NovelToon NovelToon
Young Master & Secret Wife

Young Master & Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:438
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.

Celestine setuju.

Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.

Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 29 : Senjata tanpa peluru

Langit di atas Kerajaan Valley sore itu nampak sangat bersih, seolah-olah semesta turut merayakan kemenangan kecil yang dibawa pulang oleh kapal terbang Aurora.

Kapal raksasa itu mendarat dengan anggun di pelataran istana, disambut oleh barisan prajurit kehormatan yang sudah menunggu sejak fajar. Pintu kapal terbuka, dan George melangkah turun pertama kali dengan menggendong Eleanor yang sudah mulai tampak segar, diikuti oleh Celestine, Theodore, dan Julian.

​"Lihatlah, George. Rakyat berkumpul hanya untuk melihatmu kembali. Kau sudah menjadi legenda hidup di sini." Theodore berbisik sambil melambaikan tangan ke arah kerumunan yang bersorak sorai.

​"Aku bukan legenda, Theodore. Aku hanya seorang anak yang ingin membawa ibunya pulang ke tempat yang hangat." jawab George pelan, matanya menyapu wajah-wajah rakyat Valley yang tampak tulus menyambutnya.

​"Tapi kau membawa lebih dari sekadar ibu, George. Kau membawa kedamaian bagi dua wilayah." Celestine menggandeng lengan George, senyumnya tidak pernah pudar sejak mereka meninggalkan perbatasan Utara.

​Mereka masuk ke dalam istana, menuju aula utama di mana Master Eldric sudah menunggu dengan gelisah di depan meja besar yang penuh dengan ramuan pemulih.

​"Jenderal! Putri! Syukurlah kalian selamat! Dan ini... apakah ini Nyonya Eleanor?" Eldric berlari kecil mendekati mereka, matanya berbinar melihat sosok wanita berambut perak itu.

​"Benar, Master Eldric. Tolong periksa kondisi ibu saya. Beliau terlalu lama berada di bawah pengaruh sihir penekan Orde." kata George sambil meletakkan ibunya di kursi berlapis beludru yang nyaman.

​"Biarkan aku yang menanganinya, Jenderal. Dengan bantuan cahaya Putri Celestine, aku bisa memulihkan inti mananya dalam hitungan hari." Eldric mulai sibuk menyiapkan instrumen alkimianya.

​Eleanor menatap Eldric, lalu menatap putranya. "Terima kasih, Master. Putraku sering bercerita bahwa alkemis di Valley adalah yang terbaik di benua ini."

​"Ah, Nyonya terlalu memuji! Tapi memang benar, kami punya matahari di sini, sesuatu yang tidak kalian miliki di sana." Eldric tertawa kecil sambil melirik Celestine.

​Julian masuk ke aula sambil membawa kotak stasis mawar kristal yang kini bersinar dengan warna biru elektrik yang stabil. "Kak, di mana kita harus menempatkan mawar ini? Aku merasa dia mulai merindukan tanah Paviliun Mawar."

​"Bawa ke tempat asalnya, Julian. Tapi kali ini, jangan ditaruh di bawah tanah. Dia sudah membuktikan bahwa dia mampu melindungi dirinya sendiri." perintah George.

​"Aku setuju. Mawar itu harus menjadi simbol baru bagi persahabatan kita." Theodore menimpali. "Julian, setelah kau menanamnya, temui aku di ruang kerja. Kita harus membahas status barumu sebagai perwakilan diplomatik Augustine di Valley."

​"Aku? Diplomat? Bukankah aku masih harus sekolah, Yang Mulia?" tanya Julian dengan wajah terkejut.

​"Belajar bisa dilakukan sambil bekerja, Julian. Kau punya bakat untuk bicara dengan orang-orang Selatan yang cerewet ini." gurau Theodore yang disambut tawa oleh Julian.

​'Sepertinya Julian benar-benar menemukan rumah baru di sini. Aku senang dia tidak harus memikul beban berat sendirian di Utara lagi,' batin George sambil menatap adiknya.

