawa Luca ke tempat yang sangat akrab bagi mereka: Lapangan Basket Kampus.

​Malam minggu di sana tetap hidup. Beberapa mahasiswa masih asik bermain di bawah lampu stadion yang terang, sementara di pojokan-pojokan tribun yang remang-remang, ada beberapa pasangan yang hanya duduk mengobrol. Brant menarik Luca ke pojok paling ujung, di bawah bayangan pohon besar di mana cahaya lampu hanya menyentuh ujung sepatu mereka.

​"Baru kali ini ya kita pacaran di sini malam-malam, nggak pakai keringat dan jersey," ucap Brant memecah keheningan.

​Luca menyandarkan kepalanya di bahu Brant. "Iya. Biasanya aku cuma lihat kak Brant lari-lari dari jauh."

​Brant terdiam cukup lama, matanya menatap kosong ke arah ring basket. "Ca... soal omongan gue malam itu... pas gue mabuk......"

​Luca menegakkan duduknya, menatap profil samping wajah Brant. "Yang mana?"

​"Semuanya," suara Brant memberat. Dia merunduk, menatap jemarinya sendiri. "Gue sadar, hubungan kita ini nggak mudah. Ada masa depan yang udah disusun orang tua. Gue nggak sanggup ngomong ini dalam keadaan sadar sepenuhnya karena gue takut lihat muka lu yang sedih."

​Luca terdiam. Dadanya sesak. Dia ingin membela hubungan mereka, tapi dia sadar siapa sosok Ayah Brant yang selama ini menghantui pikiran pria itu.

​"Gue harus ke London, Ca," lanjut Brant pelan. "Tapi ini cuma sementara. Gue harus ngebuktiin ke Bokap kalau gue bisa dipercaya megang status pemegang perusahaan secara utuh menggantikan dia nanti. Kalau gue udah dapet kepercayaan itu dan megang kendali penuh, dia nggak akan bisa ngatur hidup gue lagi. Gue baru bisa balik menetap di sini lagi setelah gue punya kuasa itu."

​Air mata Luca jatuh tanpa permisi. Dia langsung memeluk leher Brant erat-erat, menyembunyikan isakannya di bahu kemeja mahal pria itu. "Terus kita nggak akan ketemu? Kakak nanti tinggal di sana dan lupain aku?"

​Brant balas memeluk Luca dengan kekuatan yang seolah ingin menyatukan tubuh mereka. "Nggak, Luca. Nggak akan. Gue bakal tetap datang, gue sesekali bakal balik ke sini buat ketemu lu. Percaya sama gue, ya? Gue nggak akan lepasin lu apa pun yang terjadi."

​Luca terisak, meracau dalam pelukan Brant tentang ketakutannya ditinggalkan. Namun, di tengah tangisnya, dia mencoba tersenyum paksa dan menatap Brant. "Aku juga kak. Aku akan tunggu sampai kakak jadi orang hebat di sana."

Setelah suasana haru itu mulai mereda, Luca masih menyandarkan kepalanya di bahu Brant, menghirup aroma parfum Brant yang mulai bercampur dengan udara malam yang dingin.

​"Kak Brant..." panggil Luca pelan, suaranya agak serak karena habis menangis. "Di London nanti pasti banyak cewek cantik, ya? Rambutnya pirang-pirang gitu, badannya tinggi kayak model." Tanya Luca membayangkan seperti apa wanita- wanita cantik di sana.

​Brant menunduk, menatap wajah Luca yang masih sembab. Sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirnya. "Iya, banyak banget di sana," jawab Brant sengaja memancing.

​Luca langsung mengerucutkan bibirnya, siap untuk merajuk. Namun, sebelum kata-kata protes keluar, Brant sudah lebih dulu mencubit hidung Luca dengan gemas.

"Tapi mereka nggak ada apa-apanya, ca. Lu cowok, tapi jauh lebih cantik dari mereka semua."

​Pipi Luca langsung bersemu merah. Namun Brant belum selesai. "Lu juga. Di sini jangan tebar pesona. Ada pria tampan senyum dikit, langsung aja lu bales senyum manis banget."

​Luca mengerjapkan matanya, menatap Brant dengan kepolosan yang hakiki. "Eh? Salah ya, Kak? Kan itu sopan namanya kalau orang ramah kita bales ramah."

​Brant mendengus, ia memalingkan wajahnya sebentar sambil memijat tengkuknya. "Ya nggak salah sih... cuma gue nggak suka. Gue cemburu, Luca. Puas lu sekarang?"

​Mendengar pengakuan jujur itu, Luca malah tertawa gemas. Alih-alih takut, dia justru merasa sangat dicintai. Saking gemasnya, Luca meraih lengan kekar Brant dan langsung menggigitnya gemas.

​"Aduh! Sakit, Ca! Kayak bocil aja lu pake gigit-gigit segala," keluh Brant sambil meringis, tapi tangannya tetap merangkul bahu Luca.

​"Biarin! Habisnya Kak Brant lucu kalau lagi cemburu," sahut Luca manja. Dia tidak melepaskan lengan itu, malah makin erat memeluknya sambil menyandarkan pipinya di otot lengan Brant.

