Namanya Esterlita Hanggara Suparapto, putri bungsu pengusaha transportasi terkenal Anthony Hanggara Suprapto dan Hagia Selvia Suprapto.
Ester adalah gadis cantik berusia 20 tahun, karena statusnya yang merupakan putri bungsu ia mendapatkan kasih sayang berlebih dari kedua orang tuanya dan kedua kakak perempuannya.
Namun ternyata perlakuan itu menjadikan Esterlita menjadi sosok nona muda dengan segudang sifat dan sikapnya yang menyebalkan. Estelerlita menjadi sosok yang sangat arrogant dan suka merendahkan orang lain.
Pergaulannya kian liar,
Keributan demi keributan seringkali ia ciptakan, Titik kesabaran tuan Anthony mencapai batas ketika ia bertemu dengan sang putri di loby hotel bersama seorang pria yang sangat tidak ia suka.
Tuan Anthony marah bukan main,
keputusan di buat,
Jika Ester tak ingin kehilangan haknya atas semua fasilitas dari sang ayah maka ia harus mau menikah dengan Yoga Setyawan.
Supir pribadi sang ayah,
brugh....
Ester pingsan....
apa yang akan terjadi.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7 bibit kebencian
Malam kian larut ketika pintu kamar Ester terbuka dari luar,
Jarum jam di dinding menunjuk angka satu dini hari,
Tuan Anthony terlihat melangkah masuk dan mendekat pelan ke arah pembaringan.
Di pinggir pintu yang sedikit terbuka, sang istri berdiri di sana.
Luka di kening Ester sungguh membuatnya dan nyonya Hagia khawatir.
Sejak sore tadi keduanya sudah sekuat tenaga menahan diri untuk tidak datang dan menemui Ester.
Tuan Anthony menatap sendu wajah lelap Ester.
Wajah putrinya itu saat terlelap terlihat begitu damai,
Sepertinya luka di keningnya tak cukup membuat tidurnya terganggu.
" kenapa kau nakal sekali....apa papa harus menikahkanmu agar kau mau berubah ?! " cicit tuan Anthony lirih nyaris tak terdengar.
Setelah cukup lama berada di kamar itu dan memastikan kondisi sang putri yang baik baik saja,
Tuan Anthony melangkah keluar kamar dan kembali menutup pintu dengan hati hati sekali.
" bagaimana ?! Dia baik baik sajakan ?! " nyonya Hagia bertanya setelah sang suami berada di luar kamar dan pintu kamar Ester tertutup sempurna.
" jangan khawatir, dia tidur lelap....itu artinya luka di keningnya memang hanya luka ringan..." jawab tuan Anthony.
Nyonya Hagia menghela nafas lega,
" dia tidak makan malam tadi " cicit nyonya Hagia sambil mengikuti langkah sang suami menuruni anak tangga.
" biarkan saja....anggap itu sebagai pembelajaran untuk Ester,
tidak makan malam satu kali tidak akan membuatnya sakit " jawab tuan Anthony mencoba menguatkan hati untuk sedikit tega kepada Ester demi agar sang putri mau belajar dan berharap bisa sedikit berubah ke arah yang lebih baik.
" hemmm....." nyonya Hagia tak lagi bisa berbuat apa apa jika sang suami sudah memutuskan.
Tak lama kedua pasangan paruh baya terlihat masuk ke dalam kamar meraka.
Malam terus kian beranjak, udaranya kian terasa dingin menusuk tulang.
Di dalam kamar, tepatnya di bawah selimut tebalnya.
Ester menggeliat,
Perutnya terasa perih,
Gadis itu bangun dan memeluk perutnya, ia ingat ia tidak makan malam tadi sebelum tidur.
Ester mendongakkan kepalanya,
Jam di dinding kamarnya menunjuk angka dua lebih.
" ckk....
teganya papa dan mama benar benar membiarkan aku tidak makan malam " decaknya kesal.
Ester berniat kembali tidur dan menahan rasa laparnya,
Tapi ternyata ia tak tahan. Rasa perih di perutnya begitu menyiksa.
Ia sudah coba mengakalinya dengan minum air putih,
tapi rasa perih itu tak kunjung hilang.
" ckk....."
Akhirnya Ester menyibak selimutnya dan turun dari ranjang setelah berdecak sebal.
Ia melangkah ke arah pintu kamar dan keluar. Ester terus melangkah menuruni anak tangga kemudian langsung menuju dapur.
Klik
" hah....!!! " Ester terpekik kaget ketika ia menghidupkan lampu dapur dan ketika lampu menyala ia melihat seseorang telah berdiri tepat di hadapannya.
Posisi keduanya begitu dekat hingga spontan keduanya sama sama mundur kebelakang.
" sedang apa kau di sini malam malam begini hah ?
mau maling ya....?! " sentak Ester ketus pada sosok yang baru saja membuatnya jantungan itu.
Sosok itu kian membuatnya jengkel ketika ia teringat sang papa yang tak kunjung mendatanginya namun malah terlihat berbincang dengan seseorang itu.
