NovelToon NovelToon
Young Master & Secret Wife

Young Master & Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:436
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.

Celestine setuju.

Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.

Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 6 : Ksatria Valtor

Angin badai menghantam wajah Celestine seperti ribuan jarum es yang menusuk kulit. Salju setinggi lutut membuatnya sulit melangkah, namun cahaya ungu pekat yang membelah langit menjadi pemandu arahnya. Setiap kali cahaya itu bertemu dengan kilatan biru milik George, tanah di bawah kakinya terasa bergetar, seolah bumi sendiri sedang merintih akibat benturan dua kekuatan yang tidak masuk akal.

Celestine berlindung di balik dinding rumah kayu yang setengah terkubur salju. Dari sana, ia bisa melihat pemandangan di gerbang desa. George berdiri di tengah jalanan yang membeku, pedang hitamnya berpendar hebat. Di hadapannya, berdiri seorang pria tinggi yang mengenakan zirah berat dengan simbol singa bersayap dari Kerajaan Valley. Namun, zirah itu tidak lagi berkilau emas; ia tertutup oleh kabut hitam yang merambat seperti urat-urat nadi yang membusuk.

"Ksatria Valtor?" bisik Celestine, suaranya hilang ditelan angin.

Pria itu adalah mantan instruktur pedang di istana Valley yang dikabarkan tewas dalam misi rahasia lima tahun lalu. Mengapa ia ada di sini, dan kekuatan hitam apa yang membuatnya mampu menandingi sang Penyihir Es?

"Kau membawa Putri ke tempat pembuangan ini, George de La’ Mortine," suara Valtor terdengar seperti gesekan logam yang berkarat. "Seharusnya kau membiarkan dia tetap di Valley. Sekarang, darahnya akan menjadi tumbal untuk membangkitkan keajaiban yang sebenarnya."

George mendengus, napasnya keluar sebagai uap dingin yang tajam. "Kau bicara terlalu banyak untuk seorang mayat hidup, Valtor. Keajaiban tidak diciptakan dari pengkhianatan."

"Kau menyebutnya pengkhianatan? Aku menyebutnya evolusi!"

Valtor menghentakkan kakinya ke tanah. Gelombang energi ungu melesat, mengubah salju di sekitarnya menjadi cair lalu membeku kembali sebagai duri-duri hitam yang beracun. George melompat, gerakannya sangat elegan meskipun ia berada di tengah maut. Ia mengayunkan pedangnya di udara, menciptakan perisai es berbentuk heksagonal yang menangkis setiap duri hitam itu dengan suara denting yang memekakkan telinga.

Celestine keluar dari persembunyiannya, mencoba mendekat sedikit lagi. Ia harus memastikan George tidak terdesak. Namun, saat ia melangkah, Valtor menyadari kehadirannya. Mata ksatria pengkhianat itu berkilat merah.

"Lihat siapa yang datang mengunjungi kita," tawa Valtor meledak. "Tuan Putri yang malang. Kemari lah, biarkan aku menunjukkan padamu apa yang kakaknya sembunyikan selama ini!"

"Jangan mendekat, Celestine!" teriak George. Ia mengarahkan tangan kirinya ke arah Celestine, menciptakan dinding es tebal yang tiba-tiba tumbuh dari tanah untuk melindungi sang Putri.

Tetapi Valtor lebih cepat. Ia melemparkan sebuah bola energi hitam ke arah George, memaksa pria itu untuk fokus bertahan. Sambil tertawa, Valtor mengarahkan tangan lainnya ke arah Celestine. Tanah di bawah kaki Celestine mendadak menjadi sangat panas dan lunak, menariknya ke bawah seperti rawa yang mematikan.

"George!" teriak Celestine saat tubuhnya mulai tenggelam.

Kemarahan George meledak. Suhu di seluruh desa turun secara drastis dalam sekejap. Langit yang tadinya gelap karena badai kini menjadi putih total karena kristal es yang turun dengan kepadatan yang luar biasa. George tidak lagi menggunakan pedang; ia merentangkan kedua tangannya.

"Kau berani menyentuhnya di wilayahku?" suara George berubah menjadi rendah dan berwibawa, seolah-olah ia adalah penguasa badai itu sendiri.

