NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:768
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(ARC 1) Chapter 14: Ramalan?

Hari kedua Grachius di Heimdall dimulai dengan suara yang sama—

ramai.

Hidup.

Tidak pernah benar-benar diam.

Matahari pagi menyinari jalan-jalan batu kota yang mulai dipenuhi aktivitas. Pedagang membuka lapak, aroma makanan kembali memenuhi udara, dan orang-orang berjalan cepat seolah setiap detik memiliki tujuan.

Grachius berjalan di antara mereka.

Langkahnya tetap tenang.

Namun kini… lebih terbiasa.

Ia tidak lagi berhenti setiap beberapa langkah.

Tidak lagi terlalu lama memperhatikan hal-hal kecil.

Ia mulai memahami ritme kota.

Cara manusia bergerak.

Cara mereka berbicara.

Cara mereka hidup.

Meski begitu—

ia tetap berbeda.

Beberapa orang masih meliriknya diam-diam saat ia lewat. Bukan karena ia membuat masalah, melainkan karena ada sesuatu pada dirinya yang terasa tidak cocok berada di tengah keramaian biasa.

Namun Grachius tidak memedulikannya.

Tatapannya bergerak pelan menyusuri pasar Heimdall.

Kain-kain warna-warni tergantung di depan toko.

Ikan segar dijajakan di atas meja kayu.

Suara logam dari bengkel pandai besi terdengar bercampur dengan tawa dan teriakan para pedagang.

Dunia manusia terus bergerak tanpa peduli pada siapa pun.

Dan di tengah semua itu—

Grachius mendengar sesuatu.

“…langit akan runtuh.”

Langkahnya sedikit melambat.

Dua pria tua sedang berbicara di dekat kios minuman kecil.

Salah satunya menunduk lebih dekat sebelum berkata pelan—

“Aku dengar dari penjaga kuil sendiri.”

Pria satunya mendecak kecil.

“Ramalan lagi?”

“Ini berbeda.”

Tatapan pria itu bergerak gelisah.

“Mereka bilang para dewa akan dihancurkan.”

Grachius tetap berjalan.

Namun pendengarannya fokus.

“Katanya ada sosok berambut putih…”

Suara pria itu semakin pelan.

“…yang akan menjadi penyebabnya.”

Hening sesaat.

Pria lainnya tertawa gugup.

“Omong kosong.”

“Mungkin.”

Tatapan pria tua itu naik ke langit.

“Namun beberapa kuil mulai panik.”

Grachius berjalan melewati mereka tanpa menoleh.

Namun kata-kata itu tertinggal.

Sosok berambut putih.

Langit runtuh.

Para dewa dihancurkan.

Tangannya perlahan mengepal di balik lengan bajunya.

Kebetulan?

Atau—

sesuatu yang memang sudah ditentukan jauh sebelum ia lahir?

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan hutan, Grachius mulai mempertanyakan itu.

Apakah ia benar-benar memilih jalannya sendiri?

Atau dunia… sudah bergerak ke arah ini sejak awal?

...—...

Beberapa hari sebelumnya.

Di berbagai kuil manusia—

lonceng mulai dibunyikan lebih sering.

Para penjaga kuil berbicara dengan suara lebih pelan dari biasanya.

Di beberapa wilayah, orang-orang mulai berdoa lebih sering.

Di wilayah lain, para pendeta justru tampak ketakutan.

Karena ramalan itu tidak datang dari manusia.

Melainkan dari langit.

Dan pembawanya—

tidak pernah salah.

Nuntius.

Sosok dengan Chiton (pakaian khas Yunani kuno) berjalan tanpa suara di lorong kuil yang sunyi. Di punggungnya terdapat sepasang sayang putih, sementara mata keperakannya terlihat kosong seperti langit tanpa awan.

Ia bukan manusia.

Ia adalah dewa.

Dewa Pembawa pesan.

Dan hukum tertinggi bagi sosok seperti dirinya sederhana—

ia tidak boleh berpihak.

Dan tidak boleh berbohong.

“Kehancuran akan datang dari sosok berambut putih.”

Suara Nuntius bergema pelan di dalam aula batu.

“Langit akan retak oleh anak yang tidak diketahui asal-usulnya.”

Para penjaga kuil saling memandang dengan wajah pucat.

Karena mereka tahu—

ramalan dari seorang Nuntius tidak pernah muncul tanpa alasan.

...—...

Dataran Tinggi Aetherion.

Angin dingin berhembus di dataran tinggi yang dipenuhi tebing batu raksasa dan langit kelabu luas tanpa akhir.

Tempat itu sunyi.

Namun bukan damai.

Di atas salah satu tebing tertinggi—

seorang pria berdiri menghadap langit.

Rambutnya berwarna merah oranye, bergerak mengikuti angin dingin pegunungan. Tubuhnya tinggi dan tegap, tidak dibalut pakaian, hanya jubah putih yang hanya menutupi sebagian tubuhnya.

Di tangannya—

sebuah busur besar berwarna putih dan ukiran matahari.

Sunchaser.

