NovelToon NovelToon
Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: the anonym

Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Logam Fana dan Kesepakatan di Bawah Bara

Hawa panas dari pedang merah menyala milik Tsubaki membuat udara di ruang bawah tanah ini terasa seperti memanggang paru-paruku setiap kali aku menarik napas. Aku menatap bilah pedang itu, lalu menatap belati penyayat kertas di tanganku.

​Di kehidupan masa laluku, ada sebuah prinsip sederhana: sing waras ngalah. Yang waras mengalah. Menantang kapten Familia Hephaestus dengan sepotong besi tumpul adalah definisi murni dari bunuh diri.

​Perlahan, aku menurunkan belatiku dan meletakkannya di atas lantai kayu dengan bunyi klitik yang menyedihkan. Aku mengangkat kedua tanganku, menunjukkan telapak tanganku yang bersih dari kapalan seorang petarung atau pandai besi, namun dipenuhi noda tinta hitam yang permanen di ujung-ujung jarinya.

​"Aku tidak tahu apa-apa tentang metalurgi, Tsubaki-sama," jawabku, suaraku bergetar namun aku memaksanya untuk tetap stabil. "Aku bukan alkemis gelap. Aku hanyalah seorang pencerita yang mencoba mencari Valis untuk makan."

​Mata tunggal Tsubaki memicing, menatapku seolah aku adalah bongkahan bijih besi yang sedang ia nilai kualitasnya.

​"Pencerita biasa tidak menulis panduan bunuh diri massal untuk para pandai besi," balas Tsubaki dingin. Ia mengetukkan jarinya di atas map kulitku. "Kau mendeskripsikan pencampuran elemen kehidupan absolut dengan logam mati di bawah tekanan suhu ekstrem. Kau tahu apa yang terjadi jika orang bodoh mencoba itu di dunia nyata dengan menggunakan material Dungeon?"

​"Wadahnya akan hancur karena kelebihan muatan energi," jawabku cepat. "Sama seperti memaksakan Mind (Mana) dalam jumlah raksasa ke dalam batu sihir penyimpan yang retak. Itu bukan resep rahasia, Tsubaki-sama! Itu adalah metafora tentang keangkuhan. Aku menulisnya sebagai sebuah tragedi, sebuah kegagalan, bukan sebagai cetak biru untuk ditiru!"

​Ruangan itu hening selama beberapa detik. Hanya terdengar suara dengungan pelan dari pedang sihir Tsubaki yang perlahan mulai meredup, kembali ke warna logam kelabu yang dingin.

​Ia mendengus keras, mengusap tengkuknya dengan kasar. "Dewa-Dewi di atas sana... kau benar-benar tidak tahu apa-apa, kan? Kau hanya asal menggabungkan konsep berbahaya dari imajinasimu, dan kebetulan logika kasarmu menyentuh teori alkimia terlarang."

​Tsubaki menyarungkan pedangnya ke punggung. Tekanan di ruangan itu seketika terangkat, membuatku nyaris merosot jika aku tidak berpegangan pada dinding.

​"Dengar, Anonym," kata Tsubaki, menyilangkan tangan di depan dada. "Dekrit Guild sudah turun. Setengah dari Orario mencarimu untuk menangkapmu, dan setengahnya lagi mencarimu untuk memaksamu membeberkan sisa rahasia fiktifmu itu. Tapi bagiku, kau adalah hama yang baru saja mengacaukan industri pandai besi di kota ini."

​"Lalu... kenapa Anda tidak menyerahkanku ke Guild?" tanyaku ragu-ragu.

​"Karena jika aku menyerahkanmu, kau akan disidang secara publik. Dan tahukah kau apa yang terjadi jika publik tahu bahwa rahasia keabadian ini benar-benar ada di kepalamu?" Tsubaki menatapku tajam. "Para idiot itu akan semakin gila mencarinya. Penjara Babel pun tidak akan bisa menahan keserakahan manusia."

​Ia berjalan mendekatiku, langkah kakinya terdengar berat di lantai kayu. "Aku tidak akan membongkar identitasmu. Tapi sebagai gantinya, kau harus memperbaiki kekacauan yang kau buat di bengkel-bengkel Orario."

​"Bagaimana caranya? Aku tidak bisa menarik kembali naskah yang sudah tersebar di pasar gelap."

​"Kau memang tidak bisa menariknya," seringai Tsubaki, sebuah senyum yang lebih terlihat seperti seringai serigala. "Tapi kau bisa menghancurkan harganya."

​Ia mengambil pena buluku dan melemparkannya ke arahku. Aku menangkapnya dengan kikuk.

​"Tulis kelanjutannya malam ini juga," perintah Tsubaki. "Tulis tentang senjata Yingxing, si Blade itu. Jelaskan dengan detail yang sangat meyakinkan bahwa pedang yang tercipta dari logam Abundance itu adalah sampah. Buat agar pembaca tahu bahwa logam yang bisa menyembuhkan dirinya sendiri itu kehilangan seluruh ketajamannya, menjadi rapuh terhadap sihir api, dan seberat jangkar kapal sehingga tidak bisa diayunkan oleh siapa pun."

​Mataku melebar menyadari kecerdasan taktiknya. Tsubaki tidak ingin membungkam ceritaku; ia ingin menggunakan penaku untuk mematahkan ambisi para pandai besi. Jika sang kreator asli menulis bahwa logam itu secara struktural tidak berguna untuk pertarungan nyata, maka nilai eksperimen itu akan hancur seketika. Tidak akan ada lagi yang mau meledakkan bengkel mereka demi menciptakan senjata tumpul.

​Aku mengangguk cepat. "Aku... aku bisa melakukan itu. Aku akan membuat kutukan itu mengubah pedangnya menjadi karat abadi yang menginfeksi pemakainya."

​"Bagus," Tsubaki berbalik menuju tangga. "Aku akan membaca drafnya besok malam. Jika tulisanku memuaskan, Hephaestus Familia akan menutup mata atas eksistensimu. Jika tidak..." Ia menoleh dari balik bahunya. "...aku sendiri yang akan melelehkan gembok pintumu berserta kepalamu."

​Setelah Tsubaki menghilang di balik kegelapan malam, aku jatuh terduduk di kursi kerjaku. Keringat dingin membasahi seluruh jubahku. Aku baru saja membuat kesepakatan dengan kapten Familia Hephaestus.

​Di satu sisi, aku diawasi oleh Sang Pengamat dari Menara Babel (Freya) yang haus akan tragedi emosional. Di sisi lain, aku ditekan oleh Tsubaki yang menuntut realisme teknis untuk mengendalikan efek tulisanku di dunia nyata.

​Satu langkah salah dalam menulis kalimat di bab berikutnya, dan aku akan benar-benar terhapus dari Orario. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, aku membuka lembar perkamen baru.

​Malam ini, aku akan menghancurkan maha karya Yingxing di ujung penaku.

1
l.."..l
aku suka novel ini, makin lama ceritanya menarik
Ero-Sensei
oke ini semakin menarik
Ero-Sensei
buseng dah repot amat MC skizo padahal tinggal bilang cuma fiksi dan ngapain juga perlu ngumpet.
Ero-Sensei
repot amat, tinggal bilang aja ini cuma karya fiksi. lagian kisah argonot aja cuma karya fiksi khayalannya argonot yang pengen jadi pahlawan. aslinya mah bocah cupu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!