George merapal mantra yang belum pernah Celestine dengar. *"Aeterna Glacies: Dominus!"*

Seketika, seluruh jalanan desa membeku menjadi satu blok es raksasa yang sangat jernih. Valtor terkejut saat melihat kakinya tidak bisa bergerak. Es itu bukan es biasa; ia menyedot mana hitam dari tubuh Valtor dengan sangat cepat.

George melesat, bukan berlari, tapi meluncur di atas es dengan kecepatan kilat. Dalam satu tebasan vertikal, ia membelah energi hitam yang mengikat Celestine. George menangkap tubuh Celestine, menariknya keluar dari rawa maut itu, dan membawanya ke tempat yang lebih tinggi di atas atap sebuah rumah yang sudah membeku kuat.

"Tetap di sini," bisik George. Wajahnya kini sangat pucat, hampir transparan. "Apapun yang terjadi, jangan lepaskan jubahku."

George kembali turun ke bawah. Valtor berhasil memecahkan es yang mengikat kakinya, namun ia tampak jauh lebih lemah. "Kau menggunakan sihir terlarang, George! Kau sedang membekukan jantungmu sendiri demi putri bodoh ini!"

"Lebih baik jantungku membeku daripada membiarkan kotoran sepertimu bernapas di dekatnya," balas George.

Pertarungan berlanjut dengan intensitas yang lebih mengerikan. George mulai menggunakan teknik pedang tingkat tinggi yang dikombinasikan dengan teleportasi jarak pendek melalui partikel es di udara. Ia muncul di belakang Valtor, menyayat bahunya, lalu menghilang dan muncul kembali di sisi lain untuk memberikan serangan sihir es.

Celestine menonton dengan jantung berdebar. Ia melihat bagaimana setiap kali George menggunakan sihir besar itu, pria itu akan terbatuk kecil dan uap dingin keluar dari dadanya. Marquess benar; George sedang menghancurkan dirinya sendiri.

"Hentikan!" teriak Celestine dari atas atap. "George, jangan gunakan sihir itu lagi!"

Valtor melihat kesempatan. Ia mengarahkan sisa kekuatannya bukan ke George, melainkan ke arah pilar penyangga rumah tempat Celestine berada. Dengan satu ledakan ungu, pilar itu hancur. Rumah itu mulai miring dan akan runtuh ke arah jurang kecil di belakang desa.

"Celestine!"

George melupakan pertahanannya. Ia terbang ke arah Celestine, menangkapnya tepat saat rumah itu runtuh. Mereka berdua jatuh terguling di atas salju yang empuk, namun George memastikan tubuhnya berada di bawah untuk melindungi Celestine dari benturan.

Valtor tertawa puas, melihat George yang kini terkapar lemas dengan es yang menutupi hampir seluruh tangan kanannya. "Sekarang, berikan Putri itu kepadaku."

Saat Valtor melangkah maju, Celestine berdiri di depan George yang tidak berdaya. Ia menarik belati kecilnya, meskipun tangannya gemetar.

"Kau ingin membawaku?" tanya Celestine dengan nada yang tiba-tiba menjadi sangat dingin dan tenang. "Coba saja, Ksatria Valtor. Mari kita lihat apakah kau bisa menahan mawar yang sudah belajar cara membeku."

Tiba-tiba, dari tangan Celestine, cahaya biru muda yang murni mulai memancar, persis seperti yang terjadi di perpustakaan. Bukan es hitam yang kotor, melainkan es yang jernih dan berkilau seperti berlian.

Valtor berhenti melangkah. Matanya melebar penuh ketakutan. "Cahaya itu... tidak mungkin. Darah murni La' Mortine di dalam tubuh seorang Vallery?"

Celestine tidak tahu apa yang ia lakukan, ia hanya mengikuti instingnya untuk melindungi George. Ia menghujamkan belatinya ke tanah. Sebuah gelombang es murni melesat, jauh lebih indah dan lebih tenang daripada sihir George, namun ia mematikan. Es itu merambat melewati Valtor, membekukan energi hitamnya seketika, dan mengubah sang pengkhianat menjadi patung kristal yang indah di tengah badai.

Keheningan kembali menyelimuti desa. Badai perlahan mereda.

Celestine jatuh terduduk, napasnya tersengal. Ia menoleh ke arah George yang menatapnya dengan pandangan tidak percaya. George mencoba meraih tangan Celestine, namun ia terlalu lemah.

"Kau... apa yang kau lakukan, Celestine?" bisik George sebelum matanya terpejam sepenuhnya.

