NovelToon NovelToon
BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Kebangkitan pecundang / Ahli Bela Diri Kuno / Balas Dendam
Popularitas:770
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"

Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.

Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: AMUKAN SANG SATRIA DI TANAH KERAJAAN

Udara di Trowulan mendadak statis.

Suara serangga malam yang biasanya meramaikan reruntuhan candi lenyap seketika, digantikan oleh dengungan frekuensi rendah yang membuat bulu kuduk berdiri.

WREEEEUMMM... (Dengungan frekuensi rendah yang menyakitkan telinga).

Mahesa Suro, entitas ghaib berkepala kerbau dengan otot-otot sebesar batang pohon beringin, menggeram. GRRRRRRRRR!  Parang raksasanya yang berkarat namun memancarkan aura kematian itu diangkat tinggi-tinggi.

"Satria Piningit... Kau hanyalah anak kemarin sore bagi sejarah tanah ini!" raung Mahesa Suro. Suaranya bukan keluar dari tenggorokan, melainkan beresonansi langsung di dalam dada Arka.

Arka tidak bergeming. Ia berdiri tegak, membiarkan jubah hitamnya berkibar tertiup angin ghaib yang berputar di sekelilingnya.

Di tangan kanannya, Gading Putih pemberian Sang Pamomong berpendar dengan cahaya yang semakin intens. ZING!  Arka melirik ke arah Dafa yang masih terkurung dalam lingkaran api hitam.

Dafa menatapnya bukan dengan tatapan anak kecil yang meminta tolong, melainkan dengan ketenangan yang tidak wajar bagi bocah seusianya.

"Dafa," panggil Arka. Suaranya dingin namun penuh kasih. "Tutup matamu. Papa akan membersihkan tempat ini sebentar."

Dafa mengangguk pelan, lalu memejamkan matanya sesuai perintah Arka.

Melihat pengabaian Arka, Mahesa Suro merasa terhina. Sebagai penguasa ghaib yang telah disembah dalam kegelapan selama berabad-abad, ia merasa kedaulatannya diinjak-injak.

Ia menghentakkan kakinya ke tanah, dan seketika bumi Trowulan retak. DHUM!  Dari dalam retakan itu, muncul ribuan tangan-tangan hitam yang mencoba menarik kaki Arka masuk ke dalam neraka Lulut Mas.

SREEEET... SREEEET...

"Bumi ini sudah tidak mengenalimu, Arka!" teriak Mahesa Suro sambil mengayunkan parangnya.

Arka tidak menghindar. Ia hanya menghentakkan kaki kirinya satu kali.

“Segel Bumi: Kedaulatan Sang Prabu!” BOOOOOMMMM!

Gelombang kejut berwarna emas merambat dari kaki Arka, menghancurkan tangan-tangan hitam itu seketika dan menutup kembali retakan tanah dengan kekuatan yang jauh lebih besar.WHUUTSH!

Arka kemudian melesat maju. Kecepatannya bukan lagi kecepatan manusia, ia berpindah tempat dalam satu kedipan mata, sebuah teknik Lipat Bumi yang sempurna. ZLAP!

Gading Putih beradu dengan parang raksasa Mahesa Suro. KLANGGGGG!  Benturan dua kekuatan besar itu menciptakan gelombang suara yang memecahkan sisa-sisa tembok bata kuno di sekitar mereka. *BRUAK**!*

Mahesa Suro terkejut. Kekuatan fisik Arka yang biasanya hanya mengandalkan energi batin, kini terasa seberat gunung Mahameru.

"Kau bersekutu dengan kekuatan asing untuk mengkhianati tanah ini, Mahesa Suro," ucap Arka dengan nada rendah yang mematikan.

"Kau menukar martabat leluhur demi janji palsu dari mereka yang ingin menghapus sejarah kita. Hari ini, aku akan mencabut hakmu atas tanah Trowulan."

Arka memutar Gading Putihnya, menciptakan pusaran energi putih yang murni.

“Segel Kelima: Pamungkas Sukma!” BLAM!

Arka melepaskan pukulan ke arah dada raksasa itu. Cahaya putih meledak, menembus lapisan pelindung ghaib Mahesa Suro.BRAKKKK!

Sang penguasa ghaib itu terlempar mundur sejauh puluhan meter, menghantam pohon beringin tua hingga tumbang. Kabut hitam yang menyelimuti tempat itu mulai memudar, kalah oleh kemurnian cahaya Arka.

Namun, Mahesa Suro belum tumbang. Ia bangkit kembali, matanya yang merah kini menyala dengan amarah yang lebih gelap. "Kau pikir kau bisa menang sendiri? Lihat sekelilingmu, Satria Sombong!"

Tiba-tiba, dari arah kegelapan hutan di sekitar candi, muncul ratusan sosok berjubah putih dengan wajah yang tertutup kabut.

Mereka membawa tasbih hitam dan merapal mantra dalam bahasa Jawa kuno yang terdengar sangat cepat dan penuh tekanan. HUUUUUMMMM... (Suara mantra Jawa kuno yang menekan).