​Setelah urusan administrasi singkat selesai, George dan Celestine berjalan perlahan menuju Paviliun Mawar. Udara sore di Valley terasa begitu hangat di kulit George, sangat kontras dengan hawa kematian di Puncak Kesunyian yang baru saja mereka tinggalkan.

​"Apakah kau masih merasa seperti monster, George?" tanya Celestine tiba-tiba saat mereka sampai di gerbang paviliun.

​George berhenti melangkah. Ia menatap tangan kristalnya, lalu beralih menatap tangan manusianya yang menggenggam tangan Celestine. "Monster tidak punya rumah, Celestine. Dan monster tidak punya seseorang yang menunggunya kembali dari badai. Jadi, kurasa aku bukan lagi monster itu."

​"Kau adalah pahlawanku. Dan kau akan menjadi suami yang hebat." Celestine menyandarkan kepalanya di bahu George.

​"Berbicara tentang suami... Theodore tadi sempat menyinggung soal tanggal pernikahan." kata George dengan nada sedikit ragu.

​"Lalu? Apa jawabanmu?" tanya Celestine dengan mata yang berbinar penuh harap.

​"Aku bilang padanya, aku ingin melakukannya secepat mungkin. Aku tidak mau memberi kesempatan lagi pada takdir untuk memisahkan kita." George menjawab dengan mantap.

​"Aku setuju. Bagaimana kalau bulan depan? Saat musim bunga matahari mencapai puncaknya?" usul Celestine.

​"Itu terdengar sempurna. Cahayamu dan bunga mataharimu, dikelilingi oleh es dan petirku yang sudah jinak." George tersenyum, sebuah senyuman yang kini terlihat sangat alami di wajahnya yang tegas.

​Tiba-tiba, suara langkah kaki berat mendekat. Itu adalah seorang pengawal istana yang tampak membawa sebuah kotak perak kecil dengan segel resmi Kastil Augustine.

​"Maaf mengganggu, Jenderal. Ini ada kiriman kilat dari Utara melalui kurir burung elang. Katanya ini adalah hadiah dari Marquess Augustine untuk kesembuhan Nyonya Eleanor." ujar pengawal itu sambil menyerahkan kotak tersebut.

​George menerima kotak itu dan membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah kalung permata safir yang diukir dengan simbol kuno Klan Penjaga Langit. Ada sebuah surat kecil yang menyertainya.

​"Apa isinya, George?" tanya Celestine penasaran.

​George membaca surat itu dalam hati. 'Untuk putraku yang telah melampaui ayahnya. Jaga ibumu, dan jaga mawar itu. Aku telah mengundurkan diri dari dewan Orde dan akan menghabiskan sisa hidupku untuk membersihkan nama keluarga kita. Semoga cahaya Selatan selalu menyertaimu.'

​"Dia meminta maaf dengan caranya sendiri." George melipat surat itu dan memasukkannya ke saku. "Dia memberikan kalung pusaka ibu yang dulu disita Orde."

​"Dia mulai berubah, George. Mungkin suatu hari nanti kau bisa memaafkannya sepenuhnya." bisik Celestine.

​"Mungkin. Tapi untuk sekarang, aku hanya ingin fokus pada apa yang ada di depanku." George memegang wajah Celestine dan mencium keningnya dengan lembut.

​'Akhirnya, badai benar-benar telah berlalu. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi beban petir yang menyiksa. Hanya ada aku dan dia,' batin George dengan perasaan damai yang luar biasa.

​Di sudut paviliun, Julian baru saja selesai menanam mawar kristal itu kembali ke tanah. Ajaibnya, begitu akar mawar itu menyentuh tanah Valley, bunga-bunga mawar merah di sekitarnya yang sempat layu langsung mekar kembali dengan warna yang lebih cerah. Energi petir dan es dari mawar kristal itu seolah menjadi pupuk ajaib bagi seluruh taman.

​"Kak! Lihat ini! Mawar-mawar yang lain ikut berevolusi!" teriak Julian dengan penuh semangat.

​George dan Celestine tertawa melihat tingkah laku Julian. Mereka berjalan mendekat dan berdiri bersama di tengah taman yang kini dipenuhi oleh harmoni warna merah, biru, dan emas.

