Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.
Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.
Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Langit di atas Sinduraya mulai meredup ketika Arga Baskara melangkahkan kaki memasuki rumahnya yang sepi. Aroma sisa hujan siang tadi masih tertinggal di udara, memberikan sensasi dingin yang menusuk hingga ke tulang. Arga tidak langsung menuju dapur untuk mencari makan. Ia justru melangkah gontai menuju kamarnya yang terletak di lantai dua, lalu melempar tas sekolahnya begitu saja ke atas tempat tidur.
Pikiran Arga masih tertahan di lorong SMA Tunas Bangsa. Suara Nala yang menyapanya dengan nada formal layaknya orang asing terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Baginya, itu adalah bentuk luka yang tidak berdarah. Nala benar-benar tidak ingat. Perempuan itu telah menghapus seluruh bab tentang masa kecil mereka dari kepalanya, sementara Arga masih terjebak di bab yang sama selama hampir satu dekade.
Arga duduk di lantai, bersandar pada kaki ranjang. Pandangannya kosong menyapu seisi kamar hingga berhenti pada sebuah kardus karton usang yang terselip di sudut lemari buku. Ia sempat ragu sejenak, namun rasa rindu yang menyesakkan dada mendorongnya untuk meraih kardus itu. Setelah meniup debu yang menempel di permukaannya, Arga membukanya dengan perlahan.
Di antara tumpukan mainan robot yang sudah kehilangan warnanya dan beberapa kelereng yang mulai buram, Arga menemukan sebuah buku sketsa kecil dengan sampul berwarna cokelat tua. Sudut-sudut bukunya sudah melengkung dan menguning dimakan usia. Jemari Arga gemetar saat ia mulai membalik halaman pertama.
Halaman demi halaman berisi coretan krayon yang tidak beraturan. Ada gambar rumah dengan matahari di pojok kertas, gambar kucing yang terlihat lebih mirip gumpalan benang, hingga akhirnya ia sampai pada sebuah halaman yang membuat napasnya tertahan.
Itu adalah gambar dua anak kecil, laki-laki dan perempuan, yang sedang berdiri bergandengan tangan di bawah sebuah pohon mangga yang rimbun. Buah mangga di gambar itu diwarnai dengan warna kuning terang yang sangat mencolok. Di bawah gambar tersebut, terdapat tulisan tangan khas anak-anak yang belum rapi, namun ditulis dengan tekanan yang kuat seolah sang penulis ingin pesan itu abadi.
Arga dan Nala, sahabat selamanya. Janji di bawah pohon mangga. Kita tidak akan pernah saling melupakan, bahkan kalau dunia kiamat.
Arga tersenyum getir membaca kalimat terakhir itu. Dunia memang belum kiamat, tapi baginya, melupakan adalah kiamat kecil yang sedang ia lalui sekarang. Ia ingat betul hari saat mereka membuat janji itu. Saat itu mereka baru berusia sembilan tahun, duduk di bawah pohon mangga di halaman belakang rumah lama Nala sambil berbagi satu buah mangga matang yang baru saja jatuh.
Waktu itu, Nala adalah orang yang paling bersemangat. Ia yang memaksa Arga untuk menuliskan janji tersebut di buku sketsa milik Arga. Nala jugalah yang mengatakan bahwa meskipun mereka terpisah jauh, mereka akan selalu memiliki cara untuk kembali satu sama lain. Arga memercayai setiap kata yang keluar dari mulut mungil itu dengan seluruh kepolosannya.
Suara ketukan pintu kamar tiba-tiba membuyarkan lamunan Arga. Ia dengan cepat menutup buku sketsa itu dan menyembunyikannya di balik punggung.
Arga, kamu sudah pulang? Suara ibunya terdengar dari balik pintu.
Sudah, Bu. Arga baru mau ganti baju, jawabnya berusaha menormalkan nada suaranya.
Ya sudah, cepat turun ya. Ibu sudah masakan nasi goreng kesukaanmu, sahut ibunya sebelum langkah kakinya terdengar menjauh.
Arga kembali menatap buku sketsa di tangannya. Ia menyadari satu hal yang menyakitkan. Masalahnya bukan karena Nala jahat atau sengaja ingin melukainya. Masalahnya adalah Nala tumbuh dewasa dan membiarkan kenangan itu tertinggal di belakang sebagai bagian dari masa kecil yang tidak lagi relevan. Sementara Arga, ia memilih untuk tetap tinggal di sana, menjaga janji yang bahkan sudah tidak memiliki tuan lagi.
Dimas benar, gumam Arga pada dirinya sendiri. Seharusnya ia membuang buku ini sejak lama. Seharusnya ia bersikap realistis seperti yang dikatakan sahabatnya itu. Namun, setiap kali Arga mencoba untuk melepaskan, ada sesuatu yang menariknya kembali.
Ia teringat wajah Tania yang tadi siang sempat menyapanya dengan perhatian yang begitu tulus. Tania adalah kesempatan baginya untuk memulai hal baru, untuk menulis cerita di atas kertas yang benar-benar bersih. Namun, setiap kali Arga melihat mata orang lain, ia selalu mencari pantulan dirinya di mata Nala yang dulu.
Arga meletakkan kembali buku sketsa itu ke dalam kardus, namun ia tidak menaruhnya di sudut paling dalam. Ia meletakkannya tepat di paling atas, di posisi yang paling mudah ia jangkau. Sebelum menutup kardus itu kembali, ia mengusap gambar pohon mangga itu sekali lagi.
Bagimu itu mungkin cuma coretan bocah sembilan tahun, Nala. Tapi bagiku, itu adalah satu-satunya alasan kenapa aku masih di sini, bisik Arga lirih.
Ia berdiri dan berjalan menuju jendela kamarnya. Dari sana, ia bisa melihat lampu-lampu kota Sinduraya yang mulai menyala satu per satu. Di suatu tempat di kota ini, Nala mungkin sedang tertawa bersama Satria, atau mungkin sedang sibuk belajar untuk ujian besok tanpa sedikit pun memikirkan tentang pohon mangga atau janji konyol mereka.
Arga menghela napas panjang, mencoba membuang sesak yang menggumpal di dadanya. Ia tahu besok akan tetap sama. Ia akan tetap menjadi Arga yang pendiam di pojok kelas, dan Nala akan tetap menjadi matahari yang bersinar untuk semua orang kecuali dirinya. Namun, setidaknya malam ini, dengan buku sketsa itu di sisinya, Arga merasa tidak benar-benar sendirian dalam merawat ingatan tersebut.
Ia berjanji pada dirinya sendiri, entah sampai kapan, ia akan tetap menyimpan rahasia itu. Sampai Nala ingat, atau sampai ia sendiri lelah untuk terus merawat harapan yang mungkin tidak akan pernah berbunga lagi. Arga mematikan lampu kamar, membiarkan kegelapan menyelimuti dirinya, menyisakan hanya cahaya temaram dari jalanan yang masuk melalui celah gorden. Di dalam kegelapan itu, ia masih bisa melihat dengan jelas gambar anak laki-laki dan perempuan di bawah pohon mangga, tersenyum tanpa tahu betapa rumitnya menjadi dewasa.