Elara Safira Nirmala hanyalah gadis yatim piatu biasa di dunia modern, ia ditinggal oleh orang tuanya sejak kecil dan dia tinggal di kos-kos an sederhana di salah satu kota. Pagi itu Elara hanya ingin pergi ke sekolahnya tetapi ada suatu yang terjadi padanya, ada sebuah tragedi membuatnya terbangun sebagai Elara Mirabel Astoria, lady terbuang dan tak berguna di kerajaan kuno, dengan kemampuan modern yang canggung dan komentar sarkastiknya Elara harus bertahan di tengah drama keluarga bangsawan, intrik politik, dan mungkin sedikit cinta yang tak terduga. Langsung baca aja yuk ceritanya daripada penasaran!!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ꧁Diajeng rini꧂, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Pangeran Kaelen melangkah melewati Lilian yang masih sesenggukan seolah-olah gadis itu hanyalah tumpukan sampah yang menghalangi jalannya. Dia berhenti tepat di depan Elara lalu membungkuk sedikit dan mengulurkan tangannya yang terbalut sarung tangan hitam.
"Lady Elara" suara Pangeran bergema membuat seluruh aula menahan napas "Karena dansa pembukaku tadi terganggu oleh... insiden kue yang malang itu maukah kau menggantikannya? Aku lebih suka berdansa dengan seorang wanita yang tahu cara membawa diri"
Lilian menjerit tertahan "T-TAPI YANG MULIA! DIA BAHKAN TIDAK BISA BERDANSA! DIA HANYA SAMPAH—"
"Diam Lilian!" bentak Duke Alaric tiba-tiba. Dia sadar jika Lilian bicara lagi Pangeran Mahkota bisa benar-benar mencabut dukungan politik untuknya. Duke menatap Elara dengan mata merah "Elara sadarlah pada posisimu! Berhenti mempermalukan dirimu sendiri!"
Elara tidak menoleh pada ayahnya. Dia menatap tangan Pangeran lalu tersenyum miring. Dia meletakkan jemarinya yang lentik di atas telapak tangan Pangeran Kaelen.
"Dengan senang hati Yang Mulia. Tapi hati-hati aku mungkin akan menginjak kaki Anda... atau mungkin menginjak harga diri keluarga ini sedikit lebih keras lagi" bisik Elara yang hanya bisa didengar oleh Pangeran.
Pangeran Kaelen terkekeh rendah, suara yang belum pernah didengar siapa pun sebelumnya "Silakan. Aku justru ingin melihat seberapa jauh kau bisa menghancurkan tempat ini"
Musik orkestra kembali bermain kali ini dengan irama yang lebih megah dan cepat. Elara dan Pangeran Kaelen mulai bergerak di tengah aula. Gerakan Elara begitu luwes, anggun dan penuh percaya diri, sama sekali tidak terlihat seperti orang yang dikunci di gudang. Gaun midnight blue nya berkibar menciptakan jejak cahaya galaksi yang memukau setiap pasang mata.
Julian dan Cassian hanya bisa mematung. Adik yang mereka anggap tidak berguna kini sedang berdansa dengan calon Raja dan menjadi pusat perhatian seluruh kerajaan, sementara adik kesayangan mereka sedang sibuk dibersihkan pelayan dari sisa-sisa krim kue.
Setelah dansa berakhir Elara melepaskan tangan Pangeran. Dia membungkuk hormat untuk terakhir kalinya lalu berbalik menatap keluarganya yang hancur berantakan.
"Terima kasih atas pestanya Ayah, Ibu" ucap Elara dengan nada yang sangat sopan tapi penuh sindiran "Oh, dan untuk kalian berdua Julian dan Cassian... mulai besok jangan lupa tutup pintu kamar kalian rapat-rapat. Karena hama yang kalian remehkan ini... baru saja mulai menunjukkan taringnya"
Tanpa menunggu jawaban Elara melenggang pergi keluar aula. Rambutnya yang tertiup angin malam dan gaunnya yang berkilau membuatnya terlihat seperti dewi yang baru saja turun ke bumi untuk memberikan hukuman.
Pangeran Kaelen menatap punggung Elara yang menjauh lalu melirik Duke Alaric yang masih gemetar "Duke, sepertinya kau baru saja membuang berlian demi sepotong kaca pecah, sayang sekali"
Malam itu pesta ulang tahun Lilian Astoria berakhir menjadi skandal terbesar dalam sejarah kerajaan. Dan nama Elara Mirabel Astoria... menjadi satu-satunya nama yang dibicarakan di setiap sudut ibu kota.
___
Elara tidak kembali ke aula. Dia tahu begitu pintu itu tertutup dia baru saja mendeklarasikan perang terbuka. Langkah kakinya yang cepat membawanya ke koridor belakang yang gelap. Dia tidak menuju gudang melainkan ke arah gerbang belakang mansion.
Dia sudah menyiapkan tas kecil berisi barang-kecil sperti belati, gunting, sebuah kalung yang dia temukan di tumpukan rongsokan di sudut gudangnya dan beberapa potong roti danaginh yang dia curisecara diam-diam dari dapur pagi tadi.
