NovelToon NovelToon
Warisan Darah Sang Mafia

Warisan Darah Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Mereka pikir semuanya telah berakhir sejak kematian Leonardo Valerio. Namun dunia gelap tidak pernah benar-benar melupakan darah yang pernah berkuasa.

Leonardo Valerio memang telah mati, tapi warisan darahnya belum berakhir. Saat ancaman mulai mengincar Alessandro, Nadira dipaksa kembali ke dunia gelap yang pernah menghancurkan hidupnya.

Di balik bayangan, musuh lama bangkit, rahasia lama terbuka, dan sifat dingin Leonardo perlahan muncul dalam diri putranya.

Karena darah mafia tidak pernah benar-benar hilang, dan sang pewaris akhirnya mulai bangkit.

**RED ASHES SEASON II**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama yang Dikubur

Hujan turun tipis membasahi jalanan Jakarta malam itu.

Dari balik kaca gedung pencakar langit, Alessandro berdiri diam sambil menatap lampu kota, yang berkilauan seperti lautan api.

Tangannya memegang gelas whiskey setengah penuh, wajahnya tenang, terlalu tenang untuk pria berusia dua puluh tujuh tahun, yang baru saja menutup transaksi miliaran rupiah tanpa sedikit pun ada raut wajah gugup.

Di belakangnya, layar besar di ruang kerja masih menampilkan grafik saham perusahaan teknologi miliknya.

VALERION TECH.

Nama yang sengaja ia pilih tanpa berpikir panjang bertahun-tahun lalu. Dan sekarang ia mulai membenci nama itu.

"Meeting Tokyo besok pagi sudah dikonfirmasi, Tuan Alessandro."

Suara asistennya memecah keheningan, Alessandro tidak menoleh.

"Batalkan meeting itu."

Pria paruh baya itu terlihat bingung, "Tapi investor Jepang sudah tiba di Jakarta, Tuan."

"Aku bilang batalkan."

Nada suaranya rendah, tapi cukup membuat ruangan mendadak terasa dingin.

Asistennya langsung menunduk, "Baik, Tuan."

Begitu pintu tertutup kembali, Alessandro menghembuskan napas panjang. Belakangan ini ia sulit tidur, sulit berpikir, dan yang paling menganggu adalah mimpi lama yang mulai kembali muncul.

Ruangan gelap, bau darah, suara tembakan, dan seorang pria bermata dingin, yang selalu berdiri membelakanginya.

Leonardo Valerio, yang tak lain ayahnya sendiri. Nama yang selama bertahun-tahun berusaha ia kubur dalam hidupnya.

Tetapi semakin ia mencoba melupakan, semakin dunia seperti memaksanya mengingat.

Ponsel di meja tiba-tiba bergetar, nomor tak dikenal. Alessandro mengangkat tanpa banyak berpikir.

...📞...

"Ya?"

Selama beberapa detik tidak ada jawaban, lalu suara berat seorang pria terdengar samar.

^^^"Sudah lama, Tuan Muda Valerio."^^^

Tubuh Alessandro langsung menegang, tatapannya berubah dingin dalam sekejap.

"Siapa ini?"

Pria di seberang tertawa kecil.

^^^"Ternyata darah itu memang tidak pernah hilang."^^^

Klik.

Sambungan terputus, ruangan mendadak terasa sunyi. Alessandro menatap layar ponselnya lama, jantungnya berdetak keras.

Bukan karena takut, tapi karena nama Valerio. Nama yang sudah beberapa tahun, tidak pernah ada yang berani mengucapkannya terutama di hadapannya.

Bahkan Nadira selalu melarang siapa pun untuk membahas masa lalu keluarga mereka.

Perlahan rahang Alessandro mengeras, ia membuka laci meja dan mengeluarkan pistol hitam yang tersimpan rapi di dalamnya.

Tatapannya kosong saat jemarinya menyentuh senjata itu, tangannya terasa terlalu familiar. Seolah kekerasan memang sudah mengalir dalam darahnya sejak lahir.

Pukul satu dini hari, Alessandro akhirnya tiba di rumah.

Rumah besar modern di kawasan elite Jakarta itu, terlihat tenang dari luar. Namun begitu ia masuk, aroma teh melati langsung menyambutnya.

Nadira masih belum tidur, wanita itu duduk di ruang tengah sambil membaca buku, mengenakan cardigan putih sederhana.

Usianya bertambah, tetapi matanya masih menyimpan kelembutan yang sama seperti dulu.

Dan juga ketakutan yang tidak pernah benar-benar hilang.

"Kamu pulang terlambat lagi," ucap Nadira pelan.

Alessandro meletakkan jasnya sembarangan. "Ada sedikit pekerjaan."

"Kamu kelihatan begitu lelah."

"Aku baik-baik saja, Ma."

Nadira menutup bukunya perlahan, "Apa ada sesuatu yang terjadi?"