" maaf....
aku hanya mau mengambil air putih...bukan mau maling.
Aku haus dan tidak air putih di kamarku " jawab seseorang itu yang tidak lain adalah Yoga sembari menunjukkan botol air minumnya kepada Ester.
Ia sedikit tersinggung dengan ucapan Ester barusan.
" dan botol ini milikku, aku membawanya dari rumah " lanjut Yoga lagi menjelaskan tanpa di minta.
" bodo...emang aku perduli...." jawab Ester ketus.
Yoga menghela nafas,
" permisi..." ucapnya kemudian sembari melangkah dengan posisi miring melipir ke sisi kosong Ester.
Ester melirik ketus kepada Yoga yang melewatinya dengan jelas menjaga jarak padanya.
Rasa tidak suka yang identik dengan rasa benci seolah mulai muncul di hatinya.
" tunggu..." panggilnya membuat Yoga berhenti.
" ya..."
Ester memutar tubuhnya dan melangkah ke arah Yoga,
Kembali keduanya saling berhadapan.
" jawab pertanyaanku dengan jujur " ucap Ester sambil menatap Yoga tajam,
Posisi mereka yang berhadapan dan lumayan dekat membuat Yoga bisa kian jelas melihat wajah cantik di hadapannya itu.
Mata bulat yang nampak bersinar terang seperti bulan purnama.
Alis yang terukir indah dan panjang. hidung mancung yang begitu rapi.
Dan satu lagi yang kian membuatnya gemetaran. Bibir mungil semerah cerry yang begitu nampak begitu indah di matanya.
Rasanya ia tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.
Ia bukan pemuda yang tertutup meski ia juga membatasi pergaulannya terutama dengan lawan jenis.
Tapi meski begitu,
Ia juga masih sering bergaul dan bertemu dengan banyak wanita cantik,
Tapi rasanya....
Tak pernah sekalipun ia merasa sekagum ini.
Yoga merasa salah tingkah, untuk sejenak otaknya seakan berhenti bekerja.
Jantungnya tiba tiba berdetak kencang seperti genderang yang mau perang.
Keringat dingin sontak membasahi keningnya, beruntung ini malam hari dan pencahayaan lampu dapur tak seterang itu hingga keringat di keningnya tak bisa terlihat.
" a..apa ?! " tiba tiba ia menjadi gagap
" apa niatmu datang kemari ?! untuk bekerja atau merebut sesuatu yang bukan hakmu ?! " lanjut Ester lagi,
Nada bicaranya kian terdengar ketus dan mengintimidasi sosok di hadapannya.
Yoga sedikit mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan gadis cantik tapi angkuh di hadapannya itu.
" apa maksudmu...nona ?! " tanya Yoga kemudian setelah ia mati matian menenangkan dirinya.
" jangan berlagak bodoh,
aku bukan anak kecil yang bisa kau bohongi....
aku tahu betul manusia macam apa kau ini " jawab Ester kian pedas,
Yoga sedikit mengangkat alisnya demi mendengar ucapan Ester yang sarat bernada tuduhan itu.
" memangnya...
orang macam apa aku ini ?! " tanyanya kemudian.
Ester kian tajam menatap Yoga,
" penjilat...." jawab Ester ketus, Yoga terperangah mendengarnya.
" tapi kau salah jika kau berpikir dengan menjilat papaku kau akan mendapatkan segalanya....
jadi sebelum kau malu....
sebaiknya batalkan niatmu untuk menjilat papaku..." lanjut Ester,
Tak lama gadis itu memutar tubuhnya dan melangkah pergi.
Klik....
Ester mematikan lampu dapur begitu saja dan membuat dapur kembali gelap seperti semula. Ia tak perduli meski di dapur sana masih berdiri seseorang yang terdiam seperti patung.
Selanjutnya ia melangkah ke arah tangga dan berniat kembali ke kamar.
Ia membatalkan niatnya untuk mencari makan.
Sementara Yoga,
Sepeninggal Ester ia masih setia berdiri mematung di dalam gelap.
Ia tak tahu harus bagaimana.....ia bingung dengan tuduhan yang baru saja di lontarkan kepadanya barusan oleh putri tuan Anthony itu.
Yoga mencoba mengingat hal yang mungkin telah ia lakukan dan menyinggung gadis itu. Tapi ia tak ingat apapun.
Selain...
Sejak di awal pertemuan mereka, Gadis itu sudah seperti tak suka padanya....
" memangnya....
apa salahku ?! kami tidak saling mengenalkan sebelumnya ?!
Tapi kenapa dia bersikap seperti sudah sangat bermasalah denganku ?! " cicit Yoga pelan.
" apa tadi katanya....?!
penjilat.....?!
aku.....?! " Yoga kembali bercicit ria sambil menuding dirinya sendiri.
makasih udah up di hari Minggu ya Kak Thara, aku beneran ga nyangka, love sekebon deh😍😍😍😍
ngakuuuuuuuuuu udah mulai tersepona dan teryoga yoga🤣🤣🤣