Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.
Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.
Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.
Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.
Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.
Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Ikan Memakan Umpan
Ketika dirasa sudah rata, Vyan menarik tangannya, dan menutup liptint itu kembali. Lalu pandangan Vyan kembali ke Yasmin.
Yasmin yang merasa bibirnya sedikit basah, tanpa sadar mengecap-ngecap—sebuah gerakan spontan yang membuat bibirnya nampak lebih ranum. Ya bibir merah itu kini tampak basah dan berkilau seperti kelopak bunga pagi hari. Namun, ini tampak lembut dan kenyal. Apalagi ketika Yasmin memonyongkan bibirnya.
Deg.
Jantung Vyan bertalu kencang secara mendadak. Ia tersentak, baru sadar betapa dekat jarak wajah mereka dan betapa indah bibir Yasmin.
Vyan berpaling pada Sandra CS.
"Minta tisu dong," ucapnya melihat di meja Sandra ada tisu.
Sandra memberikannya dengan gerakan kaku. Vyan mengambil satu dan langsung mengembalikan sisanya.
"Thanks," ucapnya lalu menghadap Yasmin lagi.
Tanpa berkata apa-apa, Vyan memegang dagu Yasmin agar tetap menatapnya, lalu dengan gerakan tegas namun lembut, ia menghapus kembali liptint dari bibir Yasmin. Gerakan itu justru terlihat lebih intim dari tadi.
"Yan, Vyan... " panggil Sandra tidak bisa menahan dirinya.
Namun, Vyan tidak bergeming sebelum benar-benar menghapus jejak liptint di bibir Yasmin.
"Ternyata nggak cocok. Kamu lebih bagus nggak pakai apa-apa," ucap Vyan, suaranya sedikit serak. Ia memberikan liptint itu ke Yasmin. "Jangan pakai ini di sekolah. Simpan aja di rumah."
Vyan masih menatap bibir Yasmin yang bergerak-gerak. Merasa menghapus liptint itu tidak mengurangi keindahan bibirnya.
"Kak Vyan!"
Kali ini Vyan tersadar bibir Yasmin bergerak karena sedang bicara padanya.
"Ya? Apa, Cantik?"
"Itu Kak Sandra manggil."
Vyan menoleh ke arah Sandra. Wajah Sandra tampak sedikit tertekuk.
"Apa, Dra?"
"Gimana perkembangan kasusku?"
"Oh, itu. Tenang aja. Pelakunya bakal segera ketahuan."
Sandra dan dua temannya berbinar. "Serius?!"
Vyan hanya mengangguk. Kemudian dia melihat jam tangannya.
"Jam istirahat udah mau habis. Yuk, aku antar ke kelas, Yasmin," ucap Vyan.
Yasmin mengangguk lalu berdiri. Di belakang Sandra mencibir melihat Yasmin.
Dari belakang Yasmin ada seorang cowok yang memakai hoodie hitam dan menyembunyikan wajahnya, berjalan ke arah Yasmin. Dia hanya menunduk dan menubruk bahu Yasmin dan Vyan.
"Eh, hati-hati dong," tegur Agil yang dari tadi hanya diam menyaksikan drama mereka.
Vyan tampak tidak peduli. Dia menarik tangan Yasmin membawanya keluar.
"Yok, Gil. Ikut," ajak Vyan. Agil hanya mengangguk mengikuti mereka keluar.
Tubuh Sandra menegang. Dia melihat ada sesuatu yang bergulir ke bawah kakinya ketika cowok berhoodie itu menubruk Yasmin tadi. Mata Sandra membelalak. Ia menatap benda itu dengan jantung yang berdegup kencang. Ia melirik ke pintu, Yasmin sudah hilang di balik koridor bersama Vyan. Dia sepertinya tidak menyadari barang mewahnya terjatuh.
Mia dan Resi masih sibuk berbisik membicarakan Vyan, mereka tidak melihat kotak yang tergeletak di lantai. Dengan gerakan kilat yang didorong oleh rasa gengsi, Sandra menjatuhkan tasnya ke lantai seolah tak sengaja, lalu saat memungut tas tersebut, tangannya dengan cekatan menyambar kotak liptint itu dan menyembunyikannya di balik telapak tangan.
Sandra kembali duduk, berpura-pura mengaduk-aduk isi tasnya dengan wajah yang tiba-tiba cerah.
"Eh, tunggu!" seru Sandra, aktingnya dimulai. "Ya ampun, gue pikun banget!"
Mia dan Resi menoleh serempak. "Kenapa, San?"
