NovelToon NovelToon
Sistem Petani: Mengubah Sampah Menjadi Cairan Dewa

Sistem Petani: Mengubah Sampah Menjadi Cairan Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Harem / Bertani
Popularitas:15.8k
Nilai: 5
Nama Author: R.A Wibowo

Aris adalah definisi pecundang di mata dunia. Dipecat dari pekerjaan kasarnya, dikhianati oleh kekasih yang paling ia cintai, dan dihina oleh teman-teman sekolahnya saat reuni karena hanya mengendarai motor butut.

Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah sebidang tanah warisan kakeknya di pinggiran kota.

Namun, harapan Aris hancur saat ia kembali. Tanah yang ia impikan menjadi tempat tinggal yang tenang, telah berubah menjadi gunung sampah ilegal—sebuah "borok" kota yang dikuasai mafia dan oknum korup.

Di titik terendah hidupnya, sebuah suara dingin bergema di kepalanya:

[Ding! Sistem Petani Sultan Diaktifkan!]

[Misi Pemula : bersihkan 10 KG sampah]

[Hadiah : alat penyulingan esensi Cairan dewa]

[Mulai Proses Penyulingan... Menghasilkan: Cairan Dewa Tingkat 1!]

Satu tetes cairan itu mampu mengubah tanah beracun menjadi Lahan Surgawi.

. Satu tetes lagi mampu membuat tanaman mati tumbuh kembali dengan khasiat luar biasa, dengan cairan ini dia menjadi petani sultan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10—Penjualan Pertama

Di dalam ruang inspeksi yang ber-AC dan sangat bersih, Chef Junaedi meletakkan seikat sawi Aris di atas meja *stainless steel*. Beberapa asisten koki yang sedang menyiapkan *mise en place* sempat menoleh heran melihat sang Executive Chef membawa masuk pemuda berkaos kumal ke area suci mereka.

Apa maksudnya coba membawa masuk sembarang? Klien juga bukan? Kalau dia buka executive chef para rekanya sudah berseru mengusir pemuda itu.

Junaedi mengambil pisau dapur profesionalnya, memotong batang sawi itu dengan presisi, lalu mencicipinya sekali lagi. Ia terdiam selama beberapa detik, memejamkan mata seolah sedang mengecap memori rasa yang sudah lama hilang.

"Luar biasa," bisik Junaedi pelan. Ia menatap Aris dengan pandangan yang sudah berubah total—dari meremehkan menjadi rasa ingin tahu yang besar. “manis, kaya senyuman mantan. maksudnya dengar, Nak. Saya sudah puluhan tahun di industri ini. Saya punya supplier dari dataran tinggi Dieng hingga impor dari Jepang. Tapi tekstur dan keseimbangan rasa manis alami ini... saya baru pertama kali merasakannya."

Aris berdiri tenang, tangannya bersedekap. Mengabaikan darimana dia keceplosan tentang mantan, aman pak, mantan gue juga sekarang lagi ena-enak sama anak manja.

"Itu karena tanah saya bukan sekadar tanah biasa, Chef. Itu tanah yang sudah dimurnikan.”

Junaedi mengangguk-angguk, meski ia tidak paham maksud 'dimurnikan' versi Aris. Ia langsung beralih ke poin utama. Yang penting dia butuh sayuran ini untuk stok hotel lainnya? Gak peduli banget sih tentang darimana dia hasilkan rasa enak begini/

 "Saya butuh sayur ini untuk  dinner besok malam. Supplier langganan saya baru saja mengirimkan barang berkualitas sampah—layu dan pahit. Anjing emang, Makanya saya tadi uring-uringan dan pusing!”

Aris cuma tertawa ketus, pantes saja saat keluar dari dapur wajah dia penuh aka amarah bahkan dia tahu bahwa bisa saja dia jadi sasaran pelampiasan emosi. Tapi itu gak mungkin, tentu saja dengan kualitas sayuran yang terjamin gini.

Yang protes otaknya patut  lagi.

"Berapa harga yang Anda tawarkan?" tanya Aris langsung *to the point*.

Chef Junaedi tersenyum tipis. Ia tahu pemuda di depannya ini bukan petani biasa yang bisa dibohongi. "Harga pasar untuk sawi organik kelas hotel biasanya Rp25.000 per kilo. Tapi untuk kualitas seperti ini? Saya berani bayar Rp75.000 per kilo. Bagaimana?"

Aris terdiam sejenak. Tiga kali lipat harga pasar. Buset, itu modal 7 hari doang perkilo sementara di lahan dia masih punya banyak stok lagi. Apalagi hadia dari sistem benih sayuran masih bejibun.

"Setuju," jawab Aris tegas. "Saya bawa 150 kilo berbagai jenis sayuran di bak mobil. Sawi, wortel, dan tomat."

"Saya ambil semuanya," potong Junaedi cepat. 

