Memiliki tubuh obesitas ternyata membuat Amanda dibenci orang-orang di sekeliling, keluarga yang selama ini dia percaya. Di saat usianya berusia 10 tahun ibunya pergi meninggalkannya membuatnya hidup bersama sang ayah.
Hidupnya sejak kecil begitu sempurna nyaris tidak pernah merasakan kesulitan, ketika sang ayah menikah dengan teman masa SMA- ya yang sudah memiliki dua Putri. Amanda justru mendapatkan kasih sayang dari ibu tirinya.
Tetapi siapa sangka Amanda menyadari semua itu hanyalah sandiwara ketika dia sudah dewasa. Tubuhnya yang gendut dengan wajah yang jelek, cupu membuat keluarganya jijik kepadanya, kematian ayahnya membuat penderitaan hidupnya semakin bertambah.
Pria yang dia nikahi baru 1 bulan ternyata memiliki hubungan dengan saudara tirinya, dikhianati oleh keluarganya sendiri membuat Amanda nyaris ingin mengakhiri hidup.
Tetapi semangatnya kembali dalam bentuk pembalasan ketika semua berlalu dia datang dengan penampilan yang sempurna bahkan nyaris Tidak dikenali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 Kesal
Kediaman Reno.
Reno tampak berlutut di depan Zena yang baru saja selesai berganti baju tidur yang dibantu oleh Sisil.
"Ya sudah sekarang Zena bobo ya," ucap Reno memegang kedua bahu Zena.
"Lalu bagaimana dengan Papa? Apa Papa juga akan tidur?" tanyanya.
"Pasti sayang. Papa akan tidur," jawabannya.
"Hmmm, padahal Zena ingin tidur di kamar Mama dan Papa," ucap Zena.
"Zena bukankah sudah besar, jadi harus belajar untuk tidur sendiri," sahut Sisil yang merapikan pakaian Zena.
"Baiklah, kalau begitu Zena akan ke kamar untuk tidur," ucap Zena.
"Baik sayang, selamat malam," ucap Reno mencium rambut kening Zena.
"Malam. Papa," sahut Zena.
"Mimpi yang indah Zena," sahut Sisil
Zena hanya tersenyum menganggukkan kepala dan keluar dari kamar kedua orang tuanya. Reno berdiri dengan menghela nafas, wajahnya tampak lelah yang membuka kancing kemejanya.
Tiba-tiba saja sebuah tangan melingkar di pinggangnya yang memeluknya dari belakang.
"Sayang aku sangat merindukan kamu," ucap Sisil yang ingin romantis bersama dengan sang suami.
"Sisil lepaskan, aku lelah," Reno tampaknya tidak suka, terlihat risih dan bahkan melepaskan paksa tangan istrinya dari pelukannya dengan membalikkan tubuhnya.
"Mas kamu apa-apaan sih, sakit tahu!" kesal Sisil.
"Aku hanya menjatuhkan tangan kamu?kamu jangan berlebihan dan lagi pula kamu melihatku sedang berganti pakaian, tetapi kamu malah peluk sana peluk sini," ucap Reno.
"Jadi kamu merasa jijik dipeluk oleh istri kamu hah!" Sisil benar-benar tersinggung dengan apa yang dikatakan Reno.
"Kamu jangan mulai menciptakan keributan. Aku hanya lelah dan ingin istirahat," sahut Reno tidak ingin ada pertengkaran apapun dengan istrinya.
"Aku juga lelah, tetapi selelah apaupun suami dan istri kewajiban di antara mereka tidak bisa terlepaskan. Kita sudah lama tidak melakukan hubungan suami istri. Apa kamu tidak punya keinginan untuk menyentuhku, tetapi bagaimana tidak memiliki keinginan jika dipeluk saja seperti itu kamu sudah merasa risih," ucap Sisil.
"Sisil cukup, kepalaku sakit memikirkan Restaurant. Kamu bisa tidak berhenti untuk tidak membicarakan hal-hal yang tidak perlu!" tegas Reno.
