Rian seorang pemuda yang bertahan hidup di kiamat zombie di khianati oleh temannya yang selalu dia percayai , ketika tiba-tiba dia kembali ke masalalu.
dengan kekuatan dan pengetahuan dari masa depan ,aku ,akan membalas perlakuan semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alu feed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUNGEON YANG KOSONG DAN KEDAMAIAN SEMENTARA
Malam semakin larut.
Angin dingin berembus pelan melalui celah-celah jendela ruko yang rusak.
Di tengah suasana yang relatif tenang itu, tiba-tiba sebuah cahaya terang muncul di kejauhan.
Cahaya tersebut menembus kegelapan malam seperti mercusuar.
Semua orang yang sedang beristirahat langsung menoleh ke arah sumber cahaya tersebut.
"Itu..."
Ridho menyipitkan matanya.
"Sepertinya itu tempat saat kita mendapatkan Botol Kehidupan, bukan?"
Rian ikut melihat ke arah sana.
Jaraknya cukup jauh, tetapi ia masih mengenali lokasinya.
Rumah tua yang mereka datangi sebelumnya.
Rumah yang sebenarnya merupakan cikal bakal sebuah dungeon.
Ridho menganggukkan kepalanya.
"Ya. Sepertinya benar."
Cahaya itu semakin terang.
Bahkan sesekali terlihat semburan energi berwarna biru keputihan naik ke langit.
Rahma menghela napas panjang.
"Jadi dungeon itu akhirnya terbentuk sepenuhnya."
Nadia yang duduk di dekatnya terlihat sedikit merinding.
"Membayangkan kalau kita masih ada di sana saat itu terjadi..."
"Tidak perlu dibayangkan."
Budi langsung memotong.
"Aku tidak mau tahu."
Semua orang tertawa kecil.
Ketegangan yang selalu mengikuti mereka sejak kiamat dimulai perlahan mulai berkurang.
Rahma tersenyum.
"Untung saja kita keluar lebih dulu."
Tatapannya kemudian beralih kepada Rian.
"Dan untungnya kita mengikuti insting Rian."
Nadia mengangguk setuju.
"Kalau bukan karena dia, mungkin kita masih mencari-cari di dalam rumah itu."
"Atau malah terjebak di dalam dungeon yang baru terbentuk."
Tambah Ridho.
Suasana menjadi lebih santai.
Tidak ada seorang pun yang merasa perlu kembali ke lokasi tersebut.
Hadiah utama yang dapat diambil sebelum dungeon terbentuk sudah mereka dapatkan.
Tidak ada alasan untuk mengambil risiko.
Terutama pada malam hari.
Sementara itu, Rian hanya tersenyum tipis.
Ia tidak menjelaskan bahwa dalam kehidupan sebelumnya, banyak orang justru mati karena terlalu lama berada di dalam area pembentukan dungeon.
Ketika dungeon selesai terbentuk, seluruh wilayah di sekitarnya akan berubah menjadi area berburu monster.
Peluang dan kematian selalu berjalan berdampingan.
Setelah beberapa saat, pembicaraan mulai mereda.
Masing-masing kembali fokus pada latihan mereka.
Di tengah dunia yang telah berubah menjadi neraka, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga.
Setiap jam yang digunakan untuk berkembang bisa menjadi pembeda antara hidup dan mati di masa depan.
Semua orang mulai menjalankan teknik pernapasan yang diajarkan Rian.
Udara perlahan masuk dan keluar secara teratur.
Energi tipis di lingkungan sekitar mulai terserap ke dalam tubuh mereka.
Rahma terlihat paling fokus.
Nadia juga mulai terbiasa mengatur aliran energinya.
Ridho yang biasanya tidak sabaran kini mampu bertahan duduk diam selama hampir satu jam.
Bahkan Budi yang sering mengeluh pun mulai menunjukkan perkembangan.
Rian mengamati semuanya dengan tenang.
Perkembangan mereka jauh lebih cepat dibanding kelompok penyintas biasa.
Jika keadaan ini terus berlanjut, kelompok kecil mereka akan memiliki fondasi yang sangat kuat.
Sementara itu...
Beberapa meter dari tempatnya duduk.
Indah pura-pura fokus berlatih.
Namun sesekali matanya diam-diam melirik ke arah Rian.
Awalnya hanya sekilas.
Lalu beberapa detik.
Kemudian semakin lama.
Tatapannya kembali tertuju pada sosok pemuda yang sedang duduk bersandar di dekat jendela.
Wajah Rian tampak tenang.
Sangat tenang.
Seolah dunia yang telah hancur ini tidak mampu mengguncang pikirannya.
Hal itu membuat Indah semakin penasaran.
'Kenapa dia selalu terlihat tahu apa yang harus dilakukan...?'
Pertanyaan itu kembali muncul.
Sejak mereka bertemu, Rian selalu berada beberapa langkah di depan.
Dia tahu tentang kristal.
Dia tahu tentang teknik pernapasan.
Dia tahu tentang dungeon.
Bahkan dia seolah mengetahui lokasi-lokasi penting yang tidak diketahui orang lain.
Semakin dipikirkan, semakin banyak kejanggalan yang muncul.
Namun anehnya...
Indah tidak merasa curiga.
Sebaliknya, ia justru semakin tertarik.
Rasa penasaran itu perlahan tumbuh menjadi kekaguman.
Dan kekaguman itu mulai berkembang menjadi perasaan yang sulit dijelaskan.
Saat Rian sedikit menggerakkan kepalanya, Indah langsung memalingkan wajah.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Beruntung tidak ada yang menyadarinya.
Atau setidaknya begitu yang ia pikirkan.
Karena di sisi lain ruangan, Nadia diam-diam melihat semuanya.
Sudut bibirnya sedikit terangkat.
Namun ia memilih tidak mengatakan apa pun.
Malam terus berlalu.
Jam demi jam berganti dengan tenang.
Tidak ada serangan zombie.
Tidak ada monster yang muncul.
Hanya suara napas teratur dan angin malam yang sesekali berembus.
Untuk pertama kalinya sejak kiamat dimulai, kelompok itu bisa beristirahat dengan cukup nyaman.
Menjelang tengah malam.
Rian perlahan membuka matanya.
Sebuah panel status muncul di depannya.
Perkembangannya kembali meningkat setelah berbagai pertarungan hari ini.
Namun yang lebih menarik adalah sesuatu yang lain.
Cincin di tangan kirinya.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah dungeon tadi, cincin itu benar-benar tenang.
Tidak ada panas.
Tidak ada getaran.
Seolah tujuan berikutnya masih berada sangat jauh dari mereka.
Rian menatap ke luar jendela.
Kegelapan malam membentang tanpa batas.
Namun ia tahu.
Kedamaian seperti ini tidak akan berlangsung lama.
Dalam beberapa hari ke depan, dunia akan berubah lebih drastis lagi.
Monster yang lebih kuat akan muncul.
Dungeon akan bertambah banyak.
Dan para penyintas akan mulai saling membunuh demi sumber daya.
Meski begitu, kali ini berbeda.
Ia tidak sendirian.
Kelompoknya berkembang jauh lebih cepat daripada yang pernah terjadi di kehidupan sebelumnya.
Dan itu memberi mereka peluang yang jauh lebih besar untuk bertahan hidup.
Di luar ruko yang sunyi.
Bulan tertutup awan hitam.
Sementara jauh di arah utara, tanpa diketahui siapa pun, sebuah retakan ruang berwarna merah darah perlahan mulai terbuka.
Dan dari balik retakan tersebut...
Sepasang mata merah tua perlahan terbuka dalam kegelapan.