NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:770
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(ARC 1) Chapter 20: Jalan Berdarah

Pagi mulai beranjak siang di Skullcrack.

Kabut tipis yang tadi menyelimuti dasar ngarai perlahan memudar, digantikan cahaya matahari yang masuk di sela-sela tebing batu tajam. Angin masih dingin, namun tidak seberat malam sebelumnya.

Api unggun telah padam.

Hanya menyisakan abu hitam dan aroma samar kayu terbakar.

Grachius berdiri tanpa banyak kata.

Ia mengambil botol minumnya.

Berjalan ke arah pancuran kecil yang ia buat sebelumnya.

Air masih mengalir jernih dari retakan batu.

Ia mengisinya.

Penuh.

Lalu kembali.

Sisa daging babi hutan diangkat. Sebagian ia bungkus menggunakan kain sederhana dan diikat di pinggangnya.

Sisanya ditinggalkan dekat api padam.

Daji memperhatikan semua itu dari atas batu sambil memeluk lututnya.

“Kau meninggalkannya?”

Grachius mengangguk kecil.

“Aku pergi.”

Hanya itu.

Tidak ada penjelasan tambahan.

Tidak ada ajakan.

Ia langsung berbalik lalu berjalan menuju jalur keluar Skullcrack tanpa menoleh sedikit pun.

Daji memperhatikan punggung itu semakin menjauh.

Sunyi kembali turun.

Angin bergerak pelan melewati ekor coklat nya.

Beberapa saat ia hanya diam.

Lalu mendecak kecil.

“…kenapa aku peduli?”

Namun tubuhnya bergerak juga.

Kabut tipis menyelimuti tubuhnya sesaat sebelum bentuk manusianya mengecil menjadi rubah coklat kecil.

Diam-diam—

ia mulai mengikuti Grachius dari jauh.

Bahkan Daji sendiri tidak benar-benar mengerti alasannya.

Mungkin penasaran.

Mungkin insting.

Atau mungkin karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya—

ia bertemu sesuatu yang tidak bisa ia pahami.

...—...

Jalan keluar Skullcrack dipenuhi batu tajam dan jalur sempit yang memaksa siapa pun berjalan hati-hati.

Namun langkah Grachius tetap stabil.

Tenang.

Seolah tubuhnya sudah menghitung setiap pijakan bahkan sebelum ia bergerak.

Angin menabrak tebing tinggi dan menghasilkan suara seperti bisikan panjang.

Kadang terdengar seperti jeritan.

Namun Grachius terus berjalan tanpa terganggu.

Dan tidak lama kemudian—

sesuatu muncul dari balik batu.

Goblin.

Tubuh kecil kehijauan dengan mata liar dan senjata berkarat.

Jumlah mereka cukup banyak.

Salah satu langsung menjerit lalu menyerang.

Grachius tidak berhenti berjalan.

Tatapannya langsung menemukan satu goblin di belakang kelompok.

Lebih besar.

Membawa tombak tulang.

Sang Pemimpin.

Enjin ditarik.

Satu terjangan.

Satu tebasan.

Kepala goblin itu terlepas sebelum suara jeritannya selesai keluar.

Darah menyembur ke batu.

Dan seketika—

goblin lain panik.

Mereka langsung kabur ke segala arah tanpa mencoba melawan.

Grachius memasukkan Enjin kembali ke sarungnya.

Langkahnya tidak berubah.

Di balik batu jauh di belakang—

Daji hanya menatap diam.

“…langsung pemimpinnya.”

Bahkan monster pun punya insting.

Dan Grachius selalu menyerang pusatnya lebih dulu.

Tidak lama kemudian—

ogre muncul.

Tiga makhluk besar berkulit abu kasar menghadang jalur sempit.

Salah satunya mengaum keras sambil mengangkat gada batu.

Grachius langsung bergerak.

Tubuhnya menghilang dari posisi awal.

Enjin melintas seperti garis cahaya tipis.

Shhk.

Kepala ogre terbesar jatuh berguling di tanah.

Tubuh raksasanya roboh beberapa detik kemudian.

Dua ogre lain membeku.

Lalu mundur.

Dan kabur.

Grachius bahkan tidak mengejar.

Daji mulai menyadari pola itu.

Cepat.

Efisien.

Bersih.

Tidak ada gerakan sia-sia.

Tidak ada emosi.

Seolah membunuh adalah sesuatu yang sudah sangat biasa baginya.

Dan justru itu yang membuatnya menyeramkan.

...—...

Menjelang siang, kelompok orc muncul di jalur batu sempit dekat tebing retak.

Mereka lebih terorganisir dibanding goblin atau ogre.

Membentuk posisi.

Mengurung jalan.

Namun hasilnya tetap sama.

Grachius masuk langsung ke tengah formasi mereka.

Enjin bergerak pendek dan presisi.

Leher.

Jantung.

Sendi.

Satu per satu tubuh jatuh sebelum sempat benar-benar melawan.

