Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah paham
Fatan langsung bangkit pelan, meski tubuhnya masih lemas. Ia duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajahnya kasar.
“Aku benar-benar merepotkan…” gumamnya lirih.
Ia menoleh ke arah meja kecil di samping ranjang.
Semangkuk bubur hangat masih tertutup rapi di sana bersama obat-obatan.
Fatan terdiam.
Tidak perlu bertanya pun ia tahu siapa yang menyiapkannya.
Dadanya terasa sesak oleh perasaan yang sulit dijelaskan.
Ia menghela napas panjang lalu berdiri perlahan. Kakinya masih sedikit goyah, namun ia memaksa berjalan keluar kamar.
Suasana rumah masih cukup tenang
Fatan melangkah pelan menyusuri lorong hingga langkahnya terhenti ketika mendengar suara tawa kecil.
Tawa bayi.
Fatan mengernyit samar.
Ia mengikuti suara itu sampai pandangannya jatuh pada ruang keluarga.
Dan di sanalah
Kanaya duduk di sofa sambil memangku seorang bayi perempuan kecil yang tampak sangat menggemaskan.
Bayi itu tertawa kecil saat Kanaya memainkan jemarinya.
“Lucu sekali…” ucap Kanaya pelan sambil tersenyum tipis.
Senyum itu…
begitu tulus.
Fatan membeku di tempat.
Matanya terpaku pada pemandangan di depannya.
Kanaya terlihat begitu lembut.
Begitu hangat.
Dan bayi kecil itu tampak sangat nyaman dalam pelukannya.
Entah kenapa dada Fatan terasa mengencang.
Pikirannya kembali pada pusat perbelanjaan malam itu.
Perlengkapan bayi.
Warna merah muda.
Dan sekarang…
bayi perempuan ini.
Fatan menelan ludah pelan.
“Jadi… benar?” pikirnya.
“Kanaya sudah punya keluarga baru?”
Ada sesuatu yang terasa jatuh di dalam dirinya.
Namun ia tetap diam.
Apa haknya bertanya?
Ia bahkan bukan siapa-siapa lagi bagi Kanaya.
Hubungan mereka sekarang begitu jelas.
Kanaya adalah majikannya.
Dan dirinya…
hanya sopir.
Fatan menunduk kecil lalu tersenyum tipis.
Pahit.
Namun di saat yang sama…
ia juga merasa lega.
Setidaknya Kanaya terlihat bahagia.
“Itu sudah cukup…” bisiknya dalam hati.
ocehan bayi itu begitu lucu hingga membuat wanita itu tertawa pelan dan gemes
Fatan tidak sadar dirinya ikut tersenyum melihatnya.
Namun senyum itu perlahan memudar saat suara langkah kaki terdengar dari arah pintu depan.
“putri cantikku sedang apa, hm?”
Suara itu membuat Fatan langsung mengenalinya.
Viktor.
Pria itu masuk sambil membawa beberapa kantong belanja di kedua tangannya.
Wajahnya terlihat santai dan cerah.
“Aku membeli beberapa barang lagi,” katanya sambil mendekat. “Dan ini semua untuk bayi mungil yang menggemaskan.”
Kanaya mengangkat wajah.
“Kamu membeli lagi?”
“Tentu,” jawab Viktor santai. “Anak sekecil ini pantas mendapatkan semuanya.”
Ia tertawa kecil sambil mengacak lembut kepala bayi itu.
Namun beberapa detik kemudian…
senyum Viktor perlahan menghilang.
Tatapannya berpindah.
Dan berhenti tepat pada Fatan yang berdiri tidak jauh dari ruang keluarga.
Alis Viktor langsung berkerut.
“Fatan?”
Nada suaranya berubah.
Tidak lagi santai.
Tatapan pria itu langsung tajam.
“Kau sedang apa di sini?”
Fatan sedikit menunduk.
