Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.
Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.
Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.
Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
Embun pagi masih tersisa di dedaunan ketika ruko lantai dua A.R Design mulai menggeliat. Cahaya matahari yang hangat perlahan merayap masuk melalui celah jendela, menerangi deretan kain sutra yang tertata rapi.
Di dapur kecil, aroma nasi goreng mentega yang harum dan gurih mulai menguar, memancing selera siapa saja yang menghirupnya.
Arumi berdiri di depan kompor dengan celemek kain linen abu-abu yang terikat rapi di pinggangnya.
Rambut panjangnya dicepol asal ke atas, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajahnya yang tampak jauh lebih segar dibandingkan malam sebelumnya. Tangannya dengan lincah mengayunkan sudit, mengaduk nasi di dalam wajan dengan gerakan yang telaten.
Ini adalah rutinitas yang sangat ia rindukan. Menjadi seorang ibu seutuhnya di pagi hari, memasak untuk putri kecilnya, tanpa perlu terburu-buru dikejar rasa takut atau tatapan merendahkan dari orang-orang di masa lalunya.
"Ibu... harum banget," sebuah suara parau khas anak kecil yang baru bangun tidur terdengar dari arah pintu kamar.
Arumi menoleh dan tersenyum lebar. Kirana berdiri di sana, bertumpu pada kruk kayu kecil yang baru dibeli Mbak Lastri kemarin malam.
Kaki kanannya yang dibalut perban tampak menggantung, namun wajah bocah itu sudah kembali ceria, menyisakan plester bergambar kartun di keningnya.
"Eh, jagoan Ibu sudah bangun? Sini, pelan-pelan jalannya, Nak," Arumi bergegas mematikan kompor, menyeka tangannya pada kain lap, lalu menuntun Kirana untuk duduk di kursi makan kayu dekat meja.
"Kirana mau bantu Ibu!" seru Kirana penuh semangat, meskipun ia hanya bisa duduk tegak sambil memandangi piring-piring kosong.
"Kirana bantu doa saja supaya nasi goreng buatan Ibu enak, ya," sahut Mbak Lastri yang baru saja naik dari lantai bawah membawa sekeranjang cucian bersih. "Selamat pagi, Bu Arumi. Aduh, wangi sekali masakan Ibu pagi ini. Sampai ke bawah lho harumnya."
"Selamat pagi, Mbak Lastri. Sini, kita sarapan bareng. Saya masak agak banyak hari ini," ajak Arumi sambil menyendokkan nasi goreng hangat ke atas piring Kirana, lalu ke piring Mbak Lastri dan dirinya sendiri.
Suasana sarapan itu berlangsung sederhana namun hangat. Senda gurau polos dari Kirana dan cerita-cerita renyah Mbak Lastri tentang kelakuan lucu para pekerja di bawah membuat tawa Arumi lepas beberapa kali.
Inilah sejatinya bentuk kebangkitan yang Arumi cari. Bukan sekadar angka-angka di atas kertas kontrak atau tepuk tangan di atas panggung mode, melainkan kemampuan untuk menikmati ketenangan hidup bersama orang-orang yang tulus menyayanginya.
Usai sarapan dan memandikan Kirana, Arumi kembali ke ruang kerjanya. Hari ini adalah hari besar. Menurut jadwal, batch pertama koleksi Sustainable Silk akan mulai dipajang di gerai-gerai utama Nusantara Galeria.
Seharusnya, pikiran Arumi dipenuhi oleh strategi pemasaran atau antisipasi jika ada kendala di toko. Namun entah mengapa, setiap kali matanya melirik ke sudut meja, pandangannya selalu tertambat pada satu benda.
Vas bunga berisi bunga matahari dari Bram.
Bunga-bunga kuning cerah itu masih berdiri dengan gagah, memancarkan kesegaran yang seolah menolak untuk layu. Arumi melangkah mendekat, jemarinya menyentuh salah satu kelopak bunga tersebut dengan lembut. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.
Ia teringat ucapan Bram kemarin sore di sofa itu. "Aku melihat mata seorang ibu yang sedang membangun benteng tinggi untuk anaknya. Kamu tidak sedang menghancurkan siapa pun, Arumi. Kamu hanya sedang mengambil kembali hak dan harga dirimu..."
Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya seperti melodi lagu yang enggan pergi. Ada rasa hangat yang aneh, sejenis rasa aman yang sudah bertahun-tahun lamanya absen dari dadanya.
Sejak dikhianati dan dicap sebagai 'wanita malang' oleh lingkungan lamanya, Arumi selalu memasang tembok pertahanan yang sangat tebal. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak butuh siapa pun. Ia bisa berdiri sendiri.
Namun, kehadiran Bram yang perlahan, tidak berisik, dan selalu ada di saat yang tepat, mulai membuat celah kecil di tembok kokoh tersebut.
"Nggak, Arumi. Jangan konyol," bisik Arumi pada dirinya sendiri, mendadak menarik kembali tangannya dari bunga matahari itu dengan wajah yang sedikit merona. "Kamu itu punya tanggung jawab besar. Jangan biarkan perasaan tidak jelas ini mengganggu fokusmu."
Arumi menggelengkan kepala kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan wajah tenang Bram dari benaknya.
Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa rasa hangat ini hanyalah bentuk rasa kagum profesional. Ya, murni kekaguman karena Bram adalah mitra bisnis yang sangat suportif dan pria yang baik kepada anaknya. Tidak lebih.
"Arumi!" suara Madam Ling memecah lamunannya. Wanita paruh baya itu masuk dengan langkah anggun namun tergesa, memegang sebuah majalah bisnis dan tablet digital di tangannya. "Kamu harus lihat ini. Beritanya sudah keluar!"
Arumi segera mengalihkan fokusnya, menyambut tablet yang disodorkan oleh Madam Ling. Di layar tersebut, terpampang tajuk utama dari salah satu media bisnis mode terkemuka di Indonesia.
"Peralihan Radikal Nusantara Galeria - Lini Kain Premium PT. Tekstil Sejahtera Digantikan oleh Inovasi Sutra Organik A.R Design."
Di dalam artikel tersebut, pengamat mode memuji langkah berani Nusantara Galeria yang memutus hubungan dengan perusahaan lama demi mendukung gerakan mode berkelanjutan yang diusung oleh A.R Design.
Nama Arumi disebut-sebut sebagai ikon baru desainer wanita yang mandiri, cerdas, dan memiliki visi masa depan yang jelas. tidak ada satu kata pun yang menyebutkan masalah pribadinya, semua murni membahas kompetensi dan kualitas produk.
"Ini luar biasa, Arumi," Madam Ling berkata dengan binar mata bangga. "Telepon di bawah sejak tadi pagi tidak berhenti berdering. Beberapa kurator mode dan pemilik butik independen dari Bandung dan Bali mulai menanyakan jadwal rilis koleksi kita berikutnya."
Arumi mengembuskan napas panjang, menatap foto gaun putih gadingnya yang terpajang indah di artikel tersebut. Rasa haru menyeruak di dadanya. "Ini berkat kerja keras Ibu-ibu di bawah, Madam. Tanpa jahitan mereka yang rapi dan presisi, sketsaku hanya akan berakhir di tempat sampah."
"Dan tentu saja, berkat pasokan bahan baku kelas satu dari Green Fibers," goda Madam Ling dengan senyum miring yang khas. "Bram benar-benar menepati janjinya. Truk pengiriman serat kain organik mereka baru saja sampai di depan ruko. Dan tebak siapa yang ikut turun dari truk itu?"
Jantung Arumi memberikan satu hentakan kecil yang tak terduga. Ia melangkah ke jendela ruko dan melihat ke bawah. Di sana, sebuah truk boks berlogo Green Fibers terparkir rapi.
Dan benar saja, Bram berdiri di samping truk, mengenakan kemeja denim biru yang kasual dengan celana jins hitam, sedang membantu para pekerja menurunkan gulungan-gulungan kain besar dengan tangannya sendiri.
Melihat pria bertubuh tegap itu tidak segan-segan mengotori tangannya demi memastikan barangnya sampai dengan selamat, rasa kagum di hati Arumi kian membuncah.
Sifat Bram yang membumi dan penuh tanggung jawab adalah sesuatu yang sangat langka ia temui di dunia bisnis yang penuh dengan kepalsuan.
...----------------...
To Be Continue ....
enak saja mau minta gabung gabung..ngaca Buuu
tulang selangkang...itu diantara paha
beda ya thor..