Tidak lama kemudian—

yang tersisa hanya mayat.

Dan suara angin Skullcrack.

Daji memperhatikan semuanya dari kejauhan sambil bersembunyi di balik batu.

Tatapannya perlahan berubah.

“…ini bukan manusia kuat biasa.”

Tidak.

Ada sesuatu yang salah dari Grachius.

Cara ia bergerak.

Cara ia membunuh.

Terlalu tenang.

Terlalu terbiasa.

Seolah tubuhnya memang diciptakan untuk itu.

...—...

Saat jalur Skullcrack mulai terbuka menuju dataran batu luas—

sekelompok manusia muncul.

Bandit.

Pakaian lusuh.

Senjata kotor.

Dan tatapan rakus.

Mereka mengepung Grachius dari berbagai sisi.

Pemimpinnya meludah ke tanah sambil tersenyum miring.

“Serahkan semua barangmu.”

Tatapannya turun ke Enjin.

“Terutama pedang itu.”

Grachius berhenti.

Tatapannya datar.

“Menyingkirlah jika tidak ingin mati.”

Beberapa bandit tertawa keras.

Pemimpin mereka menyeringai.

“Dengar itu? Bocah ini mengancam—”

“Bunuh dia.”

Grachius menghilang.

Benar-benar menghilang dari pandangan mereka.

Dan sepersekian detik kemudian—

ia sudah berada di belakang pemimpin bandit.

Enjin menebas tenang.

Shhk.

Leher pria itu terbuka.

Kepalanya jatuh lebih dulu sebelum tubuhnya menyusul.

Sunyi sesaat.

Lalu pembantaian dimulai.

Tidak ada teriakan panjang.

Tidak ada duel dramatis.

Hanya gerakan cepat dan kematian yang datang terlalu tiba-tiba.

Enjin bergerak pendek.

Efisien.

Satu demi satu bandit roboh ke tanah.

Beberapa mencoba kabur.

Tidak ada yang berhasil.

Dalam hitungan menit—

semuanya selesai.

Angin kembali terdengar.

Darah mengalir pelan di sela batu.

Dan Grachius berdiri diam di tengah mayat manusia.

Untuk pertama kalinya—

ia menyadari sesuatu.

Monster sebelumnya bukan manusia.

Namun sekarang—

yang tergeletak di sekitarnya adalah manusia.

Tangannya menggenggam Enjin sedikit lebih erat.

Hening.

Pikirannya perlahan bergerak ke arah yang selama ini ia hindari.

"Aku..."

"... membunuh manusia?"

Bayangan api hitam muncul sekilas di kepalanya.

Kegelapan dalam dirinya.

Kemarahan.

Dendam.

Dan jalan yang terus membawanya pada kematian.

Grachius menutup mata perlahan.

Menarik napas panjang.

Lalu menghembuskannya pelan.

Ketika matanya terbuka kembali—

tatapannya tenang.

Sedikit lebih dingin.

Namun stabil.

Jalan yang ia pilih memang tidak akan bersih.

Dan ia sudah mengetahui itu sejak awal.

Grachius membersihkan darah Enjin pada pakaian salah satu mayat.

Lalu berjalan lagi.

Tanpa menoleh.

...—...

Daji masih mengikuti dari kejauhan.

Kini langkahnya jauh lebih hati-hati.

Tatapannya terus tertuju pada punggung Grachius.

Manusia yang pernah ia lihat biasanya penuh emosi saat membunuh.

Takut.

Marah.

Menyesal.

Namun Grachius…

terlalu tenang.

Terlalu matang.

Terlalu terbiasa.

Untuk sesaat Daji bahkan mulai berpikir—

mungkin Grachius sudah hidup sangat lama.

Namun kemudian ia menyadari sesuatu yang lebih aneh.

Saat aura Grachius sedikit bocor tadi—

ia merasakan sesuatu di balik Qi itu.

Sesuatu yang gelap.

Dan sedikit…

menyerupai iblis.

Ekor Daji bergerak pelan.

Tatapannya menyipit.

Rasa takutnya belum hilang.

Namun rasa penasarannya tumbuh jauh lebih besar.

“…apa sebenarnya dia?”

Bisikannya tenggelam bersama angin Skullcrack.

Dan jauh di depan—

Grachius terus berjalan menuju timur.

Menerima sedikit demi sedikit sisi gelap jalannya sendiri.

Sementara Daji mulai sadar—

ia sedang mengikuti sesuatu…

yang bahkan dirinya tidak mampu pahami sepenuhnya.

...A Novel By Franzzz...

1
Manusia Ikan 🫪
nih, aku kasih gift iklan biar semangat😎👍
Manusia Ikan 🫪
heh
Manusia Ikan 🫪
ini baru Nama yang keren v:
Manusia Ikan 🫪
:v kalau aku sih gk masalah
Manusia Ikan 🫪
Nama yang unik🧐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!