Alessandro terdiam sesaat, entah kenapa ia merasa ragu untuk menceritakan telepon tadi.

Tetapi wajah pria itu akhirnya mengeras.

"Seseorang sudah memanggilku dengan nama itu."

Nadira langsung membeku, gelas teh di tangannya bergetar kecil. Untuk beberapa detik, wanita itu tidak berkata apa-apa.

Namun Alessandro bisa melihat jelas perubahan ekspresi di wajah ibunya.

Panik.

Takut.

Dan trauma lama yang tiba-tiba bangkit kembali.

"Siapa dia?" suara Nadira hampir berbisik.

"Aku juga tidak tahu, Ma. Tapi dia memanggilku Tuan Muda Valerio."

Wajah Nadira langsung memucat, ia berdiri terlalu cepat hingga kursinya bergeser keras.

"Tidak," napasnya memburu. "Tidak... mereka tidak mungkin menemukanmu secepat ini."

"Mereka? Maksudnya?"

Nadira menunduk seolah baru sadar telah mengatakan sesuatu yang salah, ruangan mendadak terasa berat.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Alessandro dingin.

Nadira menggeleng cepat, "Kamu tidak perlu tahu."

"Aku berhak tahu semuanya, Ma. Aku sudah dewasa, dan aku bukan anak kecil lagi."

"Justru itu yang membuat Mama takut dengan semua ini."

Kalimat itu membuat Alessandro terdiam, Nadira mendekat, memegang wajah putranya dengan tangan gemetar.

"Dengarkan Mama baik-baik," suaranya lirih nakun penuh tekanan. "Kalau seseorang mulai mencari nama Valerio lagi, itu artinya dunia lama ayahmu mulai bangkit."

Tatapan Alessandro berubah gelap, "Ayah sudah lama mati."

"Memang benar, ayahmu sudah lama mati. Tapi seorang mafia tidak pernah benar-benar mati."

Seketika suasana menjadi hening, hanya ada suara hujan di luar yang semakin jelas.

Nadira perlahan menunduk, "Ayahmu punya terlalu banyak rahasia, dan terlalu banyak musuh."

"Kalau begitu, kenapa Mama menyembunyikan semuanya dariku?" ucap Alessandro dengan tatapan tajam.

"Karena Mama hanya ingin, kamu hidup seperti manusia biasa. Tidak ada campur tangan ya dengan dunia gelap seperti ayahmu."

Jawaban itu hampir keluar dari bibir Nadira, namun ia tidak mampu mengatakannya. Sebab jauh di dalam dirinya, ia tahu bahwa Alessandro tidak benar-benar biasa.

Tatapan dingin itu, cara ia menekan emosi, cara semua orang perlahan tunduk padanya. Semakin hari, putranya semakin mirip dengan Leonardo. Dan itu menghancurkan Nadira sedikit demi sedikit.

"Mulai besok," ucap Nadira pelan. "Tinggalkan kota Jakarta untuk sementara."

Alessandro langsung menggeleng, "Aku tidak akan lari dari semua ini. Jika aku lari, maka sama saja aku dengan seorang pengecut."

"Kamu tidak tahu, dunia seperti apa yang saat ini sedang mendekat padamu."

"Aku juga bukan anak kecil lagi, Ma."

Untuk beberapa detik, Nadira seperti melihat Leonardo berdiri di hadapannya. Pria yang dulu pernah ia cintai, dan paling ia takuti.

Nadira melepaskan wajah Alessandro, matanya mulai berkaca-kaca.

"Mama sudah kehilangan ayahmu karena dunia gelap itu," bisiknya. "Jadi Mama tidak mau kehilangan kamu juga."

Alessandro menatap ibunya lama, ada sesuatu dalam dadanya yang terasa sesak.

Ia mencintai Nadira, wanita itu adalah satu-satunya alasan ia masih mencoba hidup normal.

Tetapi semakin banyak rahasia yang disembunyikan, semakin besar keinginannya untuk mencari tahu semuanya sendiri.

Ponselnya kembali bergetar, nomor tidak di kenal kembali menghubunginya.

Kali ini hanya pesan singkat.

"WARISAN TIDAK BISA DIKUBUR, ALESSANDRO. KARENA MEREKA SUDAH MENUNGGU RAJA YANG BARU."

Tatapan Alessandro langsung berubah dingin, Nadira yang melihatnya perlahan ikut menegang.

"Ada apa, Nak?"

Alessandro tidak langsung menjawab, ia hanya mematikan layar ponselnya. Namun sesuatu dalam dirinya mulai bergerak.

Sesuatu yang selama beberapa tahun ia tekan jauh di dalam kegelapan.

Insting.

Amarah.

Dan rasa penasaran yang berbahaya.

"Apa pun yang sedang terjadi," ucapnya pelan. "Maka aku akan tetap menyelesaikannya."

Nadira menggeleng cepat, "Tidak. Mama mohon jangan cari mereka."

