NovelToon NovelToon
Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.

Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.

Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 - Harapan Baru

Langit siang di atas Arvandor tampak cerah dengan warna biru yang bersih tanpa banyak awan, memberikan kesan tenang yang kontras dengan bayangan hutan yang perlahan ditinggalkan Alverion Dastan. Cahaya matahari jatuh di bahunya saat ia melangkah keluar, memperjelas bekas luka yang masih tersisa di kulitnya dan sedikit mengencang setiap kali ia bergerak terlalu cepat. Rasa perih itu tidak hilang sepenuhnya, tetapi tidak lagi menghambat langkahnya seperti sebelumnya.

Perubahan pada dirinya tidak hanya terasa di tubuh, tetapi juga terlihat dari cara ia membawa diri. Langkahnya lebih stabil dan tidak lagi ragu, seolah setiap pijakan sudah dipikirkan tanpa perlu kesadaran penuh. Cara ia memandang sekitar juga berbeda, tidak lagi kosong atau terbebani, melainkan tajam dan penuh perhitungan terhadap setiap detail kecil yang muncul di sekitarnya.

Napasnya mengalir dengan ritme yang teratur, tidak lagi pendek dan berat seperti saat ia masih berjuang hanya untuk bertahan. Setiap tarikan terasa lebih dalam, dan setiap hembusan membawa ketenangan yang sebelumnya sulit ia capai. Hal kecil seperti itu memberi perbedaan yang tidak bisa diabaikan, terutama dalam kondisi yang menuntut konsentrasi tinggi.

Ia berhenti sejenak di tepi hutan, menatap jalan tanah yang membentang menuju area luar kota. Dari posisi itu, atap-atap rumah sederhana mulai terlihat di kejauhan, disertai suara aktivitas yang samar namun cukup jelas untuk dikenali. Kehidupan berjalan seperti biasa di sana, seolah tidak ada yang berubah, seolah dunia tidak pernah peduli pada apa yang ia alami beberapa hari terakhir.

Tempat itu bukan rumah baginya, dan tidak pernah benar-benar menjadi tempat yang nyaman. Namun ia mengenal setiap sudutnya, termasuk pandangan orang-orang yang pernah menilainya tanpa ragu. Tempat itu adalah titik awal dari semuanya, tempat di mana ia kehilangan lebih dari sekadar status.

Alverion menghela napas panjang dan menurunkan pandangannya ke tangannya sendiri. Ia menggenggam perlahan, merasakan aliran energi yang kini bisa ia panggil dengan lebih stabil dibanding sebelumnya. Sensasi hangat itu bergerak mengikuti kehendaknya, tidak lagi liar seperti saat pertama kali ia mencoba mengendalikannya.

Masih kecil, tetapi cukup untuk memberinya kepercayaan diri yang berbeda. Ia tidak lagi merasa kosong, dan itu sudah cukup untuk membuat perbedaan besar dalam cara ia berpikir.

Pikirannya kemudian kembali pada satu sosok yang tidak bisa ia abaikan.

Kaelen Virel.

Wajah itu muncul dengan jelas, bersama senyum yang terasa lebih seperti ejekan daripada keramahan. Nada suaranya yang tenang namun merendahkan kembali terngiang, diikuti oleh kata-kata yang menghancurkan semua yang pernah Alverion pegang.

Tangan Alverion mengepal lebih erat tanpa disadari, tetapi tidak ada ledakan emosi yang terlihat. Tekanan itu dikendalikan dengan baik, seolah ia tidak lagi membiarkan perasaan menguasai tindakannya.

“Ini belum selesai,” gumamnya pelan.

Kalimat itu keluar tanpa nada tinggi, namun terasa lebih berat dari sebelumnya. Bukan sekadar ungkapan marah, melainkan keputusan yang sudah dipikirkan dengan jelas. Ia tidak lagi bergerak tanpa arah, dan langkahnya sekarang memiliki tujuan yang pasti.

Balas dendam menjadi salah satu alasan, tetapi bukan satu-satunya. Ia juga ingin membuktikan sesuatu, bukan hanya kepada Kaelen, tetapi kepada semua orang yang pernah memandangnya sebagai kegagalan.

Alverion menurunkan tangannya dan mulai berjalan keluar dari bayangan hutan, membiarkan cahaya siang menyambutnya sepenuhnya. Setiap langkah membawa dirinya semakin dekat ke tempat yang pernah menolaknya.

