NovelToon NovelToon
GILA! IDOLA SMA-KU JADI ATASAN YANG GENIT BANGET

GILA! IDOLA SMA-KU JADI ATASAN YANG GENIT BANGET

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Idola sekolah
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Zea pernah diam-diam mencintai Bara, sang kakak kelas di SMA . Namun sebuah kejadian memaksanya pergi, meninggalkan perasaan itu tanpa sempat terungkap.

Sepuluh tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali dalam posisi yang berbeda yaitu Bara sebagai atasan dan Zea sebagai bawahan.

Perasaan lama yang Zea kira telah hilang, ternyata masih tersimpan rapi. Tanpa ia sadari, Bara pun menyimpan hal yang sama selama ini.

Namun waktu telah mengubah banyak hal. Rahasia masa lalu, jarak yang dulu tercipta, dan keadaan sekarang menjadi penghalang yang tak mudah dilewati.

Kini, keduanya harus memilih bertahan dalam diam, atau akhirnya memperjuangkan cinta yang sempat tertinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjadi pendengar setia untukmu

Siang perlahan berganti menjadi sore. Suasana kantin dan seluruh ruangan kantor sudah mulai sepi, para karyawan satu per satu pulang ke rumah.

Namun Zea masih duduk diam dan termenung di kursinya. Ia tidak berani pulang duluan sebelum ada kabar atau kepastian, meski semua pekerjaan terhenti total dan tak ada lagi yang bisa dikerjakan.

Matanya kini tampak sembab dan bengkak, bekas menangis diam-diam membayangkan betapa beratnya beban yang sedang dipikul Bara saat ini.

Tiba-tiba...

TRING! TRING! TRING!

Ponsel yang tergeletak diam di atas meja bergetar keras dan berdering nyaring memecah kesunyian. Zea tersentak kaget, tubuhnya menegang. Matanya langsung melotot lebar saat melihat nama yang berkedip-kedip di layar.

SUAMIKU ❤️ Calling......

Tangannya gemetar hebat, hampir tak sanggup meraih benda itu. Ia buru-buru mengangkat telepon itu dengan napas yang tertahan dan jantung yang mau copot.

"Halo... Tuan Bara..." ujar Zea pelan, suaranya bergetar, lemah, dan penuh kekhawatiran.

Di seberang telepon, keheningan terasa cukup lama. Hanya terdengar suara tarikan napas yang berat, tidak teratur, dan terdengar sangat menyakitkan. Jantung Zea mencelos jatuh mendengarnya, hatinya ikut remuk redam.

Akhirnya suara Bara terdengar menyapa. Suaranya serak, parau, sangat lelah, berat, dan terdengar begitu rapuh. Sangat berbeda jauh dengan suara Bara yang gagah, tegas, dan penuh percaya diri seperti kemarin-kemarin.

"Zea......" gumam Bara pelan, nyaris tak terdengar, seolah suaranya habis dipakai menangis seharian.

Mendengar satu panggilan itu saja, air mata Zea langsung tumpah membasahi pipinya sekali lagi. Ia tahu, di saat ini pria itu sedang berada di titik terendah dalam hidupnya.

"Iya Tuan... Saya di sini, saya dengerin. Tuan gimana keadaannya sekarang? Tuan sudah makan belum? Istirahatnya gimana? Jangan sakit ya..." tanya Zea bertubi-tubi dengan suara lembut, penuh keprihatinan dan kasih sayang yang tulus.

Bara menghela napas panjang dan berat di seberang sana, terdengar seperti orang yang baru saja berhenti menangis keras-keras.

"Belum... nggak ada selera makan apa-apa. Rasanya... rasanya dada aku kosong banget, Zea. Tiba-tiba semuanya hilang, berat banget rasanya nahan semuanya sendirian." jawab Bara lemah, suaranya pecah.

Zea memejamkan mata rapat-rapat, dadanya terasa sesak dan nyeri mendengar pengakuan itu.

