NovelToon NovelToon
Gadis Desa Milik CEO Tampan

Gadis Desa Milik CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: HegunP

Ayu pikir jadi istri dari CEO tampan hidupnya akan bahagia seperti di film-film, nyatanya malah selalu direndahkan dan diperlakukan kasar.

Sang CEO, bernama Arvin, memandang Ayu hanyalah gadis dari desa yang tak pantas bersanding dengan dirinya, yang berkelas dan premium. Arvin menikahi Ayu memang bukan karena cinta.

Hingga datanglah hari dimana kesabaran Ayu telah habis. Dia hendak mengakhiri rumah tangganya, namun perilaku Arvin malah berubah menjadi sosok yang tidak ingin lepas dari Ayu.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan isi hati Arvin? Dan bisakah Ayu tetap mempertahankan rumah tangganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HegunP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Kemarahan Suami

Gerak langkah Arvin begitu lebar mendatangi Ayu. Jelas sekali dia sambil menahan amarah agar tak langsung tumpah semua. Terlihat dari otot rahangnya yang menegang sampai ke leher.

“Apa kamu tadi masuk ke ruang kerja pribadiku? tanya Arvin langsung, nadanya sedikit meninggi.

Ditanya langsung dengan suara seperti itu, suara Ayu terlonjak kaku.

“Soal itu, saya—”

“Serahkan padaku?!” potong Arvin cepat sembari mengeluarkan tangan meminta.

Ayu tercengang bingung. Bola matanya bergerak-gerak tak karuan. Mencari-cari maksud yang diminta Arvin.

“Kau pasti mengambil sesuatu dari sana, kan! Serahkan padaku!” pinta Arvin lagi dengan nada keras yang sama.

“Maaf Pak. Saya tidak mengerti.”

“Serahkan 3 lembar kertas Surat Perjanjian Kerjasama yang kamu ambil!” Suara Arvin naik satu oktaf, penuh penekanan, sementara satu tangannya tetap menjulur untuk meminta.

“3 lembar kertas?” Ayu berusaha mengingat-ingat.

“Aku yakin pasti kamu yang mengambilnya karena terakhir kali ada di atas meja. Tak mungkin hilang sendiri!”

Akhirnya, Ayu mengingatnya dan merasa kalau ada kesalahpahaman yang perlu diluruskan.

“Maaf Pak Arvin. Saya memang mengambil 3 kertas waktu mau bersih-bersih di ruang kerja bapak, tapi saya mengambil kertas yang ada di lantai, bukan yang di atas meja,” Ayu menjelaskan sesekali sedikit menunduk sungkan.

“Apa di kertas itu ada tanda tangan dan gambar diagramnya?”

Mendapat lanjutan pertanyaan Arvin, perasaan Ayu langsung berubah tidak nyaman, 

Dia menjawab lirih. “I–iya.”

Arvin menghembuskan napas ringan. “Serahkan! Itu yang aku cari!”

Arvin nampak terlihat sedikit lega, sedangkan Ayu berubah tegang. Ketegangan Ayu menjalar ke seluruh tubuh, menekan kepalanya sampai tertunduk.

“Maaf Pak … sudah saya buang!” lirih Ayu, hampir tak terdengar.

“DIBUANG!?” teriak Arvin.

Gelombang kejut teriakan Arvin sampai membuat bahu Ayu terlonjak kaget.

Ayu yang panik bercampur takut memberanikan dari jujur dengan suara tergagap. “Saya pikir itu bukan kertas penting … terus kelihatan lecek juga. Jadi saya serahkan ke tukang angkut sampah.” 

“KAU….”

Tangan sebelah Arvin terangkat dan mengepal kepada Ayu. Namun, ia segera tarik lalu bergerak mundur beberapa meter. Dia membelakangi Ayu sambil mengacak-acak kepalanya.

Di sisi lain, Ayu mulai terguncang melihat reaksi Arvin yang gawat sekali. Apalagi saat mendengar Arvin mengeram.

“Itu surat perjanjian kerjasama dengan investor untuk proyek seharga miliaran. TIDAK ADA SALINAN KERTASNYA!”

Ayu sontak menutup mulut dengan mata melebar. Wajahnya langsung pucat, napasnya tercekat.

Arvin mulai mengacung-acungkan telunjuk ke Ayu. “Gara-gara kau … perusahaanku rugi besar!”

“Kau … kau telah menghancurkan bisnisku, Ayu!”

Rasa bersalah menghantam dahsyat dada Ayu, membuatnya dilanda sesak.

“Pak saya tidak bermak—!”

“Aku …” Arvin mendatangi Ayu lagi seraya menepuk-nepuk dadanya. “aku kerja keras siang malam demi proyek itu. Sekarang hancur seketika gara-gara kau!”

