JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘
Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Keheningan malam di dalam kamar bernuansa putih-emas milik Haura terasa begitu kentara. Kamar yang luas itu hanya diisi oleh suara halus dari putaran AC sentral dan hela napas Haura yang perlahan mulai teratur. Setelah badai lambung yang menyiksanya di pinggir jalan tadi, Mama Melati dengan penuh kasih sayang telah menyuapinya beberapa sendok bubur ayam hangat dan memastikan Haura meminum obatnya sebelum akhirnya tertidur karena pengaruh efek obat.
Tepat pukul setengah sebelas malam, kelopak mata Haura bergerak perlahan. Ia terbangun dengan sensasi ulu hati yang jauh lebih mendingan, meski tubuhnya masih terasa agak lemas. Haura mengubah posisinya menjadi bersandar pada kepala ranjang yang empuk, berniat meraih segelas air hangat di atas nakas.
Namun, perhatiannya langsung teralihkan oleh layar ponselnya yang mendadak menyala terang di samping gelas. Sebuah notifikasi pesan WhatsApp masuk, memecah kegelapan kamar.
Haura mengernyitkan keningnya, meraih benda pipih itu dengan gerakan malas. "Siapa sih? Malem-malem ganggu orang aja. Nggak tahu apa ini jam istirahat," gumamnya dengan suara yang masih serak khas orang baru bangun tidur.
Ia membuka kunci layar ponselnya. Di sana, tertera sebuah ruang obrolan baru dari nomor yang tidak dikenal. Profilnya kosong, namun begitu Haura membaca pesan yang dikirimkan, matanya yang semula sayu langsung membelalak kaget. Kantuknya hilang dalam sekejap.
+62 812-3456-XXXX:
Obatnya udah diminum belum, Tan? Atau jangan-jangan lo lagi nangis di pojokan kamar gara-gara ceramah bokap lo tadi?
Haura membekap mulutnya sendiri, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang karena rasa terkejut yang luar biasa. Gaya bicara lancang seperti ini, panggilan "Tan", dan referensi tentang kejadian memalukan di teras rumahnya... tidak salah lagi.
"Marco?!" Haura mendesis pelan, napasnya tertahan di dada. "Dia... dia dapet dari mana nomor aku? Arlo?! Sialan, dia bener-bener keponakan kurang ajar! Berani-beraninya bocorin privasi tantenya sendiri ke berandalan ini!"
Dengan tangan yang gemetar karena perpaduan antara sisa lemas dan rasa kesal yang mendadak naik ke ubun-ubun, Haura langsung menekan tombol pengaturan kontak. Sebelum membalas, ia mengetik nama untuk nomor tersebut dengan penuh penekanan pada layar sentuhnya: "Tukang Minta Sumbangan".
Setelah menyimpan nama itu, Haura langsung mengetik balasan dengan kecepatan penuh, jarinya seolah ingin menembus layar saking kesalnya.
Haura:
Kamu nggak punya sopan santun ya, Marco?! Jam berapa ini? Berani-beraninya kamu nge-chat saya malam-malam begini. Dan dari mana kamu dapet nomor saya? Arlo yang kasih, kan? Besok saya potong semua uang jajan anak itu!
Tukang Minta Sumbangan:
Santai, Tan. Ketikan lo kelihatan banget kalau lagi emosi. Jangan galak-galak, nanti lambungnya melilit lagi, repot. Kasihan aspal depan rumah lo, cape dibersihin.
Haura:
Kamu!!! Nggak usah bahas kejadian tadi! Itu cuma kecelakaan. Dan jangan panggil saya 'lo-gue', saya jauh lebih tua dari kamu. Jaga batasan kamu, Marco.
Tukang Minta Sumbangan:
Oh, maunya dipanggil apa? Kak? Sayang? Atau tetap 'Tante Sayang' kayak tadi sore di ruko? Gue sih fleksibel aja, tergantung kenyamanan lo.
Haura:
Panggil saya Ibu atau Tante Haura! Dan ada urusan apa kamu hubungin saya? Kalau cuma mau cari gara-gara atau ngeledek saya soal Papa, mending kamu saya blokir sekarang juga.
