Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan
Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.
Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.
Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.
Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.
Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.
Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibumu Kabur
Bab 15 – Ibumu Kabur
“Ibumu hilang dari safe house.”
Tubuh Alya menegang seketika seakan disambar petir. Seluruh darah di tubuhnya terasa berhenti mengalir.
“Apa maksudmu hilang?! Maksudmu diculik kan?!” serunya panik, matanya membelalak lebar.
Kael memasukkan ponselnya kembali ke saku celana dengan gerakan tenang namun cepat.
“Dia pergi sekitar tiga puluh menit yang lalu. Sistem keamanan mencatat gerakan keluar.”
“Pergi sendiri atau dipaksa orang?!”
“Belum bisa dipastikan. Tidak ada suara tembakan atau perlawanan.”
Alya langsung mendorong dada bidang Kael dengan kedua tangannya, frustrasi setengah mati.
“Kamu bilang dia aman! Kamu janji jaga dia baik-baik!” teriaknya emosi.
“Aku bilang aku akan melindunginya. Dan aku sedang melakukannya sekarang dengan mencarinya,” jawab Kael tegas. Ia menerima semua bentakan itu tanpa berkedip sedikit pun. Wajahnya tetap dingin, tapi rahangnya terlihat menegang keras menahan sesuatu.
“Aku akan menemukannya.”
“Aku ikut!” tuntut Alya cepat.
“Tidak. Bahaya di luar.”
“AKU BILANG AKU IKUT!”
Kael menatap tajam ke dalam mata gadis itu.
“Kau baru saja menangis histeris karena mengira kita mungkin sedarah. Sekarang kau mau lari keluar malam-malam, masuk ke dalam bahaya, dan berhadapan dengan orang-orang jahat?”
Alya terdiam sesaat, teringat ucapan Darius tadi. Namun rasa khawatir pada ibunya jauh lebih besar daripada rasa takut itu.
“Itu ibuku. Satu-satunya keluargaku yang aku punya,” jawabnya lirih tapi penuh tekad keras kepala.
Kael menghembuskan napas panjang pendek, tampak mengalah pada keteguhan gadis itu.
“Siapkan mobil,” ucapnya singkat ke interkom yang terpasang di meja samping tempat tidur.
Lalu ia menoleh kembali ke Alya.
“Kau boleh ikut. Tapi ingat satu aturan… tetap dekat denganku. Jangan pernah lepas.”
“Aku nggak butuh izinmu!” sanggah Alya mendongak.
“Kau selalu bilang begitu… tapi pada akhirnya kau tetap berdiri di sampingku,” balas Kael santai.
Alya mendelik kesal. “Diamlah!”
Sudut bibir Kael hampir terangkat membentuk senyum tipis, tapi situasi terlalu genting untuk itu.
Sepuluh menit kemudian, mobil hitam mewah milik Kael meluncur kencang membelah kesunyian malam kota.
Alya duduk kaku di kursi penumpang belakang. Tangannya terasa dingin dan basah oleh keringat dingin. Pikirannya benar-benar kacau balau.
Ia memikirkan ibunya yang tiba-tiba menghilang.
Ia memikirkan ucapan Darius soal dirinya yang mungkin keluarga Kael.
Ia memikirkan surat perintah ayah Kael.
Dan yang paling sering muncul di kepalanya… adalah wajah Kael sendiri.
Pria di sampingnya itu tampak sangat fokus. Ia sedang menatap layar tablet besar yang menampilkan peta kota dan titik-titik pantauan.
“Kenapa diam saja?” tanya Kael tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
“Aku sedang berusaha keras… untuk tidak menjerit atau menghancurkan sesuatu,” jawab Alya pelan.
“Perkembangan yang bagus. Biasanya kau langsung marah-marah.”
“Aku masih bisa lempar sepatu ke wajahmu lho,” ancam Alya.
Kael menoleh sekilas, wajahnya sedikit lebih rileks.
“Kau pakai sandal rumah. Bukan sepatu.”
