Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.
Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.
Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.
Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?
Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh Empat
Tatapan Arsaka masih tertuju pada Hana yang sibuk di depan kompor. Aroma soto yang hangat memenuhi dapur, bercampur suara kecil dari sendok dan panci yang beradu pelan.
“Aku ini kenapa ya?” batinnya lagi.
Belakangan ini pikirannya terasa aneh. Ia jadi sering pulang lebih cepat. Lebih sering memperhatikan keadaan rumah. Bahkan sekarang, hanya melihat Hana memasak saja sudah membuat suasana hatinya terasa berbeda. Padahal biasanya ia tidak pernah peduli hal-hal seperti itu.
Namun Arsaka segera membuang pikirannya jauh-jauh. Ia mengambil gelas airnya lalu berjalan keluar dari dapur sebelum Hana menyadari tatapannya terlalu lama tertahan pada wanita itu.
Sementara itu, Han yang berdiri di dekat meja dapur diam-diam memperhatikan perubahan kecil atasannya tersebut.
Meski wajah Arsaka tetap datar seperti biasa, Han cukup mengenalnya selama bertahun-tahun untuk menyadari sesuatu.
“Pak Arsaka mulai berubah sejak Bu Hana datang,” batinnya pelan. Namun tentu saja ia tidak mungkin mengatakannya keras-keras.
Tak lama setelah sarapan selesai, Han kembali menjalankan tugas yang diberikan Arsaka semalam.
Ia sudah mendapatkan semua informasi tentang Farhan. Mulai dari alamat kantor, usaha yang sedang dijalankan, hingga rencana pria itu yang ingin bekerja sama dengan perusahaan milik Arsaka. Kali ini Tuhan berpihak pada Han, karena kebetulan Farhan mengajukan kerjasama.
Dan pagi itu, Han memutuskan menghubungi Farhan secara langsung. Di sebuah kantor sederhana milik Farhan, pria itu tampak terkejut ketika menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal.
“Halo?”
“Selamat pagi. Saya Han, asisten pribadi Pak Arsaka.” Mata Farhan langsung membesar.
“Oh! Pak Han?” suaranya langsung berubah antusias. “Selamat pagi, Pak!”
“Saya ingin bertemu membahas proposal kerja sama yang sebelumnya Anda ajukan.”
Farhan langsung berdiri dari kursinya saking semangatnya. “Tentu, Pak! Kapan saja saya siap!”
Han menjelaskan tempat dan waktu pertemuan mereka siang itu di sebuah restoran bisnis yang cukup terkenal di pusat kota. Begitu telepon ditutup, Farhan langsung tersenyum lebar.
“Syukurlah …,” gumam Farhan pelan.
Sudah lama ia mencoba mencari kesempatan agar perusahaannya bisa bekerja sama dengan perusahaan besar milik Arsaka. Jika kerja sama itu berhasil, bisnisnya bisa berkembang jauh lebih cepat. Bahkan mungkin hidupnya akan berubah total.
Tanpa sadar, Farhan langsung membayangkan masa depan cerah bersama Chika dan calon anak mereka. “Ini kesempatan besar,” ucapnya pelan.
Siang harinya. Farhan datang lebih awal ke restoran yang sudah ditentukan. Ia mengenakan kemeja terbaiknya dan beberapa kali merapikan rambut dengan gugup.
Tak lama kemudian, Han datang. Pria itu berjalan tenang dengan setelan rapi berwarna gelap. Wajahnya tetap datar dan profesional seperti biasa. Farhan langsung berdiri menyambutnya.
“Pak Han!” sapanya ramah sambil menjabat tangan pria itu.
Han membalas seperlunya. “Maaf membuat Anda menunggu.”
“Tidak sama sekali, Pak. Saya juga baru datang.”
Mereka duduk berhadapan. Setelah memesan minuman, pembicaraan tentang bisnis langsung dimulai.
Farhan menjelaskan banyak hal tentang perusahaannya dengan penuh semangat. Ia berusaha meyakinkan bahwa kerja sama ini akan menguntungkan kedua belah pihak.
Han mendengarkan dengan tenang sambil sesekali membuka beberapa dokumen di tablet miliknya. Sampai akhirnya, setelah pembicaraan cukup panjang, Han menutup tabletnya perlahan.
“Ada satu syarat dari Pak Arsaka.”
Farhan langsung menegakkan tubuhnya. “Syarat?”
Han mengangguk tipis. “Anda harus sudah resmi berpisah dari istri pertama Anda.”
Kalimat itu membuat wajah Farhan langsung berubah. “Maaf, maksudnya apa?” tanyanya pelan, sedikit terkejut.