Arvin melihat tepat di samping betisnya ada meja kaca. Dalam sekali teriakan, Arvin angkat lalu dilempar ke sisi pojok ruangan.

Cetaar!”

Suara pecahan kaca memecah telinga. Ayu sontak menjerit dan mundur.

Di titik ini, semua telah berubah semakin mencekam. 

Ayu bahkan tak sadar dengan kedua bola matanya telah menumpahkan air mata.

Tidak pernah dia melihat Arvin semarah dan semurka ini. Dan ini membuat tubuhnya sendiri seakan mengajak kabur.

Akan tetapi, sisi lain Ayu melawan balik. Dia ingin membela diri kalau dirinya tak sepenuhnya salah.

“Maaf Pak. Saya tidak tahu kalau itu kertas penting. Saya tidak ada maksud untuk menghancurkan bisnis bapak. Maafkan saya.”

“Apa kamu terlalu b o d o h untuk mengingat kalau saya sudah pernah melarang kamu untuk tidak masuk ke sana!?”

“Bapak menyuruh saya untuk bersih-bersih semua ruangan. Jadi saya masuk saja ke sana.”

“KAU … BERANINYA!

Arvin mendorong tubuh ayu kuat-kuat, Ayu terjungkal. Terkapar dan berteriak kesakitan.

Belum puas, Arvin mencari-cari benda keras. Matanya yang merah jatuh kepada vas bunga ukuran sedang di meja tv layar datar.

Dia pergi mengambilnya, lalu mengarahkannya tepat di atas tubuh Ayu yang masih terbaring lemah di lantai.

“Pak jangan!” jerit Ayu, langsung meringkuk. Melindungi kepalanya.

Arvin ambil ancang-ancang. Siap melempar sekuat tenaga.

“MATI KAMU!”

“PAK JANGAN!”

Ingatan masa kecil Arvin tiba-tiba datang menahan.

Arvin kecil (kelas 5 SD), juga pernah melihat ini.

Waktu itu di balik celah pintu, Arvin kecil menyaksikan ibunya terbaring lemah di lantai kamar tidurnya. Memohon-mohon kepada suaminya agar jangan melempar vas bunga beling ke arahnya.

Ayah Arvin yang murka tak mau dengar.

“MATI KAMU!”

Vas bunga terlempar, ke wajah istrinya.

Cetar!

Ibu Arvin terkapar. Penuh darah. 

Meninggal.

Ingatan kelam Arvin berhenti berputar, tepat sebelum vas bunga di tangannya terlempar kepada Ayu.

Dengan tangan gemetar, Arvin menurunkan benda di tangannya pelan-pelan. Dadanya naik turun. Matanya membulat sempurna seolah terbangun dari mimpi buruk dengan wajah berkeringat deras.

Di bawah sana, Ayu menangis histeris.

Melihat Arvin mundur menjauh, Ayu cepat-cepat bangkit dan kabur terpincang-pincang menuju kamarnya, lalu mengunci pintu kamar rapat-rapat.

“Apa yang aku lakukan!?” Arvin menatap kecewa dua tangannya sendiri.

...***...

Pagi hari harusnya Ayu mengantarkan baju dan jas kerja seperti biasa kepada Arvin. Namun kali ini Ayu tidak menampakkan diri.

Arvin yang masih mengenakan kaos polos putih dan celana olahraga keluar dari kamar menuju ruang tengah.

Sampai di sana, tatapan Arvin langsung tertuju kepada hancurnya meja kaca yang ia banting dan masih berkeping-keping di pojok tembok sana.

Untuk sesaat wajahnya terdiam, sebelum akhirnya mengusap wajah kasar. 

Dia hendak berbalik untuk mengambil penyapu dan sekop, namun tertahan karena mendengar suara langkah kaki dan suara gelinding roda koper dari arah kamar Ayu.

Ayu muncul dengan pakaian yang sudah rapi sambil menyeret koper. Memakai dress biru tua terusan, rambutnya tergerai. Sederhana, dan polesan wajahnya tidak ada make up. 

Jelas matanya nampak sembab. Raut syok dan takutnya kepada Arvin tak hilang. Masih sama seperti kemarin.

Sesaat, Ayu terpaku ketika mendapati Arvin sudah di ruang tengah. Apalagi pria itu sedang memperhatikan kemunculannya sekarang.

Arvin menahan langkahnya untuk mendatangi Ayu, sebelum akhirnya Ayu sendiri yang mendatangi Arvin.

Dengan raut takut bercampur ragu-ragu, Ayu menyampaikan keinginannya.

“Pak … saya izin mau pulang kampung.”

Tatapan Arvin tetap membentuk datar setelah mendengarnya. Bahkan dua tangannya kini bergerak masuk ke kantong celananya. 

Akan tetapi, mata tenang dan tajam itu, rupanya sedikit bergetar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!