Celestine memeluk kepala George di pangkuannya, mencoba memberikan kehangatan sisa sihirnya. Di tengah desa yang kini membeku menjadi taman kristal, Celestine menyadari bahwa rahasia yang ia bawa jauh lebih besar daripada sekadar urusan memilih suami.

Patung kristal Valtor berdiri kaku di tengah jalanan desa, memantulkan cahaya bulan yang mulai mengintip dari balik awan badai yang pecah. George masih terbaring di pangkuan Celestine, napasnya sangat tipis dan dingin, seolah-olah ia bukan lagi manusia bernapas melainkan sebongkah es yang perlahan kehilangan nyawa.

Celestine menatap telapak tangannya sendiri yang masih bergetar. Sisa-sisa cahaya biru muda itu masih berpendar di ujung jarinya sebelum akhirnya meredup dan menghilang. Ia merasa hampa, seolah-olah energi dalam dirinya baru saja dikuras habis untuk menciptakan keajaiban yang ia sendiri tidak pahami.

"George, bangunlah," bisik Celestine. Suaranya pecah di tengah keheningan malam. "Kau tidak boleh berakhir seperti ini setelah memintaku untuk tidak takut."

Penduduk desa yang tadi bersembunyi di dalam aula mulai keluar satu per satu. Mereka berjalan mendekat dengan langkah ragu, menatap takjub sekaligus ngeri pada patung kristal Valtor yang berkilau indah namun mengerikan. Thomas, sang kepala desa, berlari mendekat ke arah Celestine.

"Tuan Putri! Apa yang terjadi? Tuan Muda George..." Thomas terhenti saat melihat keadaan George yang memprihatinkan. Seluruh tangan kanan George kini benar-benar tertutup lapisan es abadi yang tidak mencair meski terkena uap napas mereka.

"Bantu aku membawanya ke dalam!" perintah Celestine. Suaranya kembali mengeras, memunculkan wibawa yang selama ini ia sembunyikan di balik gaun-gaun mahalnya. "Cari kain hangat, air panas, dan apa saja yang bisa menghentikan kedinginan ini. Cepat!"

Beberapa pria desa segera membantu mengangkat tubuh George yang terasa sangat berat, seberat logam. Mereka membawanya kembali ke dalam rumah kecil tempat mereka berteduh tadi. Celestine tidak melepaskan tangan George sekejap pun, mengabaikan rasa dingin yang mulai membuat jemarinya sendiri mati rasa.

Di dalam rumah, Thomas membantu menyalakan perapian hingga apinya berkobar besar. Namun, keanehan mulai terjadi. Meskipun suhu di dalam ruangan meningkat pesat, es yang menyelimuti tangan George tidak menunjukkan tanda-tanda akan mencair. Justru sebaliknya, es itu seolah-olah mengisap panas dari perapian tersebut, membuat udara di sekitar George tetap terasa seperti di kutub utara.

"Sihir ini tidak bisa disembuhkan dengan api biasa, Tuan Putri," kata Thomas dengan wajah pucat. "Ini adalah kutukan darah yang mencapai puncaknya. Jika Tuan Muda George tidak segera mendapatkan perawatan dari sang Marquess, ia akan..."

"Dia tidak akan apa-apa!" potong Celestine tajam. Ia menatap George yang wajahnya kini tampak semakin transparan. "George, kau dengar aku? Kau bilang kau akan menjagaku. Jangan berani-berani ingkar janji di malam pertama kita keluar dari kastil."

Celestine teringat akan sihir yang baru saja ia keluarkan. Jika darahnya bisa memurnikan sihir hitam Valtor, mungkinkah darahnya juga bisa menetralisir es abadi yang sedang menelan George? Tanpa ragu, Celestine mengambil belati kecilnya kembali. Ia menggores telapak tangannya yang sama dengan luka di perpustakaan kemarin, luka yang sebenarnya belum benar-benar kering.

"Tuan Putri, apa yang Anda lakukan?" seru Thomas kaget.

Celestine tidak menjawab. Ia menempelkan telapak tangannya yang berdarah langsung ke lengan George yang membeku. Seketika, reaksi hebat terjadi. Cahaya biru muda kembali memancar dari titik di mana darah Celestine menyentuh es tersebut. Suara desisan terdengar, seperti besi panas yang dicelupkan ke dalam air dingin.