Alya spontan menunduk melihat kakinya. Benar juga. Karena tadi lari panik, ia bahkan tidak sempat ganti alas kaki. Ia mendengus kesal pada dirinya sendiri.
Kael akhirnya menurunkan tabletnya.
“Data dari safe house menunjukkan… kamera dimatikan secara manual dari dalam ruangan.”
Alya menoleh cepat, matanya membelalak.
“Dari dalam? Maksudnya… Ibu sendiri yang mematikannya?”
“Kemungkinan besar ya.”
“Berarti Ibu pergi dengan sengaja? Kenapa?! Kenapa dia ninggalin aku?!” dada Alya sesak sekali, air mata hampir keluar lagi.
“Atau… dia dipaksa oleh orang yang dia kenal dan percaya, sehingga dia tidak berani melawan atau berteriak,” tebak Kael serius.
Alya menggeleng kuat-kuat. “Tidak mungkin. Ibu nggak akan pergi begitu saja tanpa bilang apa-apa padaku. Dia pasti ada alasan besar.”
Mobil berbelok tajam dan akhirnya berhenti mendadak di depan sebuah rumah kecil sederhana yang terletak di gang sempit.
Itu rumah lama tempat Alya dan ibunya tinggal sebelum semua kekacauan ini terjadi.
Tanpa menunggu mesin mati, Alya langsung membuka pintu dan melompat turun.
“Alya! Hati-hati!” teriak Kael dan segera mengejarnya dari belakang.
Pintu depan rumah ternyata tidak terkunci rapat, hanya tertutup sedikit. Lampu ruang tamu menyala redup, menciptakan bayangan-bayangan aneh di dinding.
Alya masuk tergesa-gesa.
“Ibu?! Bu, Ibu ada di sini?!”
Tak ada jawaban. Hening yang menyambut. Rumah itu terasa sepi dan kosong.
Namun pandangan Alya langsung tertuju pada meja makan kecil di tengah ruangan.
Di sana tersedia secangkir teh yang masih mengeluarkan asap tipis… artinya baru saja dibuat. Dan tepat di sebelahnya, terdapat sebuah amplop putih bersih.
Tangan Alya gemetar hebat saat meraih amplop itu.
Di bagian depan amplop, tertulis dengan tulisan tangan yang sangat dikenalnya:
Untuk Alya sayang.
“Astaga… Ibu…”
Dengan tangan gemetar dan napas memburu, Alya merobek sisi amplop itu dan mengambil kertas surat di dalamnya.
Tulisan tangan ibunya tampak tergesa, sedikit goyah, namun tetap terbaca jelas:
----" Alya, maafkan Ibu harus pergi diam-diam seperti ini.
Ada hal besar yang selama puluhan tahun Ibu sembunyikan darimu. Ibu tidak punya pilihan lain.
Jangan percaya siapa pun yang berasal dari keluarga Lorenzo. Jangan percaya siapapun, termasuk Kael.
Kalau kau benar-benar ingin tahu siapa ayahmu sebenarnya dan apa masa lalu kita… temui Ibu di gereja tua di Bukit Timur. Sebelum jam 12 malam.
Dan satu hal penting… DATANG SENDIRI."----
Dunia Alya seakan berhenti berputar. Kakinya terasa lemas sekali.
“Jangan percaya Kael…” bisiknya pelan, hatinya terasa perih membaca kalimat itu.
Dari belakang, tangan besar Kael terulur mengambil surat itu dari tangan gadis itu secara perlahan. Ia membacanya dengan cepat dan teliti.
Wajah Kael yang tadi masih terlihat normal langsung berubah menjadi gelap gulita. Aura dinginnya kembali menyelimuti ruangan kecil itu.
“Tidak.”
“Apanya yang tidak?” Alya menoleh cepat. “Aku harus pergi ke sana! Itu permintaan Ibu!”
“Itu jebakan yang sangat jelas, Alya. Gereja tua? Malam-malam? Datang sendiri? Itu bukan minta bertemu, itu minta dibunuh.”
“TAPI ITU TULISAN TANGAN IBUKU! Aku kenal betul tulisan dia!”