“Saya,,,,”
“Sejak kapan kau ada di rumah ini?” potong Viktor cepat.
Kanaya yang menyadari perubahan suasana langsung berdiri perlahan.
“Viktor,,”
“Tidak,” ujar Viktor tanpa mengalihkan pandangan dari Fatan. “Aku ingin mendengar jawabannya.”
Fatan menarik napas pelan.
“Saya sakit,” jawabnya tenang. “Bu Kanaya meminta saya beristirahat sebentar di kamar tamu.”
Viktor langsung menatap Kanaya.
“Kau membiarkannya masuk?”
Kanaya mengernyit kecil.
“Dia pingsan karena kelelahan.”
“Dan itu alasan dia tidur di rumahmu?”
Nada suara Viktor terdengar jauh lebih emosional sekarang.
Fatan langsung berkata pelan,
“Maaf kalau keberadaan saya membuat tidak nyaman. Saya akan segera pergi.”
Ia baru saja hendak melangkah mundur ketika Kanaya berbicara.
“Kamu belum pulih.”
Fatan terdiam.
Sementara Viktor menatap Kanaya tidak percaya.
“Kanaya,” katanya pelan namun jelas menahan sesuatu, “dia mantan suamimu.”
Sunyi.
Kalimat itu terasa berat menggantung di ruangan.
Kanaya menghela napas pelan.
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kamu membiarkannya sedekat ini?”
Pertanyaan itu membuat Fatan menunduk semakin dalam.
Ia sadar.
Dirinya memang tidak seharusnya berada di sini.
Namun sebelum ia sempat bicara, Kanaya sudah lebih dulu menjawab,
“Karena dia bekerja di sini.”
“Sebagai sopir,” balas Viktor cepat. “Bukan penghuni rumah.”
Nada bicara Viktor semakin tajam.
Dan Fatan bisa melihat dengan jelas
pria itu cemburu.
Sangat cemburu.
Fatan langsung berkata pelan,
“Saya akan pergi sekarang juga.”
Namun Viktor kembali bicara sebelum Kanaya menjawab.
“Memang seharusnya begitu.”
Kanaya langsung menatap Viktor.
“Kamu berlebihan.”
“Aku berlebihan?” Viktor tertawa kecil, namun jelas emosinya mulai naik. “Kamu membiarkan mantan suamimu masuk dan santainya beristirahat di rumahmu dan aku yang berlebihan?”
“Dia sakit.”
“Dia pria dewasa!”
Suasana mendadak menegang.
Fatan mengepalkan tangannya pelan.
Ia tidak ingin menjadi penyebab pertengkaran.
“Pak Viktor,” ucapnya hati-hati. “Tidak ada maksud lain. Saya benar-benar hanya diberi tempat istirahat.”
Viktor menatapnya tajam.
“Dan kau nyaman berada di sini?”
Pertanyaan itu menusuk.
Fatan terdiam beberapa detik sebelum menjawab jujur,
“Tidak.”
Jawaban itu membuat Viktor sedikit terkejut.
Fatan mengangkat wajah perlahan.
“Saya tahu posisi saya,” lanjutnya tenang. “Saya juga tahu batas saya.”
Kanaya menatap Fatan cukup lama.
Entah kenapa…
kalimat itu justru membuat dadanya terasa sesak.
Sementara Viktor masih terlihat tidak puas.
Tatapannya bergantian antara Kanaya dan Fatan.
Dan semakin jelas bagi Fatan
pria itu takut.
Takut jika masa lalu mereka kembali dekat.
Namun ironisnya…
Fatan sendiri tidak pernah merasa sejauh ini dari Kanaya.
Karena ini akhirnya ia sadar
yang paling menyakitkan bukan melihat Kanaya membencinya.
Melainkan melihat wanita itu perlahan bahagia…
tanpa dirinya
Pintu rumah tertutup pelan setelah kepergian Fatan.
Suasana mendadak berubah sunyi.