​"Valley benar-benar tempat yang indah, ya?" tanya Eleanor yang tiba-tiba muncul di ambang pintu paviliun dengan dibantu tongkat kayu oleh Eldric.

​"Sangat indah, Ibu. Dan ini adalah rumahmu sekarang." jawab George sambil merangkul ibunya.

​"Aku tidak pernah membayangkan akan melihat langit yang begitu biru tanpa ada awan salju yang menghalanginya." Eleanor menatap langit dengan mata berkaca-kaca.

​"Selamat datang di rumah, Ibu." bisik George.

​Malam itu, istana Valley mengadakan perjamuan makan malam yang jauh lebih santai namun penuh dengan kehangatan. Tidak ada protokol militer yang kaku, tidak ada kecurigaan. Hanya ada sekelompok orang yang telah melewati maut bersama dan kini merayakan kehidupan.

​"Untuk George dan Celestine! Semoga pernikahan mereka membawa berkah bagi seluruh benua!" teriak Theodore sambil mengangkat gelas anggurnya.

​"Untuk George dan Celestine!" sambut semua orang yang hadir di aula tersebut.

​George menatap semua orang di ruangan itu satu per satu. Theodore yang ramah, Eldric yang jenius, Julian yang ceria, ibunya yang kembali sehat, dan Celestine yang selalu mencintainya. Ia menyadari bahwa kekuatannya sebagai Master Pedang tingkat dua belas atau pengguna petir bukanlah hal yang paling berharga yang ia miliki. Hal paling berharga adalah orang-orang yang duduk di meja ini bersamanya.

​"Terima kasih semuanya. Tanpa kalian, aku masih akan menjadi ksatria es yang tersesat di tengah badai." George berkata dengan suara baritonnya yang tenang namun penuh wibawa.

​"Kau tidak pernah tersesat, George. Kau hanya sedang dalam perjalanan pulang." sahut Celestine sambil menggenggam tangannya di bawah meja.

......................

Angin di Puncak Kesunyian mungkin telah reda, namun di balik bayang-bayang Benteng Besi yang terletak di perbatasan Barat, sebuah rencana yang jauh lebih sistematis sedang dirajut.

Di sebuah laboratorium yang remang-remang, hanya diterangi oleh cahaya ungu dari tabung-tabung berisi mana cair, berdiri seorang pria bernama Vektor. Ia bukanlah seorang ksatria yang mengandalkan otot seperti Malphas, melainkan seorang ahli strategi dan alkemis gelap yang melihat dunia sebagai sebuah persamaan mekanis yang harus dipecahkan.

​Vektor menatap potongan zirah kristal milik Malphas yang hancur, jari-jarinya yang pucat mengusap bekas tebasan petir George. "Malphas adalah orang bodoh yang mengira kekuatan mentah bisa mengalahkan anomali seperti George Augustine. Dia mati karena dia mencoba melawan badai dengan tameng, bukannya membangun penangkal petir."

​Di sampingnya, sesosok bayangan berjubah hitam muncul dari kegelapan. "Orde Tertinggi menuntut hasil, Vektor. Marquess Augustine telah berkhianat, Eleanor telah bebas, dan mawar itu kini berada di tangan Selatan. Kita kehilangan semua kartu kita."

​Vektor terkekeh, suara tawa yang terdengar seperti gesekan logam. "Kehilangan kartu? Tidak, kita justru baru saja membuang kartu-kartu sampah. Dengar, George memiliki satu kelemahan besar: ia adalah seorang pelindung. Selama ia memiliki sesuatu untuk dijaga—ibunya, adiknya, tunangannya—ia akan selalu terikat pada satu lokasi. Itulah yang akan kita manfaatkan."

​"Apa rencanamu? Menyerbu Valley secara langsung?" tanya bayangan itu.

​"Itu tindakan bunuh diri. George adalah Master Pedang tingkat dua belas. Di medan tempur terbuka, dia tidak terkalahkan. Tapi bagaimana jika kita menyerangnya dari sisi yang tidak bisa ia tebas dengan pedang?" Vektor berjalan menuju sebuah peta besar Benua Selatan yang terpajang di dinding.