​Waktu seolah berjalan terlalu cepat. Tepat jam sebelas malam, Brant akhirnya mengantar Luca kembali ke rumahnya. Begitu mobil berhenti di depan pagar, drama kecil dimulai. Luca masih betah duduk di kursi penumpang, tangannya memegang erat sabuk pengaman seolah tidak mau dilepas.

​"Turun, Ca. Udah malem, nanti mama nyariin," bujuk Brant lembut.

​"Nggak mau... masih mau sama Kak Brant," rengek Luca sambil menatap Brant dengan mata puppy eyes-nya.

​Brant menghela napas panjang, mencoba menahan diri agar tidak ikut luluh. "Nanti kita ketemu lagi di kampus. Ayo masuk, udah larut banget ini."

Setelah beberapa menit penuh rayuan dan janji akan menelepon sebelum tidur, Luca akhirnya mau keluar dengan langkah gontai dan wajah cemberut yang dibuat-buat.

​Brant menunggu sampai Luca benar-benar masuk ke dalam rumah dan melambai dari balik pintu. Setelah itu, dengan senyum yang masih tertinggal di bibirnya, Brant menginjak pedal gas, melaju membelah keheningan malam menuju apartemennya.

Suasana di salah satu ruang gedung ekonomi saat itu terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Di sudut ruangan, Luca, Vin, dan Elena sedang mengerumuni Rose yang tampak gelisah namun matanya tidak bisa menyembunyikan binar bahagia. Malam nanti adalah malam besar bagi Rose; Jack, cowok yang sudah ia kagumi sejak hari pertama kuliah, akhirnya mengajaknya jalan.

​"Gila, Rose... akhirnya lu jadian juga sama idola lu," goda Elena sambil merapikan rambut Rose. "Inget ya, entar riasan make-up lu simpel aja. Jangan menor-menor, entar Jack malah ngira lu mau ke kondangan bukannya dating."

​Vin ikut menimpali dengan gaya sok protektif. "Lu jalan pake motor kan sama dia? Inget, biar lu pake baju seksi atau secantik apa pun, tetep harus pake jaket. Jangan sampe masuk angin."

​Rose hanya mengangguk-angguk kecil, wajahnya merona. "Iya, gue rencananya emang mau yang simpel-simpel aja kok."

​Sementara itu, Luca yang sedari tadi asyik bersandar di kursi, tiba-tiba angkat bicara dengan wajah serius. "Satu hal yang paling penting, Rose. Lu harus suruh Kak Jack traktir makan yang banyak. Pastiin perut lu kenyang dulu, supaya nanti pas lagi ngedate lu nggak kelaparan!"

​Rose langsung menoleh, menatap Luca datar. "Makan terus isi otak lu, Ca! Orang lagi bahas cinta, lu malah bahas perut."

​Tawa mereka langsung terhenti saat pintu kelas terbuka dan dosen masuk. Luca pun dengan gelagat mencurigakan segera mencuri kesempatan untuk keluar kelas sebentar, dengan ponsel di saknya.

​Di sisi lain koridor kampus, suasana tidak kalah sibuk. Brant, Jack, Clay, dan Rey sedang berjalan bersama menuju kantor administrasi untuk menyerahkan berkas mereka.

​"Akhirnya ya, beres juga urusan revisi skripsi. Tinggal nunggu jadwal wisuda," ucap Rey sambil menepuk pundak Brant.

​Clay meregangkan ototnya yang kaku. "Gila, penat banget gue. Eh, entar malam nongkrong yuk? Rehat sejenak sebelum kita bener-bener lepas dari kampus ini."

​Namun, di luar dugaan, Jack menggeleng cepat. "Gue nggak bisa. Ada janji," jawabnya singkat tanpa menoleh.

​Clay dan Rey langsung berhenti melangkah, saling lirik dengan tatapan heran. "Janji? Janji apa? Sama siapa? Tumben banget anak rumahan kayak lu ada jadwal selain sama kita?" cecar Clay penasaran.

​Jack hanya mengangkat bahu, tidak mau memberikan penjelasan lebih lanjut, membuat teman-temannya makin curiga.

​Sementara itu, Brant yang berjalan paling belakang hanya tersenyum heran. Ia sedang menempelkan ponsel di telinganya, mendengarkan suara Luca yang berbisik-bisik di seberang telepon.

​"Kak Brant! Ini rahasia penting banget, jangan kasih tahu siapa-siapa ya!" bisik Luca dari tempat persembunyiannya di luar kelas. "Rose... dia udah jadian sama Kak Jack! Terus katanya entar malam mereka mau ngedate! Ih, aku nggak sabar pengen tahu ceritanya besok!"

​Brant terkekeh pelan, melirik punggung Jack yang terlihat gugup meski berusaha terlihat tenang. "Oh ya? Rahasia ya?" sahut Brant pelan, suaranya terdengar lembut dan dalam.

"Hmm. Kak sudah ya, ada dosen masuk." Klik sambungan langsung di putuskan Luca.

​Brant menggelengkan kepala merasa lucu, karna Luca menelponya hanya untuk bilang 'rahasia penting ' baginya ini. Tapi Dia tetap senang, melihat bagaimana dua lingkaran pertemanan ini ternyata saling terhubung.

Sambil melangkah Brant kembali menatap langit kampus yang sore itu tampak tenang, menyadari bahwa meski perpisahan ke London semakin dekat, malam ini... setidaknya semua orang punya alasan untuk tersenyum.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!