Tukang Minta Sumbangan:
Jangan dblokir dong, Ratu Jastip. Gue nge-chat beneran mau mastiin lo udah aman di kamar. Tadi pas lo dipapah Arlo masuk, lo kelihatan ringkih banget. Beda banget sama pas lo ngelempar heels ke punggung keponakan lo.
Haura menatap layar ponselnya, bibirnya terkatung-katung membaca pesan terakhir dari Marco. Ada sebersit rasa hangat yang aneh yang tiba-tiba menyelinap di antara rasa kesalnya. Pemuda ini... meskipun ketikannya sangat menyebalkan, dia bener-bener mengirim pesan hanya untuk memastikan kondisinya? Di saat ayahnya sendiri bahkan tidak masuk ke kamarnya untuk bertanya apakah ia sudah membaik.
Haura:
Saya sudah baikan. Saya sudah makan bubur dan minum obat dari Mama. Jadi kamu nggak usah sok peduli. Tugas kamu besok di ruko masih banyak, mending kamu tidur sekarang daripada telat.
Tukang Minta Sumbangan:
Gue emang peduli, Haura. Nggak usah pake kata 'sok'.
Napas Haura tercekat. Marco tidak memanggilnya Tante. Pemuda itu mengetik namanya secara langsung: Haura. Rasanya begitu intim dan lancang di saat yang bersamaan, membuat bulu kuduk Haura meremang halus.
Tukang Minta Sumbangan:
Lagian, besok gue nggak bakal telat ke ruko. Malahan, kayaknya kita bakal ketemu lebih cepet dari jam kerja ruko.
Haura:
Maksud kamu apa? Jangan aneh-aneh ya, Marco. Saya nggak ada agenda ketemu kamu besok pagi sebelum jam sembilan.
Tukang Minta Sumbangan:
Ada kok. Tapi rahasia. Intinya besok lo harus dandan yang cantik. Jangan pakai muka pucat kayak mayat hidup tadi. Gue lebih suka liat muka judes lo yang biasanya, lebih menantang.
Haura:
Kamu bener-bener cowok paling gak jelas yang pernah saya kenal. Sudah, saya mau tidur lagi. Jangan berani-beraninya chat saya lagi setelah ini.
Tukang Minta Sumbangan:
Iya, Tante Sayang. Selamat tidur. Mimpiin gue ya, jangan mimpiin si Trian S2 itu. Nanti lo mual lagi.
Haura tidak membalas lagi. Ia langsung melempar ponselnya ke atas kasur dengan wajah yang terasa memanas sempurna. Ia menarik selimutnya hingga sebatas dada, memejamkan mata rapat-rapat. Namun, pikiran di otaknya mendadak menolak untuk diajak bekerja sama.
Kata-kata Marco, "Mulai malam ini, anggap gue sebagai pengecualian di hidup lo," yang diucapkan langsung di dalam mobil tadi, kini bergaung kembali di dalam benaknya, beradu dengan ketengilan pesan teks yang baru saja ia terima.
"Bocah gila," bisik Haura pada keheningan kamarnya, mencoba meredakan debaran aneh di dadanya yang kian tak menentu akibat ulah si 'Tukang Minta Sumbangan'.
***
Mansion megah keluarga Widjaja yang biasanya sepi sedingin kuburan mendadak diguncang oleh suara debuman pintu utama yang dibuka paksa. Aurora, anak kedua dari tiga bersaudara Widjaja, melangkah masuk dengan napas memburu. Jarak rumahnya yang hanya berbeda beberapa blok dari mansion ini ditempuhnya dengan setengah berlari, mengabaikan fakta bahwa ia hanya mengenakan celana kulot santai dan kafe kaos rumahan.
"Aurora! Jangan lari, kamu baru sembuh, Sayang!" teriakan Langit, suaminya, menggema di belakangnya. Mantan ajudan Anggara yang kini telah menjadi pengusaha sukses itu tampak kewalahan mengejar langkah istrinya yang secepat angin topan.
Aurora sama sekali tidak peduli. Jiwa cegil pelindungnya sudah menyala sejak semalam setelah mendengar aduan dari Arlo, anaknya. Dengan langkah seribu, ia menaiki anak tangga menuju lantai dua, tempat kamar Haura berada.
BRAK!
