Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.
Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.
Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.
"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.
Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Melihat jelas bahwa suasana hatinya yang sedang sangat buruk dan wajahnya tampak masam menahan kesal, Xin Yuning tidak berani membantah atau memaksa.
"Baiklah, kita pulang sekarang juga," jawabnya cepat.
Di dalam hatinya, ia mengakui satu hal: ini adalah pertama kalinya ia merasa benar-benar kewalahan dan kehabisan akal saat berurusan dengan seorang gadis. Memiliki adik ternyata lebih melelahkan daripada mengurus rapat bisnis!
Tanpa banyak bicara, ia melepaskan jas hitam yang dikenakannya. Dengan gerakan lembut namun protektif, ia menyelimutkan pakaian tebal itu ke bahu Xin Yi hingga menutupi sebagian tubuh kecilnya.
Xin Yi sedikit tertegun. Jas itu terasa hangat, besar, dan berbau wangi khas parfum mahal milik kakaknya. Entah kenapa, rasa kesal di dadanya perlahan mereda dan ekspresinya terlihat sedikit lebih lunak.
"Saudara Quan, aku akan mengantar adikku pulang lebih dulu," ucap Xin Yuning pada temannya, Quan Yubin.
Pria tampan berwajah datar itu hanya menganggukkan kepalanya singkat. "Pergilah. Nanti aku bilang pada orang tuamu."
Ternyata Xin Yi adalah adik Tuan Muda Xin! Semua anak muda yang mengenalnya tercengang.
Melihat pasangan kakak beradik itu berjalan pergi dengan langkah cepat, Liu Yang yang masih berdiri di situ pun kehilangan minat untuk tetap berada di sana. Malam yang tadinya terasa menyenangkan kini terasa hambar.
Ia pun berbalik dan ikut pergi meninggalkan tempat itu bersama Zhang Yui dan Ming Juan yang masih bingung.
Melihat tokoh-tokoh utama sudah pergi, para penonton yang tadi ramai pun perlahan mulai bubar. Keributan itu pun usai, meninggalkan Xin Yiran dan Feng Xixi yang berdiri mematung dengan rasa malu yang membekas dalam-dalam.
Hubungan persahabatan antara keluarga Huo dan keluarga Quan terjalin sangat baik dan erat. Oleh karena itu, saat Quan Yubin datang menghampiri dan menyampaikan bahwa kedua anak keluarga Xin sudah pulang lebih awal, Huo Feilin tampak sedikit terkejut.
"Mereka sudah pulang? Kenapa begitu cepat?" tanya wanita itu sambil menyesap anggurnya.
Quan Yubin mengangguk pelan, lalu berbicara dengan nada hati-hati namun jelas.
"Tadi sempat terjadi keributan kecil di area anak muda. Sepertinya ada pertengkaran antara Xin Yi dan Xin Yiran," ucapnya pelan.
"Tapi jangan salah sangka, Bibi. Dari apa yang saya lihat, sepertinya bukan Xin Yi yang memulainya. Gadis itu justru terlihat sangat tenang dan mencoba menghindar, tapi terus didesak oleh sepupunya."
Huo Feilin mendengarkan dengan wajah yang perlahan berubah menjadi dingin dan gelap.
Ia tidak perlu mendengar penjelasan panjang lebar pun sudah tahu kebenarannya.
Xin Yi... sejak awal kedatangannya, gadis itu selalu bersikap sopan, tenang, dan sangat menjaga jarak. Ia bukan tipe anak yang suka mencari masalah atau membuat keributan yang mempermalukan orang tua.
Berbeda jauh dengan Xin Yiran.
Anak manja hasil didikan adik iparnya itu memang terkenal suka bertingkah dan mencari perhatian. Huo Feilin sudah lama tahu sifat asli anak itu, dan ia sangat tidak menyukai cara anak itu memperlakukan Xin Yi yang tidak bersalah.
"Aku mengerti," gumam Huo Feilin dengan nada membeku. "Biarkan mereka pulang dan beristirahat. Anak itu sudah cukup lelah menderita selama ini, tidak perlu ditambah beban pikiran karena ulah anak manja itu."
Sesampainya di rumah, Xin Yi langsung berjalan cepat menuju tangga tanpa banyak bicara. Wajahnya datar namun aura di sekitarnya terasa dingin.
Bibi Ming yang sedang menunggu di ruang tamu segera menyambut, namun melihat ekspresi gadis itu, ia pun paham bahwa suasana hati Nona Muda sedang sangat buruk.
"Tuan Muda..." panggil Bibi Ming pelan pada Xin Yuning yang berjalan di belakang.
Xin Yuning mengangguk pelan sambil menghela napas panjang.
"Biarkan dia sendiri dulu sebentar. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri," pesannya lembut. "Jangan diganggu dulu."