“Justru karena itu… yang membuatnya semakin berbahaya. Karena mereka menggunakan Ibumu untuk memancingmu keluar,” ucap Kael tajam.
Alya merebut kembali surat itu dan memeluknya erat di dada.
“Aku tetap akan pergi. Apapun yang terjadi, aku harus tahu kebenarannya.”
Kael maju satu langkah, mendominasi ruang di hadapan gadis itu.
“Aku bilang… TIDAK.”
Alya menatapnya penuh emosi, mata nya berkaca-kaca.
“Kamu nggak berhak mengatur hidupku! Kamu bukan siapa-siapa bagiku!”
“AKU BERHAK!” bentak Kael tak kalah keras. “Aku berhak kalau nyawamu dipertaruhkan!”
“KENAPA KAMU PEDULI BANGET SIH?! SELALU KAMU! KENAPA?!” teriak Alya putus asa.
Kael terdiam sepersekian detik. Tatapan tajamnya melunak sedikit, berubah menjadi sesuatu yang sangat dalam dan intens.
Lalu ia menjawab dengan suara rendah yang bergetar:
“Karena… aku tidak bisa kehilanganmu. Aku tidak sanggup kalau harus kehilanganmu.”
DUG!
Jantung Alya menghantam dadanya begitu keras hingga terasa sakit. Ia membeku di tempatnya. Kalimat itu… terlalu jujur dan terlalu menyakitkan untuk didengar saat ini.
Namun momen itu pecah oleh suara detak jam dinding yang terdengar sangat keras.
Tok… Tok… Tok…
Pukul sebelas lewat tiga puluh menit.
Waktu menuju tengah malam tinggal sedikit lagi. Hampir habis.
Alya mundur perlahan, menggelengkan kepala.
“Maaf… tapi aku tetap pergi.”
Kael menatapnya lama sekali. Sangat lama. Seakan ingin menghafal wajah itu.
Akhirnya ia berkata datar:
“Baik. Kalau kau bersikeras pergi sendiri… aku akan mengikutimu dari jauh. Diam-diam. Dan siap menembak siapa saja yang menyentuhmu.”
Alya hampir menjerit kesal.
“Kamu ini sebenarnya mafia atau babysitter sih?! Repot sekali!”
Kael mengambil kunci mobil di atas meja, lalu menyeringai tipis.
“Keduanya. Malam ini aku jadi keduanya.”
Saat mereka berdua hendak melangkah keluar rumah untuk menuju mobil, tiba-tiba suara deru mesin motor menderu kencang terdengar dari arah luar.
BRUMMMM!!!
Beberapa motor berhenti mendadak tepat di depan pagar rumah.
Seketika itu juga, belasan pria bertopeng hitam turun dan mengepung seluruh halaman rumah kecil itu.
Masing-masing dari mereka membawa senjata tajam dan senapan laras panjang yang siap menembak.
Wajah Alya pucat pasi. Kakinya lemas.
“Kael…” panggilnya pelan, tangannya secara refleks menarik ujung baju pria di depannya.
Kael langsung bergerak cepat. Ia menarik tubuh Alya dan memosisikan gadis itu tepat di belakang punggungnya, menjadi tameng manusia hidup.
Wajah Kael berubah total. Hilang semua senyum dan lembutnya. Kini hanya ada wajah dingin tanpa emosi, wajah seorang pembunuh.
“Tetap di belakangku. Jangan keluar.”
Salah satu pria bertopeng di depan mengangkat pistolnya dan menodongkan ke arah mereka.
“Kami tidak mau masalah. Kami cuma mau gadis itu. Serahkan dan kalian bisa pergi.”
Kael perlahan membuka kancing jas hitamnya yang mewah.
Dengan gerakan lambat dan penuh intimidasi, ia mengeluarkan pistol hitam mengkilap dari sarangnya di pinggang.
Ia menatap para penyerang itu dengan tatapan mematikan.
“Sayang sekali…” ucap Kael pelan namun suaranya terdengar jelas.
“Dia milikku.”