"Barang-barang sudah siap, stamina sudah ada. Waktunya menghilang dari neraka ini" gumam Elara.
Namun saat dia baru saja akan melewati gerbang taman mawar yang sepi untuk menuju jalan tikus, sebuah bayangan tinggi berdiri bersandar pada pilar batu di bawah sinar rembulan. Cahaya bulan menyinari rambut emas yang sangat ia kenali.
Pangeran Kaelen.
"Kabur setelah membakar rumah orang lain bukanlah sikap seorang Lady, Elara" suara bariton itu terdengar geli memecah kesunyian malam.
Elara berhenti mendadak dan tangannya secara insting meraba linggis kecil yang masih tersembunyi di balik lipatan gaun galaksinya.
"Aku bukan Lady Yang Mulia. Aku hanya hama yang baru saja belajar cara menggigit. Dan serangga seperti aku biasanya lebih suka berada di alam liar daripada di dalam kotak yang menyesakkan"
Pangeran melangkah maju mendekati Elara hingga jarak mereka hanya sejengkal. Dia tidak mengeluarkan aura mengancam justru ada rasa penasaran yang sangat dalam di matanya.
Pangeran Mahkota yang biasanya bosan dengan segala protokol kerajaan kini menemukan sesuatu yang benar-benar hidup
"Duke akan mencarimu sampai ke ujung kerajaan untuk menutupi skandal malam ini. Kau punya rencana untuk bersembunyi?" tanya Pangeran sambil melirik tas kecil yang dibawa Elara.
Elara mendongak menatap mata biru safir sang Pangeran Mahkota tanpa gentar sedikit pun "Duniaku yang dulu jauh lebih kejam daripada Duke Astoria Yang Mulia. Aku punya seribu cara untuk menghilang dan bertahan hidup. Tapi terima kasih sudah menjadi partner dansa yang... cukup berguna untuk menghancurkan mental adikku"
Pangeran tertawa rendah, sebuah tawa tulus yang jarang sekali ia tunjukkan "Kau benar-benar unik. Kau tidak takut padaku, kau tidak menginginkan posisiku dan kau baru saja menghina keluargamu sendiri di depanku"
Pangeran kemudian merogoh saku seragamnya dan melemparkan sebuah medali kecil berwarna perak dengan simbol singa bersayap ke arah Elara.
"Bawa itu" ucap Pangeran Kaelen "Jika kau merasa bosan menjadi buronan atau butuh tempat tinggal yang lebih layak dari gudang berkarat tunjukkan medali itu di gerbang Istana Timur. Aku ingin melihat skema penghancuran apalagi yang bisa kau buat terhadap musuh-musuhmu"
Elara menangkap medali itu dengan satu tangan dan merasakannya yang dingin di telapak tangannya. Dia menyimpannya di balik gaun, lalu melakukan salam singkat yang penuh nada ejekan.
"Akan aku pertimbangkan jika aku sedang butuh hiburan Pangeran. Sampai jumpa di pesta kehancuran berikutnya"
Dengan satu gerakan gesit hasil dari latihan fisik dua hari terakhir, Elara melompat melewati pagar rendah taman dan menghilang ke dalam kegelapan hutan di belakang mansion. Dia bergerak seringan kucing meninggalkan Pangeran Kaelen yang masih berdiri terpaku menatap kegelapan dengan senyum yang tak kunjung hilang.
"Elara Mirabel Astoria..." bisik Pangeran pada angin malam "Mari kita lihat seberapa besar api yang akan kau nyalakan di kerajaan ini"
___
Matahari baru saja terbit tapi atmosfer di dalam Mansion Astoria lebih dingin daripada musim salju di perbatasan.
BRAKKKK!
"BAGAIMANA BISA DIA HILANG?!" raung Duke Alaric. Vas bunga keramik seharga ribuan koin emas hancur berkeping-keping setelah dihantam ke dinding ruang kerjanya.
Julian berdiri di sudut ruangan dan wajahnya masih memar karena egonya yang terluka semalam "Pengawal bilang dia keluar lewat ventilasi Ayah. Gembok pintu depan masih utuh. Dia... dia sudah merencanakan ini sejak awal"
"Dan kalian semua diam saja?!" Duke menunjuk Julian dan Cassian bergantian "Kalian jenius sihir dan pedang tapi membiarkan seorang gadis tanpa mana sihir membodohi kalian di depan Pangeran Mahkota!"
Di sofa Duchess Beatrice hanya bisa terisak, tapi bukan karena sedih melainkan karena malu "Alaric semua Lady di ibu kota mengirimkan surat sindiran pagi ini. Mereka bertanya kenapa kita menyembunyikan berlian seperti Elara di gudang. Reputasiku hancur! Aku tidak bisa keluar rumah lagi!"