Area luar Arvandor tidak seramai pusat kota, tetapi tetap dipenuhi aktivitas yang berjalan tanpa henti. Rumah-rumah kayu berdiri berjajar dengan jarak yang tidak terlalu rapat, sementara beberapa toko kecil membuka pintu mereka untuk melayani orang-orang yang lewat. Suara percakapan, langkah kaki, dan aktivitas sederhana lainnya bercampur menjadi latar yang familiar.

Saat Alverion memasuki jalan utama, beberapa orang mulai menoleh ke arahnya. Tatapan mereka tidak langsung berubah, tetapi ada pengenalan yang perlahan muncul seiring mereka memperhatikan lebih lama.

“Bukankah itu...”

“Alverion Dastan?”

Bisikan mulai terdengar di antara mereka, cukup pelan tetapi tidak sepenuhnya tersembunyi. Ia tetap berjalan dengan langkah yang sama, tidak mempercepat maupun memperlambat, seolah suara-suara itu tidak memiliki pengaruh padanya.

Penampilannya tidak menunjukkan sesuatu yang istimewa. Ia tidak mengenakan jubah keluarga atau simbol apa pun yang menunjukkan status, hanya pakaian sederhana dengan bekas perjalanan yang masih terlihat jelas. Namun justru dari situlah perbedaan itu mulai terasa bagi orang-orang yang memperhatikannya.

Seorang pria paruh baya yang berdiri di depan toko kayu menyipitkan mata saat mengenalinya. Ia menoleh sedikit ke arah orang di sampingnya, memastikan bahwa ia tidak salah melihat.

“Itu benar dia,” katanya dengan nada yakin. “Kupikir dia sudah pergi jauh.”

Orang di sampingnya tersenyum tipis dan mengangkat bahu, seolah tidak terlalu peduli. “Atau mungkin memang tidak punya tempat lain,” jawabnya dengan nada ringan.

Tawa kecil terdengar, tidak keras tetapi cukup jelas untuk didengar oleh siapa pun yang berada cukup dekat. Beberapa hari lalu, kalimat seperti itu mungkin akan meninggalkan bekas yang lebih dalam di hati Alverion.

Sekarang, ia hanya melewatinya.

Tatapannya tetap lurus ke depan tanpa sedikit pun menunjukkan reaksi. Langkahnya tidak berubah, dan tidak ada tanda bahwa ia ingin menanggapi atau membuktikan sesuatu pada saat itu.

Namun orang-orang mulai menyadari perbedaan yang tidak bisa mereka jelaskan dengan mudah. Ia tidak terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan segalanya, dan tidak pula seperti orang yang kembali tanpa arah.

Ada ketenangan di wajahnya yang sulit diabaikan, dan sikapnya menunjukkan bahwa ia tidak lagi berada di posisi yang sama seperti sebelumnya.

Di pinggir jalan, seorang gadis berdiri dengan posisi yang sedikit terpisah dari keramaian. Rambut hitam panjangnya jatuh rapi di punggung, dan pakaiannya sederhana namun menunjukkan bahwa ia bukan orang biasa.

Selena Arclight memperhatikan Alverion dengan saksama, tidak terburu-buru dan tidak mencoba menyembunyikan ketertarikannya. Matanya mengikuti setiap gerakan kecil yang dilakukan Alverion, seolah mencoba memahami sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain.

Ia tidak memanggil atau mendekat, hanya mengamati dengan tenang. Ada sesuatu dalam perubahan itu yang menarik perhatiannya, sesuatu yang tidak cocok dengan ingatan lamanya tentang Alverion.

Alverion berjalan melewati area itu tanpa menoleh, tetapi ia merasakan tatapan tersebut meskipun tidak menunjukkannya. Ia mengenali siapa pemiliknya, namun memilih untuk tidak memberi reaksi.

Langkahnya terus berlanjut tanpa gangguan.

Tidak jauh dari sana, area pelatihan kecil milik Akademi Arvandor terlihat dengan pagar sederhana yang membatasi ruang latihan. Tempat itu digunakan oleh murid luar yang belum memiliki akses ke fasilitas utama, sehingga suasananya tidak terlalu formal dan lebih kasar.

Suara benturan kayu dan teriakan latihan terdengar dari dalam, menunjukkan aktivitas yang cukup ramai. Alverion berhenti di depan gerbang dan memperhatikan sejenak sebelum akhirnya melangkah mendekat.

