( Versi sekarang adalah Versi remake dari Novel The Nethermist dengan Versi paragraft dan tanda baca yang lebih rapi )
Lima hari sebelum pernikahan politik yang akan menyatukan dua kekuatan besar, dunia Leoric berubah selamanya.
Sebagai putra mahkota yang dipilih di tengah intrik, Leoric bersiap menikahi Clarissa, putri dari keluarga penguasa dataran tinggi. Namun, retakan di langit tiba-tiba muncul, membuka jalan bagi kabut gelap, sihir asing, dan makhluk-makhluk yang menghancurkan segalanya.
Dalam sekejap, kerajaan runtuh dan pernikahan mereka tertunda tanpa kepastian.
Di tengah dunia yang kacau dan kekuatan baru yang belum dipahami, Leoric harus memastikan keselamatan Clarissa—sambil menghadapi kenyataan bahwa kekuasaan, sihir, dan takdir kini berada di luar kendalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clevareus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Count Morian
Morian Rasava
Count Morian Rasava adalah seorang bangsawan dari kerajaan Nightdoom yang menguasai wilayah Rasava.
Di dalam wilayah tersebut terdapat empat desa pertanian utama, yaitu Anagi, Fenos, Bluesa, dan Terio.
Seluruh hasil bumi dan pajak dari tanah itu berada langsung di bawah kendali Morian sebagai penguasa tunggal wilayah.
Tanah Rasava dikenal sebagai wilayah paling subur di antara kepemilikan bangsawan lain di Nightdoom.
Sebagian besar penduduknya hidup sebagai petani yang turun-temurun bekerja di lahan yang sama, tanpa banyak pilihan lain.
Bagi dunia luar, Rasava terlihat makmur, namun bagi penduduknya, itu adalah kehidupan yang penuh ketergantungan.
Segala hasil pertanian dari tanah Rasava harus diserahkan sepenuhnya kepada Count Morian.
Sebagai gantinya, Morian “membeli kembali” hasil tersebut dengan harga yang ditentukan olehnya sendiri.
Namun harga itu sering kali jauh di bawah nilai wajar, membuat para petani tetap hidup dalam batas yang sangat sempit.
Dalam kondisi tertentu, terutama saat hasil panen menurun, Morian menurunkan harga pembelian lebih jauh lagi.
Hal ini membuat beberapa petani harus bekerja dalam keadaan lapar, hanya untuk memastikan lahan tetap menghasilkan.
Namun mereka tidak memiliki banyak pilihan selain tetap bertahan di sistem tersebut.
Morian juga menetapkan aturan yang sangat ketat di tanah Rasava.
Salah satunya adalah larangan bagi petani untuk memakan hasil panen mereka sendiri dalam kondisi apa pun.
Jika ketahuan, mereka akan dikenakan denda besar atau dipenjara di bangsal khusus Rasava selama beberapa bulan.
Di antara para petani, beredar cerita-cerita gelap tentang hukuman bagi pelanggar aturan tersebut.
Salah satu kisah yang sering dibisikkan adalah tentang seorang petani yang dibungkam setelah melanggar aturan di desa Anagi.
Sejak saat itu, tidak ada lagi yang berani mempertanyakan aturan yang berlaku.
Dahulu, terdapat sebuah keluarga petani yang bekerja di lahan Rasava, dipimpin oleh seorang pria bernama Tano Kusian.
Tano dikenal sebagai petani yang baik hati dan sering membantu para lansia di ladang meski kondisi dirinya sendiri tidak selalu sehat.
Ia menderita penyakit kolera yang membuatnya sering mengalami dehidrasi parah.
Suatu hari saat bekerja, Tano secara tidak sengaja menjatuhkan keranjang penuh apel ke tanah berlumpur.
Seorang penjaga yang melihat kejadian itu langsung mendekat dan memukul Tano dengan keras tanpa banyak pertanyaan.
Meski kejadian itu disaksikan banyak petani lain, tidak ada yang berani ikut campur.
Para petani hanya bisa diam, karena membantu Tano berarti mempertaruhkan pekerjaan mereka sendiri.
Namun di tengah itu, seorang petani memberanikan diri maju dan bersujud di hadapan penjaga tersebut.
Ia memohon agar Tano tidak dihukum lebih jauh karena hal itu akan merugikan lahan kerja mereka sendiri.
Akhirnya penjaga berhenti, dan Tano diperintahkan untuk membersihkan kesalahannya sendiri.
Ia kemudian berterima kasih kepada petani yang telah membelanya meski hanya sedikit bantuan yang bisa diberikan.
Namun kejadian itu ternyata tidak berhenti sampai di situ.
Dari kejauhan, Count Morian menyaksikan semuanya dari balkon benteng pengawas lahan Rasava.
Namun ia tidak menunjukkan reaksi apa pun dan hanya memperhatikan dalam diam.
Seolah kejadian itu hanyalah bagian kecil dari sistem yang sedang berjalan.
Beberapa waktu kemudian, Tano kembali ke rumah dalam keadaan lemah dan sangat kehausan.
Ia minum air dalam jumlah besar, bahkan dibantu oleh beberapa tetangganya yang ikut memberikan jatah air mereka.