Tidak ada lagi suara langkah kaki ataupun ucapan sopan pria itu. Yang tersisa hanya ketegangan yang menggantung di ruang keluarga.
Kanaya berdiri diam sambil menggendong bayi kecil di pelukannya. Sementara Viktor masih berdiri beberapa langkah darinya, wajah pria itu jelas menunjukkan emosi yang belum mereda.
“Jadi sekarang kamu membiarkannya masuk kerumahmu?” tanya Viktor akhirnya.
Nada suaranya tidak tinggi.
Namun cukup tajam untuk membuat suasana semakin menekan.
Kanaya menghela napas pelan.
“Dia sakit.viktor”
“Itu bukan jawaban dari pertanyaanku.”
Kanaya menatap Viktor datar.
“Lalu jawaban seperti apa yang ingin kamu dengar?”
Viktor tertawa kecil, hambar.
“Aku ingin tahu apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan, Kanaya.”
“Aku tidak melakukan apa pun.”
“Kamu yakin?”
Kanaya mulai merasa lelah.
Ia berjalan pelan menuju sofa lalu duduk sambil menidurkan bayi kecil itu dengan hati-hati di sampingnya.
Viktor memperhatikan semua gerakannya.
Dan justru ketenangan Kanaya itulah yang membuat dirinya semakin gelisah.
“Kau tahu siapa dia,” ucap Viktor lagi. “Dia mantan suamimu.”
“Aku tidak lupa.”
“Lalu kenapa kamu masih memberinya ruang?”
Kanaya mengangkat wajah perlahan.
“Apa menurutmu membiarkan seseorang yang sakit tidur di kamar tamu adalah sebuah dosa?”
“Jangan memutarbalikkan ucapan.”
“Aku tidak memutarbalikkan apa pun.”
Viktor mengusap wajahnya kasar.
“Aku hanya tidak suka melihat dia berada terlalu dekat denganmu,aku cemburu ,aku takut kehilanganmu lagi.”
Kanaya tersenyum tipis.
“Dekat?” ulangnya pelan. “Kamu menyebut hubungan majikan dan sopir sebagai dekat?”
Viktor langsung menatapnya.
“Masalahnya bukan pekerjaannya.”
“Lalu?”
“Perasaannya.”
Sunyi.
Satu kata itu membuat ruangan terasa semakin sesak.
Kanaya memalingkan wajah sesaat.
Sementara Viktor terus menatapnya lekat.
“Aku mengenalmu cukup lama,” katanya lebih pelan kali ini. “Dan aku tahu kamu bukan wanita yang mudah membiarkan orang masuk ke hidupmu.”
Kanaya tidak menjawab.
“Tapi sekarang,” lanjut Viktor, “kamu justru membiarkan Fatan tetap berada di sekitarmu.”
Kanaya menarik napas panjang.
“Dia membutuhkan pekerjaan.”
“Itu alasanmu?”
“Itu kenyataannya.”timpal kanaya
Viktor tertawa kecil lagi.
“Jadi karena kasihan?”
Kanaya terdiam beberapa detik.
“Aku hanya tidak ingin menjadi manusia yang terlalu kejam.”
“Kejam?” Viktor mengulang cepat. “Dia yang menghancurkan hidupmu, Kanaya.”
Kalimat itu membuat Kanaya membeku sesaat.
Dadanya terasa mengencang.
Namun ia tetap berusaha tenang.
“Aku tidak lupa tentang itu.”
“Lalu kenapa kamu bersikap seperti ini?”
Viktor melangkah mendekat.
“Jawab aku jujur.”
Tatapan pria itu begitu serius sekarang.
“Apakah kamu mulai luluh?”
Kanaya langsung mengangkat wajah.
“Apa?”
“Apakah melihat Fatan seperti sekarang membuat hatimu goyah?”
Nada suara Viktor terdengar berat.
Seolah ia sendiri takut mendengar jawabannya.
