NovelToon NovelToon
Cinta Ditolak Sebab Status

Cinta Ditolak Sebab Status

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:370
Nilai: 5
Nama Author: Bila Official

Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.

Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.

Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.

Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.

Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.

Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Merawatnya

Pagi di Rumah Sakit Medika terasa lebih dingin dari biasanya. Cahaya matahari masuk samar melalui tirai putih kamar rawat inap, membuat ruangan itu terasa tenang, tapi juga sepi.

Suara langkah perawat sesekali terdengar dari lorong. Bunyi alat monitor berdetak pelan dan di atas ranjang rumah sakit, Arvano masih tertidur.

Wajahnya terlihat pucat. Tidak separah semalam, tapi jelas menunjukkan kalau tubuhnya benar-benar kelelahan.

Di sofa dekat jendela, Aurel duduk sambil menggenggam ujung bajunya sendiri. Ia masih sedikit tidak percaya.

Semalam semuanya terasa begitu cepat. Kecelakaan. Rumah sakit. Kepanikan semua orang dan sekarang Aurel berada di sini, menjaga Arvano.

Pintu kamar terbuka pelan. Indah masuk bersama Bagaskara. Mereka tampak sudah bersiap untuk pergi ke kantor.

Indah tersenyum kecil saat melihat Aurel masih duduk di sana. “Kamu belum tidur?”

Aurel langsung berdiri. “Tidur sebentar tadi, Bu.”

Bagaskara melirik Arvano yang masih tertidur.

“Dokter bilang dia harus istirahat total.” Ucap Aurel.

Indah mengangguk, kemudian menoleh ke Aurel. “Aurel.”

“Iya, Bu?”

“Bisa tolong jagain Arvano dulu?”

Aurel langsung membeku sesaat. “S-saya?”

“Iyaa. Feni lagi di rumah, banyak kerjaan. Aku juga harus ke butik sebentar.” Ucap Indah.

Aurel menelan ludah kecil. “Tapi saya…”

Indah tersenyum lembut. “Tidak apa-apa, tinggal temani saja. Kalau dia butuh sesuatu, panggil perawat.”

Aurel akhirnya mengangguk pelan. “Iya, Bu.”

Bagaskara mengambil jasnya. “Kami kembali nanti sore.”

Setelah itu mereka pergi. Pintu tertutup kembali dan sekarang, hanya ada Aurel dan Arvano di kamar itu.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan.

Aurel duduk lagi di sofa. Sesekali melirik ke arah ranjang, entah kenapa suasananya jadi canggung.

Tiba-tiba Arvano bergerak sedikit. Matanya terbuka perlahan. Pandangan pertama yang Arvano lihat yaitu Aurel.

Pria itu sedikit mengernyit. “Kenapa Lo, di sini?” Suaranya masih serak.

Aurel langsung berdiri cepat. “Eeh… anu… Bu Indah sama Pak Bagaskara tadi pergi sebentar.”

Arvano menatap langit-langit sebentar, lalu kembali ke Aurel. “Mereka ninggalin lo?”

Aurel buru-buru menggeleng. “Bukan ninggalin, cuma nyuruh saya jagain.”

Arvano diam, kemudian memejamkan matanya lagi. “Repot.”

Aurel sedikit bingung. “Mas mau minum?”

“Enggak.”

“Masih pusing?”

Arvano tidak langsung menjawab.

“Hm.”

Aurel berdiri kikuk di samping sofa. Tidak tahu harus bagaimana.

Tok tok tok. Pintu diketuk.

Aurel langsung berjalan membukanya dan saat pintu terbuka, Seorang wanita berdiri di sana sambil membawa keranjang buah mahal, yaitu Erika.

“Aku boleh masuk?” Nada suaranya lembut, tapi matanya langsung berhenti saat melihat Aurel.

Tatapan itu kembali muncul. Tatapanya yang membuat Aurel tidak nyaman.

Namun Erika cepat tersenyum lagi. “Aku dengar Arvano kecelakaan, ya”

Aurel menunduk sedikit. “Oh… iya. Silakan masuk.”

Erika melangkah masuk dengan anggun.

Begitu melihat Arvano sudah bangun, wajahnya langsung berubah manis. “Van…”

Arvano membuka mata sedikit dan ekspresinya langsung datar. “Ello?”

“Aku khawatir.” Erika duduk di kursi dekat ranjang, kemudian mulai membuka buah yang dibawanya.

“Aku bawain buah kesukaan kamu.”

Arvano tidak menjawab.

Aurel berdiri canggung di dekat pintu. Tidak tahu harus pergi atau tetap di sana.

Erika mulai mengupas apel dengan rapi. Gerakannya anggun. Seolah terbiasa melakukan semuanya dengan sempurna.

Setelah selesai, Erika memotong kecil-kecil, terus mengambil satu potong.

“ Ayo, Mulutnya dibuka.”

Arvano langsung menatap dingin. “Enggak usah.”

Erika tertawa kecil. “Jangan manja. Kamu itu sakit.”

masih tetap menyodorkan apel itu.

Namun Arvano justru mengambil tangan Erika dengan kasar setelah itu menurunkannya.

“Gue, bilang enggak.”

Suasana langsung berubah canggung, tapi Erika masih tersenyum.

Meski senyumnya mulai dipaksakan. “Aku cuma perhatian.....”

Arvano memalingkan wajah. Tatapannya justru jatuh ke arah Aurel.

“lo.”

Aurel langsung kaget. “S-saya?”

“Kupasin.” Ucap yang singkat.

“Hah?” Sahut Aurel dengan wajah bingung.

“Apelnya.”

Erika langsung diam. Wajahnya sedikit berubah.