Saat proses administrasi dan pembayaran tunai dilakukan di bagian keuangan, Wak Darmo dan Sari masuk ke gudang dengan wajah linglung. Mereka melihat staf gudang yang tadi menghina mereka sekarang justru sibuk membantu menurunkan keranjang dengan sangat hati-hati, seolah-olah sedang membawa kristal mahal.

“Hati-hati goblok!”

“Itu barang titpan chef junaeda dirimu baka diuring-uring!”

“Siap bos!”

Ujar beberapa staf.

"Ris... beneran laku?" bisik Wak Darmo saat melihat tumpukan uang tunai di tangan Aris. "Tujuh puluh lima ribu? Per kilo?!"

Dari ladang dia bertani dia mendapatkan hasil 150 kilo itu kemampuan dari tetesan cairan dewa tingkat satu ditambah dengan benih emas.

Jadi total keuntungan yang didapat sekitar  11.250.000! Dan itu baru awalan

Aris menyerahkan sebagian uang, itu ke tangan Wak Darmo. "Ini buat operasional dan bagi hasil awal, Wak. Kita baru saja mulai."

Itu adalah sekitar 20% dari bagi hasil alias 2,2 juta rupiah! Wak Darmo terkejut, bujet bagi hasil gak ngotak banget cuma modal bantu angkut ginian hasilnya.

“Ris, ini gak kelebihan apa? Ini berlebihan—”

“Aman, pak. Lagian kita udah kenal lama juga, sebut saja hadiah dari teman masa cilik.”

“Yampun, nak … makasih banyak, le!”

Sari menatap Aris dengan mata berkaca-kaca. Ia merasa dunia ini tiba-tiba berputar sangat cepat. Pemuda yang dulu diremehkan sebagai anak putus kuliah, kini dalam sekejap menjadi mitra hotel termewah di kota.

**

Dalam perjalanan pulang menuju Desa Sukacita, suasana di dalam bak mobil pickup terasa aneh. Wak Darmo beberapa kali melirik uang hasil penjualan yang disimpan Aris di dalam tas hitam lusuhnya. Sementara di sampingnya, Sari duduk diam sambil memegang satu buah tomat sisa panen yang tadi tidak ikut dijual.

Tatapan mereka penuh penasaran sebagai anak bapak pikiran mereka cuma satu: bagaimana rasa sayuran dari milik Aris.

Pasalnya itu dijual seharga 75 ribu! Harga yang begitu mahal bahkan untuk sekelas supermarket saja jarang. Memang sayuran aris seenak apa sampai bisa semahal itu?

Namun keduanya sungkan bertanya langsung, itu jelas ia tidak enak dengan Aris juga mereka sudah dapat hasil bagi masak minta lebih. Walau Sari adalah teman masa ciliknya dia juga gak enak.

Di sisi lain, Aris yang sedang menyetir hanya melirik sekilas ke arah mereka sebelum tersenyum kecil.

“Kalian penasaran rasanya?”

Wak Darmo langsung batuk kecil.

“Eh? Enggak kok—”

“Bohong amat, Wak.”

Sari langsung menunduk malu. 

Aris tertawa pelan. “Tenang aja. Kebetulan tadi gue sengaja nyisain sebagian kecil buat dimakan sendiri.”

“Hah? Serius?” mata Sari langsung berbinar. Aris tersentak terkejut pasalnya tiba-tiba gadis itu bersemangat.

“iya, malam ini kita masak rame-rame aja.”

Malam harinya, rumah keluarga Sari yang sederhana mendadak ramai. Ibu Sari sampai bingung melihat Aris datang membawa sekeranjang sayuran segar yang warnanya bahkan terlihat berbeda dibanding sayur biasa di pasar.

Aris tidak sendirian, Emi dan ibunya ikut datang melihat bagaimana hasl tani milik Aris yang dia juga sudah dengar dari anaknya sendiri dapat hasil 75 ribu perkilo!

Bu Ratna, sampai berkali-kali mengusap matanya melihat uang tunai yang diletakkan Aris di atas meja kayu. Seumur hidupnya mendampingi almarhum suaminya bertani, ia belum pernah melihat lembaran uang sebanyak itu hanya dari hasil menjual sawi dan tomat.

"Ris, ini beneran uang halal kan? Bukan hasil pesugihan atau gimana?" tanya Bu Ratna dengan suara bergetar, separuh bangga separuh ngeri.

Emi langsung menyambar lengan ibunya. "Ibu ini gimana sih! Tadi Emi lihat sendiri Kak Aris keringatan di ladang. Ini hasil kerja keras, Bu! Dan lihat nih sayurnya, cantik banget kan?"

Di dapur, Sari dan ibunya mulai sibuk menyiapkan penggorengan. Sesuai saran Aris, mereka tidak menggunakan banyak bumbu. Cukup bawang putih, sedikit garam, dan cabai hasil panen Aris. Mereka ingin membuktikan apakah harga 75.000 per kilo itu memang masuk akal atau hanya keberuntungan semata.