Aurora mendorong pintu kamar adik bungsunya tanpa mengetuk terlebih dahulu. "Ra! Ya ampun, kamu oke?!" pekik Aurora langsung menghambur ke arah ranjang tempat Haura yang baru saja selesai merapikan blusnya. "Kakak semalam mau langsung ke sini pas Arlo cerita kamu muntah-muntah, tapi nggak dibolehin sama Mas Langit!"
Haura yang sedang memakai anting-antingnya tersentak, lalu mengembuskan napas lega melihat sang kakak. "Oke kok, Kak. Aku udah mendingan. Cuma maag biasa."
Aurora duduk di tepi ranjang, langsung memegang kedua pipi Haura dan membolak-balikkan wajah adiknya dengan gemas. "Oke dari mana? Muka kamu masih pucat begini! Kakak kan udah bilang, kerja itu jangan terlalu dipaksa. Kamu itu manusia, Dek, bukan robot! Jastip kamu udah gede, duit kamu udah banyak, mau cari apa lagi sih?"
Haura hanya tersenyum tipis, melepaskan tangan kakaknya dengan lembut. "Iya, Kak. Aku tahu."
"Terus, Kakak juga denger dari Arlo, semalam Papa marahin kamu lagi pas kamu pulang sakit? Hah?!" Mata Aurora langsung berkilat marah, tangan kanannya mengepal kuat di atas sprei. "Ngomong apa lagi si tua bangka itu? Basi banget tahu nggak! Biar Kakak yang hadepin dia sekarang. Udah umur makin tua tapi kelakuannya gak berubah dari dulu, selalu nuntut anak harus sempurna! Heran deh, narsis banget jadi orang tua!"
"Aurora. Jaga ucapan kamu," sebuah suara berat dan berwibawa menyela dari ambang pintu. Langit sudah berdiri di sana dengan napas yang sedikit terengah-engah, menatap istrinya dengan pandangan memperingatkan.
Aurora langsung menoleh cepat, menatap suaminya dengan galak. "Apa sih, Mas?! Aku cuma mau mastiin Haura gak kenapa-kenapa. Kamu diam aja di situ, nggak usah ikut campur urusan darah Widjaja!"
Langit mengusap wajahnya, frustrasi menghadapi sifat keras kepala istrinya yang tidak pernah berubah sejak mereka pacaran dulu. "Aku nggak melarang kamu jenguk Haura, tapi tolong bahasamu dijaga. Bagaimanapun beliau itu Papa kamu, mantan atasan aku."
"Dulu! Dulu dia atasan kamu yang persulit pernikahan kita karena kamu cuma ajudan, ingat?!" sahut Aurora pedas, membuat Langit memilih untuk bungkam daripada memperpanjang perdebatan di depan adik iparnya. Aurora kembali menatap Haura. "Dek, kamu tenang aja. Kakak nggak bakal biarin si tua bangka itu seenaknya injak-injak harga diri kamu cuma gara-gara urusan perjodohan sampah itu. Elang si anak sulung kesayangan boleh bungkam dan nurut kayak kerbau dicocok hidung, tapi Kakak? Nggak akan sudi!"
Tanpa menunggu balasan dari Haura, Aurora berdiri dengan sentakan kuat. Ia melangkah lebar keluar kamar, mengabaikan panggilan Haura yang mencoba mencegahnya.
"Kak Aurora, jangan cari ribut!" seru Haura, namun terlambat. Kakaknya sudah berjalan cepat menuruni tangga menuju ruang makan lantai satu, tempat di mana Anggara biasanya menikmati teh paginya.
Langit hanya bisa menatap Haura dengan pandangan meminta maaf. "Mas susul kakakmu dulu, Ra. Kamu istirahat aja," ucap Langit sebelum berlari kecil mengejar sang istri.
Di ruang makan, Anggara Widjaja sedang duduk tenang membaca koran bisnis dengan secangkir teh chamomile di mejanya. Suasana tenang itu pecah berantakan saat Aurora menggebrak meja makan kayu jati tersebut hingga cangkir teh Anggara bergetar hebat.
BRAK!
"Papa keterlaluan ya!" seru Aurora tanpa basa-basi, matanya menatap lurus ke dalam manik mata sang ayah yang langsung menatapnya dengan tajam.
Anggara menurunkan korannya perlahan, wajahnya mengeras melihat anak tengahnya yang selalu menjadi duri di dalam daging keluarganya karena sifat pemberontaknya. "Aurora. Di mana sopan santun kamu? Masuk ke rumah orang tua langsung berteriak seperti orang tidak berpendidikan."