Namun kondisi Tano tidak membaik, meski ia sendiri tidak sepenuhnya memahami penyakit yang dideritanya.
Malam harinya, Tano terbangun dengan rasa haus yang jauh lebih parah dari sebelumnya.
Ia meminum semua air yang tersisa di rumahnya, namun tetap tidak merasa cukup.
Dengan kondisi terhuyung, ia berjalan menuju sumur di dekat rumahnya.
Namun saat sampai di sana, ia menemukan sumur tersebut telah dipenuhi lumpur dan kotoran.
Airnya tidak lagi bisa digunakan, dan sumur itu tampak sengaja dirusak dari dalam.
Melihat itu, kondisi Tano langsung runtuh dan ia ambruk di dekat sumur tanpa tenaga.
Ia tidak lagi mampu memanggil istrinya, Yuru Kusian, maupun anaknya, Taro Kusian.
Dalam keadaan sekarat, ia hanya bisa terbaring di tanah sambil menatap langit malam.
Rasa sakit dan dehidrasi yang ekstrem membuatnya tidak bisa bertahan lebih lama.
Ketika pagi tiba, Yuru menemukan Tano sudah tidak bernyawa di samping sumur rumah mereka.
Ia segera memanggil para tetangga, namun tidak ada yang bisa dilakukan lagi.
Kematian Tano menjadi peristiwa yang cepat menyebar di lingkungan sekitar.
Beberapa hari setelahnya, Baron Rotosa dari desa Anagi datang ke rumah Yuru Kusian.
Ia menyampaikan bahwa lahan kerja Tano kini kekurangan tenaga kerja.
Dan karena itu, tanggung jawab pekerjaan harus dialihkan kepada Yuru.
Yuru dipaksa untuk menggantikan Tano di dua lahan berbeda sekaligus.
Pilihan yang diberikan hanyalah menerima beban kerja tambahan atau membayar denda besar atas “kerugian tenaga kerja”.
Karena tidak memiliki kemampuan untuk menolak, Yuru akhirnya menerima kondisi tersebut.
Sejak saat itu, Yuru harus bekerja dua kali lebih berat dari sebelumnya.
Ia tetap bekerja di ladang miliknya, sambil juga mengambil alih pekerjaan Tano.
Namun waktu istirahatnya semakin berkurang, dan Taro sering ditinggalkan sendirian di rumah.
Empat bulan berlalu sejak kematian Tano.
Yuru datang ke benteng untuk menyerahkan hasil panen seperti biasa.
Namun ia hanya menerima bayaran untuk satu orang pekerja, meski ia bekerja untuk dua lahan.
Yuru tidak menerima ketidakadilan itu dan meluapkan kemarahannya kepada pengawas pembayaran.
Namun pengawas tersebut justru mengancam bahwa ia bisa saja tidak mendapatkan bayaran sama sekali di musim berikutnya.
Ancaman itu membuat Yuru tidak memiliki pilihan lain selain menahan semuanya.
Dalam keadaan marah dan putus asa, Yuru berjalan di sekitar area benteng.
Tanpa sengaja, ia mendengar percakapan para bangsawan di dekat jendela bangunan.
Dan dari sana, ia mendengar sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia dengar.
Salah satu bangsawan menyebut bahwa Baron Rotosa telah melakukan sabotase terhadap sumur keluarga Tano.
Morian Rasava tetap tidak terlihat dalam percakapan itu, namun nama dan sistemnya terasa mengikat semuanya.
Yuru yang mendengar itu langsung syok dan berlari meninggalkan tempat tersebut.
Tanpa disadarinya, Baron Rotosa ternyata melihatnya dari jendela benteng.
Malam harinya, Yuru duduk sendirian di tengah ladang sambil menangis.
Ia menatap bulan dan mempertanyakan nasib yang menimpanya.
Ia merasa hidupnya tidak pernah benar-benar memiliki pilihan sejak awal.
Saat ia menangis, Baron Rotosa datang dengan menunggang kuda.
Ia mendekati Yuru dan mencoba meminta maaf sambil gemetar.
Namun Yuru menolak semua kata-katanya dan meluapkan kemarahan yang selama ini ia tahan.
Yuru memukul Rotosa tanpa henti, sementara Rotosa hanya diam dan tidak melawan.
Ia bahkan bersujud di hadapan Yuru dan mengakui bahwa dirinya tidak memiliki pilihan.
Namun ia tidak bisa menjelaskan lebih jauh karena posisinya sebagai bawahan Morian.
Di balik semua itu, Rotosa sebenarnya bertindak karena perintah langsung dari Count Morian.
Ia dipaksa menyabotase sumur Tano agar tenaga kerja di lahan tersebut tidak menjadi masalah di kemudian hari.
Sebagai imbalan, anak dan istrinya dijadikan sandera oleh sistem kekuasaan Morian.
Rotosa tetap bersujud di tengah ladang hingga malam berlalu.
Ia tidak mengangkat kepalanya, meski Yuru telah pergi meninggalkannya dalam tangisan.
Bagi Rotosa, itu adalah bentuk penebusan yang tidak akan pernah cukup untuk apa yang telah ia lakukan.
Dan di tanah Rasava, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar bebas.
semangat!
seharusnya fokus dulu ke tokoh utama biar banyak yang kenal.