"Sabar ya Tuan... Ikhlasin ya. Papa Tuan pasti sudah tenang dan damai di sana sekarang. Beliau pasti bangga dan bahagia punya anak sebaik, sekuat, dan seberhasil Tuan. Beliau pasti selalu nemenin Tuan dari atas sana." ujar Zea berusaha menenangkan, berusaha menjadi kekuatan bagi pria itu.

Terdengar suara isak tangis kecil yang tertahan dari seberang telepon. Bara menangis. Pria sekuat, setangguh, dan sekeren itu, kini menangis tersedu-sedu di ujung teleponnya.

"Aku nelpon cuma mau denger suara kamu... Aku nggak tau kenapa, tapi pas denger suara kamu aja, rasanya beban di pundak aku berkurang dikit, rasanya agak lega. Maaf ya nelpon malam-malam begini, ganggu waktu istirahat kamu, dan bikin kamu khawatir." lanjut Bara dengan suara yang benar-benar pecah dan lemas.

Zea langsung menggeleng cepat berkali-kali, meskipun Bara sama sekali tidak bisa melihatnya.

"Jangan pernah minta maaf soal gini! Itu bukan gangguan, itu kewajiban saya... maksudnya itu hal yang paling wajar banget! Tuan boleh kok nelpon saya kapan aja, jam berapapun, sesering apapun, ngomongin hal apa aja... selama itu bisa bikin Tuan tenang dan bikin hati Tuan lega. Saya bakal selalu ada di sini, siap dengerin." seru Zea tegas namun tetap lembut, penuh ketulusan.

Bara tersenyum tipis di seberang sana, senyum kecil yang sedih namun sedikit lebih tenang, meski suaranya masih terdengar sangat pilu.

"Kamu baik banget, Zea... Makasih ya udah ada, udah sabar, dan udah ngertiin aku banget. Sekarang kamu boleh pulang. Kerjaan kantor ditinggal dulu aja, nggak apa-apa, urusin nanti pas aku udah masuk lagi. Pulanglah, mandi, terus istirahat yang cukup ya." ujar Bara lemah tapi penuh perhatian.

Zea mengangguk patuh, air matanya sudah mulai kering tapi hatinya masih terasa sakit.

"Iya Tuan... Saya nurut. Tapi Tuan juga harus istirahat ya. Jangan begadang terus, jangan dipaksain, nanti malah Tuan yang sakit. Harus pikirin kesehatan diri Tuan Bara juga ya." jawab Zea lembut, penuh pesan kasih.

Bara terdiam cukup lama di seberang sana, lalu berbisik sangat pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.

"Zea..." bisik Bara lirih.

"Ya... Saya dengerin, Tuan. Ada apa?" jawab Zea lembut, mendekatkan telepon ke telinga.

"Makasih ya... udah jadi pendengar paling baik buat aku. Sampai ketemu... nanti ya, kalau semuanya udah agak tenang." lanjut Bara pelan.

Zea tersenyum sedih di tengah tangisnya, lalu mengusap pipinya yang basah.

"Sama-sama... Hati-hati dan kuat terus ya Tuan. Saya selalu doain dan nunggu kabar baik dari sini." ujar Zea terakhir kali.

Koneksi telepon pun terputus perlahan.

Zea masih duduk diam mematung, memeluk ponsel itu di dadanya erat-erat. Rasanya sedih luar biasa, tapi ada rasa lega yang juga menyelinap karena ia bisa mendengar suara Bara dan memastikan setidaknya pria itu masih punya tempat untuk meluapkan semuanya.

"Tahan ya Tuan Bara... Kita lewatin masa-masa berat ini bareng-bareng ya. Sekarang kamu berani nunjukin sisi lemah kamu ke aku, berarti tempatku di hati kamu udah beneran spesial banget kan? Tenang aja... apa pun yang terjadi, aku bakal tetap ada di sini, nungguin kamu sampai kamu siap lagi." gumam Zea pelan dalam hati, hatinya penuh janji setia yang tulus.

1
paijo londo
aduuuh zea kamu bikin bara gregetan campur penasaran tuh🤦🤦🤭🤭🤭
paijo londo
lucu ya kalo malu malah g mau ketemu🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!