NovelToon NovelToon
Sisi Misterius Salsa

Sisi Misterius Salsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15.Tailor yang terkunci.

Malam semakin larut, dan jalanan kota mulai sepi. Hanya terdengar suara langkah kaki mereka berdua yang terdengar jelas di trotoar. Salsa berjalan di depan dengan penuh semangat, matanya terus mengikuti sosok kucing putih yang berjalan anggun namun cepat, melompat dari satu tempat ke tempat lain seolah menunjukkan jalan.

Rian berjalan di belakangnya, tangannya waspada memegang gagang senjata di pinggang meski tidak terlihat. Wajahnya tetap datar, tapi matanya terus mengawasi sekeliling. Di dalam hati, ia masih gelisah. Apa sebenarnya kucing ini? Kenapa dia bisa melihatnya? Dan mau dibawa ke mana kita?

Mereka berjalan cukup jauh, melewati beberapa blok perumahan dan toko-toko yang sudah tutup. Akhirnya, kucing putih itu berhenti di depan sebuah bangunan ruko dua lantai. Papan nama di atasnya tertulis "Tailor Jaya"—toko penjahit jas dan pakaian pria yang cukup terkenal.

Toko itu gelap gulita. Pintu besi bergelombang sudah diturunkan setengahnya, dan tirai di dalam tertutup rapat. Tidak ada tanda-tanda ada orang di sana.

Kucing itu duduk manis tepat di depan celah pintu besi itu, lalu menoleh ke arah Salsa dan mengeong panjang seolah berkata "Masuklah."

"Kucing itu masuk ke sini, Kak!" Ucap Salsa sambil menunjuk ke arah toko itu. Saat ia sudah siap ingin merayap masuk lewat celah di bawah pintu besi yang belum tertutup penuh.

"Hei! Jangan sembarangan!" Rian dengan sigap menarik tangan Salsa, menariknya mundur agar tidak terlalu dekat. Wajahnya tampak serius. "Ini properti orang lain. Kita tidak boleh seenaknya masuk tanpa izin. Itu pelanggaran hukum, Salsa. Apalagi malam-malam begini, bisa dikira maling."

Salsa menghentikan gerakannya, tapi ia tidak mau pergi. Ia menatap kucing itu yang kini tampak gelisah, berputar-putar dan mengeong lebih keras lagi.

"Tapi Kak... kucing ini bersikap aneh, seperti sesuai terjadi didalam toko ini," jawab Salsa meyakinkan.

"Tidak kita pergi, aku ini polisi bukan pencuri. Ayo kita pergi!, toko kosong begini mana mungkin ada yang anehdan lihat pintu tertutup rapat dari luar. Itu berarti pemiliknya tidak ada di tempat. "

Tiba-tiba hidung Salsa mengerut. Ia mencium sesuatu yang sangat tajam dan tidak sedap.

"Eh? Kak Rian..."

"Apa lagi?"

"Salsa mencium... bau asap yang aneh. Bau gosong yang pekat... bau arang!" kata Salsa sambil menghirup udara lebih dalam. "Bau itu keluar dari dalam toko ini! Itu bukan bau kebakaran kayu biasa, tapi bau arang yang dibakar dalam ruangan tertutup!"

Rian yang awalnya cuek, kini wajahnya berubah. Sebagai polisi, indranya pun tajam. Ia ikut mencium aroma samar yang terbawa angin malam. Aroma karbon monoksida yang kuat.

"Itu berbahaya," gumam Rian. "Jika ada orang di dalam dan membakar arang sembarangan, mereka bisa keracunan dan mati lemas."

Tanpa pikir panjang, rasa curiga dan tugasnya sebagai penegak hukum mengalahkan rasa takutnya pada hal-hal gaib. Ia mendekatkan wajahnya ke celah-celah pintu besi dan tirai kaca.

"Salsa, kau punya senter di HP kan? Sorotin ke dalam!" perintah Rian cepat.

Salsa segera mengaktifkan lampu flash di ponselnya dan menyinari celah tersebut. Cahaya kecil itu menerobos kegelapan di dalam.

"Ada apa? Kau lihat apa?" tanya Rian tidak sabar.

"Ada... ada orang, Kak!" seru Salsa terkejut. "Di pojok ruangan, dekat meja jahit! Ada seorang nenek terbaring di kursi goyang! Dia diam saja!"

Seketika itu juga, Rian tahu situasinya darurat. Tidak ada waktu untuk mencari kunci atau menunggu tim lain.

"Minggir!" seru Rian.

BRAKK!!

Dengan satu tendangan keras menggunakan tumit sepatunya, kaca pintu utama pecah berkeping-keping. Suara pecahan kaca memecah keheningan malam. Rian langsung merangkul Salsa memindahkannya ke belakang tubuhnya agar tidak terkena pecahan kaca, lalu ia merangsek masuk dengan sigap.

"Siapa di sana?!" teriak Rian waspada, tangannya sudah siap menarik senjata namun kosong.

Ia langsung mencari saklar lampu di dinding.

Klik.

Lampu neon di langit-langit menyala terang, menerangkan seluruh isi toko penjahit itu.