Celestine menggigit bibirnya menahan sakit. Rasanya bukan hanya dingin, melainkan seperti tangannya sedang ditarik masuk ke dalam mesin penggiling es. Namun, ia tidak melepaskannya. Ia membiarkan darahnya mengalir, bercampur dengan kristal es yang mulai retak di lengan George.

Perlahan-lahan, lapisan es yang tebal itu mulai melunak. Warna kebiruan di kulit George mulai memudar, berganti menjadi warna kulit manusia meskipun masih pucat. George mengerang pendek, matanya terbuka sedikit, menatap Celestine dengan pandangan yang linglung dan penuh rasa sakit.

"Celestine... hentikan..." bisik George, suaranya hampir tidak terdengar. "Kau... kau membunuh dirimu sendiri..."

"Diamlah, George," sahut Celestine dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya. "Biarkan aku melakukannya sekali ini saja. Kau sudah terlalu sering menjadi tameng bagi orang lain. Biarkan aku menjadi kehangatanmu malam ini."

Keajaiban itu benar-benar terjadi. Es di tangan George mencair sepenuhnya, berubah menjadi air jernih yang membasahi lantai kayu rumah tersebut. Namun, sebagai gantinya, Celestine jatuh terkulai lemas di samping George. Tubuhnya kehilangan suhu panas dengan sangat cepat. Ia telah memberikan "panas" dalam darahnya untuk mencairkan es di tubuh George.

George, yang kini sudah bisa menggerakkan tangannya kembali, segera menarik Celestine ke dalam pelukannya. Ia menyelimuti Celestine dengan jubahnya yang kering dan mencoba menggosok tangan sang putri agar sirkulasi darahnya kembali normal.

"Kenapa kau begitu bodoh?" gumam George, suaranya bergetar karena emosi yang tidak bisa ia tahan lagi. "Kau seorang putri raja. Kau tidak seharusnya memberikan darahmu untuk ksatria yang sudah ditakdirkan membeku seperti aku."

Celestine tersenyum lemah, matanya tertutup setengah. "Karena... kau menangkapku saat aku jatuh dari kereta... ingat? Sekarang kita impas, George Augustine."

George menatap wajah Celestine yang tampak damai meski dalam keadaan sakit. Ia menyadari satu hal yang selama ini ia hindari: putri ini bukan sekadar tugas diplomatik. Dia adalah bencana paling indah yang pernah menembus dinding pertahanannya.

Di luar rumah, Thomas dan penduduk desa berdiri berjaga di depan pintu. Mereka menatap patung kristal Valtor yang mulai tertutup salju baru. Mereka tahu, malam ini sejarah Heavenorth telah berubah. Bukan karena kemenangan George atas sang pengkhianat, melainkan karena munculnya kekuatan baru di tangan seorang putri dari tanah matahari.

"Tuan Muda," panggil Thomas dari balik pintu dengan nada ragu. "Badai sudah benar-benar berhenti. Apakah kita harus mengirim utusan ke kastil untuk memanggil sang Marquess?"

George terdiam sejenak, ia masih mendekap Celestine erat-erat. "Tidak perlu. Siapkan kereta kuda yang paling nyaman di desa ini. Lapisi dengan bulu beruang sebanyak mungkin. Kita akan kembali ke kastil saat matahari terbit. Dan Thomas..."

"Ya, Tuan Muda?"

"Jangan katakan pada siapa pun tentang apa yang dilakukan Putri malam ini. Jika ada yang bertanya tentang patung kristal itu, katakan itu adalah sihirku. Mengerti?"

"Baik, Tuan Muda. Kami mengerti."

George kembali menatap Celestine yang kini tertidur lelap dalam dekapannya. Ia tahu bahwa mulai besok, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia harus melindungi Celestine bukan hanya dari monster di luar sana, tapi juga dari rahasia besar yang kini mengalir di dalam darah mereka berdua. Hubungan mereka bukan lagi sekadar soal aliansi politik atau calon suami, melainkan soal takdir yang telah membeku menjadi satu.

Matahari mulai mengintip dari ufuk timur, memberikan warna merah keemasan pada salju yang putih. George masih terjaga, menjaga detak jantung Celestine dengan detak jantungnya sendiri, bersumpah dalam hati bahwa siapa pun yang mencoba menyakiti putri ini— termasuk kedaulatan kakaknya sendiri— harus berhadapan dengan badai es yang paling mematikan di seluruh kekaisaran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!