"Sopan santun? Buat apa aku sopan sama orang tua yang nggak punya empati sama anaknya sendiri?" balas Aurora berapi-api. "Semalam Haura pulang dalam keadaan sakit, muntah-muntah di pinggir jalan! Bukannya ditanya kondisinya, bukannya dipanggilkan dokter, Papa malah maki-maki dia cuma karena dia ninggalin cowok S2 pilihan Papa itu? Papa pikir Haura itu barang dagangan yang bisa Papa paksa jual ke siapa aja?!"
"Aurora, cukup!" Langit yang baru sampai langsung memegang pundak istrinya, mencoba menarik tubuh Aurora mundur. "Jangan bicara dengan nada seperti itu ke Papa."
"Lepas, Mas! Kamu nggak tahu rasanya jadi Haura yang selalu dituntut ini-itu!" Aurora menghempaskan tangan Langit, kembali maju selangkah menantang ayahnya.
Anggara berdiri dari kursinya, auranya yang dominan memancar kuat, membuat suasana ruang makan terasa mencekam. "Papa melakukan ini semua demi kebaikan Haura, Aurora! Dia sudah hampir empat puluh tahun, belum menikah, hanya sibuk dengan ruko jastipnya yang tidak jelas itu. Mau jadi apa dia nanti kalau Papa sudah tidak ada? Elang sudah sukses dengan perusahaan investasinya, kamu sudah menikah dengan Langit. Hanya Haura yang keras kepala dan tidak mau mendengar aturan!"
"Aturan Papa yang egois!" potong Aurora dengan tawa sinis yang memekik telinga. "Bisnis jastip Haura itu menghasilkan miliaran, Pa! Jauh lebih terhormat daripada cowok-cowok borjuis pilihan Papa yang cuma bisa pamer harta orang tua! Papa cuma malu kan kalau punya anak perawan tua? Papa cuma peduli sama gengsi Papa di depan kolega-kolega politik Papa!"
"AURORA!" bentak Anggara, wajahnya memerah padam, tangannya terangkat ke udara, bersiap untuk mendaratkan tamparan di pipi putrinya yang terlampau lancang.
Namun, sebelum tangan Anggara bergerak, Langit sudah lebih dulu melangkah maju, memasang tubuhnya di depan Aurora untuk melindungi istrinya, sekaligus mencengkeram pergelangan tangan sang mertua dengan sopan namun sangat kokoh.
"Maaf, Pa. Tolong jangan main tangan," ucap Langit, suaranya rendah, tenang, namun penuh dengan otoritas seorang suami yang tidak akan membiarkan istrinya disentuh oleh siapapun, bahkan oleh ayah kandungnya sendiri. "Saya bawa Aurora pulang sekarang. Mohon maaf atas kelancangannya."
Anggara menarik tangannya dengan kasar, napasnya memburu menahan murka. "Bawa istri kamu dari sini, Langit! Sebelum saya coret dia dari keluarga ini!"
"Coret aja! Aku nggak peduli! Dari dulu juga aku nggak pernah haus sama harta atau nama besar Widjaja!" teriak Aurora lagi dari balik punggung Langit, masih sempat-sempatnya memprovokasi sebelum tubuhnya setengah diseret oleh Langit untuk meninggalkan ruang makan.
Dari lantai dua, Haura berdiri di dekat jembatan penghubung kamarnya, menyaksikan seluruh keributan itu dengan hati yang mencos. Ia menghela napas panjang, meraba ulu hatinya yang kembali terasa sedikit nyeri bukan karena sakit fisik, melainkan karena lelah dengan drama keluarga yang tiada habisnya. Namun, di tengah kekacauan itu, Haura teringat pesan WhatsApp dari 'Tukang Minta Sumbangan' semalam: "Besok lo harus dandan yang cantik... kita bakal ketemu lebih cepet dari jam kerja ruko." Haura melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah jam delapan pagi. Mengingat ancaman dan ketengilan Marco, Haura mendadak punya firasat bahwa sisa hari ini tidak akan berjalan lebih tenang dari pagi yang kacau ini.
***
Si cegil nyempil ya🤣
semangattt