Seorang penjaga yang berdiri di dekat pintu meliriknya sekilas dengan ekspresi yang tidak terlalu tertarik. Ia terlihat sudah terbiasa dengan berbagai tipe orang yang datang ke tempat itu.

“Mau apa?” tanyanya singkat.

Alverion menatap ke dalam area tersebut, memperhatikan gerakan para murid yang sedang berlatih.

“Latihan,” jawabnya.

Penjaga itu mengangkat alis, sedikit heran dengan jawaban tersebut. “Kamu?” katanya dengan nada yang menunjukkan keraguan.

Namun ia tidak menghentikan langkah Alverion, hanya menggeser posisinya sedikit agar jalan masuk tetap terbuka.

“Masuk saja. Selama tidak bikin masalah,” tambahnya.

Alverion mengangguk singkat dan melangkah masuk tanpa berkata apa-apa lagi. Kehadirannya langsung menarik perhatian beberapa murid yang sedang berlatih, terutama mereka yang mengenal wajahnya.

Bisikan kembali muncul, lebih jelas karena jarak yang lebih dekat.

“Itu Alverion, kan?”

“Yang katanya tidak punya energi itu?”

Beberapa ekspresi terlihat meremehkan, sementara yang lain hanya penasaran. Alverion tidak memberi tanggapan dan langsung berjalan menuju salah satu sudut yang lebih kosong.

Ia mengambil pedang kayu yang disediakan dan memegangnya dengan tenang. Beratnya terasa ringan di tangannya, dan keseimbangannya tidak mengganggu gerakan.

Ia mengatur napas, lalu mengaktifkan aliran energi secara perlahan. Sensasi itu bergerak mengikuti ritme yang ia buat, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu kuat.

Kemudian ia mulai bergerak.

Ayunan pertama dilakukan dengan sederhana, tetapi kecepatannya cukup untuk menarik perhatian. Gerakan itu tidak terlihat kaku seperti sebelumnya, melainkan mengalir dengan lebih alami.

Beberapa murid yang awalnya tidak terlalu peduli mulai memperhatikan lebih serius. Mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda, meskipun tidak langsung bisa menjelaskannya.

Ayunan kedua lebih halus dan terarah, menunjukkan kontrol yang lebih baik dibanding sebelumnya. Setiap gerakan tidak lagi berdiri sendiri, melainkan terhubung dalam satu alur yang konsisten.

Alverion terus mengulang pola dasar yang pernah ia pelajari, tetapi kali ini ia melakukannya dengan pendekatan yang berbeda. Energi di dalam tubuhnya mengikuti setiap gerakan, memperkuat tanpa mengganggu keseimbangan.

“Gerakannya berubah,” bisik salah satu murid.

“Tidak seperti dulu,” sahut yang lain.

Alverion menghentikan gerakannya dan menurunkan pedang dengan tenang. Napasnya tetap stabil, dan tidak ada tanda kelelahan berlebihan yang biasanya muncul setelah latihan seperti itu.

Ia menatap tangannya sebentar, lalu mengangguk kecil seolah mengakui hasil yang ia capai sejauh ini. Masih banyak yang perlu diperbaiki, tetapi arah yang ia tempuh sudah jelas.

Seorang pemuda kemudian mendekat dengan ekspresi yang menunjukkan rasa tidak percaya sekaligus keinginan untuk menguji. Senyum tipis muncul di wajahnya, tetapi lebih condong ke arah mengejek.

“Masih berani latihan di sini?” katanya.

Alverion menoleh dan menatapnya tanpa perubahan ekspresi.

“Bukankah kamu sudah tidak punya energi?” lanjut pemuda itu.

Beberapa murid di sekitar mereka tertawa kecil, menunggu bagaimana situasi itu akan berkembang.

Alverion tidak menunjukkan reaksi berlebihan dan hanya menjawab dengan singkat.

“Coba saja.”

Pemuda itu terdiam sejenak sebelum akhirnya tertawa dan mengambil pedang kayu. Ia berdiri berhadapan dengan Alverion, siap memulai pertarungan kecil yang langsung menarik perhatian lebih banyak orang.

Saat aba-aba diberikan, pemuda itu langsung menyerang dengan kecepatan yang cukup baik untuk ukuran murid luar. Gerakannya agresif, mencoba menekan sejak awal.

Namun di mata Alverion, serangan itu terasa lebih mudah dibaca.