Di dalam kamarnya, Xin Yi langsung masuk ke kamar mandi. Ia melepaskan gaun pesta yang berat itu dan berganti mengenakan piyama santai yang nyaman. Satu per satu aksesori, jepitan rambut, dan perhiasan dilepasnya dan diletakkan di atas meja rias.
Setelah membersihkan sisa riasan dari wajahnya menggunakan kapas pembersih, ia membuang kapas kotor itu ke tempat sampah.
Saat ia mendongak dan menatap pantulan dirinya di cermin besar, ia sedikit tertegun.
Wajahnya terlihat lebih bersih dan cerah.
Berkat makanan bergizi, tidur yang cukup, dan tidak lagi terpapar matahari terik setiap hari seperti di desa, kulitnya perlahan mulai kembali ke warna aslinya.
Sebenarnya, Xin Yi memang terlahir dengan kulit yang putih bersih. Hanya saja karena dulu sering bekerja di luar ruangan dan berjemur, kulitnya menjadi berwarna kecokelatan dan tampak gagah.
Namun ia tidak pernah merasa malu karena itu; baginya kulit itu adalah tanda bahwa ia sehat dan kuat.
Namun kini, melihat dirinya yang semakin terlihat seperti wanita muda dari keluarga kaya, ia merasa sedikit asing.
Xin Yi menghela napas panjang, mencoba mengembuskan rasa kesal yang masih tertinggal.
Ia berbalik, berjalan menuju ranjang besarnya, lalu membaringkan tubuhnya yang lelah.
Mata bulat itu menatap langit-langit kamar yang gelap. Di dalam kepalanya, ia berusaha keras menghapus dan membuang jauh-jauh kata-kata pedas Xin Yiran tadi.
Terutama kalimat yang menyangkut ibunya... Itu adalah hal yang paling tidak bisa ia terima.
Ibu tidak bersalah... batinnya menegaskan pada diri sendiri. Dan aku juga tidak.
Keesokan harinya, saat Xin Yuning bangun dan melewati kamar adiknya, ia mendapati pintu kamar itu masih tertutup rapat. Ia mencoba mendorong pelan, namun ternyata pintu itu dikunci dari dalam.
Mengingat kejadian semalam dan suasana hati Xin Yi yang buruk, ia mengira gadis itu masih ingin menyendiri dan menenangkan diri.
"Biarkan saja dulu," gumamnya pelan.
Akhirnya Xin Yuning turun ke bawah dan berangkat ke perusahaan kakeknya untuk melakukan magang. Sepanjang hari, baik Huo Feilin maupun Xin Yuning tidak melihat Xin Yi turun untuk makan siang atau sekadar berjalan-jalan.
Mengingat sifat gadis itu yang keras kepala namun pendiam, mereka memutuskan untuk memberinya ruang dan waktu.
Mereka mengira dia hanya sedang dalam suasana hati yang buruk.
Kakek dan Nenek Xin yang mengetahui hal itu pun memerintahkan pelayan untuk mengantarkan makanan ke kamar berulang kali. Namun anehnya, semua makanan itu dikembalikan lagi dalam keadaan utuh dan sudah dingin.
Gadis itu sama sekali tidak menyentuhnya.
Hal ini mulai membuat suasana rumah menjadi mencekam dan penuh kekhawatiran.
Saat malam tiba dan semua anggota keluarga berkumpul kembali, baru mereka menyadari fakta yang sangat mengerikan:
Xin Yi tidak keluar kamar untuk lari pagi. Dia tidak pergi ke sekolah. Dan yang paling parah, dia tidak makan apa pun sejak kemarin sore!
Ini sudah melampaui batas "sedang marah". Ini tidak normal.
"Ayo ke atas!" perintah Xin Fuyang dengan wajah pucat dan tegang.
Ia dan Xin Yuning segera berlari menaiki tangga dengan langkah cepat. Di lantai bawah, Huo Feilin dengan wajah dingin namun tangan gemetar segera menelepon Dokter Song, dokter keluarga, untuk datang secepatnya sebagai persiapan darurat.
Nenek Xin memegangi dadanya, matanya berkaca-kaca. Siapa sangka... ucapan jahat dan pertengkaran konyol yang dilakukan Xin Yiran semalam bisa membuat cucu kecil mereka yang kuat dan tangguh ini menjadi terpukul dan mengurung diri sampai seperti ini.
Xin Yuning dengan tangan gemetar mencoba memasukkan kunci cadangan ke dalam lubang kunci. Namun, entah kenapa hari ini kunci itu terasa sangat sulit diputar, atau mungkin karena tangannya yang terlalu panik sehingga tidak fokus.
"Kenapa lama sekali?! Cepat buka!" seru Xin Fuyang dengan nada tinggi dan wajah pucat. Ia sudah tidak sabar lagi, rasa cemasnya memuncak.