Bahkan dalam keadaan diam, senjata itu terasa hidup.

Udara di sekitarnya bergetar tipis oleh panas yang samar namun menekan.

Sagitta.

Salah satu dari dewa pejuang.

Dan salah satu algojo yang membunuh Sonne.

Matanya yang tajam perlahan bergerak ketika langkah seseorang terdengar di belakangnya.

Nuntius.

“Jadi benar.”

Suara Sagitta rendah dan tenang.

“Ramalan itu mulai bergerak.”

Nuntius berhenti beberapa langkah di belakangnya.

“Pemuda berambut putih itu sedang menuju ke arahmu.”

"Sesuai nubuat Plios."

Sagitta tersenyum kecil.

Bukan senang.

Melainkan tertarik.

“Tujuannya?”

“Untuk membunuhmu.”

Angin pegunungan berhembus lebih keras.

Namun Sagitta tidak bergerak sedikit pun.

Sebaliknya—

ia tertawa pelan.

“Menarik.”

Tatapannya turun pada Sunchaser di tangannya.

“Anak itu…”

Senyumnya sedikit melebar.

“…berani juga.”

Tidak ada rasa takut di wajahnya.

Tidak ada kewaspadaan berlebihan.

Hanya rasa penasaran seorang pemburu terhadap sesuatu yang dianggap belum cukup berbahaya.

Nuntius memperhatikannya dalam diam.

“Namun kau bukan satu-satunya yang menjadi target.”

Tatapan Sagitta sedikit menyipit.

“Apa maksudmu?”

Nuntius tidak langsung menjawab.

Karena bahkan dirinya sendiri tahu—

ramalan itu belum sepenuhnya jelas.

Dan justru itu yang membuatnya mengerikan.

...—...

Heimdall.

Grachius kini berjalan lebih jauh dari pusat kota.

Dan perlahan—

suasana mulai berubah.

Jalan batu yang rapi menghilang.

Bangunan mulai retak dan kusam.

Udara terasa lebih berat.

Orang-orang di sini tidak berbicara sekeras mereka yang berada di pasar utama.

Wajah mereka lelah.

Anak-anak duduk diam di sudut jalan dengan pakaian tipis dan mata kosong.

Beberapa rumah bahkan terlihat hampir runtuh.

Grachius memperhatikan semuanya dalam diam.

Tidak hanya keramaian dan kehidupan hangat di pusat kota.

Namun juga—

kelaparan.

Ketakutan.

Keputusasaan.

Di ujung jalan, keributan kecil terdengar.

Beberapa pria berjubah putih berjalan bersama penjaga bersenjata ringan.

Simbol kuil terlihat jelas di pakaian mereka.

Dan di belakang mereka—

beberapa gadis muda berjalan dengan kepala tertunduk.

Tidak menangis.

Tidak melawan.

Hanya… pasrah.

“Persembahan untuk para dewa.”

Seseorang berbisik pelan di dekat Grachius.

Nada suaranya penuh ketakutan.

Grachius memperhatikan rombongan itu lebih lama.

Dadanya terasa dingin.

Bukan marah yang meledak-ledak.

Lebih seperti sesuatu yang perlahan mengeras di dalam dirinya.

Para dewa tidak hanya membunuh.

Mereka merusak kehidupan manusia sedikit demi sedikit.

Dan manusia…

terlalu takut untuk melawan.

Salah satu pria kuil tiba-tiba berhenti.

Tatapannya bergerak ke arah Grachius.

Sedikit menyipit.

Seolah merasakan sesuatu yang aneh.

Untuk sesaat—

udara di sekitar Grachius terasa berbeda.

Namun pria itu akhirnya berpaling lagi dan melanjutkan langkah.

Ia tidak tahu siapa Grachius sebenarnya.

Belum.

Rombongan itu perlahan menjauh.

Grachius tetap berdiri diam beberapa detik.

Tatapannya mengikuti mereka sampai menghilang di tikungan jalan.

Lalu ia kembali berjalan.

Namun kini—

langkahnya terasa berbeda.

Lebih berat.

Lebih dingin.

Karena ia akhirnya memahami sesuatu.

Kebenciannya pada para dewa…

tidak lagi hanya tentang Sonne dan Rosalia.

Dunia ini sendiri—

sedang perlahan dihancurkan oleh mereka.

Angin sore bergerak melewati jalan-jalan kumuh Heimdall.

Dan di tengah kota manusia yang lelah itu—

Grachius terus berjalan.

Tatapannya semakin tajam.

Tekadnya semakin dalam.

Sementara jauh di atas langit—

dunia perlahan mulai bergerak menuju sesuatu yang bahkan para dewa sendiri…

mungkin tidak akan mampu hentikan.

...A Novel By Franzzz...

1
Manusia Ikan 🫪
nih, aku kasih gift iklan biar semangat😎👍
Manusia Ikan 🫪
heh
Manusia Ikan 🫪
ini baru Nama yang keren v:
Manusia Ikan 🫪
:v kalau aku sih gk masalah
Manusia Ikan 🫪
Nama yang unik🧐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!