Kanaya berdiri perlahan.
“Jangan bicara sembarangan.”
“Aku serius.”timpal Viktor
Viktor menatapnya tanpa berkedip.
“Apakah cinta dalam hidupmu itu kembali?”
Pertanyaan itu menghantam tepat ke dalam hati Kanaya.
Untuk beberapa detik ia tidak bisa menjawab.
Karena jujur…
ia sendiri tidak tahu.
Ia hanya tahu bahwa kehadiran Fatan kembali membuat hidupnya tidak setenang dulu.
Membuat luka lama terasa hidup lagi.
Namun apakah itu cinta?
Atau hanya sisa rasa sakit?
Kanaya memejamkan mata sesaat sebelum akhirnya berkata pelan,
“Aku tidak tahu.”
Viktor langsung terdiam.
Jawaban itu jauh lebih menyakitkan daripada penolakan.
“Kau… tidak tahu?” ulangnya lirih.
Kanaya menghela napas berat.
“Aku tidak tahu apa yang sedang aku rasakan,” katanya jujur. “Dan aku tidak ingin memikirkannya.”
“Tapi kamu masih memikirkannya.”
Kanaya menatap Viktor lelah.
“Karena dia pernah menjadi bagian dari hidupku.”
“Bagian yang menghancurkanmu.”
“Iya.”
“Lalu kenapa masih ada ruang untuknya?”bentak viktor
Kanaya terdiam.
Pertanyaan itu terus menghantam pikirannya.
Kenapa?
Kenapa ia masih peduli saat Fatan sakit?
Kenapa ia merasa sesak melihat pria itu jatuh?
Kenapa ia tidak tega memecatnya?
Kanaya menggigit bibir pelan.
“Aku tidak tahu…” bisiknya lagi.
Viktor tertawa kecil, namun kali ini penuh kekecewaan.
“Aku takut pada jawaban seperti itu.”
Kanaya menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Viktor menggeleng pelan sambil tersenyum pahit.
“Karena kalau seseorang masih bingung terhadap perasaannya,” katanya pelan, “itu berarti perasaannya belum benar-benar hilang.”
Sunyi.
Kanaya tidak bisa membalas.
Dan diamnya justru semakin memperjelas semuanya di mata Viktor.
Pria itu menunduk sesaat sebelum kembali berbicara,
“Aku menunggumu sangat lama, Kanaya.”
Nada suaranya lebih lembut sekarang.
“Bahkan setelah kamu menikah, aku tetap tidak bisa melupakanmu.”
Kanaya memalingkan wajah.
“Aku juga tahu aku bukan pria terbaik,” lanjut Viktor. “Tapi setidaknya aku tidak pernah meninggalkanmu saat kamu hancur.”
Kalimat itu membuat dada Kanaya terasa berat.
“Aku ada saat kamu menangis,” lanjut Viktor lirih. “Aku melihat bagaimana kamu bangkit sedikit demi sedikit.”
Ia mendekat satu langkah lagi.
“Dan sekarang… setelah aku hampir berhasil berada di sisimu…”
Tatapannya berubah sendu.
“Fatan kembali.”
Kanaya menutup matanya perlahan.
Ia bisa merasakan luka dalam suara Viktor.
Karena pria itu benar.
Viktor memang ada di saat dirinya jatuh.
Namun…
kenapa justru nama Fatan yang terus mengganggu hatinya?
“Aku tidak ingin kehilanganmu lagi,” ucap Viktor pelan.
Kanaya membuka mata perlahan.
“Aku bukan milik siapa pun, Viktor.”
“Aku tahu.”
“Dan aku tidak ingin hidupku kembali dipenuhi rasa sakit.”
Viktor tersenyum pahit.
“Tapi dia tetap bisa masuk ke dalam pikiranmu.”
Kanaya tidak menjawab..
hati memang penuh misteri
aku berharap akan seru seterusnya
. tapi kenapa sepi ya?