Begitu sawi hijau itu masuk ke dalam wajan panas, aroma yang keluar sungguh di luar nalar. Biasanya, sawi yang ditumis mengeluarkan bau langu hijau yang khas, tapi sayur milik Aris ini justru mengeluarkan aroma segar yang manis, hampir menyerupai wangi jagung muda yang baru dipetik.

"Lho, ini kok wanginya enak banget ya?" Ibu Sari terheran-heran sambil mengaduk tumisan tersebut.

Sari segera menghidangkan tumis sawi dan potongan tomat segar di atas meja. Semua orang berkumpul mengelilingi piring itu dengan wajah penuh antisipasi. Wak Darmo mengambil suapan pertama. Ia mengunyah perlahan, lalu tiba-tiba matanya membelalak.

*KREZZZ!*

Suara renyah batang sawi itu terdengar jelas di telinga semua orang.

"Astaga... ini... ini sawi atau buah?" gumam Wak Darmo takjub. "Manis banget! Gak ada rasa pahit-pahitnya sama sekali, padahal ini cuma pake garam sedikit."

Sari menyusul mencicipi. Matanya yang bulat seketika berbinar-binar. "Ris! Ini gila! Rasanya segar banget di tenggorokan, terus teksturnya kenyal tapi lembut. Tomatnya juga... manisnya pas, kayak makan buah kualitas impor!"

Emi dan Bu Ratna tidak mau ketinggalan. Dalam sekejap, piring yang tadinya penuh itu ludes tak tersisa. Bahkan kuah tumisannya pun diperebutkan untuk disiram ke atas nasi hangat.

"Sekarang Ibu percaya kan?" goda Aris sambil menyeruput teh hangatnya. "Tanah kakek itu punya potensi besar, Bu. Ini baru awal."

Di tengah suasana hangat itu, Aris diam-diam membuka notifikasi sistem yang muncul di sudut matanya.

[DING!]

[Efek Samping Cairan Dewa Terdeteksi!]

[Siapa pun yang mengkonsumsi hasil panen Anda akan mengalami pemulihan stamina 15% dan peningkatan kesehatan jangka panjang.]

Aris tersenyum puas. Jadi gitu cairan dewa memang gak kaleng-kelang buka hanya memberikan penghasilan yang lebih dari pekerjaannya dulu, setiap makan juga dapat pemulihan stamina kalau gini mah sudah pasti dia bakal laris terus.

 Ia melihat wajah Wak Darmo yang tadinya lesu karena kelelahan menyetir ke kota, kini tampak lebih bugar dan segar.

“Aneh … kok tiba-tiba tenagaku kembali ya, rasanya seperti dipulihkan!”

“Setuju, aku juga gitu yah” ucap Sari makan dengan nafsu.

Semua orang gak tahu bahwa itu magic dari kemampuan sistem dari caira dewa yang dikompres dari sampah. Sebentar kalau dipikir-pikir lagi bukankah itu artinya dia membuat cairan bernutrisi dari sampah itu artinya … 

Aris hampir saja tersedak tehnya sendiri saat pikiran itu melintas.

‘​Tunggu sebentar... Cairan Dewa ini kan hasil penyulingan dari limbah kimia, plastik, dan sampah busuk yang dibuang Boss Malik. Secara teknis, gue baru saja kasih makan keluarga Sari—pake 'sari pati' sampah?!

​Aris menatap piring yang sudah bersih kinclong itu dengan tatapan horor yang tertahan. Namun, ia segera menggelengkan kepala pelan. Nggak, nggak. Sistem kan sudah bilang itu 'Penyulingan'. Artinya semua racun dan materi buruk sudah diurai total menjadi energi murni. Buktinya mereka semua malah jadi lebih sehat.

Aris menggelengkan kepala sekali lagi, lebih baik dia tidak terlalu memikirkan hal yang merepotkan gitu

1
Mamat Stone
tetap semangat dan Jaga kesehatan /Good/
Manusia Biasa: amin walau otaknya udah agak eror

terimakasih sudah membaca kak🤣
total 1 replies
Mamat Stone
sehat selalu Thor /Ok/
Hajir Pemburu
di tunggu kelanjutanya thor.
Manusia Biasa: baik tunggu besok ya ka. kemungkinan up 4-5 bab
total 1 replies
ラマSkuy
wah Thor masih banyak typo ya dan kadang ada juga penamaan karakter yang kebalik contohnya di bab ini di akhir
Manusia Biasa: waduh baik tak koreksi kak. garap dua novel sekaligus emang resikonya gini/Sob/🙏
total 1 replies
Mamat Stone
Jagoan Neon /Casual/💥💥
Mamat Stone
Pejantan Tangguh /CoolGuy/💥💥
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
sang Dermawan 🤩
Mamat Stone
berbagi itu indah 😍
ラマSkuy
kembali jadi warga biasa, kaya pria so.....
ラマSkuy: maaf gak dilanjut kata katanya, ada tukang bakso bawa HT jadi ngeri 🤣🤣🤣
total 2 replies
Mamat Stone
/Chuckle/
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Sneer/
Mamat Stone
/Drool/
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
👻🤣👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!