Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(ARC 1) Chapter 7: Kebenaran Terungkap
Sore itu… terasa berbeda.
Cahaya matahari masih menyentuh ujung pepohonan, memantulkan warna keemasan yang biasanya hangat. Namun hari ini, warna itu tampak lebih redup—seperti sesuatu yang tertahan di baliknya.
Angin tidak bergerak.
Daun-daun diam.
Sungai yang biasanya mengalir dengan suara halus… kini terdengar jauh.
Seolah seluruh hutan—
menahan napas.
Grachius berdiri di dekat gubuk.
Diam.
Tatapannya mengarah ke langit, namun tidak benar-benar melihatnya.
Ada sesuatu yang terasa… tidak pada tempatnya.
Bukan di luar.
Di dalam.
Di belakangnya, Purus berdiri.
Lebih dekat dari biasanya.
Namun tidak berbicara.
Untuk beberapa saat, tidak ada suara.
Hanya keheningan yang… terlalu penuh.
Lalu—
“Namamu… Grachius.”
Suara Purus memecah sunyi.
Tidak keras.
Namun cukup untuk mengubah segalanya.
Grachius tidak menoleh.
Ia hanya menjawab pelan—
“...aku tahu.”
“Namun itu bukan seluruh dirimu.”
Kalimat itu jatuh perlahan.
Seperti batu kecil yang menciptakan riak yang tidak terlihat.
Grachius tetap diam.
Tidak menyela.
Tidak bertanya.
Namun sesuatu di dalam dirinya… mulai bergerak.
Purus melangkah satu langkah ke depan.
“Selama ini, kau hidup sebagai manusia.”
Ia berhenti.
“Dan itu tidak salah.”
Hening sejenak.
“Namun kau juga bukan sepenuhnya manusia.”
Grachius menutup matanya perlahan. Napasnya tetap stabil. Namun lebih dalam.
“...lanjutkan.”
Purus menatapnya.
Tidak ada cara yang ringan untuk mengatakan ini.
Namun tidak ada alasan untuk menunda.
“Ayahmu…”
Ia berhenti sejenak.
“…adalah dewa.”
Angin yang sebelumnya diam—
bergerak tipis.
Grachius tidak bereaksi secara langsung.
Namun jari-jarinya sedikit menegang.
“Dewa Matahari.”
Nama itu tidak diucapkan seperti gelar.
Melainkan seperti sesuatu yang pernah ada.
“Sonne.”
Cahaya sore meredup sedikit.
Tidak terlihat jelas.
Namun terasa.
“Dan ibumu…”
Purus melanjutkan—
“…adalah manusia.”
Sederhana.
Namun cukup.
“Namanya Rosalia.”
Hening.
Tidak ada reaksi langsung.
Tidak ada pertanyaan.
Grachius berdiri—
seperti sebelumnya.
Namun sesuatu di dalam dirinya… tidak lagi sama.
“...aku mengerti.”
Suaranya tetap tenang.
Namun tidak sepenuhnya.
Purus memperhatikannya.
Grachius membuka matanya.
Menatap ke depan.
Purus melanjutkan.
“Vita yang membawamu ke sini.”
Nama itu terasa… jauh.
Namun tidak asing.
“Ia memintaku untuk melindungi mu.”
Grachius menoleh sedikit.
“Kenapa?”
Satu kata.
Namun berat.
Purus tidak langsung menjawab.
“Karena jika mereka mengetahui tentangmu, kau akan dibunuh.”
“Oleh siapa?”
“...Mereka.”
Jawaban itu tidak menjelaskan apa pun.
Namun cukup untuk tidak disederhanakan.
Grachius menatap tanah.
“Kenapa aku? Dan siapa 'mereka' itu?”
Purus diam.
Untuk beberapa saat.
Lalu—
“Karena untuk menghilangkan keberadaan Sonne sepenuhnya.”
Hening kembali jatuh.
Lebih berat.
Lebih dalam.
Grachius tidak bergerak.
Namun napasnya—
tidak lagi sama.
“...ayahku.”
Ia mengucapkannya pelan.
Seperti mencoba memahami kata itu sendiri.
“Kenapa dia tidak di sini?”
Purus menutup matanya sejenak.
“Karena dia telah dijatuhkan.”
Kata itu jatuh tanpa suara.
“Dibunuh.”
Angin berhenti.
Benar-benar berhenti.
Tidak ada daun yang bergerak.
Tidak ada suara.
“Hah?!”
Tanah di bawah kaki Grachius… bergetar tipis.
Tidak terlihat.
Namun nyata.