Ia mengaktifkan aliran energi dan menggeser tubuhnya dengan langkah kecil ke samping. Serangan pertama meleset tanpa menyentuhnya, membuat pemuda itu sedikit terkejut.

Serangan kedua datang dengan kekuatan lebih besar, tetapi Alverion sudah siap. Ia menangkis dengan tepat, suara benturan kayu terdengar jelas di area itu.

Tangannya tidak bergetar, dan posisinya tetap stabil setelah benturan.

Ia langsung membalas dengan satu ayunan cepat yang memaksa lawannya mundur. Ekspresi pemuda itu berubah, dari yakin menjadi waspada dalam waktu singkat.

Alverion tidak berhenti dan melanjutkan tekanan dengan gerakan yang lebih terukur. Setiap langkah diambil dengan perhitungan, dan setiap serangan diarahkan dengan tujuan yang jelas.

Beberapa detik kemudian, pedang kayu pemuda itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke tanah dengan suara yang cukup keras untuk menarik perhatian semua orang.

Suasana menjadi sunyi.

Murid-murid yang menonton terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja mereka lihat. Perubahan itu terlalu jelas untuk diabaikan.

Alverion menurunkan pedangnya dan mundur satu langkah, menjaga jarak tanpa menunjukkan niat untuk melanjutkan.

Pemuda itu menatapnya dengan mata melebar, seolah belum sepenuhnya menerima hasilnya.

“Bagaimana bisa...” gumamnya.

Alverion tidak menjawab dan hanya berbalik, mengembalikan pedang kayu ke tempatnya. Ia tidak merasa perlu menjelaskan sesuatu yang tidak akan mereka pahami saat ini.

Bisikan kembali muncul, tetapi kali ini berbeda dari sebelumnya.

“Dia berubah.”

“Tadi itu bukan kebetulan.”

“Energinya... terasa.”

Alverion berjalan keluar dari area pelatihan tanpa menoleh lagi. Langkahnya tetap tenang, tetapi dampak dari apa yang baru saja terjadi mulai menyebar di antara mereka yang melihat.

Di luar area itu, di bawah bayangan pohon yang tidak terlalu jauh, Selena Arclight masih berdiri di tempatnya. Ia tidak bergerak sejak tadi, seolah menunggu sesuatu yang memang ia perkirakan akan terjadi.

Ketika Alverion keluar, tatapannya langsung tertuju padanya. Ia mengamati dengan lebih dalam, memperhatikan detail kecil yang mungkin terlewat oleh orang lain.

Cara berjalan yang lebih seimbang, napas yang teratur, dan kontrol tubuh yang terlihat lebih matang menunjukkan perubahan yang tidak bisa dianggap remeh. Semua itu tidak terjadi dalam waktu singkat tanpa alasan yang jelas.

“Menarik,” gumamnya pelan.

Alverion melewati tempat itu tanpa menoleh, tetapi kehadiran Selena tidak sepenuhnya ia abaikan. Ia memilih untuk tidak menunjukkan reaksi, menjaga jarak dari hal-hal yang belum perlu ia hadapi.

Selena tetap diam sampai sosoknya menjauh, lalu meluruskan tubuhnya perlahan. Ekspresinya berubah sedikit, dari sekadar penasaran menjadi lebih serius.

“Alverion Dastan,” bisiknya.

Nama itu terasa berbeda sekarang, tidak lagi identik dengan kegagalan seperti yang dikenal sebelumnya.

Ia berbalik dan berjalan pergi dengan langkah ringan, tetapi pikirannya tetap aktif. Perubahan seperti itu tidak terjadi tanpa sebab, dan ia tidak percaya bahwa itu hanya kebetulan.

Senyum tipis muncul di wajahnya, menunjukkan bahwa ketertarikannya bukan sekadar rasa ingin tahu biasa.

Seseorang mulai memperhatikan lebih jauh dari yang lain.

1
Manusia Ikan
bruh bro punya sistem, dan akan menjadi OP
Manusia Ikan
dadah pecundang😏👋
Manusia Ikan
😌👉itu tragis, tapi aku suka. aku akan menambahkan kejadian yang serupa di karya ku juga. karena aku memerlukan karakter baru
Manusia Ikan
bro anda sudah menjelaskan bagian ini :v
Manusia Ikan
baiklah aku mulai tertarik. aku akan mengikutinya perlahan lahan😌👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!