"Dasar tidak berguna! Dobrak saja pintunya! Sekarang!" perintah pria itu dengan tegas, siap untuk bertindak kasar demi melihat kondisi putrinya.
Namun, Xin Yuning langsung menahan ayahnya.
"Tidak bisa, Ayah! Bagaimana jika di dalam dia sedang berdiri tepat di belakang pintu atau bersandar di sana? Jika kami mendobrak, dia bisa terbentur keras dan terluka!" ujar Yuning panik.
Pikirannya langsung memikirkan skenario terburuk. Adiknya itu memang anak desa yang kuat, tapi kalau dipukul pintu kayu yang didobrak dengan keras, tetap bisa mengalami cedera parah.
Mereka berdua terjebak dalam kecemasan. Ingin masuk tapi takut menyakiti, tidak masuk tapi takut terjadi hal buruk.
"Ada! Ada caranya!" seru Xin Yuning tiba-tiba.
Ia segera menoleh ke arah para pelayan yang berkumpul di koridor.
"Kalian! Cepat turun dan pergi ke halaman belakang! Lihatlah ke arah jendela kamar Nona Xin Yi dari luar! Lihat apakah dia ada di sana, apakah dia bergerak, atau apa yang sedang dia lakukan! Cepat laporkan padaku sekarang juga!"
Para pelayan pun segera berlarian menuruni tangga untuk menjalankan perintah itu. Jantung semua orang di lantai atas seakan berhenti berdetak menunggu kabar.
Para pelayan bekerja dengan panik dan susah payah memanjat tembok menuju balkon kamar lantai dua. Mereka berusaha melihat ke dalam untuk mengetahui kondisi sang Nona.
Namun, tirai jendela tertutup rapat dan kamar itu tampak gelap gulita.
"Coba sorotkan senter ke celah tirai!" perintah salah satu pelayan senior.
Sinar senter yang kuat menembus masuk ke dalam ruangan yang gelap. Dan saat cahaya itu menyapu lantai, salah satu pelayan wanita menjerit kaget.
"Astaga! Lihat! Di sana!"
Terlihat jelas sepasang kaki mungil yang mengenakan piyama tergeletak tak bergerak di dekat meja belajar. Tubuhnya tertutup sebagian oleh bayangan, namun posisinya yang terbaring di lantai sudah cukup untuk membuat jantung mereka berdebar kencang.
Pelayan yang membawa alat komunikasi segera berbicara dengan suara tercekat dan panik.
"Tuan Muda! Tuan Muda! Cepat dobrak pintunya! Nona Xin Yi tergeletak di lantai! Dia tidak bergerak sama sekali! Sepertinya dia pingsan atau tidak sadarkan diri!"
Belum habis kalimat itu terdengar, Xin Yuning sudah tidak bisa berpikir logis lagi.
Rasa cemas dan ketakutan meledak seketika. Ia mundur beberapa langkah, lalu dengan sekuat tenaga menghentakkan bahunya ke arah pintu kayu itu.
DUG!!!
Suara dentuman keras dan retakan kayu terdengar memekakkan telinga di seluruh koridor.
Nenek Xin dan Kakek Xin yang berdiri di belakang langsung memegangi dada mereka, wajah mereka pucat pasir melihat betapa kacaunya situasi saat ini.
Bang! –
Pintu itu terbuka lebar!
Keduanya segera menerobos masuk ke dalam kamar yang gelap itu.
Xin Yuning langsung berlarian mencari ke arah yang dimaksud pelayan tadi, sementara ayahnya dengan tangan gemetar segera menekan tombol sakelar lampu.
BRUK!
Saat ruangan itu seketika terang benderang, pemandangan di hadapan mereka membuat darah di seluruh tubuh seakan berhenti mengalir. Wajah mereka pucat pasir, kaku dan tidak percaya.
Di lantai, tepat di bawah meja belajar, tergeletak tubuh Xin Yi.
Ia terbaring menyamping, matanya terpejam rapat dan sama sekali tidak bergerak. Di keningnya, terlihat jelas luka memar yang sudah mengering bercampur noda darah hitam. Sepertinya ia jatuh dan kepalanya terbentur sudut meja dengan cukup keras.
"XIN YI !!!!!"
Xin Fuyang berteriak histeris, suaranya pecah menahan ketakutan yang luar biasa. Ia langsung berlutut dan mengangkat tubuh putrinya dengan hati-hati, tangannya gemetar hebat saat menyentuh kulit gadis itu yang terasa dingin.
"Yi Yi... bangunlah, Nak... Ayah di sini... Jangan menakuti Ayah..." isaknya pelan. Pria kuat yang biasa memimpin perusahaan raksasa ini kini tampak rapuh dan ketakutan setengah mati.
Xin Yuning berdiri mematung di belakang mereka, matanya membelalak lebar menatap luka di kening adiknya.
Dunianya seakan runtuh saat itu juga.