Han tetap tenang. “Pak Arsaka tidak menerima kerja sama dengan orang yang memiliki masalah hukum atau rumah tangga yang belum selesai.”
Farhan tampak gugup sesaat. “Tapi … dari mana Pak Han tahu soal itu?”
Han menatap Farhan lurus. “Setiap calon rekan kerja akan kami selidiki terlebih dahulu. Sampai ke kehidupan pribadinya.”
Farhan langsung terdiam. Han kembali melanjutkan dengan nada profesional.
“Pak Arsaka percaya, jika seseorang tidak bisa membereskan urusan rumah tangganya sendiri, bagaimana dia bisa menjalankan bisnis besar dengan baik?”
Ucapan itu membuat Farhan tak bisa langsung menjawab. Tangannya mengepal pelan di bawah meja. Beberapa detik suasana menjadi hening.
Lalu Farhan menghela napas panjang. “Sebenarnya .…” Ia mulai bicara pelan, “Aku bahkan tidak tahu di mana istri pertamaku berada sekarang.”
Han tetap diam mendengarkan. Farhan tampak menarik napas sebelum memulai ucapannya lagi.
“Karena itu aku menikah lagi tanpa sempat mengurus surat cerai.”
Han mengangguk tipis seolah sudah mengetahui semuanya. “Kalau begitu,” ucapnya datar, “Setelah surat cerai resmi selesai, baru kita bisa membahas kelanjutan kerja sama ini.”
Farhan tampak berpikir beberapa saat. Jujur saja, ia merasa syarat itu sedikit aneh. Namun di sisi lain, kesempatan bekerja sama dengan perusahaan Arsaka terlalu besar untuk dilewatkan.
Akhirnya ia mengangguk pelan. “Baiklah … kalau memang itu maunya Pak Arsaka.”
Han menyandarkan tubuhnya santai. “Kalau ada kesulitan mengurus perceraian, saya bisa membantu.”
Farhan mengangkat kepala. Ia merasa Han sedikit mendesak mengenai perceraian ini, tapi tak berani bertanya atau mengeluarkan pendapat.
“Pengacara perusahaan kami siap membantu melancarkan semuanya,” lanjut Han tenang. “Apalagi kalau Anda memang menginginkan perceraian ini. Prosesnya pasti akan jauh lebih mudah.”
Farhan terdiam sejenak. Ucapan itu memang terdengar membantu. Dan sebenarnya, ia sendiri juga memang ingin segera menyelesaikan semuanya.
Bagaimanapun, Chika sedang mengandung anaknya sekarang. Ia ingin segera menikah resmi tanpa masalah hukum menggantung.
“Baik, Pak Han,” jawab Farhan akhirnya. “Kalau saya butuh bantuan, nanti saya hubungi Bapak.”
Han mengangguk singkat. “Kalau begitu saya permisi.”
Pertemuan itu selesai tidak lama kemudian. Han berdiri lalu berjalan pergi meninggalkan restoran dengan langkah tenang.
Sementara Farhan masih duduk di tempatnya. Tatapannya kosong menatap meja di depannya.
Pikirannya terus memutar ucapan Han tadi. “Harus resmi bercerai dulu .…”
Keningnya sedikit berkerut. “Apa hubungan perceraianku dengan kerja sama bisnis?” gumamnya pelan.
Semakin dipikirkan, semakin aneh rasanya. Namun, beberapa saat kemudian Farhan menggeleng pelan, mencoba menepis pikirannya sendiri.
“Ah, sudahlah.”
Yang penting baginya sekarang adalah masa depan bisnisnya. Jika perceraian resmi bisa membuat kerja sama itu berjalan lancar, maka ia akan mengurusnya secepat mungkin.
Lagipula, ia memang harus segera menyelesaikan status pernikahannya dengan Hana. Farhan menghembuskan napas panjang sambil menyandarkan tubuh ke kursi.
“Aku juga harus cepat mengurus surat cerai,” gumamnya pelan. “Supaya bisa menikah resmi dengan Chika.”
Tangannya perlahan menyentuh ponselnya yang menampilkan foto Chika di layar. “Anakku nanti juga butuh akta kelahiran.”
Farhan kembali terdiam beberapa saat. Tanpa ia sadari, langkah yang baru saja ia setujui perlahan mulai menyeretnya pada sesuatu yang jauh lebih besar. Sesuatu yang belum ia ketahui sama sekali.
tanyak tuh anak yang dikandung istrimu anak siapa
😄
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
gimana mukanya chika saat tahu klau farhan sudah tahu klau chelsea bukan anaknya
ketawan
panik ga,panik donk ahjh🫣🤣🤣
eh..ga boleh ketawa ya
ini dia lagi sedih loo
lanjut thor 🙏
chika siap2 kebohonganmu terbongkar