“...jadi aku…”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Tidak perlu.
Purus tidak menambahkan apa pun.
Karena jawaban itu—
sudah ada.
Dan sesuatu di dalam Grachius—
akhirnya… pecah.
Awalnya—
halus.
Seperti retakan kecil.
Qi di dalam tubuhnya—
yang selama ini stabil—
mulai bergetar.
Tidak terarah.
Tidak terkendali.
Angin datang kembali.
Namun bukan lembut.
Ia berputar.
Tanah di sekitarnya bergetar lebih jelas.
Batu kecil bergeser.
Debu terangkat.
Grachius tidak bergerak.
Namun tubuhnya—
tidak lagi diam.
“Grachius.”
Suara Purus tetap tenang.
“Jangan.”
Namun kali ini—
tidak cukup.
Energi itu keluar.
Tidak dalam bentuk yang rapi.
Tidak dalam aliran.
Melainkan—
ledakan.
BOOM.
Tanah retak tipis.
Angin menyapu keras.
Tekanan di udara meningkat.
Purus tetap berdiri.
Namun jubahnya bergerak liar.
“Tenangkan dirimu.”
Tidak ada respon.
Grachius mengangkat kepalanya perlahan.
Matanya terbuka.
Namun tidak sepenuhnya sadar.
Dan dari tubuhnya—
muncul cahaya.
Merah.
Api kecil.
Awalnya hanya percikan.
Namun—
ia tumbuh.
Menjalar.
Membungkus tubuhnya.
Panasnya meningkat.
Tanah di bawah kakinya menghitam.
Rumput terbakar.
“...Sonne.”
Purus berbisik pelan.
Merasakan sedikit keberadaan Sonne dari sosok Grachius.
Api itu membesar.
Berubah.
Warnanya—
menggelap.
Merah menjadi pekat.
Lalu—
hitam.
Bukan hitam biasa.
Lebih dalam.
Lebih berat.
Seolah menyerap cahaya di sekitarnya.
Udara bergetar.
Suhu meningkat drastis.
Pohon di sekitar mulai retak.
Daun-daun mengering dalam sekejap.
Purus melangkah maju—
dan berhenti.
Panasnya—
tidak bisa dilewati.
Ia tidak memaksakan.
“Grachius.”
Tidak ada jawaban.
Hanya—
energi yang terus meningkat.
Api hitam itu bergerak liar.
Tidak mengikuti arah.
Tidak mengikuti kehendak.
Hanya… ada.
Dan menghancurkan.
Grachius berdiri di tengahnya.
Tubuhnya tetap tegak.
Namun bukan karena kontrol.
Melainkan karena sesuatu yang lain.
Matanya—
tidak lagi sama.
Seperti melihat sesuatu yang tidak ada di sana.
Atau mungkin—
sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.
Tanah di bawahnya mulai retak lebih luas.
Udara terasa berat.
Sulit bernapas.
Hutan—
mulai rusak.
Purus mengamati.
Tidak panik.
Namun tidak lagi yakin.
“Ini… bukan sesuatu yang aku ajarkan.”
Gumamnya pelan.
Energi itu terus naik.
Lebih tinggi.
Lebih padat.
Seperti akan meledak.
Dan dalam satu momen—
semuanya mencapai puncak.
Lalu—
hancur.
Tidak meledak.
Tidak menyebar.
Melainkan—
runtuh.
Api hitam itu menghilang.
Tekanan lenyap.
Angin berhenti.
Dan Grachius—
jatuh.
Purus bergerak.
Cepat.
Menangkapnya sebelum tubuh itu menyentuh tanah.
Sunyi kembali.
Namun tidak sama.
Udara terasa lebih berat.
Lebih… kosong.
Purus menatap wajah Grachius.
Tenang.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun tubuhnya—
masih menyimpan sisa panas.
Purus mengangkatnya.
Membawa kembali ke gubuk.
Langkahnya tidak tergesa.
Namun tidak ringan.
Di belakangnya—
tanah yang retak.
Pohon yang hangus.
Dan udara yang masih bergetar tipis.
Sore itu—
tidak benar-benar berakhir.
Dan sesuatu—
yang selama ini tertidur—
telah bangun.
Purus tidak menoleh.
Namun ia tahu.
Jalan yang akan ditempuh Grachius—
tidak lagi bisa dijaga.
Tidak lagi bisa dikendalikan.
Dan di tempat yang jauh—
di balik langit yang tidak terlihat—
sesuatu…
telah melihat kembali.
Dan kali ini—
tidak akan berpaling.
...A Novel By Franzzz...