Inilah para Wali Ghaib yang Berkhianat, entitas yang dulu menjaga kesucian namun kini telah terjatuh ke dalam godaan kekuasaan global.

Mereka membentuk formasi Cakra Manggilingan, sebuah teknik pengunci sukma yang dirancang untuk menjatuhkan seorang raja.

Arka merasakan energinya mulai tersedot. Kakinya terasa berat seolah-olah seluruh dosa tanah Jawa sedang dibebankan ke pundaknya. UHHUK.

Di sudut lain, Reyna mulai tersadar. Ia melihat Arka yang mulai terdesak oleh kepungan ratusan entitas ghaib tersebut.

Reyna mencoba bangkit, namun ia menyadari bahwa kekuatan doanya saja tidak akan cukup untuk menembus formasi pengunci sukma itu.

"Arka! Gunakan darahmu! Sumpah Satria hanya bisa pecah dengan pengorbanan!" teriak Reyna.

Arka mendengar teriakan Reyna. Ia menatap telapak tangannya. Ia ingat pesan Sabdo Paloh di bawah sumur tadi: "bahwa kedaulatan sejati tidak didapatkan dari pemberian, tapi dari pembuktian."

Arka mengiris telapak tangannya sendiri dengan ujung Gading Putih. SREET... CRITT.  Darahnya yang berwarna merah pekat, namun memancarkan binar keemasan menetes ke tanah Trowulan.

Seketika, tanah itu merespons. Suara raungan ribuan prajurit Majapahit terdengar dari dalam bumi, seolah-olah arwah para Bhayangkara bangkit kembali untuk membela pemimpin mereka. DHUM! DHUM! DHUM!

"Demi leluhur yang menjaga janji, demi tanah yang memberiku nafas..." Arka mengangkat tangannya yang berdarah ke langit. "Bangkitlah, Bala Tentara Sunyaruri!" ROOOAARRRR!

Dari kabut putih yang keluar dari tanah, muncul ribuan bayangan prajurit bertelanjang dada dengan keris di pinggang mereka.

Mereka adalah Bhayangkara Ghaib, pasukan pelindung kedaulatan Nusantara yang hanya akan bangkit saat seorang Satria Piningit mengorbankan darahnya.

Pertempuran besar antara dua kubu ghaib meledak di pelataran Trowulan. CRAASH! SLASH! BOOM!

Prajurit ghaib Arka menerjang barisan Wali Berkhianat, sementara Arka sendiri kembali memfokuskan pandangannya pada Mahesa Suro.

Namun, di tengah kekacauan itu, Rendra Adiningrat muncul dari balik bayang-bayang dimensi lain, dikawal oleh dua agen elit Black Order yang mengenakan jubah pelindung anti-ghaib.

Rendra membawa sebuah perangkat teknologi aneh yang berbentuk seperti piramida kecil yang berdenyut dengan cahaya merah. TIIIIT... TIIIIT... (Suara denyut elektronik).

"Kalian terlalu sibuk dengan urusan hantu, Arka," ejek Rendra. "Kalian lupa bahwa frekuensi ghaib hanyalah gelombang yang bisa diganggu oleh teknologi."

Rendra mengaktifkan perangkat itu. DZZZZZT! BZAAAT!

Seketika, frekuensi di tempat itu menjadi kacau. Prajurit-prajurit ghaib Arka mulai berkedip dan menghilang, sementara Mahesa Suro justru mendapatkan tambahan energi dari perangkat tersebut.

Teknologi global telah menemukan cara untuk memperkuat entitas ghaib yang jahat.

Rendra mengarahkan perangkat itu ke arah Dafa yang masih terkurung dalam lingkaran api. "Anak ini... dia adalah baterai energi yang sempurna. Terima kasih sudah membawanya ke sini, Arka."

"JANGAN SENTUH DIA!" raung Arka.

Arka mencoba melesat, namun Mahesa Suro menghalangi jalannya dengan hantaman parang yang sangat kuat. BRUAKK!  Arka terhempas, bahunya tergores hingga mengeluarkan darah.

Rendra melangkah mendekati Dafa. Lingkaran api hitam itu terbuka bagi Rendra. Ia mengulurkan tangannya yang memakai sarung tangan mekanik untuk mencengkeram bahu kecil Dafa.

"Kemari, Bocah. Kau akan menjadi kunci bagi tatanan dunia baru kami," ucap Rendra dengan senyum kemenangan.

Tapi, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Saat jari-jari mekanik Rendra menyentuh bahu Dafa, anak itu membuka matanya. Namun, matanya bukan lagi mata cokelat anak kecil yang polos.

Seluruh mata Dafa berubah menjadi putih bersih yang memancarkan cahaya menyilaukan, persis seperti Gading Putih milik Arka. ZING!

Dafa tidak menangis. Ia justru menatap Rendra dengan tatapan yang sangat dingin, sebuah tatapan yang tidak seharusnya dimiliki oleh seorang bocah.

