Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.
Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.
Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.
Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?
Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tujuh
Kadang, yang paling menyakitkan bukanlah pengkhianatan, melainkan saat kamu akhirnya sadar, kamu tidak pernah benar-benar dianggap ada.
Hana menarik napas panjang. Dadanya naik turun, bukan lagi sekadar menahan sakit, tapi menahan sesuatu yang selama ini ia kubur terlalu dalam.
“Apakah rumahku tidak jauh, Ma?” suaranya terdengar lebih tegas dari sebelumnya. “Aku harus mengendarai motor selama satu jam. Apa ada yang peduli aku capek?”
Suasana langsung berubah. Udara terasa lebih dingin. Farhan sedikit menunduk mendengar ucapan istrinya.
Mama Meri menatapnya tidak suka. Tatapannya tajam, penuh penilaian. “Kalau kamu tidak suka, ya sudah. Pulang saja sana,” ucapnya tanpa beban. “Kamu cemburu sama Chika?”
Hana tersenyum miring. Senyum yang getir, tapi juga jujur.
“Aku tidak cemburu,” jawabnya pelan. “Karena aku tidak berhak. Bukankah aku bukan siapa-siapa.”
Kalimat itu membuat semua orang terdiam sejenak. Farhan dan Mama Meri tampak makin tak suka dengan ucapan Hana.
Chika apalagi, ia tampak salah tingkah. Ia melangkah mendekat, wajahnya terlihat bersalah. “Maaf, Hana … aku tidak bermaksud membuat kamu marah. Aku tidak tahu kalau kamu ke sini naik motor. Kalau tahu, aku pasti minta Mas Farhan menjemputmu.”
Belum sempat Hana merespons, Mama Meri langsung memotong.
“Kamu tidak perlu minta maaf sama Hana,” ucapnya dingin. “Kamu tidak salah. Mama yang minta Farhan menjemputmu.”
Hana tidak lagi melihat ke arah mertuanya. Tatapannya beralih pada satu orang—suaminya.
“Mas … kenapa?”
Hanya itu, satu kata. Tapi berisi semua luka yang ia tahan.
Farhan terlihat tidak nyaman. Ia menghela napas pelan. “Sudahlah, Hana. Tadi aku juga tidak ada niat dan tak tahu harus menjemput Chika. Mama yang minta saat makan siang. Kamu jangan perpanjang lagi. Ayo masuk.”
Itu sebuah perintah. Bukan penjelasan. Hana menggeleng pelan. Di dalam hatinya, sesuatu runtuh.
Hana, apa yang kamu pikirkan selama ini? Kamu marah juga percuma. Mereka tidak akan peduli.
Ia mundur satu langkah. Lalu berbalik.
Langkahnya pelan, tapi pasti. Ia berjalan menuju garasi, tangannya sudah meraih kunci motor. Ia ingin pergi.
Bukan karena kalah. Tapi karena akhirnya sadar—bertahan di tempat yang tidak pernah menganggapnya, hanya akan menghancurkan dirinya sendiri.
“Hana!” seru Farhan.
Langkahnya terhenti saat suara Farhan terdengar dari belakang. Beberapa detik kemudian, lelaki itu sudah berdiri di sampingnya.
“Kamu mau apa?” tanya Farhan, nada suaranya mulai meninggi.
Hana menatap lurus ke depan. “Aku mau pulang.”
Farhan terkejut. “Jangan kekanak-kanakan, Hana. Aku hanya menjemput Chika.”
Hana menoleh perlahan. Matanya bertemu dengan mata suaminya. Tidak ada lagi air mata yang tertahan. Yang ada hanya kelelahan dan sesuatu yang lebih dalam.
“Hanya?” ulangnya pelan. “Hanya katamu, Mas?”
Ia tersenyum tipis. Tapi kali ini bukan senyum yang dipaksakan. Lebih seperti senyum seseorang yang akhirnya mengerti kenyataan.
“Apakah kamu sadar, Mas … dengan apa yang kamu lakukan?”
Farhan terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung membalas.
Hana melanjutkan, suaranya tetap tenang, tapi justru itu yang membuatnya terasa lebih menusuk.
“Kamu bukan hanya menjemput perempuan lain saja. Kamu menjemput seseorang yang sedang dipersiapkan untuk menggantikan aku.”
Deg.
Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa emosi berlebihan. Tapi menghantam keras ke dada pria itu.
“Di depan aku, Mas,” lanjut Hana, “di depan istrimu sendiri.”
Farhan mengerutkan kening. “Kamu berlebihan.”
“Tidak,” Hana menggeleng. “Aku justru baru sadar … aku selama ini terlalu meremehkan rasa sakitku sendiri.”
Ia menunduk sebentar, lalu kembali menatap Farhan.
“Aku datang ke sini sendirian. Satu jam di jalan. Tidak ada yang tanya aku capek atau tidak. Tapi untuk dia .…” Tatapannya sekilas mengarah ke Chika, “Kamu dan Mama, pastikan dia tidak lelah.”
Farhan membuka mulut, tapi lagi-lagi tidak ada kata yang keluar.
Hana menarik napas panjang. “Dan yang lebih menyakitkan kamu tidak merasa itu salah," ucap Hana dengan suara yang mulai sedikit bergetar, tapi ia tetap melanjutkan, “
Suasana mendadak menjadi sunyi. Bahkan Mama Meri yang tadi begitu vokal kini hanya diam, memperhatikan.
Hana menggenggam kunci motornya lebih erat.
“Aku tidak marah karena kamu menjemput Chika, Mas,” ucapnya pelan. “Aku marah pada diriku sendiri, karena aku baru sadar posisiku di hidup kamu.”
Farhan menatapnya, kali ini lebih serius. “Maksud kamu?”
Hana tersenyum lagi. Ia tampak lelah.
“Aku ini istri kamu … tapi rasanya seperti orang lain.”
Kalimat itu menggantung di udara. Beberapa detik terasa begitu lama.
Lalu Hana mengenakan helmnya. Gerakannya tenang. Tidak terburu-buru. Seolah semua sudah ia putuskan dengan sangat sadar.
“Hana .…” Suara Farhan melemah sedikit. Ada sesuatu yang mulai berubah di dalam dirinya. “Kamu mau ke mana malam-malam begini?”
Hana berhenti sebentar. Tapi tidak menoleh.
“Ke tempat yang tidak membuat aku merasa sendirian … meski aku datang sendiri.”
Jawaban itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat Farhan kehilangan kata-kata.
Mesin motor dinyalakan. Suaranya memecah keheningan.
“Hana, jangan pergi sekarang,” ucap Farhan lagi, kali ini lebih rendah. “Kita bisa bicarakan baik-baik.”
Hana terdiam sejenak. Lalu akhirnya ia menoleh. Tatapannya tidak lagi penuh harap. Tidak juga penuh amarah. Kosong … tapi justru itu yang paling menakutkan.
“Mas,” ucapnya pelan, “aku sudah terlalu lama bicara tapi tidak pernah benar-benar didengar.”
Satu kalimat. Penutup dari semua yang selama ini ia tahan.
Tanpa menunggu jawaban, Hana menarik gas motornya dan perlahan meninggalkan halaman rumah itu.
Meninggalkan Farhan yang masih berdiri diam. Meninggalkan Mama Meri yang mulai kehilangan kendali atas situasi.
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....