“Tapi tadi Mbak Erika sudah—” Ucap Aurel muka dengan makin bingung.

“Yang kupas, lo.” Nada suara Arvano datar, tapi tegas, dan tidak bisa dibantah.

Aurel menelan ludah. “I-iya…”

Aurel berjalan pelan mendekat. Erika menatapnya tajam. Sangat tajam. Namun Aurel pura-pura tidak sadar. Tangannya sedikit gemetar saat mengambil apel itu. Aurel mulai mengupas perlahan. Sementara suasana kamar, semakin aneh.

Setelah selesai, Aurel memotong kecil-kecil. Setelah itu, bingung sendiri.

“Ini… gimana?”

Arvano menatapnya. “Suapin.”

Aurel langsung membeku. “Hah?!”

Erika bahkan sampai menoleh cepat. “Van…”

Namun Arvano tidak memedulikan siapa pun. Tatapannya tetap ke Aurel.

Aurel panik. “T-tapi…”

“Cepat.”

Wajah Aurel merah total. Dengan tangan gemetar, Aurel mengambil satu potong apel kecil, lalu menyuapkannya dengan pelan.

Arvano memakannya. Tanpa menolak, tanpa komentar.

Erika langsung mengepalkan tangan di pangkuannya. Wajahnya masih tersenyum, tapi matanya mulai dingin. Sangat dingin.

Beberapa menit kemudian, Erika akhirnya berdiri.

“Aku ke bawah dulu.”

Tidak ada yang menjawab. Erika meraih tasnya, kemudian sebelum keluar, tatapannya sempat berhenti pada Aurel.

Tatapan yang kali ini jelas, kalau Erika tidak suka.

Pintu tertutup.

Suasana kamar langsung berubah tenang lagi. Aurel langsung menaruh apel itu cepat-cepat. Jantungnya masih berdebar.

Namun tiba-tiba, Arvano mengambil piring buah tadi. Meletakkannya agak jauh. “Buang saja.”

Aurel menoleh. “Hah?”

“Atau kasih siapa pun.”

“Tapi ini kan…” Sahut Aurel dengan membantah.

“Gue, enggak mau.” Nada suaranya dingin.

Aurel menatap buah itu bingung. “Kenapa?”

“Enggak suka.” Jawaban yang singkat.

Aurel tidak berani bertanya lagi.

Tak lama, perawat datang membawa obat. “Pasien harus makan dulu sebelum minum obat ya.”

Aurel langsung mengangguk. “Iya.”

Begitu perawat pergi, Aurel menoleh ke Arvano. “Mas… makan dulu.”

“Enggak lapar.” Sahut Arvano yang datar.

“Harus makan.” Ucap Aurel yang paksa.

“Enggak mau.”

Aurel menghela napas kecil, langsung mengambil dompet kecilnya. “Saya keluar sebentar.”

Arvano tidak bertanya.

Beberapa menit kemudian…

Aurel kembali membawa bubur hangat dan air mineral.

Aure duduk di dekat ranjang. “Nih.”

Arvano melirik sekilas. “Bubur?”

“Iya.”

“Enggak mau.” Ucap Arvano dengan menolaknya.

“Mas, harus makan.”

“Enggak lapar.”

Aurel mengerucutkan bibirnya yang pelan.

Untuk pertama kalinya, Aurel memberanikan diri sedikit membantah. “Kalau Mas enggak makan, nanti tambah sakit.”

Arvano diam.

“Dokternya juga bilang harus makan sebelum obat.” Ucap Aurel dengan tersenyum lebar.

Tetap diam.

Aurel akhirnya membuka tutup bubur itu, lalu mengambil sendok.

“Sedikit aja.”

Arvano menghela napas. Seolah menyerah, dan akhirnya makan dengan pelan-pelan.

Aurel diam-diam lega. Setelah habis setengah, Arvano minum obat. Setelah itu menyandarkan tubuhnya lagi.

Beberapa detik kemudian, Arvano mengambil dompet, mengeluarkan uangnya. “Ini.”

Aurel langsung menggeleng cepat. “Enggak usah.”

“Ambil.” Arvano dengan paksa.

“Beneran enggak usah.”

“Kamu beli makanan.” Ucap Arvano yang datar.

Aurel tersenyum kecil. “Tadi saya beli pakai uang sendiri, tapi saya ikhlas kok.”

Arvano menatapnya beberapa detik, seolah bingung mendengar jawaban itu. “Ikhlas?”

“Iya.”

Kemudian perlahan, Arvano menarik kembali uang itu. Tanpa berkata apa-apa lagi.

Aurel duduk diam di sofa lagi. Sementara Arvano memejamkan mata. Suasana kamar menjadi tenang.

Namun di dalam hati Aurel Ada sesuatu yang mulai berubah. Arvano memang dingin dan sulit untuk ditebak. Kadang menyebalkan, tapi hari ini untuk pertama kalinya, Aurel melihat sisi lain dari pria itu.

Sisi lelahnya, Sisi diamnya dan entah kenapa Aurel jadi tidak tega.

Tak lama kemudian, napas Arvano mulai teratur. Tertidur lagi. Aurel berdiri pelan.

Merapikan meja kecil di samping ranjang. Lalu tanpa sadar. Tatapannya jatuh pada wajah Arvano yang tertidur, dan tenang. Berbeda dari biasanya.

Dan tanpa Aurel sadari. Seseorang berdiri di balik kaca pintu kamar, ada yang melihat semuanya. Yaitu Erika, dengan Tatapannya dingin, dan tangannya mengepal erat.

Erika melihat bagaimana Arvano menolak buah darinya, tapi mau makan dari Aurel.

Dan untuk pertama kalinya, rasa tidak sukanya berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!