Sandra mengeluarkan kotak Dior itu dari dalam tasnya—seolah-olah ia baru saja menemukannya di sana. "Ternyata nggak ketinggalan di meja rias! Tadi gue masukin ke kantong tersembunyi di dalam tas ini, makanya nggak ketemu. Duh, untung ketemu!"
Mia dan Resi langsung menjerit tertahan, mata mereka berbinar menatap benda elegan itu di tangan Sandra.
"Gila, San! Berarti beneran punya lo! Wah, keren banget!" Mia berteriak heboh, menarik perhatian beberapa siswa lain yang masih di kelas. "Boleh coba, kan? Sesuai janji lo tadi!"
Sandra tersenyum penuh kemenangan, meski ada sedikit rasa waswas yang ia tekan dalam-dalam. "Iya, boleh. Gue dulu ya."
Sandra menghapus liptint sebelumnya lalu mencoba liptint Dior itu. Resi dan Mia langsung antusias memujinya. Lalu mereka berebutan menyambar liptint itu setelah Sandra selesai memakainya.
Mereka mulai mengoleskannya ke bibir masing-masing dengan antusias, saling memuji betapa mewahnya tekstur pewarna bibir tersebut. Sandra menonton dengan dagu terangkat, menikmati kembali statusnya yang sempat terancam runtuh.
Di sudut paling belakang kelas, Zaki duduk diam. Wajahnya hampir sepenuhnya tertutup oleh buku komik yang ia pegang dengan kedua tangan. Namun, di balik sampul buku itu, matanya melirik sekilas ke arah kerumunan Sandra yang sedang asyik mencoba "umpan" tersebut.
Sebuah seringai tipis yang sangat samar muncul di wajah Zaki sebelum ia kembali menutup rapat wajahnya dengan komik, seolah-olah dia hanyalah siswa kuper yang tidak peduli pada drama apa pun yang terjadi di kelasnya.
...****************...
Suasana kelas XI IPA 3 yang tadinya mulai sepi karena jam pulang sekolah mendadak pecah oleh jeritan melengking. Sandra, yang baru saja ingin mematut diri terakhir kalinya di cermin kecil sebelum bangkit dari kursi, menjatuhkan cerminnya ke lantai hingga retak.
Warna merah Dior yang tadi dia banggakan telah lenyap, berganti menjadi warna biru keunguan yang pekat, seolah bibirnya baru saja dicelupkan ke dalam tinta permanen atau mengalami lebam yang hebat.
"San... bibir lo... kok ijo gitu?" Mia menunjuk dengan jari gemetar, sementara bibirnya sendiri sudah mulai berubah menjadi biru gelap yang aneh.
"Aaaaaa! Apaan nih?! Kenapa nggak bisa hilang?!" Sandra menjerit histeris, menggosok bibirnya sekuat tenaga dengan tisu basah sampai kulitnya perih, tapi warna biru itu justru nampak semakin meresap dan mengilat mengerikan.
Kehebohan itu memicu Jojo, si biang kerok kelas yang mulutnya terkenal paling "asal jeplak" dan hobi memprovokasi, berlari mendekat. Jojo membelalak sebelum meledakkan tawa yang sangat keras hingga bergema di sepanjang koridor.
"Woi! Gila! Lihat nih! IPA 3 kena wabah The Walking Dead!" teriak Jojo sambil menunjuk-nunjuk wajah Sandra dengan telunjuknya yang gemetar karena tertawa. "San, lo habis makan bangkai tikus atau gimana? Bibir lo biru-biru ijo gitu, asli persis zombi kelaparan!"
Tawa seisi kelas yang masih tersisa pecah seketika. Murid-murid yang tadinya sudah di ambang pintu langsung kembali masuk untuk menonton.
"Buset! Bukan cuma Sandra, si Mia sama Resi juga!" timpal murid lain sambil tertawa terpingkal-pingkal. "Gila, itu bibir apa lebam dipukulin massa? Serem banget, woi!"
"Hrrr... otak... mana otak..." Jojo mulai memeragakan gerakan zombi yang kaku di depan meja Sandra, membuat tawa teman-temannya semakin menjadi-jadi. "Sumpah, San! Lo bertiga mending langsung ke rumah sakit jiwa atau karantina deh, sebelum gigit anak-anak yang lain!"
"Diam lo, Jo! Diam!" jerit Sandra kalap. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya, membuat noda biru dari bibirnya sedikit luntur dan meninggalkan jejak kotor di wajahnya yang putih. Dia panik luar biasa karena warna itu nampak permanen.