"George adalah es dan petir, tapi ia butuh alkimia untuk tetap stabil. Aku telah mengirim agen untuk menyusup ke jalur logistik bahan baku ramuan milik Master Eldric. Kita akan meracuni pasokan mana mereka secara perlahan."

​Vektor mengambil sebuah botol kecil berisi cairan hitam pekat yang berdenyut. "Ini adalah 'Residu Kehampaan'. Jika ini tercampur ke dalam sistem irigasi Paviliun Mawar, mawar kristal itu tidak akan meledak, tapi ia akan mulai menyerap mana dari orang-orang di sekitarnya untuk bertahan hidup. Bayangkan betapa hancurnya George saat ia menyadari bahwa bunga yang ia lindungi justru perlahan-lahan membunuh Celestine."

​"Kejam sekali, bahkan untuk ukuran Orde," gumam bayangan itu dengan nada kagum.

​"Itu baru langkah pertama. Sementara mereka sibuk menyelamatkan satu sama lain, kita akan mengaktifkan 'Proyek Golem Penyangga'. Kita tidak butuh ksatria manusia yang punya rasa takut. Aku telah menyempurnakan zirah yang bisa menyerap frekuensi petir. Setiap kali George mengayunkan pedangnya, ksatria mekanik kita justru akan semakin kuat karena mereka memanen energi dari serangannya sendiri." Vektor menunjuk ke sudut ruangan di mana barisan zirah raksasa berdiri kaku, mata mereka berpendar merah gelap.

​Di tempat lain, di sebuah bar terpencil di pinggiran Valley, seorang pria berpakaian pelayan sedang mendengarkan percakapan para prajurit kavaleri yang sedang merayakan kepulangan George. Ia adalah salah satu agen Vektor. Ia tidak membawa pedang, melainkan sebuah perangkat rekam alkimia kecil. Ia mengamati Julian yang lewat dengan beberapa dokumen diplomatik.

​'Pangeran kecil ini mencoba menjadi mata-mata? Menggemaskan sekali,' batin sang agen. Ia segera mengirimkan pesan singkat melalui bayangan.

'Target kedua teridentifikasi. Julian Augustine mencoba membangun jaringan intelijen. Akan kita beri makan informasi palsu agar ia menuntun kakaknya langsung ke perangkap di Barat.'

​Kembali ke Benteng Besi, Vektor kini berdiri di depan tungku pembakaran raksasa. Ia melempar sebuah kristal hitam ke dalamnya. "George Augustine mengira dia telah membawa kedamaian. Dia tidak tahu bahwa perdamaian yang ia bawa hanyalah tirai yang menutupi panggung eksekusinya. Aku tidak akan memukul mundur George. Aku akan membiarkannya maju, membiarkannya merasa menang, sampai ia menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil justru membawanya semakin dalam ke dalam rahang kehancuran yang kubuat."

​"Bagaimana dengan Putri Celestine? Cahayanya mulai mencapai tingkat Aureola," tanya bayangan itu lagi.

​Vektor tersenyum sinis.

"Cahaya adalah hal yang paling mudah untuk dipadamkan. Kau hanya butuh bayangan yang cukup luas. Aku telah menyiapkan 'Kabut Obsidian' untuk menelan Valley. Saat kabut itu turun, cahaya matahari tidak akan bisa menembusnya. Celestine akan menjadi buta, dan George akan bertarung di dalam kegelapan melawan musuh yang tidak bisa ia lihat, namun bisa merasakannya."

​Vektor menatap ke arah Selatan melalui jendela kecil di bentengnya. Matanya berkilat penuh ambisi jahat. Ia bukan lagi sekadar penjahat yang ingin merebut kekuasaan ia adalah seorang perfeksionis yang ingin membuktikan bahwa kecerdasan gelap bisa meruntuhkan legenda paling terang sekalipun.

​"Pesta kemenanganmu akan segera berakhir, Jenderal. Selamat menikmati saat-saat terakhirmu sebagai pahlawan, karena sebentar lagi kau hanya akan menjadi pengemis yang memohon agar badai ini berhenti," bisik Vektor pada angin malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!