"Jangan... ganggu... Papaku," suara Dafa keluar. Suaranya kecil, namun setiap kata yang diucapkannya membuat perangkat piramida di tangan Rendra meledak hancur berkeping-keping.

WREEEEEUUUMMM... BOOOOOMMMM! (Suara frekuensi Dafa menghancurkan piramida Rendra).

Seketika, gelombang energi putih meledak dari tubuh Dafa. Gelombang itu menyapu seluruh pelataran Trowulan. Mahesa Suro terlempar hingga tubuh ghaibnya hancur menjadi debu. PUFF!

Para Wali Berkhianat lenyap seketika, kembali ke kegelapan. Bahkan Rendra dan para pengawalnya terpental jauh hingga menghantam pilar-pilar candi, tulang-tulang mereka terdengar remuk. KRAAAKK!

Arka tertegun. Ia melihat Dafa berdiri di tengah cahaya itu, rambutnya yang hitam kini sedikit memutih di bagian ujungnya.

Dafa menoleh ke arah Arka, dan untuk sesaat, Arka tidak melihat Dafa sebagai anak, ia melihat sosok kuno yang sangat agung, sosok yang seolah-olah telah ada sebelum dunia ini diciptakan.

"Papa..." suara Dafa kembali normal, dan ia pingsan seketika. Cahaya itu padam.

Arka segera berlari dan menangkap tubuh Dafa. SREP.  Ia mendekapnya dengan sangat erat, air matanya jatuh menetes di pipi anaknya. "Dafa... Maafkan Papa, Nak. Maafkan Papa..."

Reyna mendekat dengan langkah gontai, ia memandang Dafa dengan ngeri sekaligus takjub. "Arka... anak ini... dia bukan hanya manifestasi kemurnianmu."

"Dia adalah Titisan Batara yang sudah lama diramalkan oleh Sabdo Paloh akan lahir dari penderitaan seorang Satria."

Arka tidak peduli pada ramalan itu. Ia hanya peduli pada nafas Dafa yang mulai teratur kembali. Ia menatap ke arah Rendra yang sedang berusaha merangkak pergi dalam keadaan sekarat.

Arka berdiri, auranya kini benar-benar gelap dan mematikan. Ia melangkah menuju Rendra.

"Dulu aku membiarkanmu hidup karena aku pikir kau hanya manusia serakah," Arka mengangkat Gading Putihnya, yang kini sudah menyatu dengan darah emasnya.

"Tapi kau berani menggunakan teknologi busukmu untuk menyentuh anakku. Di tanah ini, tidak ada ampun bagi mereka yang mencoba mencuri cahaya Nusantara."

Arka baru saja akan mengayunkan pedangnya untuk mengakhiri hidup Rendra, ketika tiba-tiba langit di atas Trowulan terbelah oleh sebuah portal merah.

VREEEEEE...

Sesosok wanita cantik dengan pakaian modern namun memancarkan aura kegelapan yang sangat kuat muncul dari portal tersebut. SRET.

Maya. Mantan istri pertama Arka. Ia melayang di udara, menatap Arka dengan senyum yang sangat licik.

Di tangannya, ia memegang sebuah jantung manusia yang masih berdetak, jantung ghaib yang dicurinya dari tempat lain. DEG-DEG... DEG-DEG...

"Hentikan, Arka," suara Maya terdengar manis namun beracun. "Jika kau membunuh Rendra sekarang, maka segel kutukan yang aku tanam di dalam jantung Dafa akan meledak."

"Kau pikir cahaya putih tadi adalah kekuatannya? Bukan... itu adalah tanda bahwa nyawa Dafa sudah mulai terbakar untuk memberimu kekuatan."

Arka membeku. DEG!  Tangannya gemetar. "Apa maksudmu, Maya?!"

Maya tertawa, tawa yang membuat seluruh tanah Trowulan seolah-olah ikut menangis. "Dafa adalah anak yang kau doakan saat kau gila, Arka. Tapi kau lupa, saat itu kau berdoa di depan cermin tua milikku."

"Aku telah menukar sebagian sukmanya dengan kutukan Setya Pati. Semakin kuat Dafa membantumu, semakin cepat ia akan mati."

Maya menunjuk ke arah Dafa yang ada di pelukan Reyna. "Lihatlah tengkuknya, Arka. Jika ada garis hitam yang melingkar di sana, artinya waktu anak itu tinggal menghitung hari."

Arka segera memeriksa tengkuk Dafa. Matanya terbelalak. SREEEET.  Di sana, sebuah garis hitam tipis melingkar sempurna, seolah-olah sebuah jerat yang siap mencekik nyawa anaknya.

"Berikan Dafa padaku, dan aku akan memberimu penawarnya," ucap Maya sambil mengulurkan tangannya. "Atau tontonlah dia mati dalam pelukanmu sambil kau dipuja sebagai raja dunia."

***

Dukung perjalanan Arka Nirwana dengan Like & Komen. Update setiap hari. Terima kasih.

1
anggita
ikut like👍iklan☝aja thor.
Dedik Januari: Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!