Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.
Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.
Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Joan mengalihkan pandangannya dan ekspresinya penuh konflik. "Ini bukan tempat untuk membicarakannya. Kita harus pergi sekarang."
"Tidak!" Selena melangkah mendekat, matanya menyala dengan kemarahan dan kebingungan. "Aku berhak tahu!"
Joan mengepalkan tangannya dan otot-otot di rahangnya mengencang. "Selena, ini bukan saat yang tepat."
Selena merasakan gelombang emosi naik dalam dirinya, kemarahan, ketakutan, dan kebingungan bercampur menjadi satu.
Lucian tadi berbicara seolah ia tahu sesuatu yang tidak Selena ketahui dan sekarang Joan juga menunjukkan tanda-tanda yang sama. Semuanya terasa seperti potongan teka-teki yang belum tersusun.
"Aku bukan manusia biasa, kan?"
Joan masih diam.
"Jawab aku, Joan!"
Tatapan gelapnya akhirnya bertemu dengan mata Selena. Di sana ada sesuatu yang Selena tidak bisa abaikan, yaitu kesedihan.
"Aku hanya ingin melindungimu," kata Joan pelan.
Selena tersentak. "Melindungiku? Dari apa?"
Joan menghela napas panjang seolah berat untuk mengatakan ini.
"Dari siapa dirimu sebenarnya."
Dunia Selena seakan berhenti berputar.
Joan melangkah mendekat dan ekspresinya penuh ketegangan.
"Kamu tidak hanya sekadar berbeda, Selena. Kamu sesuatu yang lebih."
Selena mundur selangkah dan merasa seolah lantai di bawahnya mulai runtuh. "Apa maksudmu?"
Joan lagi-lagi tidak langsung menjawab.
Sebaliknya ia menatapnya dengan penuh intensitas sebelum akhirnya berkata, "Kamu bukan manusia serigala."
Selena membeku, tapi sebelum ia bisa bertanya lebih lanjut, suara geraman terdengar dari lorong di luar ruangan. Joan langsung menegang dan matanya kembali menyala dengan warna keemasan.
Mereka tidak sendirian. Lucian mungkin telah pergi, tetapi pasukannya belum dan mereka sedang datang. Joan menarik tangan Selena dengan cepat.
"Kita harus pergi. Sekarang!"
Selena masih dipenuhi dengan kebingungan, tetapi nalurinya menyuruhnya mengikuti Joan. Mereka berlari keluar dari ruangan, suara langkah kaki dan geraman mendekat dari segala arah. Dari balik kegelapan lorong, mata-mata merah bersinar di antara bayangan. Para pemburu sudah tiba dan mereka tidak akan membiarkan Selena pergi begitu saja.
Napas Selena memburu saat ia dan Joan berlari melewati lorong-lorong batu yang sempit dan lembap. Suara langkah kaki mengejar mereka dari belakang dan semakin mendekat dengan setiap detik yang berlalu.
Joan memimpin dan tangannya masih menggenggam erat pergelangan Selena seolah takut ia akan menghilang jika dilepaskan.
"Siapa mereka?" tanya Selena terengah-engah.
Joan tidak menjawab. Ia hanya menarik Selena lebih cepat dan hampir membuatnya tersandung saat mereka berbelok tajam ke lorong lain.
Dari balik kegelapan, geraman rendah terdengar. Selena menoleh sekilas dan melihat bayangan-bayangan besar berlari mengejar mereka ada lebih dari satu. Matanya menangkap kilatan gigi tajam dan mata merah yang bersinar dalam gelap.
Mereka bukan manusia serigala biasa. Mereka adalah pemburu. Makhluk yang dibentuk untuk membunuh.
Joan mengumpat pelan. "Kita harus keluar dari sini sebelum mereka mengepung kita."
Mereka berlari lebih jauh ke dalam lorong, tetapi setiap jalan yang mereka lalui seolah membawa mereka lebih dalam ke labirin tanpa akhir. Tiba-tiba di depan mereka, ada dua sosok muncul dari kegelapan. Dua manusia serigala tinggi dengan bulu hitam dan abu-abu, mata merah menyala, dan cakar siap menerkam.
Joan segera menarik Selena ke belakangnya dan tubuhnya menegang.
Salah satu manusia serigala itu menyeringai dan menampakkan taringnya.
"Joan, akhirnya kita bertemu lagi."
Joan menggeram. "Minggir, Drake!"