"Kamu yang selalu membuat masalah di antara kita terus ada. Selalu alasan kamu Restaurant. Restaurant itu juga milik keluargaku, jika itu yang menjadi kesibukan kamu dan selalu saja menjadi alasan kamu untuk tidak menyentuh istri kamu, aku sendiri bisa mengambil Restaurant itu!" tegas Sisil.
"Apa maksud kamu? Kamu mengancamku?" tanya Reno semakin kesal dengan pernyataan sang istri.
"Kamu selalu membicarakan Restaurant yang menjadikan alasan untuk kamu, pertengkaran kita selalu mengungkit dan kamu selalu menjadikan itu sebagai alasan, kesibukan kamu yang mengurus ini dan itu dan mengabaikan istri kamu sendiri!" tegas Sisil.
"Sisil, kamu seharusnya berterima kasih kepadaku. Jika bukan karena aku yang mengelola Restaurant itu, mungkin saat ini sudah bangkrut di tangan kamu!" tegas Reno.
"Kalau begitu biarkan saja Restaurant itu bangkrut dan dengan begitu kamu hanya tetap diam di rumah, peduli kepada keluarga kamu!" tegas Sisil.
"Aku benar-benar capek berbicara dengan kamu, setiap kali kita bertengkar dan kamu terus saja mengungkit tentang Restaurant itu!" tegas Reno.
"Agar kamu sadar diri. Kamu tidak akan menjadi apa-apa dan hanya akan menjadi gembel di jalanan jika tidak menikah denganku, jadi ketika sudah diberikan hidup enak, mengembangkan bisnis dari keluargaku dan seharusnya kamu memiliki perhatian yang besar kepada anak dan istri kamu, bukan terus mengabaikan! Jika aku mengatakan satu kalimat saja kepada Mama, mungkin Mama mencabut alih dari pemilik restoran itu!" tegas Sisil benar-benar mengancam suaminya.
"Aku capek bicara dengan kamu!" umpat Reno memilih keluar dari kamar tersebut dengan memakai kembali pakaiannya.
"Mas kamu mau kemana?"
"Mas!" Reno mengabaikan suara teriakan istrinya sampai keluar dari kamar.
Wajahnya memerah dengan rahang kokoh yang terlihat mengeras, bagaimana tidak setiap mereka bertengkar dan maka istrinya akan terus mengungkit tentang apa yang didapatkan Reno saat menikah dengannya.
"Mau kemana kamu Reno?" langkah Reno berhenti di ruang tamu.
Maya melihat serius ke arah menantinya itu, melihat bagaimana ekspresi kesal di wajah Reno.
"Kamu mau kemana malam-malam seperti ini?" tanyanya.
"Aku mau ke Restaurant," jawabnya.
"1 jam lagi, Restaurant akan tutup! Apa yang kamu lakukan di sana? Kamu ingin membantu karyawan untuk membersihkan Restaurant, membuang sisa-sisa makanan para tamu, membersihkan lantai atau melakukan apapun yang biasa dilakukan karyawan?" tanya Maya dengan sinis.
"Ini akhir bulan dan data-data pemasukan Restaurant," jawab Reno.
Maya tidak berkomentar apapun.
"Aku permisi!" Reno berpamitan pada ibu mertuanya itu.
"Saya tidak suka setiap hari mendengar perdebatan antara kamu dan juga Sisil!" langkah Reno berhenti mendengar perkataan Ibu mertuanya.
"Selesaikan masalah rumah tangga kalian, rumah ini bukan tempat untuk pertengkaran kalian dan jika saya masih mendengarkan pertengkaran kalian, maka sebaiknya hentikan saja rumah tangga kalian!" tegas Tami memberi ancaman kepada Reno.
Reno tidak mendengarkan apapun yang dikatakan Maya dan memilih melanjutkan langkahnya tanpa memberi respon. Maya memang terkadang sering ikut campur masalah urusan rumah tangga Reno dan Sisil.
Maya dengan Sisil sama saja sering mengungkit keberadaannya dan menganggap dirinya sepele yang dianggap penumpang hidup.
Bagaimana Reno bisa nyaman dengan situasi rumah yang sudah seperti neraka.
*****
Amanda berjalan dengan memegang cup Coffe sembari menyedot dengan menikmatinya, suasana malam di kota Jakarta cukup ramai.