Tapi sudah terlambat, karena tanpa Nadira sadari, dunia gelap itu sudah lebih menemukan Alessandro.

Di tempat lain, sebuah ruangan remang dengan layar komputer yang menyala redup.

Seorang pria bertubuh tinggi, berdiri menghadap jendela sambil memegang sebuah rokok.

Tatapan matanya begitu dingin, bekas luka panjang terlihat samar di sisi lehernya.

Viktor Karev.

Di belakangnya, salah satu anak buah menyerahkan tablet hitam.

"Target sudah menerima pesannya."

Viktor melihat foto Alessandro di layar, wajah mudah, tatapan tenang, dan aura dingin yang sangat familiar.

Pria itu tersenyum tipis, senyum yang lebih menyeramkan daripada kemarahan.

"Leonardo," gumamnya lirih. "Putramu ternyata tumbuh jauh lebih menarik dari yang kubayangkan."

Pria itu menatap langit malam Jakarta.

"Asal kamu tidak mengecewakanku, Tuan Muda Valerio," lanjutnya.

Lalu layar monitor di ruangan itu menyala, menampilkan simbol merah berbentuk mahkota.

Simbol organisasi lama, yang seharusnya sudah mati beberapa tahun yang lalu.

RED ASHES.

Dan malam itu, nama Valerio mulai bangkit dari kuburnya.

1
☕︎⃝❥virgo93
si ale msih pnya sisi baik🥰 jgn jdikan dia mnster thor aku gk relaa😫
Kucing Biru: kayaknya akaaa, deh🤔
total 3 replies
Vie
ga apa2 setengah2 juga ale, karena kalau 100% km jadi monster maka kamu akan kehilangan dirimu seperti ayahmu, dan itu adalah hal yang paling ditakuti oleh ibumu....
Vie
duh.... jadi ikutan tegang 😱😱😱😱😱
Vie
duh.... jadi ikutan tegang 😱😱😱😱😱
Vie
iiihhh makin seru dn penasaran aja..... lanjut kak.... 👍👍👍👍
Vie
lanjut thor.. 👍👍👍
☕︎⃝❥virgo93
keren banget thor🥰
Vie
dan kamu bodoh baru menyadari semua itu setelah apa yang terjadi disekitar kamu dan ibumu
Vie
aku agak bingung deh.... bukanya viktor ini yang selalu mengincar ale dan juga semua peninggalan ayahnya dan yang menghancurkan beberapa gudang kemarin, tapi kenapa masih ada disisi alesandro? apa aku yang salah ini viktor yang lain
Vie
dan akan keluar kemana... sedangkan kalian selama ini bersembunyi pun teta saja ketahuan, apalagi sekarang.. tidak ada cara lain selain melawan dira... kamu kalau takut ale menjadi seperti ayahnya, itu tidak bisa dihindari karena memang dia adalah anaknya, tapi kamu setidaknya bisa terus menemaninya disisinya agar dia tidak kehilangan dirinya sendiri seperti ayahnya, karena kamu adalah ibunya...
Vie
tau rasa kan. disuruh pindah gak mau, dan sekarang kamu jadi target seseorang yang sudah pasti kamu tau akan seperti apa, kamu hanya ketakutan... dasar keras kepala.... dan justru kamulah yang menjadi kelemahan dan juga ketakutan terbesar bagi ale tau.... dongkol deh sama si nadira .
Vie
bagi ale tidak ada jala lain... dia harus bersembunyi seumur hidupnya dan selalu dalam ketakutan karena dia sedang menjadi mangsa para mafia, atau dia menerima dan menjadi kuat, lalu membasmi semua ketakutan itu agar hidup tidak lagi menjadi mangsa.. setelah semua usai dan menjadi kuat baru dia bisa memutuskan apakah dia akan terus melanjutkan hal itu atau mau berhenti....
Vie
kamu itu seorang ibu yang takut pada kenyataan yang tidak pernah bisa dipungkiri, tapi selalu saja mengatakan ale mirip dengan ayahnya.... bagaimana gak mirip karena dia adalah anaknya, dan semua tidak bisa ditutupi oleh apapun, karena darahnya asa dalam tubuhnya... dan kamu selalu mengatakan hal itu seperti mengingatkan ale bahwa dia benar2 anaknya Aleandro bukan untuk menjauhkanya dari semua itu....
Vie
lanjut kak.... 👍👍👍👍
☕︎⃝❥virgo93
semngat dek comelku..🥰
Kucing Biru: mkasih akaa😚😚
total 1 replies
☕︎⃝❥virgo93
ahhh nanggung banget upx thor.🤭lgi seru2 baca eh udah abis aj ayuk semagat untk up selanjutx🥰
Vie
aahhh.... akhirnya nongol juga lanjutanya.... 🥰🥰🥰🥰
Vie
lanjut kak.... makin seru aja... penasaran aku.... 👍👍👍
viandranovel
saling mampir bg 🙏
☕︎⃝❥virgo93
lnjut dek🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!