Drake tertawa rendah. "Kamu pikir kami akan membiarkanmu membawa gadis itu begitu saja?"
Matanya beralih ke Selena dengan penuh rasa ingin tahu. "Lucian ingin dia kembali dan aku tidak keberatan membawanya dalam keadaan sedikit hancur."
Selena menelan ludah. Joan tidak menunggu lebih lama. Dalam sekejap, ia berubah.Tubuhnya membesar, otot-ototnya mengembang, dan bulu hitam pekat menutupi kulitnya. Cakar tajam mencengkeram lantai batu saat ia berdiri di antara Selena dan para pemburu. Satu geraman dalam menggema di lorong.
Sinyal bahwa tidak akan ada negosiasi.
Drake dan kawannya menyeringai, lalu menerkam ke arah Joan dalam waktu yang bersamaan. Tubuh mereka bertabrakan dengan kekuatan luar biasa dan menciptakan dentuman keras yang mengguncang dinding lorong. Cakar bertemu cakar, taring bertemu daging, dan suara geraman serta erangan memenuhi udara.
Selena tersentak ke belakang dan punggungnya menghantam dinding. Ia mencoba mencari jalan keluar, tetapi tubuhnya masih terlalu lemah setelah kejadian sebelumnya.
Sementara itu, Joan bertarung dengan dua lawannya sekaligus, tetapi mereka tidak bermain adil. Dari balik kegelapan, sosok ketiga muncul, seekor manusia serigala lebih besar dengan bulu cokelat gelap. Ia menyerang Joan dari belakang.
Selena melihatnya dan sebelum ia bisa berpikir, tubuhnya bergerak sendiri. Suara tembakan menggema di dalam lorong.
Manusia serigala cokelat itu melolong kesakitan dan bahunya berdarah setelah terkena peluru perak.
Selena menatap tangannya. Di sana ia memegang pistol dengan peluru perak, senjata yang seharusnya ia tinggalkan di rumah. Bagaimana bisa ia memilikinya sekarang? Tetapi pertanyaan itu tidak penting sekarang.
Joan memanfaatkan momen gangguan itu untuk melumpuhkan Drake dan mencakar dadanya dalam satu gerakan cepat. Darah berceceran ke lantai batu. Para pemburu yang tersisa menyadari bahwa mereka kalah.
Drake merangkak mundur, menggeram marah. "Ini belum selesai, Joan."
Drake dan dua rekannya akhirnya mundur ke dalam kegelapan dan menghilang dari pandangan. Joan masih berdiri dengan napas berat dan matanya yang menyala perlahan meredup saat ia kembali ke wujud manusianya. Ia berbalik menatap Selena dan matanya menelusuri pistol di tangannya.
"Kau dari mana mendapatkan itu?"
Selena membuka mulutnyw, tetapi tidak ada jawaban yang keluar. Ia tidak tahu dan tidak ingat pernah membawanya dan lebih aneh lagi instingnya tadi begitu cepat seakan ia sudah tahu cara menggunakan senjata itu tanpa berpikir.
Joan menyipitkan matanya dan ekspresinya penuh analisis.
"Kita harus pergi dari sini," katanya akhirnya.
Selena mengangguk, tetapi pertanyaan di kepalanya terus berputar. Siapa dirinya sebenarnya? Dan kenapa ia merasa seperti bukan pertama kalinya melakukan ini?
Joan meraih pistol dari tangan Selena dan matanya masih meneliti wajahnya seolah mencari sesuatu.
“Kamu tidak ingat membawa ini?” suaranya rendah hampir seperti bisikan.
Selena menggeleng dan perasaan aneh mulai menyelimutinya. Ia memang pernah melihat senjata ini sebelumnya, tetapi bukan miliknya. Ia tidak pernah berlatih menembak, bahkan ia seharusnya takut saat menggunakannya, tapi tadi ia bergerak begitu cepat. Jari telunjuknya secara naluriah menarik pelatuk tanpa ragu dan ia tidak meleset.
Joan mengamati ekspresinya, lalu menarik napas panjang. Ia menyelipkan pistol itu ke dalam jaketnya sebelum kembali menggenggam pergelangan tangan Selena.
"Kita tidak bisa tinggal di sini."
Ia mulai menarik Selena lagi, tetapi kali ini Selena menahannya.
"Tunggu!"
Joan menoleh dan alisnya berkerut.
"Aku perlu jawaban, Joan. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" tanya Selena dengan suara bergetar.