Mungkin karena ini malam minggu, di tempat air mancur yang berada di pusat kota terlihat begitu ramai dengan pasang-pasangan yang saling berlewatan dengan bergandengan tangan.
Banyak juga dari mereka mengambil tempat duduk yang disediakan di sekeliling posisi air mancur melihat air mancur tersebut tampak memancar begitu indah dan apalagi ditambah dengan suasana lampu kota dengan penuh warna-warni.
"Ternyata Jakarta cukup berkembang, sudah 5 tahun tidak menginjakkan kaki di tempat ini, sangat indah," ucapnya dengan menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan.
Amanda tampak menikmati malam ini yang mencoba kembali bersosialisasi dengan suasana baru, selama ini tinggal di Australia.
Amanda kembali menarik nafas dan membuang perlahan ke depan, dengan berbalik badan meninggalkan tempat tersebut.
Bruk
Siapa sangka saat berbalik badan dia bertabrakan dengan seorang pria dan kopi yang dia pegang tumpah pada jas pria tersebut membuat Amanda menganga dengan mata melotot.
"Sorry....." ucapnya panik dengan merasa bersalah dan mengangkat kepalanya melihat korbannya.
Wajahnya yang penuh merasa bersalah tiba-tiba saja menjadi datar dengan dahi mengkerut.
"Kau...." Amanda mengingat pria tersebut yang aktif melihat pakaiannya yang sudah kotor.
Pria itu tak lain adalah pria yang telah dia temui di Bandara dan membuatnya begitu kesal.
"Astaga, apa dunia ini begitu kecil sampai aku harus bertemu kembali denganmu," ucap Amanda dengan mendengus.
"Dari pada Anda mengeluh, sebaiknya carikan saya tisu untuk membersihkan jas saya yang kotor akibat kecerobohan Anda," ucap pria itu tampak dingin berbicara dengan Amanda.
"Kau menyalahkanku dan menginginkan aku bertanggung jawab untuk ini?" tanya Amanda.
"Lalu ini bukan kesalahan Anda?" pria itu bertanya kembali dengan satu alis terangkat.
"Hey tuan, aku mana tahu jika kau berada di belakangku dan aku tiba-tiba berbalik badan dengan keberadaanmu yang sudah tiba-tiba ada di depanku. Jadi bukan salahku jika kopi yang aku pegang tertumpah pada jasmu," ucap Amanda sudah pasti tidak ingin disalahkan.
"Dengan mencari pembelaan seperti itu tidak akan membuat jas ini bersih, jadi cepatlah cari sesuatu yang bisa membersihkan!" tegas pria itu.
"Jangan berharap aku harus bertanggung jawab. Sorry aku tidak akan bertanggung jawab, karena bukan kesalahanku," tegas Amanda.
Pria tersebut menghela nafas dan kemudian membuka jasnya dan lihatlah langsung memberikan kepada Amanda membuat Amanda bingung saja yang kotor itu sudah berada di tangannya.
"Kembalikan kepada saya ketika sudah bersih!" ucap pria itu.
"A-apa katamu!" pekik Amanda tidak mengerti dengan apa yang dilakukan pria tersebut seenaknya memerintahkan dirinya dan sekarang pria itu terlihat merogoh saku belakang celananya dengan mengeluarkan dompet.
"Kembalikan ketempat ini?" pria itu memberikan kartu namanya pada Amanda dan Amanda malah bengong saja dan tidak menyadari kartu nama tersebut sudah berada di tangannya.
"Hey, ini apa maksudnya?" tanya Amanda semakin bingung
Pria tersebut tidak peduli dan langsung berlalu dari hadapan Amanda.
"Hey kau mau kemana? Apa yang kau lakukan?" Amanda berteriak dan diabaikan oleh laki-laki tersebut.
"Apa-apaan dia? Apa ada yang sedang menyuruhku untuk mencuci jas ini?" Amanda benar-benar terjebak dan bahkan tidak memiliki kesempatan untuk menolak.
"Isss benar-benar sial!" ucapnya dipenuhi dengan emosi.
Bersambung....