Benar saja. Di sudut ruangan, dekat jendela yang tertutup rapat, terlihat seorang nenek tua terbaring lemas di lantai. Wajahnya pucat pasi, mata terpejam, dan napasnya sangat lemah dan terengah-engah. Tepat di lantai di hadapan nenek itu, terdapat sebuah panggul tanah liat besar yang berisi arang yang masih membara merah membara, mengeluarkan asap tipis yang sangat beracun.

"Nenek!!" seru Salsa langsung berlari mendekat, mengabaikan bahaya asap itu.

"Jangan dekat-dekat dulu! Asapnya beracun!" Rian segera bertindak cepat. Ia berlari ke semua jendela dan pintu, membukanya lebar-lebar agar sirkulasi udara masuk. Angin malam segera masuk menggantikan udara panas dan beracun di dalam ruangan.

Rian tidak membuang waktu. Dengan sigap ia mengambil sapu tangan yang ada di saku jasnya, lalu menggunakan tangan yang tertutup kain itu untuk memegang panggul tanah liat berisi arang yang masih membara. Ia mengangkatnya dengan hati-hati dan membawanya keluar ke halaman, mematikannya dengan air agar tidak lagi mengeluarkan asap mematikan, namun tetap memastikan tidak ada sidik jarinya yang tertinggal di barang bukti itu.

Sementara itu, Salsa berjongkok di samping tubuh nenek tua itu. Ia mengusap punggung dan wajah nenek pelan-pelan, mencoba membangunkan kesadarannya.

"Nenek... ayo bangun Nek... Nenek bangun..." bisik Salsa lembut.

Matanya menyapu sekeliling ruangan, dan tepat di samping kepala nenek, ia melihat sosok kucing putih itu duduk dengan tenang. Kucing itu menatap Salsa dengan mata birunya yang dalam, lalu mengusapkan kepalanya ke pipi nenek tua yang tak sadarkan diri.

Salsa tersenyum sedih. Ia mengerti sekarang. Kucing ini adalah arwah peliharaan kesayangan nenek yang mungkin sudah mati lebih dulu, tapi jiwanya tetap setia menjaga tuannya. Dan karena tidak bisa menolong sendirian, kucing itu meminta bantuan padanya.

"Jangan khawatir... kita akan selamatkan Nenek," janji Salsa pelan pada sosok tak kasat mata itu.

Rian kembali masuk ke dalam ruangan, wajahnya tampak serius dan penuh tanda tanya. Ia segera mengeluarkan radio komunikasi dan HP-nya.

"Kontrol, ini Rian. Ada kasus kemungkinan percobaan bunuh diri atau keracunan gas di Tailor Jaya. Kirimkan ambulans dan tim unit segera!" perintah Rian tegas.

Tak lama kemudian, suara sirine ambulans dan polisi mulai terdengar mendekat. Nenek pun perlahan sadar dan mulai bisa bernapas lebih lega berkat sirkulasi udara yang sudah dibuka Rian. Setelah penanganan medis singkat, nenek pun dibawa ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut.

Suasana di sekitar toko mulai ramai dengan petugas kepolisian yang melakukan olah tempat kejadian perkara.

"Salsa," panggil Rian mendekati gadis itu. "Kau pulang duluan ya. Aku harus tinggal di sini sebentar untuk mengurus laporan dan memeriksa kasus ini lebih dalam. Ada yang mengganjal di hatiku soal kejadian ini."

Rian lalu menyerahkan sebuah gantungan kunci lengkap dengan kunci pintu utama dan kunci pintu samping rumahnya.

"Ini kuncinya. Masuklah sendiri dan kunci rapat-rapat. Jangan tunggu aku."

Salsa menerima kunci itu, namun ia tidak langsung beranjak. Matanya tertuju pada sebuah bingkai foto yang tergeletak di meja dekat tempat nenek tadi berbaring. Foto itu menampilkan wajah nenek bersama kucing itu dan seorang pria muda yang tersenyum bahagia.

"Kak..." Salsa mengambil foto itu. "Lihat ini."

"Apa itu?"

"Ini foto Nenek sama seorang pria dan arwah kucing itu mirip di foto. Kucing putih tadi... dia menunjuk-nunjuk ke arah foto ini terus," kata Salsa serius. "Salsa yakin, pria ini petunjuk penting. Insiden Nenek bukan cuma soal kesepian atau mau bunuh diri sembarangan. Ada hubungannya sama orang ini."

Rian mengerutkan kening, menerima foto itu dan mengamatinya. Ia ragu, tapi melihat keyakinan di mata Salsa dan juga insting polisi-nya yang mengatakan ada yang tidak beres, ia pun mengangguk.

"Baiklah. Aku akan periksa siapa pria ini. Tapi sekarang kau harus pulang, mengerti?"

"Iya, Kak. Hati-hati ya!"

Salsa pun berjalan pulang dengan perasaan campur aduk, sementara Rian berdiri memegang foto itu, bertekad mengungkap misteri di balik insiden malam ini.

1
💝F&N💝
lanjut.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
💝F&N💝
ini kapan up lagi
paijo londo
thor mampir kyaknya seru nih🤭🤭
💝F&N💝
up lagi
💝F&N💝
good👍👍👍👍👍 aku suka alurnya.
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍
Sahabat Oleng
aku mampir thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!