Tiba-tiba suara langkah kaki terburu-buru terdengar. Lilian masuk ke ruangan dengan rambut acak-acakan dan mata sembab
"Ayah! Cari dia! Tangkap Elara dan potong lidahnya!" teriak Lilian gila "Pangeran Kaelen... dia menatap Elara seolah aku ini debu! Aku benci dia! Aku mau Elara mati!"
"DIAM LILIAN!" bentak Duke yang sudah kehilangan kesabaran "Gara-gara ulahmu yang jatuh ke meja kue itu kita semua jadi bahan tertawaan!"
Suasana makin kacau sampai seorang pelayan kepala masuk dengan wajah sepucat mayat membawa sepucuk surat dengan stempel singa bersayap simbol pribadi Pangeran Mahkota.
Duke Alaric membuka surat itu dengan tangan gemetar. Setelah membaca isinya wajahnya yang tadi merah karena marah langsung berubah pucat pasi. Surat itu jatuh ke lantai marmer.
"Apa isinya Ayah?" tanya Cassian pendek dan matanya menatap surat itu dengan tajam.
"Pangeran... Pangeran Kaelen secara pribadi mengundang Elara ke Istana Timur lusa pagi" bisik Duke dengan suara parau "Dia bilang, dia ingin mendiskusikan keamanan putri pertama secara langsung denganku"
Beatrice menutup mulutnya hampir pingsan. Lilian jatuh terduduk di lantai dan menangis lagi.
"Tapi Ayah... Elara sudah kabur" Julian mengingatkan dengan nada bodoh.
"ITU MASALAHNYA!" Duke Alaric kembali berteriak dan urat di lehernya menonjol "Jika kita tidak bisa membawa Elara ke Istana lusa pagi Pangeran akan menganggap kita menculiknya atau... atau lebih buruk lagi. Dia punya alasan untuk menghancurkan keluarga Astoria!"
Duke menatap kedua putranya dengan tatapan maut "Cari dia. Kerahkan seluruh tentara bayaran jika perlu! Seret dia kembali, penuhi permintaannya dan berikan dia kamar termewah APA SAJA! Asalkan dia ada di depan Pangeran Mahkota lusa pagi!"
___
Di saat keluarga Astoria sedang kalang kabut seperti semut yang sarangnya dibakar, di Istana Timur yang tenang Pangeran Kaelen sedang duduk santai di balkonnya. Di tangannya ada segelas anggur merah yang warnanya semerah mata amarah Duke Alaric saat ini.
Asisten pribadinya Oliver, membungkuk hormat di sampingnya. "Yang Mulia surat undangan untuk Lady Elara sudah sampai di tangan Duke. Tapi... bukankah Anda tau sendiri semalam Lady Elara sudah meninggalkan mansion?"
Kaelen menyesap anggurnya lalu menyunggingkan senyum misterius yang bisa membuat wanita mana pun pingsan atau gemetar ketakutan.
"Tentu saja aku tau Oliver. Aku sendiri yang melihatnya melompat pagar seperti kucing liar yang cantik" ucap Kaelen pelan.
Oliver mengernyit bingung "Lalu kenapa Anda tetap mengirim surat itu? Duke Alaric pasti akan sangat menderita mencoba mencari seseorang yang tidak ada di sana"
"Itulah intinya" Kaelen terkekeh rendah, suaranya sangat merdu namun penuh kelicikan "Aku hanya ingin melihat seberapa jauh Duke Astoria bisa merangkak di atas tanah untuk menutupi kebohongannya sendiri. Lagipula bukankah sedikit kekacauan akan membuat hari-hariku yang membosankan ini jadi lebih berwarna?"
Kaelen meletakkan gelasnya lalu jemarinya menyentuh sebuah laporan tentang penginapan-penginapan di pinggiran kota yang baru saja masuk ke mejanya.
"Biarkan Duke Astoria berkeringat dingin untuk sementara. Aku ingin tahu berapa lama berlian kecilku itu bisa bertahan di luar sana sebelum aku sendiri yang datang untuk menjemputnya"
Di kejauhan lonceng istana berdentang, seolah-olah sedang menertawakan nasib keluarga Astoria yang kini berada di telapak tangan sang Pangeran Mahkota.
_______________________________________________
Haii teman-teman jangan lupa tinggalin like sama komen yaaa biar aku tambah semangat update🌹
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
⊂_ヽ
\\
\( ͡° ͜ʖ ͡°)
> ⌒ヽ
/ へ\
/ / \\
レ ノ ヽ_つ
/ /
/ /|
( (ヽ
| |、\
| 丿 \ ⌒)
| | ) /
ノ ) Lノ
(_/
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 🗿
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* moga-moga nggak ada genre haramnya
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* hancurkan dan bumi hanguskan wanita murahan itu
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 👍
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* up
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* /Smile/
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 🙂
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* /Shy/
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
\\
\( ͡° ͜ʖ ͡°)
> ⌒ヽ
/ へ\
/ / \\
レ ノ ヽ_つ
/ /
/ /|
( (ヽ
| |、\
| 丿 \ ⌒)
| | ) /
ノ ) Lノ
(_/