Di barisan belakang, Zaki yang menyembunyikan wajahnya di balik hoodie, tersenyum samar. Dia berdiri, menyampirkan tas gendong lalu pergi seolah keributan di belakangnya tidak berhubungan dengannya.
Sementara Vyan dan Agil menatap ke arah mereka tanpa tertawa. Pandangan Vyan bertemu dengan mata Sandra yang tampak tertohok. Vyan tersenyum kecil lalu berjalan ke luar kelas. Agil mengikutinya.
Dalam suara olok-olok itu, pikiran Sandra kembali ke kejadian waktu istirahat. Vyan yang membawa liptint itu, tapi dia memakaikannya pada Yasmin walau kemudian menghapusnya.
"Woi, zombi mau lewat! Foto dulu, buat kenang-kenangan kalau IPA 3 pernah kena wabah!" seru Jojo sambil mengangkat ponselnya tinggi-tinggi.
Cekrek! Cekrek!
Lampu kilat dari ponsel Jojo menyambar wajah Sandra cs yang segera menutupi bibirnya. Suara tawa murid-murid lain semakin menjadi-jadi melihat aksi Jojo.
"Jojo! Berhenti! Hapus nggak?!" teriak Sandra histeris. Suaranya pecah, tangannya gemetar menutupi mulut. Namun, Jojo justru berlari keliling meja sambil terus memotret.
"Sialan! Cabut, San! Cabut!" Mia menarik tangan Sandra dengan kasar.
Karena tidak tahan lagi menjadi tontonan, Sandra, Mia, dan Resi menyambar buku-buku mereka dan menutupi wajah masing-masing. Mereka menerjang kerumunan murid di pintu, berlari sekencang mungkin di koridor sambil menahan isak tangis. Tujuan mereka hanya satu: Ruang UKS
Begitu sampai di UKS, Sandra langsung menghambur ke depan cermin besar di pojok ruangan. Begitu ia melihat pantulannya secara utuh, jeritan histerisnya mengguncang ruangan.
"AAAAAAA! Kenapa jadi begini?! Mukaku... mukaku kayak orang mati!" Sandra menangis meraung, tangannya terus mencoba menggosok bibirnya yang kini sudah berubah warna menjadi biru-kehitaman pekat.
Mia dan Resi tidak peduli pada tangisan Sandra. Mereka sibuk menggeledah lemari obat, mencari apa saja untuk menutupi rasa malu mereka.
"Pake ini! Buruan!" Mia menyambar dua buah masker sekali pakai dari laci dan menyerahkan satunya pada Resi. Mereka segera memakainya, menyembunyikan "aib" yang melingkari mulut mereka.
Sandra berbalik dengan mata merah, tangannya menengadah meminta masker juga. Mia memberikan masker terakhir dengan gerakan kasar, hampir melemparkannya ke wajah Sandra.
"Puas lo, San?!" bentak Mia tiba-tiba. Napasnya memburu di balik masker.
"Kok lo malah marah sama gue?" tanya Sandra syok.
"Ya marah lah! Gara-gara liptint lo yang katanya 'Dior' itu, kita jadi diketawain seisi sekolah! Lo liat kan Jojo tadi?! Foto kita pasti disebar!"
Mia menunjuk wajah Sandra dengan sengit.
"Iya, San. Gue curiga ini barang palsu," timpal Resi dengan suara dingin. "Mana ada barang bermerek harganya jutaan tapi bikin bibir jadi kayak keracunan begini? Lo beli di mana sih? Jangan-jangan lo mau pamer tapi malah beli barang KW!"
"Gue... gue nggak beli barang KW! Ini barang mahal!" bela Sandra, meskipun suaranya bergetar karena ia sendiri tidak tahu asal-usul sebenarnya benda itu.
"Halah, bohong aja lo! Lo cuma mau kelihatan keren kan di depan kita? Sekarang liat hasilnya! Kita jadi zombi!" Mia mendengus benci. Ia menyampirkan tasnya ke bahu. "Ayo, Res. Gue nggak mau bareng dia. Malu-maluin."
"Ayo. Jangan deket-deket dia dulu, ntar orang-orang makin ngetawain kita," sahut Resi pelan.
"Mia! Resi! Jangan tinggalin gue!" teriak Sandra memohon.
Namun, kedua temannya itu tetap melangkah keluar, meninggalkan Sandra sendirian di ruang UKS yang dingin. Air mata Sandra berjatuhan.